Minggu, 03 September 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

12 Dzulhijjah 1438 H / 3 September 2017

Drs. H. Muchtar Hadi

*Penetapan Hukum*

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ  الْمَوْتِ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.."  (QS. Ali 'Imran  185)

Dari penafsiran,  kata "kullu" adalah setiap sesuatu. Artinya adalah semua,  tak ada yg tidak mati. Kata "kullu" berbeda dengan kata "min" , misal dalam ayat :

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Dan di antara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah  201)

"Min" artinya sebagian, bukan semua.
Namun kadang anehnya penerapannya ada yg rancu.
Contoh tentang bid’ah, haditsnya :

كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِىالنَّاِر

Semua “bid’ah yang sayyiah (jelek) itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat masuk neraka”

Kalimatnya memakai "kullu" juga,  jadi semestinya semua bid'ah (hal yg baru diada-adakan dalam agama)  adalah sesat.
Contoh lain :

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ  ۚ  فَاِذَا جَآءَ  اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

"Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Al-A'raf  34)

Kalimatnya juga memakai "kulli" ,artinya adalah semua. Mengapa pemahaman tentang bid'ah tadi menjadi berbeda?
Karena memahami ilmunya tidak lengkap.

Menetapkan hukum atas sesuatu tidak cukup hanya dengan menguasai bahasa Arab. Harus faham methodology. Sebaliknya belajar methodology saja juga tidak cukup. Mestinya mempelajari semua,  bahasa Arabnya dan juga methodanya.

Mempelajari agama itu semampu kita,  tidak harus tahu semua.  Maka bila terjadi silang pendapat itu wajar dan harus bertanya kepada ahlinya.
Menetapkan suatu hukum itu bagian paling penting namun bukan wajib ain,  tapi wajib kifayah.

Allah SWT berfirman:

فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

"..... maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui," (QS. An-Nahl 43)

Diperintahkan untuk bertanya bila tidak tahu,  tidak berarti bertanya terus ataupun taklid,  yaitu mengikut saja tanpa tahu alasannya apa.
Kita diperbolehkan untuk berpendapat, tapi harus tahu dasarnya.
Dalam agama tak selalu semua harus sama,  ada yg boleh berbeda contoh dalam menetapkan hilal iedhul Fitri.

Contoh lain,  binatang laron (anai-anai)  itu Haram atau Halal ?.
Perhatikan dalil ini :

 وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤئِثَ

".... dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, ...." (QS. Al-A'raf 157)

Jadi tergantung pendapat ,  bila menganggap laron itu buruk menjijikkan maka menjadi Haram, bila tidak menjijikkan menjadi halal. Jadi hukum tidak selalu hitam-putih.

Menghukumi sesuatu harus mempertimbangkan berbagai hal,  misal bangkai itu Haram,  tapi ada dalil tentang air laut :

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.”

Jadi bangkai ikan boleh dimakan. Pengertian boleh tidak berarti harus.
Ada dalil lain yaitu : Halalan Thoyiban.
Bila tidak Thoyib, artinya tidak baik dari sisi kesehatan jangan dimakan.
Demikianlah dalam menentukan hukum, harus tahu dasarnya.

Kisah-kisah yg diceritakan dalam Al Quran dan Hadits itu untuk pembelajaran. Ketika Nabi Muhammad SAW wafat,  para sahabat bingung siapa yg mengganti. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir.
Umar bin Khattab bahkan mengancam akan membunuh siapa saja yg mengatakan nabi Muhammad SAW wafat. Ini bukan karena Umar bodoh,  tapi karena kecintaannya kepada Nabi. Kemudian berhasil dinasehati oleh Abu Bakar. Pembelajarannya adalah dalam kehidupan itu selalu ada orang seperti Umar dan ada yg seperti Abu Bakar.

Seperti yg baru saja terjadi,  ibadah qurban adalah belajar dari kisah Nabi Ibrahim. Pembelajaran bisa dari berbagai sisi. Dialog antara Nabi Ibrahim dengan Ismail sebelum Penyembelihan menunjukkan pembelajaran bahwa orang tua harus akrab dengan anaknya. Keakraban dengan anak hikmahnya masuk surga. Ini sesuai dengan Sabda Rasulullah :
"Surga itu adalah sebuah kampung kesenangan, tidak masuk surga melainkan orang yang menyukai anak-anak."

Pembelajaran dalam kisah nabi Ibrahim adalah bahwa makin tinggi tingkat Ketakwaan kita akan makin tinggi pula tingkat godaan iblis : Dalam kisah Nabi Ibrahim bahkan istrinya yg berusaha mencegah nabi menyembelih Ismail,  dan siap menggantikannya.

Cara yg ditempuh oleh isteri Nabi Ibrahim dalam menyampaikan pendapatnya kepada Nabi Ibrahim  juga mengandung pembelajaran bahwa seorang isteri harus menata sebaik mungkin tutur katanya kepada suami.

Terkait dengan kisah-kisah pembelajaran tadi,  untuk menetapkan hukum ternyata tidak cukup hanya dengan melihat apa yg terjadi,  namun juga harus memahami hikmah apa dibalik peristiwanya dengan memakai perangkat keilmuan.

Terkait dengan ajal,  umat manusia itu usianya diramalkan antara 60-70 tahun.Hanya sedikit yg melampauinya,  meski usia harapan hidup mungkin lebih tinggi. Artinya apa?  Kita itu sudah dekat waktunya meninggalkan dunia,  sudah selayaknya kita mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Antara lain adalah memilih amalan perbuatan.

Pada umumnya amal itu terdiri dari dua hal,  yaitu amal Konsumtif dan Investatif.
Amal yg konsumtif artinya setelah selesai maka terputus pahalanya,  misal : shalat,  dzikir.
Amal yg investatif adalah amal jariyah, artinya mengalir terus pahalanya meskipun kita mati.
Semua amal akan terputus pahalanya ketika mati,  kecuali 3 hal yg disebut amal jariyah yaitu antara lain Sadaqah jariyah , yaitu Sadaqah yg diberikan ketika hidup dan terus memberi manfaat.
Bagaimana bila diberikan setelah mati?  Tetap dinilai Sadaqah tapi bukan Jariyah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum


🖍SAK

Jumat, 01 September 2017

Khutbah Iedhul Adha PCM Banyumanik

Resume Khutbah Shalat Ied Muhammadiyah Banyumanik

10 Dzulhijjah 1438 H / 1 September 2017

*Dr. Rozihan SH,  MAg.*

Kehadiran kita disini sebenarnya memenuhi perintah Allah :

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَآئِرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ  تَقْوَى الْقُلُوْبِ

"Demikianlah perintah Allah. Dan barang siapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj 32)

Menyambut iedhul Adha ini adalah festival keagamaan,  bagian dari takwa. Saudara-saudara kita yg sedang haji juga menyambut festival keagamaan skala internasional, mereka wukuf bersama,  lempar Jumrah bersama di satu tempat.

Bila tidak ada festival maka dunia menjadi sepi. Ada festival keagamaan,   agama memerintahkan kita mengadakan festival setiap Jumat,  yaitu shalat jumat. Ada festival kenegaraan,  ada festival yg lain. Festival atau Permainan yg sebenarnya sudah disebutkan dalam Al Qur'an. :

اِعْلَمُوْۤا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ .....

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, ...."
(QS. Al-Hadid  20)

Karena itu kita tak heran ada Permainan Sepak Bola yg pada malam hari jauh lebih ramai , dan lebih digemari dari pada pelaksanaan shalat malam.

Apa saja isi festival atau Perlombaannya?  Dalam Surat diatas dikatakan antara lain dalam hal Kekayaan dan Jumlah Keturunan.
Oleh karena itu Nabi Ibrahim meminta agar kita berdoa minta keturunan yg sholeh,  dan kelak beliau akan berbangga mempunyai pengikut yg banyak di hari kiamat.

Paling tidak kita diperintahkan untuk menjalani tiga Perayaan.
Perayaan yg pertama ketika kita mempunyai anak maka kita diperintahkan untuk Aqiqah. Perayaannya disebut *Tasmiah*, dan kita diperintahkan untuk datang menyumbang atau sedekah.
Perayaan kedua ketika anak kita dewasa dan menikah maka ada Perayaan yg disebut *Walimah.* Dan kita diperintahkan datang untuk menyumbang atau sedekah.
Perayaan yg ketiga ketika ada diantara kita yg wafat maka kita diperintahkan *Takziah*.
Itu semua adalah Perintah Agama. Intinya perintah Agama adalah IMAN dan AMAL SHOLEH.

Dalam filsafat Jawa dikatakan Agama adalah "Ageman" yg artinya Pakaian.
Ketika kita ditanya pilih mana Pakaian atau Makanan?
Banyak diantara kita memilih makanan dan kadang melupakan Pakaian,  maka banyak manusia yg dalam hidupnya tak punya malu,  melupakan pakaian atau agama.
"Kekuasaan" dalam budaya Jawa juga dianggap pakaian,  artinya adalah bila Memegang Kekuasaan jangan lupa pada aturan yg berlaku,  maka mereka yg menyalah-gunakan Kekuasaan pada hakekatnya adalah orang yg telanjang,  memalukan.
Dalam filsafat Jawa,  Pakaian lebih utama,  maka di Kraton banyak yg mau memakai Pakaian adat yg lengkap meskipun gajinya sedikit.
Mereka mengutamakan menutup aurat, Itu filsafat Jawa,  utamakan Agama , baru kemudian mencari makan sedapatnya.

Kembali kepada Al Qur'an,  Al Qur'an pun mengatur pakaian :

يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْاٰتِكُمْ وَرِيْشًا   ۗ  وَلِبَاسُ التَّقْوٰى   ۙ  ذٰ لِكَ خَيْرٌ  

"Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik..." (QS. Al-A'raf  26)

Namun jangan menyalah-artikan takwa dengan baju takwa (koko) , secara leksikal takwa artinya : *Waspada dan Hati-hati*.
Siapa saja harus waspada dan hati-hati, termasuk Ulama ataupun Pimpinan.
Karena siapapun bisa terpelanting bila tidak hati-hati.

Bila tidak waspada dan hati-hati maka ketika reflek yg muncul adalah kebiasaannya.
Hadits Rasulullah :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim)

Maka bila seseorang terbiasa menyebut kebun binatang,  maka ketika matipun tak bisa menyebut kalimat Laa ilaha ilallah,  hanya kebun binatang yg akan keluar dari ucapannya.
Maka konsep Husnul Khotimah tak mungkin tercapai bila tak biasa berdzikir.

Sebaik-baik tambahan bekal adalah takwa :

وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ  ۗ  وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى  ۖ  وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

".... Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, ...." (QS. Al-Baqarah 197)

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً  ۖ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! ......... bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran 130)

Dengan bertakwa kita akan bahagia.
Tak hanya bahagia untuk diri sendiri tapi juga membahagiakan orang lain.
Dalam buku barat maupun dalam ilmu tasawuf kita dapat menjumpai hal yg selaras, yaitu : "Bahagia bisa dicapai dengan jalan Membahagiakan Orang Lain".

Pada kesempatan Hari Tasyriq Rasulullah berkhutbah dan Khutbahnya sangat egaliter :
"Orang Arab tidak lebih mulia dari orang non Arab, begitu juga sebaliknya. Orang kulit merah tidak lebih mulia dari orang kulit putih, begitu juga sebaliknya. Orang kulit putih tidak lebih mulia dari orang kulit hitam, begitu juga sebaliknya. Keutamaan seseorang hanya didasarkan atas ketakwaannya kepada Allah SWT."

Rasulullah juga berpesan tentang wanita :
 “Fattaquullaha fien nisaa-i .....”
 "jaga dan bertakwalah kepada Allah dalam hal wanita, hati-hati dengan wanita,  muliakanlah wanita."
Begitu mulia Nabi mengamanatkan persoalan wanita, karena pada jaman Jahiliyah kaum wanita sangat dihinakan.
Nabi juga mengatakan bahwa memiliki anak wanita itu lebih berpahala daripada anak laki-laki,  karena wanita adalah madrasah yg pertama bagi manusia.

Sekitar qurban yg kita lakukan hari ini,  tak ada manfaatnya bila tak dilandasi dengan takwa.

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا  دِمَآؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. ...." (QS. Al-Hajj 37)

Mudah2 an kurban kita hari ini diterima Allah SWT dan kita dipertemukan Allah dengan iedhul qurban tahun depan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 27 Agustus 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

5 Dzulhijjah 1438 H / 27 Agustus 2017

Ustadz Tri Wiyanto S.Sos

*Napak Tilas Nabi Ibrahim*

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِبْرٰهِيْمَ ۙ  اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا

"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran, dan seorang nabi."
(QS. Maryam 41)

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ اِبْرٰهِيْمَ

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim." (QS. Asy-Syu'ara' 69)

Nabi Muhammad SAW diperintah Allah untuk bercerita tentang kisah Nabi Ibrahim,  maka ketika kita mempelajari Kisah Nabi Ibrahim termasuk menjalani perintah Allah. Kenapa Nabi Ibrahim ini perlu diceritakan,  karena orang Yahudi dan Nasrani mengklaim bahwa nabi Ibrahim itu agama Yahudi atau Nasrani. Dalam Al Qur'an, Allah membantah hal itu dan memang Nabi Ibrahim ada sebelum agama Yahudi.
Nabi Ibrahim ini penting karena kisahnya ada yg disyariatkan yaitu Haji dan Qurban.

*Ulul Azmi*

Nabi Ibrahim termasuk nabi yg disebut sebagai Ulul Azmi. Ulul Azmi adalah nabi yg diberi kekuatan luar biasa,  karena dakwahnya akan berhadapan dengan Penguasa.
Ada 5 orang Ulul Azmi,  yaitu :
- Nabi Ibrahim,  akan berhadapan dengan raja Namrud.
- Nabi Daud,  akan berhadapan dengan Jalud.
- Nabi Musa, akan berhadapan dengan Fir'aun.
- Nabi Isa,  akan berhadapan dengan Raja Romawi.
- Nabi Muhammad SAW berhadapan dengan Kafirin Quraisy.
Allah memuliakan para Ulul Azmi ini karena perjuangan mereka luar biasa.

*Nabi Ibrahim dibakar*

Nabi Ibrahim mengajarkan Tauhid kepada raja Namrud, seperti tersurat dalam Surat Al Anbiya ayat 51 s/d 70.

"Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk dan Kami telah mengetahui dia." (QS. Al-Anbiya 51)

Nabi Ibrahim berdakwah kepada ayahnya dulu kemudian kepada kaumnya. Ini merupakan simbol keberanian,  karena anak lelaki biasanya takut kepada ayahnya. Nabi Ibrahim menegur penyembahan berhala yg berupa patung.

"(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?" (QS. Al-Anbiya 52)

Sebenarnya jaman sekarangpun ada berhala baru,  contohnya HP,  ternyata kadang lebih diutamakan daripada Allah.

"Mereka menjawab, Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya."
(QS. Al-Anbiya  53)

Bentuk -bentuk kesyirikan itu asalnya dari meniru tradisi orang tua tanpa ilmu. Hal yg serupa masih terjadi sampai sekarang,  seperti meminta sesuatu kepada makam yg dikeramatkan.

"Dia (Ibrahim) berkata, Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata."
(QS. Al-Anbiya  54)

Disini kita mendapat pelajaran bahwa nabi Ibrahim yg muda berani menyampaikan kebenaran kepada yg lebih tua. Sebaliknya juga jika kita bijaksana semestinya mau menerima nasehat kebenaran dari siapa saja,  termasuk dari yg lebih muda.

"Mereka berkata, Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkau main-main?" (QS. Al-Anbiya 55)

Ayat diatas menunjukkan bahwa akhlak Nabi Ibrahim terkenal baik. Jadi meskipun menyampaikan kebenaran yg dianggap keliru oleh kaumnya,  tidak langsung dibantah tetapi dianggap bergurau.

"Dia menjawab, Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan (pemilik) langit dan bumi; (Dialah) yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas itu." (QS. Al-Anbiya  56)

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim membuat strategi. Ini sekaligus bukti kecerdasan Nabi Ibrahim,  Dia tahu kebiasaan raja Namrud suka berburu dengan disertai semua orang, sehingga kota akan kosong.

"Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya." (QS. Al-Anbiya 57)

Ketika kota kosong maka nabi Ibrahim menghancurkan berhala dengan memakai kapak Batu (saat itu belum ada besi) .

"Maka dia menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya." (QS. Al-Anbiya 58)

Dan sungguh terjadi,  ketika kaum raja Namrud pulang,  berhala-berhala sudah hancur dan tinggal satu yg terbesar.

"Mereka berkata, Siapakah yang melakukan ini terhadap Tuhan-Tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya 59)

Namun mereka mencurigai Nabi Ibrahim sebagai pelaku,  dan dilaporkan kepada Raja Namrud.

"Mereka (yang lain) berkata, Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim." (QS. Al-Anbiya 60)

Akhirnya Nabi Ibrahim dipanggil oleh raja Namrud dan disidang secara terbuka.

"Mereka berkata, bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan." (QS. Al-Anbiya 61)
"Mereka bertanya, Apakah engkau yang melakukan ini terhadap Tuhan-Tuhan kami, wahai Ibrahim?" (QS. Al-Anbiya 62)

Sebagai orang yg cerdas, jawaban Nabi Ibrahim secara tak langsung mengajak mereka untuk berfikir logis.

"Dia (Ibrahim) menjawab, Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara." (QS. Al-Anbiya 63)

Tentu saja kaum Raja Namrud sadar bahwa patung tak bisa bicara.

"Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri)." (QS. Al-Anbiya 64)
"Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (QS. Al-Anbiya 65)

Nabi Ibrahim berusaha untuk menggugah kesadaran mereka.

"Dia (Ibrahim) berkata, Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak mendatangkan mudarat kepada kamu?" (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 66)
"Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?  (QS. Al-Anbiya 67)

Namun mereka tetap dalam kekufuran,  bahkan minta agar Nabi Ibrahim dibakar.

"Mereka berkata, Bakarlah dia dan bantulah Tuhan-Tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat." (QS. Al-Anbiya 68).

Dan Nabi Ibrahim dibakar. Tetapi Allah tidak tinggal diam.  Allah memerintahkan api agar menjadi dingin.
Allah SWT berfirman:
"Kami (Allah) berfirman, Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim," (QS. Al-Anbiya 69)
"dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi." (QS. Al-Anbiya 70)

Itulah kisah mukjijat Nabi Ibrahim,  adapun tempat pembakaran nabi Ibrahim itu ada di daerah Urfa ,Turki.

*Peristiwa Qurban*

Peristiwa luar biasa kedua yg diperintahkan untuk diceritakan adalah Qurban. Itu tertulis pada Surat As Saffat 102 - 108.

Jika kejadian pertama diatas adalah dialog antara Nabi Ibrahim dengan bapaknya,  yg ini dialog dengan Anaknya, Ismail yg sudah remaja.
Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih Ismail melewati tiga kali mimpi.

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."  (QS. As-Saffat 102)

Ayat di atas memberi pelajaran kepada kita akan pentingnya dialog dengan anak kita yg sudah remaja.
Setelah dialog,  Nabi Ibrahim berdiam diri merenung di Arofah,  mendekatkan diri kepada Allah yg kemudian dijadikan sebagai syariah Wukuf.

Ada peristiwa lain,  yaitu Nabi Ibrahim digoda setan agar tidak jadi menyembelih Ismail,  namun setan dilempar kerikil oleh Nabi Ibrahim.
Gagal menggoda nabi Ibrahim, setan ganti menggoda Nabi Ismail,  namun juga dilempar kerikil.
Gagal menggoda Ismail,  setan menggoda Siti Hajar agar membatalkan penyembelihan,  namun juga dilempar kerikil.
Tiga kali dilempar kerikil ini sekarang menjadi syariat Lempar Jumrah Ula,  Wustha dan Aqobah.

Pelajaran dari peristiwa diatas adalah bahwa godaan atau bisikan setan kepada manusia kadang memakai bahasa yg baik. Namun bila jelas dia menghalangi ketaatan kepada Allah maka bisa dipastikan itu bisikan setan.

Keesokan harinya tanggal 10 Dzulhijjah,  ketika Nabi Ibrahim mau menyembelih Ismail, maka peristiwa itu diabadikan Allah :

"Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah)."
(QS. As-Saffat 37: Ayat 103)

Peristiwa itu disaksikan oleh orang banyak,  namun nabi Ibrahim tak berani membuka mata ketika menyembelih anaknya, maka dia tidak melihat ketika Allah menggantikan Ismail dengan seekor kambing.

"Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim!
Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
(QS. As-Saffat Ayat 104-107)

Peristiwa diatas adalah mukjijat Nabi Ibrahim,  kemudian diabadikan menjadi ibadah qurban.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ

"Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian," (QS. As-Saffat 108)

Ibadah ini sekaligus meluruskan ibadah qurban yg lain,  karena dulu ketika jaman Habil dan Qabil ada qurban dari hasil bumi. Hal ini sekaligus memberi tahu kita bahwa qurban yg dilarung ke laut ataupun sedekah bumi bukanlah ajaran Islam.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 20 Agustus 2017

Kajian Ahad AMM Banyumanik

Pengajian Ahad AMM Banyumanik

27 Dzulqo'dah 1438 H /20 Agustus 2017

Bp. Rahmad Suprapto

*Ibadah Penyembelihan Hewan Qurban*

Allah SWT berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَـقِّ ۘ  اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ  مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِ ۗ  قَالَ لَاَقْتُلَـنَّكَ ۗ  قَالَ  اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

"Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, Sungguh, aku pasti membunuhmu! Dia (Habil) berkata, Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa."
(QS. Al-Ma'idah  27)

Sesuai ijtihad Muhammadiyah, maka hari Raya Iedhul Adha tahun ini akan jatuh pada tanggal 1 September 2017.
Pada awalnya sejarah Qurban dimulai sejak anak2 Nabi Adam,  yaitu Habil dan Qabil. Habil melakukan qurban dengan buah2 an yg terbaik,  sedangkan Qabil yg jelek2.
Kecemburuan Qabil kepada Habil kakaknya yg mendapatkan isteri cantik dan ditolaknya qurban Qabil menyebabkan Pembunuhan manusia yg pertama.

Qurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban secara syariat berarti binatang sembelihan, yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.

*Hukum Berkurban*

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah(sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu, namun jangan pura-pura tidak mampu.
Kenyataan banyak yg bisa terus merokok tapi tak bisa beli qurban. Padahal rokok setahun lebih mahal daripada kambing.
Menghadapi qurban mestinya harus Disiapkan, misal dengan menabung. Kalau tidak diskenariokan maka akan sulit untuk berkurban,  karena kebutuhan kita banyak.
Bagi yg tidak mampu berkurban maka diperintahkan membantu pelaksanaannya,  dengan menjadi Panitia.

Ada pendapat kedua yg mengatakan ibadah qurban itu wajib seperti Haji, bagi yg mampu.

*Makna dibalik Perintah Allah  untuk melaksanakan ibadah kurban.*

1. Melatih niat yg benar dalam beribadah

َ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ .......

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya .....

Hadits ini mashur dan mutawatir. Ibadah akan diterima jika niatnya benar dan dilakukan dengan cara yg benar.

2. Melatih Kepekaan Sosial

ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“...Sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.”

Siapa yg dermawan,  akan dibalas.  Ayatnya sudah sangat jelas dalam Surat At Talaq

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا

"..... Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya," (QS. At-Talaq  2)

Harga hewan qurban dirasa cukup mahal,  terutama bagi si Pelit.

3. Melatih Kesabaran dan Keikhlasan Beribadah.

Karena daging qurban harus dibagikan ke orang miskin dan kepada kerabat. Kita sendiri hanya boleh menikmati maksimum sepertiga.

Nabi saw bersabda, “Dan jika kalian telah melihat hilal masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” (HR Muslim)

4.  Bergembira (Pesta)  setahun sekali.

*Dalil-dalil Utama Terkait Ibadah Qurban*

A. Perintah Allah dalam Al Qur'an :

اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.
Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)." (QS. Al-Kausar  Ayat 1- 3)

Ternyata benar ada yg membenci kita berkurban. Dalihnya kita kejam,  karena mereka jika membunuh hewan disuntik dulu sebelum disembelih.
Belakangan dibuktikan bahwa cara islam tidak menyiksa ternak, hewan tidak merasa sakit , yaitu dengan penelitian EEG di otak kecil oleh Dr. Scultz dan Dr.Hasim dari Hanover University Jerman.

B.  Petunjuk Rasulullah

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Dari Abi hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad).

Hadits ini melarang orang Islam yang tidak menyembelih qurban untuk tidak mendekati masjid atau tempat shalat. Seolah-olah orang itu bukan muslim atau munafik.

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى ،....

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat ‘ied, hendaklah ia mengulanginya. ....”

"Barang siapa yg shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat seperti kiblat kita maka janganlah dia menyembelih binatang qurban sebelum selesai shalat iedhul Adha ..."

*Ketentuan Ibadah Qurban*

1.  Ketentuan Jenis hewan Ternak.

Kurban memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu.
Hewan kurbannya berupa binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, atau domba. Yang tidak sah,  unggas,  ayam atau hewan lain.

2. Ketentuan Umur Hewan Ternak.

Telah sampai usia yang dituntut syari’at, yaitu telah berganti sepasang gigi serinya :
Unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun. Untuk 10 orang (keluarga).
Sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun.Untuk 7 orang (keluarga).
Kambing adalah yang telah sempurna berusia satu setengah tahun . Untuk 1 orang (keluarga) .

3. Ketentuan Kesehatan Hewan Ternak.

Bebas dari aib (cacat) yang mencegah keabsahannya, yaitu apa yang telah dijelaskan Nabi S.a w. yaitu :

a. Buta sebelah yang jelas/tampak
b. Sakit yang jelas.
c. Pincang yang jelas
d. Sangat kurus.

4. Ketentuan Waktu Penyembelihan

Penyembelihan kurbannya harus terjadi pada waktu yang telah ditentukan syariat, yaitu tanggal 10 dan Hari Tasyrik.

*Urutan Cara Penyembelihan Qurban*

1.  Siapkan seluruh peralatan untuk penyembelihan.
2.  Periksa kesehatan ternak.
3.  Istirahatkan ternak sebelum disembelih,  agar daging tidak alot dan kecut.
4.  Puasakan (8 jam) ternak agar tidak beringas dan mudah penanganannya .
5.  Jika menyembelih agar menajamkan pisaunya agar tidak menyiksa.
6.  Hadapkan ternak ke arah kiblat.
7.  Pegang, ikat ternak dengan kuat.
8.  Baca Basmallah dan doa khusus,  karena itu penyembelih harus muslim.
9. Proses penyembelihan yg benar,  3 saluran harus terputus,  saluran napas,  makan dan darah.
Jangan menyiksa ternak.
10. Pasca Penyembelihan,  periksa keadaan organ dalam kurban. Teliti jika ada yg aneh misal cacing.
11. Jangan pernah mencuci daging di sungai.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK

Senin, 14 Agustus 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

20 Dzulqo'dah 1438 H / 13 Agustus 2017

Drs. H. Agus Supriyadi

*Dzulqo'dah Bulan Haram*

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَآئِرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَـرَامَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, ......" (QS. Al-Ma'idah 2)

Pada saat ini kita masuk ke bulan Dzulqodah, salah satu bulan Haram. Biasanya kita umat islam ini lebih mengenal kalender Masehi dibanding kalender Hijriah milik umat islam. Mengenal kalender Hijriah itu amat penting,  karena jika Allah memerintahkan ibadah yg dikaitkan waktu itu biasanya waktu kalender Hijriah.

Contoh :
Puasa Ramadhan diperintahkan puasa dalam bulan Ramadhan, bukan pada bulan Juli.
Ibadah Haji diperintahkan untuk Haji pada bulan2 yg dimaklumi,  itu pada kalender Hijriah, yaitu Dzulqo'dah,  Dzulhijjah dan Muharram.
Puasa Yaumul Bidh , diperintahkan puasa sunah 3 hari setiap bulan pada pertengahan bulan yg dikenal sebagai Yaumul Bidh tanggal 13, 14, 15 atau 14, 15, 16.  Atau setidaknya minimal sehari kita puasa sunah,  jangan sampai melewatkan pergantian bulan tanpa Puasa sama sekali.

Terkait dengan kalender Hijriah, selain memerintahkan untuk menghormati bulan Ramadhan,  Allah memerintah kita untuk menghormati 4 bulan Haram,  yaitu Dzulqo'dah, Dzulhijjah,  Muharram dan Rajab.

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ  ۗ  ذٰ لِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ    فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ   ۗ  وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً  ۗ  وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa."
(QS. At-Taubah 36)

Namun penghormatan kepada 4 bulan Haram ini saat ini tidak dilakukan oleh umat Islam seperti ketika menghormati bulan Ramadhan.
Penghormatan umat islam terhadap Ramadhan sudah bagus,  pada awal bulan.  Sayangnya pada 10 hari terakhir sudah mengendor karena kiblatnya pindah dari Masjid ke Mall untuk persiapan Lebaran. Padahal ibarat pertandingan maka akhir Ramadhan adalah babak final. Jaminan babak final adalah mendapatkan Lailatul Qodar.

Maka semestinya ibadah kita makin lama makin meningkat. Apalagi kita iringi saling mendoakan : Minal aidzin wal Faizin. Itu adalah do'a agar menjadi orang yg aidzin dan faizin.
Orang yg aidzin bukanlah mereka yg bajunya baru,  melainkan mereka yg takwanya bertambah. Hal ini sesuai dengan firman Allah ketika kita Puasa.

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 183)

Sebenarnya semua ibadah yg diperintahkan oleh Allah itu untuk menjadikan kita manusia bertakwa. Takwa adalah kharakter manusia paling mulia. Mulia disini maksudnya adalah mulia ketika diakhirat.

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ

"..... Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa....." (QS. Al-Hujurat  13)

Pada umumnya ketika bulan Syawal dibacakan Surat Ali Imran 133-136. Itu sebagai bahan evaluasi diri kita,  tentang kriteria Takwa.

Orang Takwa adalah mereka yg terus berinfak baik ketika lapang ataupun sulit. Jadi tak mengenal waktu Ramadhan atau tidak, tetap berinfak.
Jangan sampai terjadi kita memberi infak tapi tidak ikhlas,  sambil mengucapkan hal yg menyakiti hati.

قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ  يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti....."
(QS. Al-Baqarah 263)

Pemberian tidak ikhlas akan menghapus pahala.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)....."
(QS. Al-Baqarah 264)

Pemberian ikhlas tidak memandang sipenerima orang yg kita suka atau yg kita benci. Rasul bersabda bahwa orang yg berbuat baik pada orang yg menjahatinya nanti dihari kiamat diringankan perhitungannya.

Hanya mereka yg bisa menahan marah yg bisa melakukan hal itu. Orang seperti itu masuk Golongan Waro', mereka adalah orang yg akan masuk surga tanpa dihisab.

Karakter takwa berikutnya adalah memaafkan. Orang islam itu harus rendah hati,  berani mengaku salah dan minta maaf, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia,  tak peduli apapun jabatan dia dan tak dibatasi hanya setelah Ramadhan saja.

Rasulullah bersabda,  bahwa banyak lelaki yg sempurna,  mau rendah hati dan minta maaf ; tapi banyak wanita tidak sempurna.
Bila wanita ingin masuk surga harus punya sifat Al afwu,  rendah hati, mengakui salah dan meminta maaf.
Ada seorang wanita dijaman Rasul,  bernama Mutiah yg dikhabarkan akan jadi wanita pertama penghuni surga.

Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelah Ummahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Keesokan harinya baru Fatimah diijinkan masuk setelah Mutiah mendapat ijin suaminya.
Fatimah dijamu makan oleh Mutiah.
Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk . Fatimah heran dan menanyakan untuk apa cambuk tersebut.

Mutiah menjawab : “Seharian aku telah membuat makanan dan minuman untuk suamiku. Sekiranya dia tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka aku minta dia mencambuk diriku. Alhamdulillah suamiku tidak pernah mencambuk diriku. "

Demikianlah kisah tentang berbuat baik.
Sesungguhnya Allah menyenangi orang yg berbuat baik,  jadi tidak tergantung waktu saja. Jangan sampai kita seperti wanita pemintal benang seperti pada surat An Nahl 92.

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًا

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali....." (QS. An-Nahl 92)

Itu adalah pekerjaan sia-sia. Kita sudah belajar takwa di bulan Ramadhan .Ramadhan kemarin masjid penuh,  namun setelah Ramadhan selesai,  masjid pelan2 menjadi kosong.
Padahal orang Mukmin itu bila dimasjid ibarat Ikan di dalam air,  akan krasan.
Adapun orang Munafik bila di dalam masjid, ibarat Ikan terdampar di Daratan .
Sebaliknya juga perhatian buat yg mengimami shalat.  Rasul sebelum mengimami shalat selalu menghadap ke jama'ah,  Tujuannya adalah meluruskan dan merapatkan shaf serta melihat kondisi jama'ah Apakah ada orang tua,  anak2 atau musafir. Bila ada maka dia wajib meringankan shalat.

Jadi orang mulia ibadahnya tak tergantung waktu. Sekarang ini bulan Dzulqo'dah,  bulan yg dimuliakan. Namun kenapa kualitas ibadah umat islam di bulan ini jauh dibanding bulan Ramadhan?
Padahal nabi itu selama hidupnya umrah sebanyak 4 kali dan semuanya di bulan Dzulqo'dah, bulan Haram.

Pengertian Haram adalah disucikan. Ada Bulan Haram,  ada juga Tempat Haram,  yaitu Mekkah dan Madinah,  artinya Tempat yg disucikan. Maka banyak orang yg terpanggil kesana. Untuk kesana memang harus ada niat dulu. In syaa Allah ada jalan. Ketika kita berhaji,  kita menjaga kesucian Tempat Suci,  kita dimuliakan Allah dan do'a kita diijabahi.
Demikian pula,  identik bila kita menjaga kesucian Bulan Dzulqo'dah,  bulan Suci,  in syaa Allah kita dimuliakan Allah juga dan do'a akan diijabahi.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK

Selasa, 08 Agustus 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

13 Dzulqo'dah 1438 H / 6 Agustus 2017

Drs. H. Hamzah Rifqi MSi

*Dzulhijah, Keutamaan dan yg disyariatkan didalamnya*

Dalil-dalil

Bulan Dzulhijah memang bulan yg utama, karena ada suatu hal yg monumental disyariatkan di dalamnya, meskipun demikian ada juga hadits dhoif yg menyebutkan Keutamaannya.

سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة

“Penghulu bulan-bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya Dzulhijjah.”

Keterangan: hadits ini dha’if (lemah) sanadnya karena ada periwayat yg dha'if.

Adapun yg Shahih dari Al Qur'an yaitu disyariatkannya Haji,  Qurban dan Shalat Iedhul Adha.

Yg pertama tentang Haji :

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh," (QS. Al-Hajj 27)

Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyeru kepada manusia untuk berhaji.
Ini mukjizat,  yg kemudian disampaikan ke Nabi Muhammad SAW. Sejak itulah ibadah Haji disyariatkan.

Yg kedua tentang Qurban :

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْۤ اَ يَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ  ۚ  فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْـرَ

"agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." (QS. Al-Hajj 28)

Ini tentang waktu qurban yaitu beberapa hari yg ditentukan,  maksudnya tg 10 dan hari Tasyriq.
Kemudian terkait dengan Nabi Ibrahim ketika meminta anak sholeh dan kemudian dikabulkan Allah dengan lahirnya Ismail :

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ  الصّٰلِحِيْنَ

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh." (QS. As-Saffat 100).

Ayat ini berlanjut sampai ayat 108 yg menceritakan tentang Perintah menyembelih Ismail yg kemudian terkait Qurban.

Pengertian Qurban

Qurban atau Udhiyah Iedhul Adha,
1. Disebut Udhiyah karena disembelihnya memang pada waktu dhuha setelah shalat Iedhul Adha, kalau disembelih saat subuh maka tidak sah.
2. Penyembelihan diwaktu siang hari,  tak boleh malam hari,  dan yg disembelih adalah hewan tertentu. Waktu penyembelihan tertentu dan Umur hewan tertentu (ditandai dengan tanggalnya gigi secara alamiah). Disembelih dengan niat atau Tujuan tertentu yaitu Taqarub (mendekatkan diri kepada Allah) ; dilaksanakan pada hari2 tertentu sesuai dengan syarat2 dan Sebab yg tertentu pula.
3. Apa2 yg disembelih berupa binatang ternak (kambing,  sapi, onta) , pada hari Iedhul Adha sampai hari Tasyriq sebagai pendekatan diri kepada Allah.

Dasar Hukum Qurban

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ   ۗ  فَاِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗۤ اَسْلِمُوْا   ۗ  وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ

"Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)," (QS. Al-Hajj 34)

Perintah Qurban itu kepada seluruh umat,  merupakan upacara keagamaan,  jadi dimana ada agama pasti ada qurban,  termasuk agama primitif. Bahkan sejak Nabi Adam,  namun karena panjangnya masa turun temurun dari anak keturunan, kehidupan mereka menyebar untuk mencari makan dan akhirnya dalam pelaksanaan qurban mereka sudah menyimpang.

Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kambing kibasy yang berwarna putih dan bertanduk. Beliau menyembelih dengan tangannya sendiri.
Jadi sunahnya disembelih sendiri,  namun bila tidak berani boleh minta tolong orang lain yg beragama islam.

Keutamaan Qurban

Qurban adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengikuti Sunah nabi Muhammad SAW,  pasti mempunyai keutamaan, meskipun tidak banyak hadits shohih yg meriwayatkannya.
Kebanyakan hadits yg meriwayatkan derajatnya dha'if.

Sabda Rasulullah saw:
“Tidak ada suatu amalan anak Adam di hari nahar yang paling disukai Allah selain dari menyembelih kurban. Kurban itu pada hari kiamat akan datang dengan segala anggotanya, yaitu bulunya, kukunya dan tanduknya. Darahnya sebelum jatuh ke bumi lebih dulu jatuh ke suatu tempat yang telah disediakan Allah, karena itu bergembiralah dirimu dengan kurban itu.”

Derajad hadits ini dha'if meskipun dikatakan dari Aisiyah,  karena yg dha'if perawinya. Hadits tersebut juga bertentangan isinya (matan) dengan Al Qur'an, yg sampai kepada Allah bukan darah tapi ketaatan. Jadi hadits tadi Mursal.

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا  دِمَآؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu..." (QS. Al-Hajj 37)

Hadits yg lain :
Dari Abu Daud As Sabi’i, dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘Anhu, kami berkata: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.”

Hadits ini dha'if karena perawinya dha'if.

Hikmah dan Tujuan Qurban

1. Qurban untuk Mendekatkan Diri kepada Allah.

Darah dan daging qurban tidak akan sampai kepada Allah,  hanya ketakwaan dari yg berkurban yg akan sampai kepada Allah.
Beda dengan qurban yg bukan syareat islam. Mereka yakin bahwa darah dan daging qurban untuk sesembahan mereka,  maka ada Kepala Kerbau yg dilarung ke laut Selatan,  ada yg ditanam dalam Proyek.
Besar kecil ,ataupun Harga qurban tidak berpengaruh,  karena yg dinilai adalah keikhlasannya. Qurban harus yg terbaik tapi ikhlas.  Seperti kisah Qabil dan Habil , Qabil berkurban dengan yg terburuk,  sedangkan Habil dengan yg terbaik. Maka yg diterima adalah Qurbannya Habil.

2.  Disebut-sebutnya Nama Allah.

Berbeda dengan Iedhul Fitri yg takbirnya sebentar saja,  setelah shalat Ied selesai.
Iedhul Adha takbirnya sampai akhir Hari Tasyriq.
Setiap penyembelihan qurban disebut Nama Allah.

3.  Sebagai Syiar Agama.

Hukum Qurban

Ada beberapa Pendapat

1.  Wajib.

Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya

Diantara dalilnya adalah :
Surat AlKautsar ,karena diperintahkan.Dan pada dasarnya hal yg diperintahkan adalah wajib :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

"Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah"  (QS. Al-Kausar 2)

- Hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”

- Hadits lain :  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat ‘ied, hendaklah ia mengulanginya. Dan yang belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut ‘bismillah’.”

Perintah untuk mengulang ini diartikan sebagai kewajiban.

2. Sunnah Mu’akkadah (ditekankan).

Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain.
Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat seorang sahabat :,“Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.”

Hadits lain :
“Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.”

Hadits lain :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian berkeinginan berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim).

Kalimat "berkeinginan" menunjukkan tidak wajib.
Hadits lain mengatakan hukum qurban wajib bagi nabi SAW namun sunnah buat umatnya.

Kadar Qurban
Seekor kambing bisa untuk qurban 1 orang atau 1 keluarga.
”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
Qurban sapi untuk 7 orang dan Onta untuk 10 orang.

Distribusi Qurban
Bisa lebih luas dari zakat karena shohibul Qurban boleh mendapat, orang kaya juga boleh.
Adapun jumlah nisbah pembagian, ada beda pendapat dari beberapa madzab.

Demikian semoga bermanfaat
Barokallohu fikum


SAK

Minggu, 30 Juli 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

6 Dzulqo'dah 1438 H / 30 Juli 2017

Dr. Zuhad Masduqi, MA

*Iman kepada Allah, Takdir dan Dampaknya Pada Kehidupan*

Rukun iman ada 6, tapi yg paling banyak disebut dalam Al Qur'an ataupun Hadits hanya dua,  yg pertama dan terakhir yaitu iman kepada Allah dan iman kepada Qadla dan Qadar (Takdir).

I. Iman Kepada Allah.
Iman kepada Allah itu aspeknya banyak. Salah satu aspek penting adalah ke-Esaan Allah seperti pada surat Al Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ اَللّٰهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ   ۙ  وَلَمْ يُوْلَدْ  وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu ,tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
(QS. Al-Ikhlas Ayat 1- 4)

Menurut bahasan para ulama ada 3 hal yaitu : Keesaan Dzat,  Keesaan Sifat dan Keesaan Perbuatan.

1. Keesaan Dzat

Allah itu tidak tersusun oleh materi, unsur atau bagian. Karena bila tersusun dari materi berarti ada materi yg mendahului Allah.

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ

"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; ......"
(QS. Al-Hadid 3)

Dalam bahasa Tauhid, Allah itu Qidam dan Baqa (tak ada awal dan kekal).
Allah tak mungkin melahirkan,  karena semua yg melahirkan itu materi. Hubungan Allah dengan Adam adalah Allah menciptakan Adam.

Beda dengan Tuhannya orang Jahiliyah, mereka punya nasab, kapan diciptakan,  dimana diciptakan,  siapa yg menciptakan, diciptakan dari apa.

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى

"Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) Al-Lata dan Al-`Uzza, dan Manat, yang ketiga yang paling kemudian (sebagai anak perempuan Allah)." (QS. An-Najm  19- 20)

Orang jahiliyal bertawassul melalui Berhala untuk berhubungan dengan Tuhannya,  padahal yg membuat berhala dan memberi nama mereka sendiri.

اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ  وَاٰبَآؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ  اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ  اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُ ۚ  وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ  الْهُدٰى

"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka." (QS. An-Najm 23)

Ketika Nabi mengalahkan Mekkah maka semua Berhala dihancurkan dan tak ada yg membalas.
Menurut Imam Ghozali,  kalau ada orang menyembah selain Allah hakikatnya dia tidak menyembah obyek itu tetapi dia menyembah pikirannya (hawa nafsunya) sendiri.
Jadi Berhala tadi adalah Personifikasi dari hawa nafsu. Inilah yg disebutkan orang menyembah hawa nafsunya

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ......

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?  ........."  (QS. Al-Jasiyah 23)

Tuhan orang modern sekarang ini adalah : isme -isme,  seperti Kapitalisme , Sosialisme , Demokrasi dan sebagainya, termasuk UANG.

Jadi akidah Islam itu sangat rasional,  Tuhannya boleh dipertanyakan dan selalu ada jawaban baik secara logika atau Al Qur'an.
Maka sebagai umat islam kita mestinya berfikir Rasional,  Ilmiah dan Empirik.

2. Keesaan Sifat

Allah mempunyai sifat yg beda dengan manusia,  kalau Allah tak terbatas,  manusia terbatas. Jika ada sifat yg sama dengan sifat manusia,  pada hakekatnya hanya sama nama saja,  substansinya beda.

Misal Arrahman- Arrahim,  Maha Pengasih dan Maha Penyayang.  Manusia juga punya Kasih dan Sayang,  namun terbatas.  Suami istri bisa saling mengasihi, namun bila salah satu menyeleweng bisa cerai.
Beda dengan kasih sayang Allah tak terbatas,  meski banyak orang durhaka dengan Korupsi, Musyrik,  Melanggar Syariat tapi Allah tetap memberikan rahmatNya selama mereka memenuhi Hukum Sunatullah. Sebaliknya banyak Muslim yg miskin,  itu semua karena Kasih Sayang Allah tak terbatas.

Rumus untuk menjadi kaya itu bukan Shalat sunnah atau Puasa,  tapi Hukum-hukum  Perolehan Rezeki.
Orang islam yg tidak memanfaatkan Hukum Perolehan Rezeki ya dapat sedikit,  sebaliknya Orang Kafir yg memanfaatkan dapat rezeki banyak.
Kalau kita mengkaji Tafsir Al Qur'an ada 4 hukum -Perolehan Rezeki.

-  Mengembangkan Potensi Daya Manusia secara maksimal.

Allah menyayangi manusia melalui Sistem yg dikenal sebagai Sunatullah. Sunatullah ini tidak pandang bulu, hanya yg mengembangkan dapat banyak.
Manusia tak peduli siapapun dia,  diberi potensi2 : Daya Akal,  Daya Qolbu,  Daya Hidup dan Daya Fisik.

Daya akal,  bila dikembangkan jadi pandai,  mencari pekerjaan mudah. Siapapun tak pandang bulu bila mengembangkan daya akal maka pintu rezeki terbuka lebar.
Daya Qolbu ini hati nurani, kemampuan untuk beriman,  empati, berekspresi,  bila dikembangkan akan menjadi orang yg baik dan pintu rezeki terbuka.
Daya Hidup ,  ini untuk menghadapi lingkungan. Bisa lingkungan alam ataupun sosial ,  bila dikembangkan menjadi orang yg tak gampang menyerah. Pintu rezeki terbuka.
Daya Fisik, kaki misalnya bila dikembangkan jadi Pemain Sepak bola dan bayarannya besar.
Masalah kita adalah kita tidak mengembangkan. Teology kita salah,  hanya mengatakan rezeki dari Allah,  hidupnya pasif.

- Jihad,  usaha yg sungguh2
Siapa yg kerja keras pasti akan dapat lebih banyak dari pada yg malas.

- Silaturahim.

Hadits Nabi :

” مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ”

“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim”

Silaturahim kalau bahasa sekarang adalah Relasi. Barang siapa relasinya banyak maka pintu rezekinya juga akan terbuka. Dan barangsiapa rezekinya banyak,  hidupnya akan sehat dan sejahtera, maka umurnya akan panjang.
Sebaliknya bila tak punya relasi maka rezeki jadi sempit,  kebutuhan hidup tak terpenuhi, jadi sakit-sakitan dan cepat mati.
Allah telah menetapkan Ajal,  artinya Batas Akhir,  bukan Kematian.
Masalah kita Apakah kita bisa mengusahakan hidup kita sampai batas ajal?
Konsep islam,  mati itu ada dua : Mati tabi'i atau mati normal-karena memang sudah sampai ajal.
Mati istirowi,  mati karena sesuatu sebab, misal tertembak,  kecelakaan, mati karena tidak menjaga kesehatan
Jadi Silaturahim itu hasilnya dua : Membuka Pintu Rezeki dan Hidup Sampai Batas Ajal.

- Mengembangkan Daya Fisik dengan cara membuka lapangan Pekerjaan.

Demikianlah cara Allah menyayangi manusia,  lewat sunatullah.

3.  Keesaan Perbuatan

Semua yg ada di alam semesta ,termasuk kita itu ada karena Perbuatan Allah. Allah mencipta melalui Sistem Sunatullah,  tidak semaunya sendiri.
Rezeki,  Reproduksi, Keluarga Sakinah, Negara Adil Makmur semua ada Sunatullahnya.  Bila tidak dijalani ya tak akan terjadi.
Contoh Sunatullah bahwa kerbau beranak kerbau, bukan kambing. Seorang anak akan mirip orang tuanya karena adanya genetik.
Kalau manusia memahami hukum Allah,  Sunatullah dalam Al Qur'an maka dia mestinya akan maju. Maka semestinya orang Islam itu harus berfikir Rasional,  Empirik, Ilmiah.

II.  Iman Kepada Qadla dan Qadar.

Ada dua faham,  faham lama (Jabariyah)  dan Faham Baru. Konsep ini bertentangan sama sekali.
Faham lama :
Takdir adalah Keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta semua amal perbuatan manusia. Semua perbuatan sudah ditulis sebelum diciptakan dan Allah menciptakan manusia penghuni Surga dan Neraka.
Dengan faham ini manusia jadi Fatalistik, tidak berusaha. Konsep ini sekarang menguasai dunia islam,  termasuk di Indonesia.  Jadilah kita orang yg tak pernah maju.  Semestinya kita tidak memakai konsep ini,  harus sesuai Tauhid kita yg Rasional, Ilmiah dan Empirik.

Faham Baru
Disampaikan oleh Imam Al Ghozali (tahun 1111)  ,  pada prinsipnya ada 3 hal : Qadla,  Qadar dan Ikhtiar.
Qadla adalah Pengaturan Allah atas segala sesuatu adalah Berdasarkan hukum Sebab Akibat. Jadi Qadla adalah Sistem
Ketika hukum Sebab Akibat berealisasi maka dia menjadi Takdir. Itulah Qadar,  dia terikat waktu dan tempat kejadian.
Ikhtiar adalah Pilihan kita terhadap Sistem yg ditawarkan Allah. Jadi Takdir itu kita yg memilih.

Contoh Reproduksi manusia :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati dari tanah" (QS. Al-Mu'minun 12)

ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ

"Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam tempat yang kukuh (rahim)." (QS. Al-Mu'minun 13)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ۙ  ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ   ۗ  فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ

"Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik."
(QS. Al-Mu'minun 14)

Itu adalah Qadla atau Sistemnya,  dan Perkawinan Manusia adalah Takdir atau Qadarnya. Ada waktunya dan ada tempatnya.
Allah menciptakan Lelaki cinta Wanita dan sebaliknya,  tapi Siapa menikah dengan siapa itu Pilihan Manusia.
Hitam kawin sama hitam hasilnya anaknya hitam,  itu Sistem. Jika mau anak putih maka harus memilih.

Demikian pula dengan Rezeki,  bila pingin kaya ya harus Memilih ikhtiar untuk menjadi Kaya.
Memang Takdir itu harus diimani,  tapi Konsepnya yg mana?
Orang Islam harus Rasional, Empirik dan Ilmiah karena keimanan kita Rasional, Empirik dan Ilmiah.
Jika kita punya masalah tidak menyerah karena takdir,  tapi ikhtiar mencari Sebab,  lalu kita Analisa dan pilih Solusi.

Demikian semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK