Minggu, 11 Februari 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

25 Jumadil Awal 1439 H / 11 Februari 2018

Dr. H. Haerudin, SE. MT

*Makna Laa ilaha illallah*

Menurut Hadits Buchory,  bahwa Islam itu dibangun atas 5 perkara yg disebut dengan Rukun Islam.  Kita kenal yg pertama adalah Syahadat. Yaitu kalimat "Laa ilaha illallah ". Kita sering mengartikan kalimat "Laa ilaha illallah dengan : "Tidak ada Tuhan selain Allah..."
Lalu apakah Hakekat dari Tuhan?
Kadang kita nyebut kalimat tauhid tadi berkali-kali : Tuhan...Tuhan.. Tu. Han ..Tu ..Han.Tu....Han. Tu.. Hantu.. Hantu ...Han..
Tuhan berubah jadi Hantu....
Orang Jawa bahkan menyebut Tuhan itu Pangeran...Padahal di Solo dan Yogya banyak sekali Pangeran....
Maksudnya adalah Tuhan menjadi tidak jelas.

Kita perlu memahami hal tentang Tuhan ini dengan pemahaman yg benar. Ini masalah Tauhid,  hal yg paling mendasar dalam agama karena yg akan menyelamatkan kita dari api neraka.
Rasulullah SAW bersabda,"Barangsiapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,' kemudian meninggal, maka pasti masuk surga."  ‎Dalam hadits lain ditambahkan ; "Sekalipun ia pernah berzina dan mencuri?' Dan dijawab 'Ya'"
Asal tidak ada syirik,  maka pencuri dan pezina akan masuk surga, namun dengan lewat neraka sebentar untuk membersihkan dosa.

Penghuni neraka, setelah tinggal beberapa waktu sesuai dengan dosanya akan diangkat ke surga. Hanya ada 3 golongan yg tidak akan diangkat :
1. Mereka yg mati dalam keadaan Kafir.
2. ‎Mereka yg mati dalam keadaan Syirik
3. ‎Mereka yg mati dalam keadaan Munafik.
Mereka dikatakan kekal selamanya di dalam neraka. Kepada Orang Kafir bahkan kita dilarang mendoakan ketika meninggal. Demikian juga kepada orang musyrik kita dilarang mendoakan ketika meninggal.

مَا كَانَ  لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۤ اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَ لَوْ كَانُوْۤا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ  اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

"Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang-orang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabatnya setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam." (QS. At-Taubah 113)

Orang munafikpun sama,  tak bisa dimintakan ampun.  Allah SWT berfirman:
"Sama saja engkau Muhammad memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka 70 kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka...." (QS. At-Taubah  80)

Rasulullah bersabda,  bahwa seandainya dimintakan ampun 71 kalipun tetap sia-sia. Artinya bukan bilangan,  tapi hal yg tak terbatas.

Jadi bahaya Syirik itu luar biasa. Amalan orang musyrik tidak ada bekasnya sama sekali, hilang ibarat pasir diatas Batu yg hilang dicuci air..

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يَّعْمُرُوْا مَسٰجِدَ اللّٰهِ شٰهِدِيْنَ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ بِالـكُفْرِ ۗ  اُولٰٓئِكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ  ۚ  وَ فِى النَّارِ هُمْ خٰلِدُوْنَ

"Tidaklah pantas orang-orang musyrik memakmurkan masjid Allah, padahal mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Mereka itu sia-sia amalnya, dan mereka kekal di dalam neraka." (QS. At-Taubah 17)

Penyakit syirik bahaya karena sangat samar,  ibarat semut hitam berjalan diatas Batu dimalam hari. Tidak terasa padahal sudah syirik. Penyebab syirik itu banyak,  antara lain karena Tradisi.
Contoh,  tradisi menghitung hari,  hari ini baik dan hari ini buruk.
Mengagung-agungkan suatu waktu dan mecela waktu lain adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.Dalam sebuah Hadist Qudsi Allah berfirman : "Anak-anak Adam ada yang menyakiti hatiku, mereka mencela waktu, padahal Akulah yang menciptakan waktu” (HR. Bukhari).

*1. Tauhid Rububiyah*

Tauhid itu dibagi dua,  Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Ada yg menambah Tauhid Asma wa Sifat.
Tauhid Rububiyah itu membahas tentang Dzat. Lalu kalau Dzat Allah seperti apa?

*Allah itu Absolut , Makhluk itu Relatif*

Dalam agama lain, Tuhan diberi nama oleh Makhluknya dengan gambaran -gambaran tertentu. Ini tidak sama dengan ilmu Tauhid. Pencipta pasti beda dengan makhluknya.
Sering digambarkan dengan meja dan Pembuat meja pasti beda,  walaupun Keduanya sama-sama materi. Kita tidak bisa menjangkau sifat-sifat Allah , kalau kita bisa menjangkau sifat-sifat Allah tanpa bantuan Allah,  maka Allah bukan Tuhan.
Kita itu relatif,  banyak keterbatasan. Maka Allah pasti tidak Relatif, atau disebut Allah itu Absolut , tak mungkin dijangkau oleh Relatif.
Kita uji dengan pertanyaan :

Dapatkah Allah menciptakan Batu yg Maha Besar sehingga Allah sendiri tak mampu mengangkatnya ?

Kita pasti bingung untuk menjawabnya,  tak mungkin kita bisa menjawab karena Kita itu Relatif dan Allah itu Absolut.
Memikir tentang Allah yg Absolut tak mungkin bisa dengan menggunakan logika kita yg Relatif. Absolut tidak mengenal sebab akibat,  maka kesalahan diatas terletak pada Pertanyaan Relatif untuk hal yg Absolut.

Contoh lain,  Seorang rajin ibadah rajin usaha tetapi tetap miskin dan sengsara,  sebaliknya ada orang lain tak pernah ibadah, malas tapi kaya raya.  Pertanyaannya apakah Allah adil ?

Seseorang tak bisa membayangkan bila tidak tahu. Kita mengenal Kereta api,  tetapi mungkin seseorang di Pedalaman yg tak mendapat akses informasi tak dapat membayangkan Kereta api.
Demikian juga dengan Konsep Keadilan Allah itu tidak sama dengan Konsep Keadilan manusia.

Allah tak bisa dijangkau tanpa informasi dari Allah.  Kita mengenal Allah karena diberi tahu Allah.
Allah SWT berfirman:

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ  اَنَا فَاعْبُدْنِيْ  ۙ  وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku." (QS. Ta-Ha 14)

Jadi nama Allah itu bukan buatan makhluk,  tapi langsung dari Allah memberitahu kita. Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa sholat itu agar mengingat Allah.. Namun kembali kadang jadi dilogikakan terbalik,  jika sudah ingat maka tak perlu sholat. Tentu itu logika yg keliru.
Kita tak boleh melogikakan, logika Allah dengan logika kita yg relatif,  maka dalam ibadah mahdoh ketika Perintah Allah jelas maka kita tak boleh mengubah. Bila diubah namanya bid'ah. Dan setiap bid'ah itu sesat. Jadi tak boleh ditambahi meskipun ditambah hal baik.
Contoh :
- Shalat Subuh itu 2 raka'at,  maka tak boleh kita tambah jadi 4 raka'at

- Saat Sujud dalam sholat itu tak boleh membaca Al Qur'an,  meskipun Membaca Al Qur'an itu sesuatu yg baik .

Yg banyak membahas ibadah itu Hadits, bukan Al Qur'an. Tentang hadits itu ada pendapat yg berbeda. Misal tentang Qunut, Shalat Tasbih itu ada hadits yg menshohihkan namun ada juga yg mendhoifkan maka timbul pendapat yg berbeda.

Jadi Allah itu absolut,  tempat kita minta tolong.  Jangan menyembah kepada yg relatif,  seperti Gunung Merapi,  atau Dukun,  atau malahan Keris.
Manusia pembuat Keris saja relatif, apalagi Keris buatannya.

Kadang juga ada yg keliru menafsirkan logika Allah : Bersedekahlah agar engkau Kaya.  Lalu banyak yg bersedekah karena mengharap Kaya. Padahal dalam hadits dijelaskan bahwa yg disebut Kaya itu bukan Kaya materi tetapi Kaya hati,  merasa dirinya cukup.

Mengharap sesuatu dari makhluk maka siap-siaplah untuk kecewa. Karena setiap makhluk punya keterbatasan. Sekaya apapun setiap manusia mempunyai kebutuhan yg berkembang, jadi dia bukan tanpa batas. Karena itu bila ingin shadaqah jangan menunggu kaya, karena pasti kebutuhan juga meningkat.

Karena itu kalau mau meminta kepada Allah,  karena Allah yg Maha Kaya.
Meminta kepada Allah itu mudah :
- Tak perlu washilah (perantara) kenapa? Karena Allah itu dekat.  Menganalogikan meminta kepada Allah dengan menghadap Pejabat yg harus lewat Ajudan atau Sekertaris jelas salah,  karena Allah bukan Pejabat.
- ‎Meminta Kepada Allah tak harus datang ke Mekkah,  karena yg tak punya uang akan sulit kesana
- ‎Meminta kepada Allah tak perlu dengan suara keras,  karena Allah Maha Mendengar,  bahkan suara hatipun didengar
- ‎Meminta kepada Allah tak harus berbahasa Arab,  karena Allah Maha tahu, bahasa Jawa juga tahu. Bahasa Arab malah mungkin kita yg tidak tahu.
- ‎Mendoakan yg telah wafat tidak harus mendatangi makam,  karena dari rumahpun bisa.

Kekeliruan kita yg sering terjadi adalah memahami Logika Allah dengan logika manusia,  memahami Alam Kubur dengan kondisi Alam Dunia.  Padahal jelas beda.
Meminta kepada Allah karena tanpa batas. Diibaratkan Kasih sayang Allah sejumlah 70,  yg satu dibagi untuk dunia semua.  Rasul mengatakan bahwa di hadapan Allah kenikmatan dunia ini hanya setara dengan sebelah sayap nyamuk. Sabdanya ;

    “Seandainya dunia ini di sisi Allah punya nilai setara dengan sebelah sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum seorang kafir seteguk air pun.” (HR. At-Tirmidzi)

Kekayaan materi dunia seberapa banyakpun bisa dihitung,  artinya sedikit karena bisa dihitung.
Bandingkan dengan Kekayaan hati yg lapang,  siapa bisa menghitung. ?
Kekayaan Allah itu absolut,  tak terhitung karena immaterial.

Kenapa kita kagum dengan Kekayaan seseorang padahal terbatas,  kitapun tak mendapat manfaat apapun. Beda dengan Kekayaan Allah,  kita banyak mendapatinya dan menikmati dengan gratis ! Ubah pola pikir kita,  agar kita tergantung hanya kepada Allah.
Ingat bahwa Setan pun menggoda kita dari 4 sisi,  kanan,  kiri,  depan dan belakang. Artinya dari sisi dunia. Setan tak bisa menggoda dari atas !  Kenapa, karena keatas adalah hubungan kita dengan Allah.

Hubungan ke atas nilainya tanpa batas. Karena itu jika ibadah ingin luas harus lillahi ta'ala,  hanya ke atas.
Ibadah jangan disempitkan, apa maksudnya?  Ibadah yg dipamerkan ke manusia maka nilainya kecil.

*2. Tauhid Uluhiyah*

Tidak ada illah kecuali Allah.

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.." (QS. Al-Isra' 23)

Perintahnya adalah menyembah Allah,  tetapi banyak orang yg menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan.

Allah SWT berfirman:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً   ۗ  فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ   ۗ  اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"
(QS. Al-Jasiyah 23)

Menyembah hawa nafsu,  apakah hawa nafsu?  Apakah kemarahan?  Belum tentu

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَ  الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْن

"Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. Al-Jasiyah  18)

Ayat diatas memberi tahu kita bahwa semua urusan manusia itu ada aturannya. Ayat ini terkait dengan ayat yg terakhir turun yaitu

 اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا 

"... Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu...." (QS. Al-Ma'idah 3)

Semua hal diatur oleh Al Qur'an.
Bagaimana jika ada yg tanya apakah Al Qur'an juga mengatur cara membuat onde-onde.. ?
Jawaban Al Qur'an :

فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْن

".. maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Anbiya  7)

Setelah tanya ahlinya lalu ikutilah.
Orang yg menyembah hawa nafsu adalah orang yg tidak mau mengikuti aturan (syari'ah).

Jadi makna bertauhid secara utuh tidak sekedar Laa ilaha illallah saja tapi juga taat pada aturan Syari'ah.
Kenapa?  Kalau hanya percaya Allah maka iblis itu sangat percaya Allah tapi dia menolak ketika diminta bersujud kepada Adam. Karena merasa lebih baik.
Maka iblis dihukum.

Kesimpulannya Percaya kepada Allah saja tidak cukup,  harus konsekwen dengan menjalani aturan Allah

Demikian semoga bermanfaat
Barokallohu fikum.

🖍SAK

Senin, 05 Februari 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

18 Jumadil Awal 1439 H / 4 Februari 2018

Drs. H. Hamzah Rifqi MSi

*Tetap Bersyukur , Bagaimanapun*

Bersyukur kadang dimaknai dengan ucapan :  Alhamdulillah.
Bila ditanya apa khabar, jawaban juga Alhamdulillah, yg mungkin maksudnya adalah baik , namun bisa juga kondisinya buruk. Artinya dalam kondisi apapun maka kita harus bersyukur dan bersabar.
Bagaimana kita harus bersyukur dan bersabar?

*Syukur dan Sabar hiasan orang beriman*

Kehidupan menjadi indah bagi orang beriman, karena dalam segala hal yg terjadi hanya ada dua pilihan,  Bersyukur dan Bersabar. Kalimat ini gampang diucapkan ketika dalam keadaan baik,  namun tak mudah diterima bila dalam keadaan buruk.

Pada suatu saat Nabi pernah berjalan di suatu pekuburan bersama para Sahabat. Di Pekuburan ada seorang ibu yg menangis. Lalu Nabi mengatakan kepada ibu tadi : " Bersabarlah engkau ibu".
Ibu yg menangis tadi berkata : "Kamu bisa mengatakan begitu".

Artinya apa? 
Dia memprotes karena menganggap bahwa Nabi tidak dapat memahami betapa besar kedukaannya.
Menasehati orang yg sedang sakit atau susah untuk bersabar itu tidak mudah, bahkan mungkin bisa memancing kemarahan.  Jangankan misalnya yg menasehati lebih muda,  bahkan Nabi saja ketika menasehati agar bersabar beliau diprotes.

Ketika ibu tadi diberi tahu bahwa yg menasehati adalah Rasulullah SAW,  barulah mukanya pucat pasi. Lalu mendatangi rumah Rasulullah, disana tak ada penjaganya. Kemudian dia menemui Nabi dan mengatakan : "Saya tidak mengenal engkau wahai Rasulullah "..
Ibu tadi bermaksud minta maaf karena berlaku kasar,  dan sekarang dia sudah bersabar.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Hanyalah kesabaran itu pada benturan yang pertama kali.”

Urusan orang beriman itu mengagumkan, ada sebuah hadits :

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari sahabat Shuhaib RA, Rasulullah SAW telah bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena ia mengetahui hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia mengetahui hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim)

Orang Mukmin yg sebenarnya adalah yg percaya dan memiliki iman kepada Allah dan beragama Islam dan dia menegakkan ajaran-ajaran Islam, dia shalat.
Orang Mukmin bila mendapatkan kesenangan dia bersyukur,  karena dia tahu bahwa semua yg dia dapat adalah karena ijin Allah. Kita dapat bepergian dengan selamat karena ijin Allah,  tanpa ijin Allah mungkin saja terjadi kecelakaan ketika di jalan. Karena itulah kita wajib bersyukur kepada Allah,  apapun yg kita dapatkan.

Bersyukur jangan dikotori dengan takabur, walaupun mungkin tak terasa.  Ketika seorang naik Haji dan dia berdoa tentang suatu hal dan kebetulan dikabulkan oleh Allah,  janganlah muncul takabur bahwa diri ini dekat dengan Allah dan doanya manjur.
Belum tentu keberhasilan sesuatu akibat doanya. Tak ada seorangpun yg tahu, maka jangan takabur bila doa terkabul.

Orang Mukmin ketika mendapati keadaan sulit,  atau apapun dianggap buruk dia tetap bersabar. Bersabar itu tetap tegar dalam iman dan islam.  Tetap beribadah dengan baik sebagaimana dia sebelum terkena musibah.
Dia yakin bahwa semua atas ijin Allah.

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang , kecuali dengan izin Allah; ..." (QS. At-Taghabun 11)

*Fadhilah Syukur*

*1. Menghindarkan dari Siksa*

مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْ  ۗ  وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

"Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa'  147)

Allah saja bersyukur,  maka kenapa manusia tidak bersyukur?
Bagaimana memahami cara bersyukurnya Allah?
Kita ambil ilustrasi ketika kita punya makanan, katakan oleh-oleh atau buah tangan kemudian kita antar ke tetangga memakai nampan,  maka biasanya Tetangga akan membalas , nampan tadi tidak pulang kosong tapi ada isinya,  bahkan kadang lebih baik,  bisa seketika atau diwaktu lain.
Kira-kira seperti itu,  Allah tidak memberi siksa, tapi membalas dengan kebaikan.

*2. Bertambah Nikmat*

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim  7)

Banyak yg tahu bahkan hafal ayat ini, namun mengerjakannya berat. Karena syukur tidak sekedar mengucap Alhamdulillah.

*3. Merupakan Kekayaan yg Hakiki*

Harta itu ternyata bukan Kekayaan yg sebenarnya. Buktinya meskipun rumahnya banyak,  uangnya banyak tapi masih terus merasa kurang.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekal.i tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari - Muslim)

Kekayaan yg hakiki ada di dalam hati,  yaitu syukur. Disebutkan dalam hadits:

Dari Tsauban sebelum turun ayat tentang zakat emas dan perak, ( yaitu ayat ini :)
 
وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ  سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ  فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ

"..... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih," (QS. At-Taubah 34)

Kami bertanya : ‘Wahai Rasulullah, jika mengumpulkan emas dan perak akibatnya seperti ini, alangkah baiknya seandainya kami mengetahui harta manakah yang paling baik untuk dijadikan sebagai simpanan?
Rasulullah SAW bersabda, “Lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri shalihah yang membantu urusan dunia dan akhirat.”(HR Ahmad dan Ibnu Madjah)

Kekayaan yg hakiki, antara lain adalah Banyak berdzikir,  menyebut Nama Allah.
Berapa banyak kita menyebut : Subhanallah. ? Sangat sedikit,  paling hanya setelah shalat fardhu,  33 kali.
Itupun jika tidak tergesa-gesa.

Kekayaan berikutnya adalah Hati yg selalu Bersyukur. Orang Jawa punya filsafat : " Nrimo ing pandum" , yg maknanya juga Bersyukur.

Kekayaan berikutnya adalah Isteri yg Sholehah yg menolong Suaminya dalam urusan Dunia dan Akhiratnya.
Yg dimaksud dengan isteri yg membantu suami dalam urusan dunia bukanlah isteri yg bekerja,  karena jaman Nabi isteri tidak bekerja seperti sekarang.
Yg dimaksud adalah isteri yg menolong suaminya agar tidak melakukan kebathilan didalam mendapatkan harta benda, bukan malah merongrong suami agar memikirkan dunia saja.
Isteri yg selalu mengingatkan suami akan akhirat, bahwa kehormatan itu bukan pada harta atau jabatan. Kehormatan itu ada di dalam diri.

*Anasir Syukur*

Bersyukur itu ada prosesnya : Ilmu - Keadaan - Perbuatan.

*1. Ilmu agar Bersyukur dengan benar*

Kalau ilmunya salah maka yg diyakini akan salah dan akibatnya bersyukurnya juga salah.

Contoh :
Misal mendapat ilmu bahwa Minuman Teh mengandung cyanida,  padahal tahu bahwa cyanida adalah Racun. Maka tindakannya : Minuman Teh dibuang.
Padahal yg benar Minuman Teh tidak mengandung Cyanida, jadi mestinya diminum.

Perbuatan akan Salah akibat Ilmu yg salah. Jadi untuk memastikan Bersyukur dengan benar maka harus mencari ilmu atau informasi yg benar,  yg datang dari Allah. Bila informasi salah maka Perbuatan akan salah.

Contoh lain :
Orang sakit berobat ke Dokter,  diberi obat dokter lalu sembuh. Info atau Ilmu yg ditangkap adalah Dokter yg menyembuhkan, maka dia bersyukur kepada Dokter.
Padahal mestinya info yg benar semua dari Allah,  kesembuhan dari Allah. Kenapa?  Karena ada yg sama-sama sakitnya,  diobati obat yg sama oleh dokter yg sama,  akibat bisa beda. Yang satu sembuh yg lain mati.
Maka mestinya bersyukur kepada Allah, yg mengijinkan obat berproses menyembuhkan. Berterima kasih kepada dokter.

Pengetahuan ‎Siapa Pemberi Nikmat.
Bila tidak tahu siapa yg memberi nikmat bisa keliru. Bersyukur tetap kepada Allah,  berterima kasih kepada manusia sebagai perantara.

*2. Keadaan yg Memotivasi Bersyukur*

Orang disamping harus punya ilmu yg benar untuk bersyukur, dia juga harus punya Keadaan yg bisa memotivasi untuk bersyukur.

2.1. Merasakan kelezatan yg sebelumnya tak dirasakan.

Seseorang biasanya bisa merasakan Nikmat Sehat, apabila dia baru saja sembuh dari Sakit.
Bila dia Sehat terus dalam waktu lama malah mungkin tak sadar akan Nikmatnya Sehat,  maka tidak bersyukur.

Maka kita diajari oleh Nabi agar berdoa ketika bangun tidur agar sadar akan nikmatnya bangun tidur. Bisa jadi kita menganggap bangun tidur itu hal biasa.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“ Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan ". (HR. Bukhari)

2.2. Mendapatkan apa yg dia senangi.

Bila dia tidak menyenangi maka dia tidak bersyukur.
Contoh,  kadang kita bermaksud membelikan Es Cream untuk oleh-oleh anak kita. Kebetulan anak kita tak senang dengan rasa Es Cream yg dipilih. Maka bisa jadi malah protes,  tidak bersyukur.
Sama dengan kita,  kepengin anak laki-laki namun diberi anak perempuan oleh Allah. Kadang ada yg menggerutu karena tidak bersyukur.

Senang dengan nikmat maka semestinya juga senang dengan yg memberi nikmat, yaitu Allah.

2.3. Orang harus tahu bagaimana Mendaya gunakan nikmat.

Bila sudah mendapat kesehatan,  maka harus tahu bagaimana menjaga kesehatan. Jangan melanggar apa yg harus dipantang untuk kesehatan.
Kita mendapat nikmat Allah harus mendaya-gunakan dengan baik. Kita mendapat Mata harus melihat hal yg baik. Kita mendapat Lisan harus digunakan untuk hal yg baik dengan cara yg baik. Sebab ada bicara yg baik dengan cara yg tidak baik.

2.4.  Menghindari dengki agar bisa Bersyukur.

Hindari dengki karena dengki itu ibarat api yg memakan dirinya sendiri, menghilangkan Rasa Syukur.
Contoh , A dengki dengan B yg sebenarnya orang baik. Suatu saat B memberi hadiah kepada A , sesuatu yg sebenarnya kesukaannya.  Namun karena dengki maka menutup rasa senangnya,  yg timbul malah prasangka buruk. Jangan.. jangan... macam-macam yg difikir. Dan dia tidak bersyukur.
Orang beriman harus menghindari dengki.

*3.Perbuatan agar selalu Bersyukur*

Ada 3 perbuatan untuk selalu bersyukur yaitu Perbuatan Hati,  Perbuatan Lisan dan Perbuatan Anggota Badan.
Hati merasa senang,  bersyukur dan berterima kasih.
Demikian pula Lisan, akan mengucap terima kasih,  alhamdulillah ....
Kemudian amaliah,  anggota Badan.

Untuk bisa bersyukur terus maka kita harus berusaha.

3. 1 .Yakin

Yakin bahwa apapun yg kita miliki adalah Nikmat dari Allah.

وَمَا بِكُمْ  مِّنْ نّـِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْئَرُوْنَ

"Dan segala nikmat yang ada padamu datangnya dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." (QS. An-Nahl 53)

Kita diperintahkan berdoa setelah shalat

اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Alloohumma laa maani’a lima a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jadi minkal jaddu.”

“Ya Allooh tidak ada yang dapat menghalangi terhadap apa yang Engkau beri, tidak ada yang dapat memberi terhadap orang yang Engkau halangi, dan tanpa izin-Mu pemilik manfaat tidak dapat memberikan manfaat.” (HR Muslim)

3. 2. Melihat yg lebih bawah.

Hindari melihat yg lebih tinggi.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. 3 Melihat dari Sisi Positif

وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

"... Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)

3. 4.  Mungkin masih banyak nikmat yg belum disyukuri.

وَلَقَدْ مَكَّـنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَـكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ  ۗ  قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

"Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan sumber penghidupan untukmu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. Al-A'raf 10)

Berapa hari kita sehat?  Dan berapa hari kita sakit?  Kenapa kita hanya ingat nikmat sehat ketika sakit?

*Sikap dan Konsekwensi*

Rizki itu bisa Luas dan bisa Sempit.
Jika Rizki luas ataupun sempit tapi disikapi dengan Bersyukur dan Sabar maka konsekwensinya adalah Surga.
Sebaliknya jika diingkari maka Konsekwensinya adalah Neraka.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 28 Januari 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

11 Jumadil Awal 1439 H / 28 Januari 2018

Drs. H. Muchtar Hadi MAg

*Berhati-hati (2)*

*1. Umar Bin Khattab dan Ubay Bin Ka'ab*

Dikisahkan Khalifah Umar bin Khattab adalah seorang yg hati-hati. Ketika seorang Pembesar Romawi mau menemuinya dengan informasi bahwa beliau selalu shalat di Masjid,  ternyata tak bisa menemui beliau.  Ini karena ke hati-hatian Khalifah Umar yg ternyata berpakaian sederhana,  sehingga persepsi dari Tamu bahwa Umar pasti berpakaian kebesaran dan dikawal menjadi keliru dan tak ketemu.

Khalifah Umar yg sedemikian hati-hatinya itu ternyata masih belajar kepada Sahabat Ubay bin Ka'ab.
Umar bin Khaththab r.a bertanya kepada Ubay bin Ka’ab r.a tentang taqwa.
Jawab Ubay bin Ka’ab r.a
“Apakah anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?”
Jawab Umar r.a, “Ya.”
Ubay r.a bertanya, “Lalu anda berbuat apa?”
Jawab Umar r.a, “Saya sangat waspada dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.”
Ubay r.a berkata, “Itulah contoh taqwa.”
Jadi Taqwa adalah Hati-hati.

*2. Munasabah*

Dalam kehidupan kita diperintahkan untuk selalu hati-hati. Berdasarkan hadits Rasulullah SAW :

 دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

Rasulullah SAW : ‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu’.” [HR at-Tirmidzi.]

Kita sering menghadapi dua pilihan yg membingungkan untuk dipilih.  Ambil contoh dalam menentukan jodoh anak atau memilih sekolah untuk anak misalnya.  Tidak selalu pilihan bersifat hitam putih sehingga gampang.
Yg sering terjadi hampir sama bobotnya,  untuk itu tetap pedomannya adalah Pilih yg paling tidak meragukan.
Bila tetap tidak dapat memilih maka kita diperintahkan untuk shalat Istikharah.
Yaitu shalat untuk memohon dipilihkan yg terbaik dan diperbanyak membaca do'anya : " Ya Allah,  pilihkanlah bagiku yg terbaik,  dan carikanlah bagiku yg terbaik ".
Shalat Istikharah tidak harus malam hari,  boleh setelah shalat fardhu namun yg terbaik tetap pada 2/3 malam.

Ketika kita berdoa maka kita dihadapkan pada dua pilihan do'a matsurah (dicontohkan Nabi) atau Doa Ghoiru matsurah. (Bukan contoh Nabi).
Tentunya dipilih doa Matsurah,  meskipun yg Ghoiru Matsurah kadang diperlukan,  misal apa hajat keinginan kita. Juga tentang redaksi doa yg biasanya untuk diri sendiri (seorang)  boleh diganti jadi untuk banyak orang.

*3. Hati Nurani*

Dalam rangka berhati-hati maka salah satu hal yg penting adalah memperhatikan Suara Hati Nurani.  Dalam ilmu ESQ disebut sebagai God Spot. Dalam ilmu agama disebut Fitrah.
Dalam setiap perjuangan memilih sesuatu pasti akan ada pergulatan batin.
Dan orang yg berhati-hati akan selalu melibatkan Hati Nurani.

Bahkan dikisahkan bahwa orang jahatpun dalam melakukan kejahatan memilih yg kejahatannya terkecil ketika memakai hati nurani. Maka jaman dahulu sudah meramalkan bahwa kelak akan makin susah menentukan suatu kesalahan atau bukan. Bahkan orang dulu akan ragu-ragu jika anaknya mau menjadi hakim. Ini karena khawatir terhadap Hadits ini :

Rasulullah SAW bersabda :
"Hakim itu ada tiga, dua di neraka & satu di surga: seseorang yg menghukumi secara tak benar padahal ia mengetahui mana yg benar, maka ia di neraka. Seorang hakim yg bodoh lalu menghancurkan hak-hak manusia, maka ia di neraka. Dan seorang hakim yg menghukumi dgn benar, maka ia masuk surga". [HR. Tirmidzi].

Hikmahnya adalah segala sesuatu perlu hati-hati. Karena yg namanya iman atau ketaqwaan itu mengalami pasang surut, naik turun.

Pada zaman Nabi Muhammad Saw ada seorang pencuri yang hendak bertobat, dia duduk di majelis Nabi Saw.  Suatu ketika dia menangkap perkataan Nabi Saw:

*"Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang haram itu dalam keadaan halal."*

Dia tidak memahami maksudnya. Ketika larut malam sang pencuri merasakan perutnya lapar, ia pun keluar dari masjid.
Di suatu tempat dia berjalan, dia mendapati suatu rumah yang pintunya agak terbuka, dan timbullah perang dalam hatinya untuk mencuri atau tidak.

Tidak, ia merasa tidak boleh mencuri lagi. Tapi ini ada kesempatan, masak dilewatkan begitu saja?

Terjadilah perang dalam batinnya.
Setelah berpikir ia memutuskan untuk mengingatkan pemilik rumah agar mengunci pintu rumahnya. Dia hendak memberi salam, namun timbul kembali keraguan. Maka masuklah ia ke rumah itu tanpa suara. Timbullah keinginannya untuk mencuri lagi, namun segera ia sadar, ia tidak boleh mencuri lagi.
Tiba-tiba terdengar suara mendengkur halus dari sudut ruang. Ternyata ada yang tidur, seorang perempuan muda , cantik, tidak lengkap busana tidur yang menutup sang wanita membuat timbul hasrat kotor yang ada dalam dirinya.

Tidak, aku tidak boleh melakukan ini aku ingin bertobat dan tidak mau menambah dosa yang ada, tidak !

Segera ia memutar badan untuk pergi. Akan ia ketuk dan beri salam dari luar sebagaimana tadi. Ketika menuju pintu keluar ia melalui meja makan, tiba-tiba ia lapar. Timbullah suara dalam hati :
" Sudah sepantasnya engkau mendapat ganjaran dari sang pemilik rumah atas niat baikmu itu, ambillah makanan  !"

Tiba-tiba ia tersadar:  "Celaka aku, bila ada orang yang di luar dan melihat perbuatanku …. aku harus keluar.”

Maka tergesa-gesa ia keluar rumah wanita tersebut, ketika tiba dihadapan pintu ia mengetuk keras dan mengucap salam yang terdengar serak menakutkan.
Semakin khawatir ia akan suaranya yang berubah, setelah itu tanpa memastikan pemiliknya mendengar atau tidak ia kembali menuju masjid dengan perasaan galau namun lega.
Sesampai dimasjid, ia melihat Nabi saw sedang berdiri sholat. Di sudut ruang ada seorang yang membaca al qur'an dengan khusyu’ , di sudut-sudut terdapat para shahabat tidur.

Dingin sekali malam ini, lapar sekali perut ini teringat lagi ia akan pengalaman yang baru dia alami, bersyukur ia atas pertolongan Allah yang menguatkan hatinya.
Ditengah melamunnya ia mendengar sayup namun jelas bait-bait ayat suci …
Cukup lama ia mendengarkan bacaan orang itu hingga tiba-tiba tersentak ia karena bacaan itu dihentikan berganti dengan ucapan menjawab salam. Terlihat olehnya pula bahwa pria itu menjawab salam seseorang wanita dan seorang tua yang masuk langsung menuju tempat Nabi Muhammad SAW sedang duduk berdzikir, dan wajah wanita itu
 … adalah wajah wanita tadi !
Dan ia lihat mereka sudah berbicara dengan Nabi Saw.

Hampir celentang jatuh ia ketika mendengar suara Nabi Saw : "Hei fulan, kemarilah !"
Dengan perlahan dan perasaan takut ia mendekat. Ia mendengar sang wanita masih berbicara kepada Nabi Saw, katanya :
"...benar ya Rasulullah, saya sangat takut pada saat itu, saya bermimpi rumah saya kemasukan pencuri, dia mendekati saya dan hendak memperkosa saya, ketika saya berontak... ternyata itu hanya mimpi. Namun ketika saya melihat sekeliling, ternyata pintu rumah terbuka membuat saya takut. Maka saya segera menuju rumah paman saya untuk meminta dicarikan suami buat saya, agar kejadian di mimpi saya tidak terjadi bila ada suami yang melindungi. Sehingga beliau mengajak saya menemui Engkau disini agar memilihkan calon suami bagi saya".

Nabi Saw memandang kepada si pemuda bekas pencuri, lalu berkata
" Hei fulan, karena tidak ada pria yang bangun kecuali engkau saat ini, maka aku tawarkan padamu, maukah engkau menjadi suaminya?"
Terkejut ia mendengar itu, tetapi dengan cepat mengangguklah ia.

Sekarang ia faham :
Ia dapat memakan makanan yang tadinya haram kini dengan halal, dan ia dapat menikmati wanita itu sebagai istrinya yang halal.

*4.Bacaan Basmalah*

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ (وفي رواية بِذِكْرِاللّه) فَهُوَ أَ قْطَع (وفي رواية فَهُوَ أبتر)

Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan bismillah (dalam riwayat lain : dengan mengingat Allah) maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahannya. (HR Ibnu Madjah)

Maka setiap mau memulai pekerjaan, selalu awali dengan Basmalah. Semua itu dalam rangka hati-hati, dan hikmahnya :
1.  Meniru kebiasaan Rasul yg selalu memulai pekerjaaan dengan Basmalah.
2. ‎Mengharapkan barokah dari Allah
3. ‎Melakukan dzikir kepada Allah.



Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 21 Januari 2018

Pengajian Ahad AMM Banyumanik

Pengajian Ahad AMM Banyumanik

4 Jumadil Awal 1439 H /21 Januari 2018

Bp. Ahmad Taufan

*Mentauladani Luqman*

Luqman adalah manusia biasa,  bukan Nabi dan bukan Rasul. Tetapi dia salah satu manusia yg namanya diabadikan menjadi nama Surat dalam Al Qur'an.
Jadi Luqman ini pasti luar biasa.
Digambarkan bahwa Luqman adalah seorang yg pendek,  hitam dan bibirnya lebar. Luqman adalah hamba Allah yg menegaskan bahwa Allah tidak melihat penampilan kita,  yg dilihat adalah hati.

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَ رِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim)

Luqman, digambarkan dia bekerja di sawah,  dia juga mengimami jama'ah,  dia juga memberi taushiah. Luqman ini diberi Hikmah,  maka dia dikenal sebagai Luqmanul Hakim.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗ  وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ  وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ  حَمِيْدٌ

"Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji." (QS. Luqman 12)

Luqman adalah contoh orang yg Bersyukur.  Bersyukur pada Allah itu manfaatnya untuk diri sendiri, karena Allah tidak membutuhkan diberi ucapan terima kasih. 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْد

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku , maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Luqman ini berwasiat beberapa hal kepada anaknya :

*1. Wasiat untuk bertauhid kepada Allah*

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِا بْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ  ۗ  اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ

"Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman 13)

Luqman memanggil anaknya dengan bahasa yg indah,  " yaa bunaya". Mengajarkan kepada orang tua,  agar tetap lembut meski kepada anak,  jangan kasar. 
Luqman menasehati anak agar tidak menyekutukan Allah. Kita mungkin sudah sering mendengar ini,pertanyaannya adakah kita sudah melakukannya ?  Menasehati anak agar tidak musyrik ?

Syirik itu kesesatan,  iman itu jangan sampai dicampuri kesesatan. Kalau sudah yakin Allah harus yakin dengan kuat, jangan sampai jika mau bepergian menanyakan "weton" dulu. Ini namanya keraguan. Ketika kita keluar rumah,  berdoa :

بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه

"Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja."

Tidak mencampuri iman dengan kesyirikan, maka para Sahabat demikian bersemangat ketika mendapat perintah Perang,  tak ada keraguan dalam hati karena iman yg kuat. Persiapan tetap perlu,  karena itu adalah ikhtiar.

Jangan seperti kisah Tentara Thalut,  Thalut mempersiapkan rakyatnya untuk menghadapi Jalut.  Namun iman mereka lemah, belum berangkat sudah ragu.
Saat pasukan Thalut melewati sebuah sungai, ia pun berkata: "Wahai prajuritku! Kau boleh meminum air sungai ini, tetapi tidak boleh lebih dari dua teguk".
Tapi banyak yang tidak mematuhi. Bahkan sampai ada yang berenang. Maka berkuranglah pasukannya, tak jadi ikut perang.

Berangkat pengajian itu juga adalah jihad saat ini. Namun mereka yg lemah akan merasa cukup dirumah saja,  bukankah kalau mau ngaji tinggal membuka you tube? Tidak benar,  karena ini masalah syiar, masalah amar makruf yg diperintahkan kepada kita,  khoiru umat.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ  بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ

"Kamu umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.." (QS. Ali 'Imran 110)

Luqman menasehati anak dengan cara yg luar biasa, agar tidak mempersekutukan Allah.

*2. Wasiat untuk Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Kedua Orang Tua.*

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ  حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ۗ  اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." (QS. Luqman 14)

Wasiat kedua adalah Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada kedua orang tua,  khususnya kepada ibu yg telah mengandung kita selama 9 bulan dan menyusui kita 2 tahun lamanya.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah : ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita diperintahkan meniru Luqman, bahwa mengutamakan Allah itu penting,  namun yg sering terjadi adalah Orang Tua menasehati anak agar tidak tidur terlalu malam,  khawatir terlambat Sekolahnya besuk,  kenapa tidak khawatir Terlambat Shalat Subuhnya?  Padahal hal ini dampaknya lebih besar?
Jika tidak terlambat Shalat Subuh Bukankah tak akan terlambat Sekolahnya juga?

*3.  Wasiat Luqman jika Orang Tua memaksa kita untuk Musyrik.*

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ  وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ   ۚ  ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

"Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Luqman 15)

Meski Orang Tua kafir,  kita tetap harus menghormati. Demikian juga misal memberikan Nasehat yg menjurus ke arah kemusyrikan maka kita harus menolak,  tapi dengan santun.

*4. Wasiat Luqman bahwa setiap Perbuatan sekecil apapun,  dan tersembunyi dimanapun pasti akan diketahui dan dibalas Allah*

يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

"(Luqman berkata), Wahai anakku! Sungguh, jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui." (QS. Luqman 16)

Maka bila kita selalu merasa diawasi Allah tak mungkin kita berani berbuat kejahatan.

*5. Wasiat Luqman untuk. Amar makruf Nahi Munkar*

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ  بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَابَكَ ۗ   اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۚ 

"Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting." (QS. Luqman 17)

Perintah dalam islam tidak sekedar menjadi Orang Baik,  kita diperintahkan untuk Mengajak Orang Lain untuk berbuat kebaikan dan mencegah yg buruk.

Rasulullah sebelum diangkat jadi Rasul dikenal sebagai Orang baik, dan orang baik disenangi orang.
Namun ketika mengajak Orang lain berbuat baik maka mulailah ada cemoohan. Lebih-lebih ketika melarang yg mungkar,  mulailah banyak yg memusuhi.

Melawan penyakit Sosial dengan Nahi Munkar,  ini yg berat karena akan mendapat perlawanan. Kenapa kemungkaran harus dilawan,  karena bila Allah mengadzab maka yg terkena adalah semua,  bukan hanya pelaku kemungkaran.
Untuk itu semua kita diperintahkan agar sabar dan memiliki ilmu.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 14 Januari 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

27 Robiul Akhir 1439 H / 14 Januari 2018

Ustadz H. Fachrur Rozy MAg

*Mengapa kita menjalani Syariat Islam*

Syariat Islam atau Aspek ajaran islam pada intinya berupa Perintah atau Larangan. Perintah dan larangan ini bisa menyangkut hubungan dengan Allah dalam rangka ibadah , dengan Rasul dalam rangka meneladani atau dengan Manusia dalam rangka hubungan sosial dan sebagainya. Dapat bersifat individual atau kolektif , semuanya pada hakekatnya dilandasi oleh tiga hal yaitu bahwa : Syariat Islam itu untuk Kepentingan Manusia ; Syariat Islam itu Sesuai dengan Fitrah Manusia; Syariat Islam itu Mudah dilaksanakan.
Kita akan coba uraikan satu-persatu.

*1. Syariat Islam itu untuk Kepentingan Manusia*

Syariat islam pada dasarnya bukan untuk Allah.  Manusia mau taat atau tidak,  maka Allah akan tetap Maha Kaya.
Permisalan hanya untuk memudahkan,  jika kita membeli motor,  kemudian kita akan memanfaatkan atau tidak memanfaatkan buku Petunjuk Pemakaian,  itu semua baik atau buruknya untuk kita,  bukan untuk Pabrik Motor. Bedanya hanya bahwa Pabrik masih membutuhkan testimony atau pengakuan kita. Allah tidak butuh.
Jelas motor butuh bensin, misal kita isi Solar maka yg rugi kita,  bukan Pabrik.

Maka ketika kita melaksanakan Syariat Islam (melakukan Perintah dan meninggalkan larangan Allah)  itu sesungguhnya untuk kepentingan kita. Syariat Islam adalah wujud Kasih Sayang Allah kepada hambaNya. Secara bahasa -syariat islam- bermakna Jalan Keselamatan. Kita perlu memahami ini agar kita merasa nyaman menjalankan syariat Islam.

Bila kita tidak menjalani, Allah tidak rugi:

- Allah memerintahkan kita mencari ilmu-
Kita menurut dan jadi pintar maka kita yg untung,  jika kita bodoh yg rugi juga kita sendiri. Jika kita belajar tidak akan mengurangi ilmu Allah,  bahkan kita tahu ilmu Allah makin luas.

-Allah memerintahkan kita untuk infak-
Apakah jika kita tidak infak lalu Allah berkurang kuasanya?  Tidak sama sekali.
Bila kita tidak mau infak maka Allah pasti menghadirkan kaum yg mau infak.

- Allah memerintahkan kita Amar makruf-
Secara umum kita ambil pelajaran,  jangan sampai merasa paling berjasa,  jika tak ada saya maka Pengajian ini atau Kegiatan ini tak akan jalan...
Tak mungkin,  karena pasti Allah akan menghadirkan orang lain untuk menggantikan kita.
Dulu ada ustadz Zainuddin MZ,  ketika beliau wafat Allah menghadirkan ustadz Abdul Somad ... itu contohnya.
Jadi yang pandai,  yang kaya tak perlu merasa sombong,  karena kita tak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT.

Syariat islam untuk kepentingan kita  :

- Perintah Shalat adalah kepentingan kita -

Ada peneliti Non Muslim, yg meneliti kenapa ada hadits :
“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari)

Karena penasaran maka dia meneliti dan membuktikan bahwa bangun saat subuh lalu beraktivitas membuat fisik lebih sehat dan memberi usia harapan hidup lebih panjang.
Ternyata shalat subuh yg merupakan Program Allah itu menimbulkan dampak positif bagi kesehatan.
Selain itu ada dampak lain yg juga sangat penting, yaitu meningkatkan Silaturahim. Di agama lain yg ketika subuh mereka masih tidur nyenyak,  ternyata umat Islam justru membangun Silaturahim. Karena kesibukan manusia,  ternyata sekarang Masjid menjadi tempat Kontak Silaturahim yg efektif. Kadang kita kenal tetangga kita juga karena pergi ke Masjid.

Shalat Tahajud,  jelas sudah ada Penelitian dari Dr. M. Soleh bahwa mereka yg rutin Tahajud akan meningkat daya kekebalannya terhadap penyakit.
Sesudah shalat juga Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berdoa,  untuk istighfar. Kenapa kita perlu istighfar?  Kenyataan bahwa selama kita shalat hanya sebagian kecil waktunya yg benar-benar mengingat Allah. Kita mudah sekali terganggu konsentrasi kita ketika shalat.

- Perintah Puasa -

Sama dengan shalat,  Puasa juga sudah pernah diteliti dan hasilnya disimpulkan bermanfaat untuk kesehatan.
Hadits yg menyatakan " Puasa untukKu (Allah) ", adalah makna bahwa ibadah Puasa itu rahasia,  karena tak Terlihat. Hanya Allah yg tahu kita Puasa atau tidak. Shalat,  Zakat,  Haji semua adalah ibadah yg kelihatan.

Semua perintah dan larangan Allah pasti untuk kebaikan kita.
Contoh larangan Allah :

- Allah melarang Mabuk -
Sudah jelas , karena mabuk menyebabkan ketidak sadaran,  manusia yg rugi.

- Allah melarang Zina -
Sudah terbukti Zina menimbulkan penyakit AID dan korbannya justru isteri atau anak-anak.

*2. Syariat Islam itu Sesuai dengan Fitrah Manusia*

Tidak ada satupun ajaran Islam yg bertentangan dengan Fitrah.  Karena Syariat itu berasal dari Allah dan Fitrah adalah Produk Allah.
Artinya Panduan Pabrik pasti cocok dengan Produknya yg dibuat oleh Pabriknya. Maka melaksanakan Syariat Allah pasti sesuai dengan Fitrah kita.

- Kita pasti ingin di hormat anak kita - itu fitrah.  Maka Syariatnya adalah Anak harus menghormat Orang Tua.

- Allah memerintahkan Shadaqah dengan kalimat :

َ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

"... dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka," (QS. Al-Baqarah 3)

Yg diperintahkan diinfakkan adalah sebagian kecil ( zakat hanya 2, 5 %).
Kenapa?  Karena fitrah manusia itu suka akan harta , jika perintahnya banyak pasti menolak.
Itupun sudah diperingatkan Allah :

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلَّا سَوْفَ  تَعْلَمُوْنَ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu,kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui."
(QS. At-Takasur Ayat 1- 4)

Contoh lain,  bila isi dompet kita cuma ada dua lembar: 100 rb dan 2 rb.
Manakah yg kita masukkan kotak amal?
Pasti yg 2 rb,  itu fitrah manusia.

- Semua orang suka dengan orang dermawan,  tak suka dengan yg pelit,  itu fitrah,  maka islam memerintahkan untuk dermawan. Maka jika kita ingin hubungan sosial baik, jadilah orang yg dermawan.

- Semua orang suka kepada orang baik,  maka kita diperintahkan menjadi orang baik,  itu fitrah.

- Semua orang fitrahnya suka makan enak,  maka ketika Puasapun kita berbukanya diperintahkan untuk segera dan dengan yg manis (dalam arti : enak).
Maka dalam islam tak disyariatkan Puasa Mutih,  Ngrowot,  Ngebleng ataupun Pati Geni.

- Perintah mengantar jenazah,  perintah untuk takziah itu semua fitrah karena bagi keluarga yg terkena musibah membutuhkan hiburan untuk menenteramkan hati. Maka kewajiban muslim terhadap muslim lain yg meninggal adalah menyelenggarakan jenazah.

Perintah semua sesuai fitrah,  larangan juga begitu.  Misal larangan zina,  karena fitrahnya manusia tak suka zina,  tak ada istri yg bangga dengan suaminya yg suka zina. Demikian juga dengan larangan mabuk.
Kenapa Islam melarang mencuri,  karena itu fitrah,  tak ada orang yg senang barangnya dicuri. Melanggar larangan Islam berarti menabrak diri sendiri,  itu fitrah.

*3. Syariat Islam itu Mudah dilaksanakan*

Rukun Islam,  dimulai dari Syahadat. Mudah sekali mengucapkan syahadat. Kita hanya menilai yg tampak,  urusan hati itu urusan Allah apakah dia serius masuk islam atau tidak.
Meskipun mungkin bacaan syahadat tidak baik atau tidak lancar , kita tidak boleh menuduh munafik,  itu bukan wilayah kita.

Shalat harus menghadap kiblat,  namun ketika kita di tempat asing yg tak tahu arah dan tak ada yg ditanya maka kita bebas menghadap kemana hati kita mantab. Demikian juga ketika kita tidak kuasa,  misal naik pesawat terbang,  maka ke arah mana saja adalah kiblat.
Wudhu pakai air,  kalau tak ada air boleh tayamum,  jadi syariat islam itu mudah.

Zakat,  hanya untuk yg mampu. Bila kita tak mampu maka malah berhak menerima zakat. Jangan sekali-kali menganggap penerima zakat itu rendah. Islam menciptakan ada yg memberi dan ada yg menerima. Bayangkan jika tak ada yg menerima zakat,  bagaimana kita mau bayar zakat? 
Ingat ada ancaman sesuai hadits
Rasulullah bersabda, “Bersedekahlah, sebab kelak akan datang kepada kalian suatu zaman yang seseorang berjalan keliling membawa sedekahnya tetapi ia tidak menemukan seorang pun yang mau menerimanya....” (HR.Bukhari)

Haji dan Umrah juga diperintahkan kepada yg mampu. Tak perlu memaksakan diri bila tak mampu.
Larangan-larangan, misal larangan makan babi , namun dalam kondisi darurat maka diperbolehkan asal tidak berlebihan.

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ  غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

".. Tetapi barang siapa terpaksa memakannya, bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah  173)

Kaidah ushul fiqih :
"Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat", artinya dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlarang dibolehkan”.

العُسْرُ سَبَبٌ لِلتَّيْسِيْر

“Kesulitan sebab datangnya kemudahan.”

"Islam iku gampang, nanging ojo nggampangke" (Islam itu mudah,  tapi jangan dipermudah)
Bila kita memahami syariat seperti diatas,  yaitu bahwa syariat islam itu untuk kepentingan manusia,  syariat islam itu sesuai fitrah dan mudah dilaksanakan,  maka kita akan melaksanakan syariat dengan nikmat.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 24 Desember 2017

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

6 Robi'ul akhir 1439 H / 24 Desember 2017

Dr.H. Haerudin, SE, MT

*Hakekat Manusia*

Dilihat dari penciptaannya manusia tersusun dari unsur bumi dan langit. Unsur bumi menyumbang tanah sebagai unsur penciptaannya. Setelah proses penciptaan fisiknya sempurna dari tanah ini,  ruh sebagai unsur langit ditiupkan Allah kepadanya.
Dari dua unsur ini berdasar fungsinya, manusia disimbulkan dengan tiga unsur utama : Hati,  akal dan Jasad .

Menurut Ali Shariati, dari dua unsur juga diartikan kadang kita salah,  kadang kita benar. Jadi kalau manusia takwa itu tak berarti tak pernah salah. Dia bisa saja salah,  tapi kemudian bertobat,  meminta ampun dan tidak melanjutkan kesalahannya. Pertanyaannya kemudian adalah banyak mana antara perbuatan salah dan benar.  Mari kita muhasabah diri sendiri,  tak perlu menilai orang lain.

Siapapun dan apapun kedudukannya,  manusia harus memahami hakikat diri sendiri dan kehidupannya. Hal ini penting untuk menjaga agar manusia dapat berlaku adil terhadap dirinya,  penciptaannya.

Hakekat manusia itu ada Lima :
1.  Sebagai Makhluk (diciptakan)
2. ‎Sebagai Mukarom (dimuliakan)
3. ‎Sebagai Mukallaf (dibebani)
4. ‎Sebagai Mukhoyyar (bebas memilih)
5. ‎Sebagai Majzi (mendapat balasan)

Itulah sistem yg sudah ditentukan oleh Allah dan selanjutnya kita urai satu-persatu.

*1. Hakekat 1 : Sebagai Makhluk.*

*a)  Dengan Fitrah tertentu*

Allah SWT berfirman:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا   ۗ  فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا   ۗ  لَا تَبْدِيْلَ لِخَـلْقِ اللّٰهِ  ۗ  ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ   ۙ   وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ 

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam ; (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," (QS. Ar-Rum 30)

Fitrahnya manusia itu berketuhanan,  mereka yg sehari-hari pemabok, penjudi ternyata tak mau ditiru anaknya. Mereka tetap minta agar anaknya belajar agar baik.  Orang-atheism yg selalu berpandangan materialismepun juga mengakui hal yg tak nampak, misalnya mereka juga percaya adanya listrik.
Sebagai manusia ia tidak pernah menjadi malaikat yg tercipta dari cahaya, atau iblis yg tercipta dari api. Sepandai-pandainya manusia ia tidak dapat mengetahui rahasia yg Allah bukakan untuknya.

*b) Bergantung Pada Kholiknya*

Tidak dapat berdiri sendiri bahkan untuk kelangsungan hidupnya.

Manusia itu Fakir :

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ اِلَى  اللّٰهِ ۚ  وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu , Maha Terpuji." (QS. Fatir 15)

Manusia itu fakir karena dia makhluk ,  hanya Allah Maha Kaya. Manusia itu hanya merasa kaya, baju terbatas, makan pun terbatas. Bahkan kalau tua makan apa-apa dilarang, karena diabetes-hipertensi...Bukankah itu kefakiran?
Kelak di surga, baru merasa senang,  makan apapun tak dibatasi. Itu adalah gambaran surga. Di surga disediakan bidadari,  lalu bagaimana yg wanita?  Ketahuilah itu bahasa untuk memudahkan pemahaman kepada manusia bahwa surga itu tempat menyenangkan yg tak tergambarkan manusia. Penggambaran dengan bahasa yg halus maka yg dikatakan laki-laki mendapat banyak bidadari, bukan dengan bahasa kasar.
Karena kita fakir maka kita tergantung kepada Allah yg mencipta,  jangan sampai tergantung pada Tempat Keramat seperti Gunung atau Pohon, atau pada Keris atau Akik. Itu salah alamat.

Manusia itu Dhoif (Lemah)

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ  وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan bersifat lemah." (QS. An-Nisa' 28)

Bukankah kita digigit nyamuk saja tak dapat tidur?  Itu karena kita lemah.
Kita makhluk,  maka kita lemah. Maka kita minta pada yg menciptakan kita lewat doa dan usaha.
Di Jawa ada istilah bila sibuk kerja tak karuan dikatakan : "sibuk ngalor-ngidul".
Sebetulnya adalah pengingat bahwa apa yg dikerjakan kelak tetap akan dibujurkan "ngalor-ngidul" (mayat di Jawa selalu dimakamkan dng arah Utara-selatan). Ini peringatan agar kita berdoa.
Untuk itu butuh Nalar (logika) ; kalau berdoa kepada Pencipta, bukan kepada Dukun.

*2. Hakekat 2 : Kita dimuliakan*

Allah menyayangi manusia melampaui yg lain.

*a) Disempurnakan.*

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ سَوّٰٮهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْــئِدَةَ     ۗ  قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

"Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah 9)

Betapa manusia diciptakan dari tanah liat dan air yg hina akan tetapi Allah menghendaki manusia menjadi makhluk yg mulia dan dimuliakan.
Dibandingkan makhluk lain kita mulia.
Sayang tak banyak yg bersyukur,  manusia mengingkari PenciptaNya.

*b) Diberi keistimewaan.*

وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS. Al-Isra'  70)

*c) Alam ditundukkan untuk kita*

Sedemikian sayangnya Allah kepada manusia,  sampai Alampun harus melayani manusia.

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ   ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir." (QS. Al-Jasiyah  13)

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖ ۗ  وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahi lah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk 15)

Alam diminta melayani manusia,  maka manusia harus mengelola alam. Manusia dijadikan kholifah di muka bumi

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً 

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.."
(QS. Al-Baqarah 30).

Allah membuat hukum-hukum untuk alam agar tunduk kepada manusia. Itulah Sunatullah yg wajib dipelajari manusia.
Sunatullah sifatnya obyektif,  tetap dan tak berubah. Untuk memanfaatkan alam, maka manusia harus berusaha,  jangan bermalas -malasan.

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ

"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."
(QS. Al-Insyirah Ayat 7- 8)

Ingin banyak rejeki?  Maka sunatullah nya adalah berusaha atau punya usaha tak cukup hanya dengan Shalat Dhuha saja. Bila semua hanya shalat dhuha dan tak ada yg berusaha,  maka ekonomi akan macet.
Agar berjalan dengan baik maka manusia harus bekerjasama, jangan bekerja sendiri. Dasarnya adalah Fastabiqul Choirot (berlomba dalam kebaikan), harus fokus  dan Silaturahim. Yg perlu dievaluasi adalah kita belum menikmati Manisnya iman.

*3. Hakekat 3 : Manusia itu Dibebani*

Mukallaf artinya Dibebani,  sebagai makhluk yg diistimewakan dengan berbagai kelebihan, manusia tidak dibiarkan tanpa tugas dan tanggung jawab.

Potensi besar yg diberikan Allah kepada manusia juga dimaksudkan agar manusia mampu mengelola bumi ini mewakili Allah , mengatur kehidupan sesuai yg dikehendakiNya,  dan tidak berbuat semaunya.

Jadi mereka yg mengatakan hanya memikir akhirat saja itu keliru. Hidup ini sebenarnya tidak ada urusan dunia. Semua adalah urusan akhirat, karena semua hal yg kita lakukan di dunia akan diminta pertanggung-jawaban.

Bentuk pembebanannya adalah :

*a) Ubud ilallah*

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)

Nikmat penciptaan dengan berbagai kelebihan harus disyukuri dengan melakukan ibadah sebagai ekspresi ketundukan dan keikhlasan kepada yg Maha Menciptakan.

*b) Kholifatul Ardhi*

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً  ۗ  قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ  وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ  قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah 30)

Dzikir itu mengingat Allah,  tidak sekedar di lesan. Banyak orang korupsi, dia tidak berdzikir.  Tak mungkin dia korupsi sambil berdoa agar tidak konangan.
Itu artinya dzikir yg keliru, tidak sesuai antara lesan dengan hati. Kita banyak menghafal tapi tak tahu apa yg dihafal.

*4. Hakekat 4 : Bebas Memilih*

وَهَدَيْنٰهُ  النَّجْدَيْنِ

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)." (QS. Al-Balad 10)

اِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا  كَفُوْرًا

"Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur." (QS. Al-Insan 3)

*a)  Akal untuk Memilih*

Kalau Allah menghendaki manusia bisa diciptakan tanpa akal pikiran sehingga dia tidak dapat memilih apa yg ingin dilakukan.
Dengan keistimewaan akal dan hatinya manusia diciptakan sebagai makhluk pilihan yg bebas memilih dan menentukan nasibnya sendiri.

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ  فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَّمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌ ۗ  وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu (juga) ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. At-Taghabun 2)

وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ  فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ  ۙ..

"Dan katakanlah (Muhammad), Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir..."
(QS. Al-Kahf  29)

Semua ada aturan,  mau masuk surga ya harus shalat. Akal untuk memilih,  mau neraka atau surga,  dan semua perbuatan ada konsekwensinya. Kita hanya menyampaikan, Nabi pun juga hanya menyampaikan aturan,  tidak bisa memaksa.

*5. Hakekat 5 : Majzi*

*a) Pilihan Dipertanggung-jawabkan*

Keberadaannya sebagai makhluk yg diberi kebebasan untuk memilih  itu bukan tanpa konsekwensi.
Sesungguhnya nikmat kelebihan dan keistimewaan yg Allah berikan kepadanya akan diperhitungkan oleh Allah.

*b)  Mendapat balasan sesuai pilihan*

Balasan itu nanti di akhirat. Ada yg keliru mengatakan balasan di Mekkah ketika naik haji.  Buktinya koruptor naik haji,  memakai haji plus ya tetap enak,  tidak ada balasan. Karena balasan yg hak itu nanti di akhirat.
Banyak pula paradigma keliru bahwa sukses itu jika hartanya banyak. Itu keliru,  karena sukses adalah di akhirat.
Jadi usaha adalah hal yg mutlak untuk sukses.

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰى وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰى ثُمَّ يُجْزٰٮهُ الْجَزَآءَ الْاَوْفٰى

"dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,"
(QS. An-Najm Ayat 39-41)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK

Minggu, 03 Desember 2017

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

14 Robiul awal 1439 H / 3 Desember 2017

Drs. H. Hamzah Rifqi MSi

Memaknai Kembali Maulid Nabi Muhammad SAW

Akhir-akhir ini kita masih menemui hal-hal yg dari dulu tak ada perubahan terkait Maulid Nabi,  bahkan ada hal yg bukan ibadah diyakini sebagai ibadah. Maka,  mari kita maknai kembali,  mengapa kita merayakan Maulid Nabi.
Yg jelas adalah pembaruan terhadap rasa syukur bahwa pernah dilahirkan seorang Nabi Muhammad yg sangat berjerih payah sehingga kita jadi orang islam. Seandainya nabi dulu semangatnya seperti kita,  yg lemah dalam berjuang, apalagi bila diejek maka kondisi islam tak akan begini.

Nabi SAW bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Manusia yg kelihatan berjasa saja tidak mendapat ucapan terima kasih,  apalagi Allah SWT yg tidak terlihat.
Kita makan nasi dari padi yg ditanam petani,  petani menanam tetapi Allah yg menjadikan padi. Apakah kita berterimakasih pada petani?
Maka dalam rangka bersyukur kepada Allah SWT, tak mungkin kita tidak berterima kasih kepada Nabi Muhammad SAW.

Masalahnya bagaimana kita berterimakasih kepada nabi? Apakah dengan menyanyikan ?  Tentu saja tidak.
Untuk berterima kasih maka kita harus menumbuhkan cinta kepada Nabi.

أَدِّبُوْا أَوْلاَدَكُمْ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَحُبِّ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ (رواه الديلمي عن علي)

Dari Ali kwj., Nabi Muhammad saw bersabda : " Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara : Kecintaan kepada Nabimu, Kecintaan kepada Ahlul Baitnya, dan cinta membaca Al-Qur’an.”. (HR. Al-Dailami)

*A. Mencintai Nabi*

Kita ini hidup dalam dunia sebab akibat. Tak ada akibat yg tak ada sebab. Dulu ada istilah " Tresno jalaran soko kulino" (Cinta akibat terbiasa).
Suami cinta isteri pasti ada sebabnya, dan cinta suami pada isteri luntur,  pasti juga ada sebabnya.
Maka bagaimana seharusnya kita mencintai nabi. ?

1.Karena Beliau itu sangat mencintai umatnya,  bahkan termasuk yg belum kelihatan sebagai umatnya.

Karena cintanya itu maka beliau berani mengorbankan jiwa-raga.
Santri Ciamis nekad jalan kaki ke Monas pada waktu 212 karena Cinta. Cinta itu perbuatan hati jadi kita tidak tahu, Nabi juga begitu.

لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ  عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ  رَّحِيْمٌ

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman." (QS. At-Taubah 128)

Beliau itu orang terhormat,  rela terusir.

2. Mencerahkan dari Kegelapan.

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ  لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ  ۗ  وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا

"Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu , agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya yang terang. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab 43)

Sekarang kita tinggal menerima enaknya saja.  Proses untuk menjadi seperti ini dulu dikerjakan nabi dengan mati-matian. Nggak usah jauh-jauh,  sekarang saja anak kita tidak menyadari betapa berat perjuangan kita dulu untuk menjadi seperti saat ini.
Kita sekarang shalat dengan mudah,  jaman Nabi dulu mau shalat dilempari Batu. Proses itu memang luar biasa. Kadang yg diberi petunjuk malah memusuhi. Bagaimana jika kita yg diperlakukan seperti itu?

Dalam ayat lain :

رَّسُوْلًا يَّتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ مُبَيِّنٰتٍ لِّيُخْرِجَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ

"(dengan mengutus) seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang menerangkan (bermacam-macam hukum), agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dari kegelapan kepada cahaya"
(QS. At-Talaq 65: 11)

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah , meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata," (QS. Al-Jumu'ah  2)

Kalau kita tidak mendapat informasi dari Allah (lewat Rasul) bahwa kita adalah keturunan Adam maka kita akan menganggap diri kita keturunan kera.

3. Beliau sengsara demi umatnya.

Nabi-nabi Sebelumnya gagal ditengah jalan,  maka umatnya tetap dalam kegelapan. Maka jika nabi Muhammad sampai putus asa, kita juga akan jadi umat yg gagal. Agar tidak terjadi hal itu maka Beliau mau sengsara demi umatnya.
Sampai digambarkan oleh Allah SWT. :

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ  مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ......

"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang dengan berbagai cobaan, sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Allah? ...." (QS. Al-Baqarah  214)

Kalau bukan karena penderitaan luar biasa tak mungkin mereka sampai mengeluh : "Kapan pertolongan Allah datang? ".

Allah SWT berfirman:

اِنَّ  الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ  يَحْزَنُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati." (QS. Al-Ahqaf 13)

Istiqomah,  tetap bersabar dalam cobaan itu yg sulit.  Banyak orang dicoba sakit dan dokter kesulitan dalam menyembuhkan terus lari minta tolong dukun. Ini tidak sabar kepada Allah. Lupa bahwa musibah itu kehendak Allah.

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah.."
(QS. At-Taghabun  11)

Dibalik musibah,  pasti Allah SWT punya maksud baik,  tinggal kita percaya atau tidak.

Dalam memperjuangkan islam ini Nabi sampai dianggap sebagai orang gila, agar tidak melanjutkan dakwah. Namun Allah SWT berfirman:

اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا مَا بِصَاحِبِهِمْ مِّنْ جِنَّةٍ  ۗ  اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

"Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak gila. Dia (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas." (QS. Al-A'raf  184)

Nabi juga dituduh pendusta.

وَعَجِبُوْۤا اَنْ جَآءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ   ۖ  وَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا سٰحِرٌ  كَذَّابٌ 

"Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, Orang ini adalah pesihir yang banyak berdusta." (QS. Sad 4)

Tak hanya itu,  mereka menawarkan hadiah berupa wanita dan harta agar nabi menghentikan dakwah. Tapi nabi menolaknya.
Kalau perjuangan nabi tidak sehebat itu,  maka islam tak akan sampai kepada kita.
*Lalu kenapa kita tidak berterima kasih kepada Nabi?*

*B. Bersyukur kepada Nabi*

Bersyukur tidak cukup dengan ucapan saja. Bersyukur itu antara lain dengan memanfaatkan sesuatu sesuai dengan fungsinya.
Contoh,  kita mendapat oleh-oleh (buah tangan)  sebuah peci dari tetangga yg pulang dari umrah. Maka jika kita pakai, tetangga akan senang. Dan jika kita sia-siakan akan membuat sakit hati.

Oleh karena itu mencintai nabi itu sudah semestinya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
( صحيح البخاري )

Sabda Rasulullah saw : “Belum sempurna iman kalian, hingga aku lebih dicintainya, dari ayah ibunya, dan anaknya, dan seluruh manusia” (Shahih Bukhari)

Orang tua yg bukan islam,  hanya berjasa menyelamatkan anak di dunia saja,  Nabi lebih dari itu karena menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.
Ketaatan kita kepada orang tua jangan sampai mengalahkan ketaatan kepada nabi.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا .....

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya....” (QS. Lukman: 15).

Ini yg dimaksud dengan mencintai nabi.
Dilain pihak juga tidak boleh mencintai Nabi dengan melampaui batas, antara lain :

1. Nabi Muhammad adalah Hamba dan Utusan Allah.

Rasulullah Saw. bersabda :

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ (رواه البخاري)

“Janganlah kalian memuji/menyanjung aku secara berlebihan, sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah ‘hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari)

Nasrani menyanjung Nabi Isa sebagai Anak Tuhan,  saking dekatnya.

2. Nabi tidak tahu barang Ghoib.

قُلْ لَّاۤ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَـفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ   ۗ  وَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ   ۛ   وَمَا مَسَّنِيَ السُّۤوْءُ   ۛ  اِنْ اَنَاۡ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-A'raf 188)

Barang Ghoib maksudnya adalah kejadian yg belum terjadi. Nabi ternyata tak tahu,  maka tak mungkin ada orang atau Kiai yg tahu apa yg belum terjadi.

3. Nabi tidak memiliki Sifat Rububiyah.

قُلْ اِنِّيْ لَاۤ  اَمْلِكُ لَـكُمْ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا

"Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu." (QS. Al-Jinn  21)

Ketika masih hiduppun Nabi tidak bisa memberi kemudharatan,  apalagi ketika beliau sudah wafat.  Kalau Nabi saja tak bisa apa lagi Makam Para Wali?

*C. Wujud Mencintai Nabi*

1. Ittiba' (Tunduk mengikutinya)

Cinta adalah hasrat untuk membahagiakannya. Lalu bagaimana menyenangkan Nabi?

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ  يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran 31)

وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا  ۚ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ 

". Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya."
(QS. Al-Hasyr  7)

Menghindari yg dilarang itu semua orang bisa,  tapi melaksanakan perintah tidak semua orang bisa.
Misal,  larangan narkoba,  barangnya tak ada maka otomatis bisa meninggalkan.
Tapi perintah belum tentu bisa. Kalau bisa belum tentu mau.

2. Lebih Mengutamakan Syariatnya.

Kalau ada petunjuk nabi maka itu pasti yg paling baik.  Jangan meninggalkan syariat nabi terus memakai Adat.
Karena berarti menganggap yg diajarkan nabi belum bagus.

3. Banyak mengingatnya.

Kita diperintah banyak membaca shalawat, bukan shalawatan.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ   ۗ  يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
(QS. Al-Ahzab 56)

4. Mencintai yg Dia cintai.

Siapa yg dicintai nabi. ? Dialah para sahabat .Kita dilarang mencela para sahabat.

Rasulullah SAW bersabda :  “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari dan Muslim).

5.  Mencintai yg Dia bawa

Yg dibawa Rasul adalah Sunnah-sunnahnya.

6.  Berani berkorban untuknya.

"(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar."
(QS. Al-Hasyr  8)

"Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Al-Hasyr 9)

Ketika Hijrah,  orang-orang Muhajirin tidak membawa harta apapun ketika pergi ke Medinah. Demikian juga orang Anshor, memberikan apapun yg dibutuhkan orang Muhajirin.

Maka sebaiknya, sikap kita :
1. Menerima Tuntunan Rasul.
2. ‎Tidak menyandingkan dia dengan yg lain.
3. ‎Tidak over-acting dalam beribadah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK