Kamis, 07 Juni 2018

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

MEMOTIVASI IBADAH

Tanggal : 22 Ramadhan 1439 H / 7 Juni 2018

Nara Sumber : Ustadz Drs. H. Hamzah Rifqi MAg

Nabi memberi motivasi ibadah dan contoh yang sangat kongkrit yang amat sangat berbeda dengan manusia di jaman ini bila memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dulu beliau menguatkan ibadahnya sampai i'tikaf (berdiam diri)  di masjid. Maklum bahwa beliau adalah seorang pedagang yang tak terikat dengan siapapun,  maka 10 hari terakhir beliau melepaskan diri dari urusan keduniaannya. Hanya untuk keperluan yang mendesak saja beliau keluar masjid kemudian masuk lagi. Jadi I'tikaf ini untuk intensifikasi ibadah dalam rangka taqorub kepada Allah dengan Dzikir,  Shalat dan Membaca Al Qur'an.
Berbeda dengan kita sekarang,  shof shalat semakin habis. Yang bertambah ramai orang belanja di Mall. Padahal sudah gencar ada promosi untuk belanja ke warung tetangga.

Diantara motivasi ibadah adalah Promo Lailatul Qodar yang disebutkan dalam Surat Al Qadr sebagai " lebih baik dari 1000 bulan ". Sampai kemudian ada yang pakai matematik Lailatul Qodar, seandainya kita sedekah 1000 rupiah tiap hari selama 10 hari saja,  maka kita hanya kehilangan 10 rb rupiah,  tetapi akan mendapat dari Lailatul Qodar sebanyak 1000 x 30 x 1000 = 30 juta rupiah.
Ini bahayanya ahli matematika,  semua dihitung. Ini kenyataan ada haji disuruh shalat oleh isteri malah menolak dan menyuruh isterinya saja yang shalat. Alasannya dia sudah haji,  maka sudah shalat di Masjidil Haram yang sama dengan 100. 000 kali shalat dan Masjid Nabawi yang nilainya sama dengan 1000 kali shalat. Ini kekeliruan memahami kaidah agama.

Pemahaman 1000 bulan adalah pemahaman bahasa bahwa itu bilangan yang amat banyak, bukan bilangan matematika. Seperti Chairil Anwar yang bersyair ingin hidup 1000 tahun lagi.
Itu semua adalah ayat motivasi agar kita tidak bosan ibadah di bulan Ramadhan.
Bagi mereka yang tidak biasa shalat jama'ah di masjid,  kemudian shalat tarawih itu makin lama akan makin bosan. Membosankan bila di masjid imamnya hanya itu dan tidak ada apa-apanya,  kultum tidak ada , itu makin membosankan dibandingkan dengan masjid yang imamnya ganti-ganti dan ada acara ceramah yang pembicaranya ganti-ganti.

Memang islam maunya variatif maka diberi bonus Lailatul Qodar.
Nabi SAW bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan atas landasan iman dan mengharap pahala dari sisi Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kenapa dengan motivasi sehebat itu tetap tidak menarik?
Karena orang-orang tak merasa perlu diampuni dosanya. Dia tidak merasa berdosa,  maka tak perlu ampunan. Karena Allah tidak menampakkan dosa kita. Kalau pakaian kita kotor,  kita melihat dengan jelas dan segera menginginkan pakaian kita bersih,  kecuali terpaksa. Demikian juga ketika badan kita bau,  kita ingin bau segera hilang. Dosa itu beda,  karena tak kelihatan. Jika kita punya salah kepada seseorang maka kita ingin agar kesalahan segera diselesaikan dengan minta maaf. Ternyata kita tahu kesalahan karena diberitahu seseorang : " Kamu itu tadi bilang gini-gitu.. sekarang dia marah..."

Karena kita diberitahu maka kita tahu kesalahan kita. Beda dengan Allah,  karena Allah membiarkan kita,  maka kita berdosa atau tidak,  sama saja- tak merasa. Seperti juga saat ini siapa puasa dan siapa tidak kan sama saja,  tak kelihatan. Di jalanan juga tak terlihat perbedaan antara Pencopet dan Orang biasa,  baunya sama. Bahkan mungkin Pencopet lebih Harum baunya ...
Itu semua yang menyebabkan manusia tak merasa berdosa. Maka tak merasa butuh diampuni dosanya.

Perhatikan saja saat halal bihalal,  semua bilang "maaf lahir batin..."
" ya... sama-sama", sambil penuh senyum. Karena semua tak merasa bersalah atau disalahi..

Coba kalau ada yang disalahi-
"Maaf ya..." ...
"MAAF, NDASMU ...YO" - kok enak ..
Itu yang terjadi diluar sana.
Namun kita juga tak pernah tanya :
"Lho kenapa kok kamu minta maaf? "
" Iya,  aku gak tau salah apa ya? "
Keduanya sama-sama tak merasa salah dan disalahi, jadi proses saling memaafkan tak ada beban sama sekali

Berbeda dengan jaman Nabi,  bahwa Para sahabat sangat ingin masuk sorga dan takut masuk neraka.
Pernah ada kisah Nabi menjenguk orang sakit, Nabi bertanya :"Bagaimana keadaanmu? "
"Ya Rasulullah, saya sangat takut,  tapi juga sangat berharap Allah memberikan rahmat kepadaku".
Nabi berpaling dan berkata kepada Sahabat: "Dia akan diamankan oleh Allah dari ketakutannya dan Allah akan memberinya apa yang diharapkan."

Jadi ada sikap Khouf (takut) terhadap siksaan Allah  dan Roja' (berharap) terhadap rahmat Allah.
Maka ketika shalat jenazah kita doakan "warhamhu" , semoga dia dirahmati Allah. Dan orang beriman yang sudah meninggal kita sebut Almarhum, itu do'a  semoga Allah merahmatinya.

Masyarakat kita itu tidak takut siksa neraka dan tak terlalu kepengin masuk surga. Maka yang kita lakukan biasa-biasa saja,  sak-madyo.
Kita sudah super-optimis masuk surga dan tak ada dorongan lagi berbuat baik.
Seperti anak sekolah jaman sekarang,  tidak belajar dan yakin : paling saya lulus.
Temannya yang belajar malah diganggu.
Rasulullah SAW bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (generasi tabi’ut tabi’in). [Hadits riwayat Bukhari].

Generasi Nabi sangat sensitif terhadap ancaman siksa dan hadiah pahala. Maka ketika dimotivasi dengan Lailatul Qodar mereka langsung berlomba mencarinya.
Sampai kemudian dijaman Umar dijadikan Shalat Tarawih. Karena Umar melihat di masjid mereka shalat sendiri-sendiri,  maka Umar menyatukan mereka dalam satu jama'ah.

Tetapi yang terjadi sekarang berbeda,  pada awalnya semua gesit. Sampai panitia Tarawih pasang "tratag" atau bahkan menutup jalan. Tapi pada akhir Ramadhan sepi.

Lalu apa yang harus kita lakukan?
Kita harus faham dengan benar,  seperti para Sahabat memahami dirinya,  bahwa kita jangan terlampau memuji diri.
Boleh saja optimis,  tapi jangan terlampau optimis bahwa semua amal kita sudah diterima oleh Allah. Jangan optimis bahwa kita tak punya dosa.

فَلَا تُزَكُّوْۤا  اَنْفُسَكُمْ  ۗ  هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى

fa laa tuzakkuuu anfusakum, huwa a'lamu bimanittaqoo

"... Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm 32)

Penting bagi kita untuk muhasabah, berapa banyak perintah Allah yang belum kita kerjakan dan berapa banyak larangan Allah yang kita langgar. Itu hanya kita sendiri yang tahu.
Dan kita bersyukur Allah selama ini menutupi dosa-dosa kita. Dosa ini tidak tampak karena memang ditutupi Allah.
Maka kita mengharapkan ampunan Allah justru di malam-malam akhir Ramadhan.
Ini kesempatan kita jangan sampai Ramadhan habis kita tak dapat apa-apa.
Sungguh celaka ...! Karena itu yang diaminkan Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda, “Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril muncul di hadapanku dan berkata,
“Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan.” Maka aku berkata, “Amin”

Kenapa?  Karena dia tidak melakukan qiyam Ramadhan, tidak melakukan I'tikaf dan ibadah lain,  ini orang yang celaka.
Seperti orang yang bertemu dengan orang tuanya tapi tidak berbakti kepadanya. Padahal Ridha Allah itu Kuncinya adalah Ridha Orang Tua.

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Mengencangkan ikat pinggang artinya beliau tidak berhubungan dengan isteri, tetapi fokus ibadah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

AMALAN YANG DICINTAI ALLAH

Tanggal : 21 Ramadhan 1439 H / 6 Juni 2018

Nara Sumber : Ustadz Drs. H. Marsquri MPd

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى ؟ قَالَ (( الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا )) قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : (( بِرُّ الْوَالِدَيْنِ )) قَلْتُ:  ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ (( اَلجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ )) متفق عليه

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud a berkata: “Aku bertanya kepada Nabi n ‘Amal apa yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala? Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi? Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad dijalan Allah’.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Dari hadits tadi disimpulkan tiga amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT,  diantara amat banyak amalan yang biasa dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Setelah menjawab pertanyaan tadi,  Rasulullah diam. Mungkin karena Ibnu Mas'ud tidak bertanya lagi. Bisa jadi seandainya dia bertanya lagi maka akan muncul jawaban lain.
Tiga amalan tersebut adalah :

*1. Shalat pada waktunya*

 اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

"... Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa' 103)

Amalan yang paling dicintai adalah Shalat pada waktunya. Dalam hadits lain ditambahkan kalau shalat itu dilaksanakan secara berjama'ah,  karena pahalanya juga berbeda. Ini menunjukkan bahwa shalat itu menjadi prinsip dasar ibadah. Karena shalat itu merupakan bukti ketaatan kepada Allah.
Shalat menjadi batas pembeda antara Muslim dan Kafir. Pembeda antara Muslim dan Munafik. Orang Munafik memang melakukan shalat, tetapi selalu menunda-nunda waktu shalat terutama shalat Subuh.
Dalam keadaan apapun shalat tak boleh ditinggalkan. Banyak Rukshah (keringanan) terkait dengan shalat.
Shalat bisa disingkat, bisa dijamak baik di awal waktu atau akhir waktu dalam kondisi tertentu.
Tak ada air : Boleh dengan tayamum.
Tak tahu arah Kiblat : Boleh diperkirakan

Diriwayatkan bahwa Nabi  bersabda :

الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

“Sholat Adalah Tiang Agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya”.

Shalat bukan sekedar ritual karena akan menjadi penuntun dan perisai dari perbuatan keji dan mungkar.

 اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ

"... Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.."
(QS. Al-'Ankabut 45)

Ini menjadi tolok ukur kualitas ibadah. Maka bila STMJ (Shalat terus maksiat jalan)  berarti shalatnya belum benar, hanya menggugurkan kewajiban, belum berdampak pada kehidupan.
Maka shalat jadi tolok ukur ibadah yang lain. Bila shalatnya baik maka amalnya akan dinilai baik. Jika shalatnya buruk maka amalnya buruk.

Shalat pertama kali dihisab.
“Sesungguhnya ‎yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya.  Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya ‎dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan,  Jikalau terdapat shalat sunnahnya maka akan disempurnakan kekurangan yang ada pada shalat wajib itu dengan shalat sunnahnya.” ‎

Maka shalat harus diajarkan sejak anak-anak masih kecil,  diajak berjama'ah. Karena shalat itu perlu pembiasaan. Banyak orang puasa tetapi shalatnya tidak tertib,  itu berarti ibadah shalat paling berat. Orang beriman akan gelisah bila sudah tiba waktu shalat tapi dia belum mengerjakan.

*2. Berbakti kepada kedua Orang Tua*

Kita ini semua adalah anak terhadap orang tua kita. Kewajiban kita adalah berbakti kepada kedua orang tua. Dan kita adalah orang tua dari anak kita.
Ridha Orang tua adalah pintu dari Ridha Allah. Dalam berbakti kepada orang tua ada beberapa hal :

2.1. Tidak cukup dengan memberi kecukupan materi.

Yang lebih penting adalah bentuk-bentuk ketawadukan. Bentuk sikap dan perilaku,  jangan sampai membuat orang tua sakit hati.

Ada hadits Nabi :
“Engkau dan hartamu milik orang tuamu. Sesungguhnya anak-anakmu adalah sebaik-baik hasil usahamu. Makanlah dari hasil usaha anak-anakmu.” (HR. Abu Daud,)

Apa-apa yang kita dapat sekarang tidak lepas dari jerih payah,  upaya dan do'a orang tua. Jasa orang tua tak mungkin kita hitung.

فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

"... maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al-Isra'  23)

Pada zaman Rasulullah ada  pemuda bernama Alqamah. Dia giat beribadah. Suatu ketika dia sakit keras dan mau meninggal.  Ternyata Alqamah tidak bisa mengucapkan La ilaha illallah.

Rasulullah bertanya, “Apakah dia masih mempunyai orang tua?”
“Ada wahai Rasulullah, dia masih mempunyai ibu.”
“Katakan kepada ibunya Alqamah, ‘Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rasulullah maka datanglah’”
Maka ibu Alqamah pun mendatangi Rasulullah. Lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai ibu Alqamah, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?”
Sang ibu menjawab, “Dia rajin shalat, banyak puasa dan senang bersedekah.”
Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Lalu apa perasaanmu padanya?”
Dia menjawab, “Saya marah kepadanya Wahai Rasulullah.”
Rasulullah bertanya lagi, “Kenapa?”
Dia menjawab, “Dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan diapun durhaka kepadaku.”

Maka, Rasulullah bersabda, “Sesungguhny,a kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”
Kemudian beliau bersabda, “Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.”
Si ibu berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau perbuat?”
Beliau menjawab, “Saya akan membakarnya dihadapanmu.”
Dia menjawab, “Wahai Rasulullah , saya tidak tahan kalau engkau membakar anakku dihadapanku.”
Maka Rasulullah menjawab, “Wahai Ibu Alqamah, kalau engkau ingin agar Allah mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqamah,”
Maka dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya telah ridha pada anakku Alqamah”.
Alqamah pun dapat mengucapkan La Ilaha Illallah. Kemudian, Alqamah pun meninggal dunia saat itu juga.

Maka bila ada anak yang rezekinya tidak berkah, mungkin salah satu sebab adalah ketawadukan kepada orang tua itu kurang. Keutamaan berbakti kepada orang tua itu terutama kepada ibu.
Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata,

“Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

2.2. Bagaimana berbakti kepada orang tua yang telah wafat?

Bila orang tua mempunyai nadzar maka kita wajib menunaikan nadzar itu.
Bila orang tua mempunyai tanggungan hutang maka anak wajib melunasinya, karena pada prinsipnya harta anak adalah harta orang tua juga.
Diupayakan selalu menjalin silaturahim dengan teman dan sahabat orang tuanya.
Anak wajib mendo'akan orang tua :

"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran"
(Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil).

Ada adat yang dilaksanakan sebagian orang untuk mengundang masyarakat untuk mendo'akan orang tuanya, namun saat dilaksanakan do'a justru anak-anak yang mengundang tidak ikut berdo'a tetapi sibuk di belakang menyiapkan makan. Ini keliru,  karena do'a yang mustajab adalah do'a anak,  bukan do'a tamu.

*3. Jihad di jalan Allah*

Saat ini pemahaman jihad berkembang luas tergantung situasi.
Pendapat Ibnu Taimiyah : Pokok dasar Jihad adalah jihad bin nafs,  sebelum jihad dengan harta benda atau jiwa.
Jadi bila dia sudah bisa jihad melawan nafsunya sendiri, baru dia bisa melaksanakan jihad yang lain.

Yang saat ini ramai di media adalah tindakan bom bunuh diri. Ada yang menyebut Terorisme,  tetapi ada kalangan tertentu yang menyebutnya sebagai jihad. Tapi apa itu benar?
Sebenarnya jihad seperti hal tersebut hanya bisa dianggap jihad jika ada kondisi ;
3. 1 . Kaum muslimin dan agama islam mendapat ancaman.
3. 2.  Islam dan kaum Muslimin mendapat gangguan yang mengancam keberadaannya.
Gambaran paling mudah adalah perjuangan Kaum Muslimin di Palestina.
3. 3. Kebebasan beragama kaum Muslimin terancam atau tertekan. Misal tak boleh shalat terang-terangan.
3. 4. Membela orang yang tertindas.

Prinsip jihad dalam islam adalah perang untuk mempertahankan diri.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Rabu, 06 Juni 2018

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

MENGAPA UMAT MENJAUHI AL QUR'AN

Tanggal : 20 Ramadhan 1439 H / 5 Juni 2018

Nara Sumber : Ustadz Ir. Didik Udiyono

Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

"Dan rasul Muhammad berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan."
(QS. Al-Furqan 30)

Jauh sebelum masa kini,  ternyata Rasulullah SAW telah mengetahui bahwa kelak umatnya akan mengabaikan Al Qur'an. Padahal jelas bahwa Al Qur'an adalah petunjuk bagi manusia.
Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).." (QS. Al-Baqarah 185)

Kalau Al Qur'an adalah petunjuk ,maka mestinya manusia sangat berkepentingan dengan Al Qur'an. Tapi kenapa Rasul sampai mengadu kepada Allah bahwa Al Qur'an dijauhkan ?
Ujung ayat 185 tadi menyebutkan : "wa la'allakum tasykuruun" (agar kamu bersyukur.). Bersyukur bahwa untuk hidup kita Allah telah memberikan petunjuk.

Maka puasa kita itu adalah ungkapan rasa Syukur. Dulu sebelum Puasa Ramadhan ada Puasa Asyura yang merupakan tradisi Bangsa Quraisy. Ternyata ketika Rasul hijrah ke Medinah beliau menemui Orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura karena mensyukuri kemenangan Nabi Musa terhadap Fir'aun.
Maka Puasa Ramadhan adalah juga ungkapan syukur atas turunnya Al Qur'an sebagai petunjuk bagi kehidupan kita.
Begitu hebatnya petunjuk Al Qur'an ini terhadap permasalahan kehidupan.
Ada kisah Jad anak Yahudi sebagai ilustrasi betapa Al Qur'an itu adalah petunjuk bagi manusia, Al Qur'an bukan hanya petunjuk orang yang bertakwa.

Jad, bocah Yahudi tinggal bersama keluarganya di apartemen di Perancis. Di lantai dasar apartemen, ada toko milik seorang Turki, Ibrahim, 67 tahun.
Jad tiap hari belanja. Bila berbelanja, tanpa sepengetahuan Ibrahim, ia mengambil coklat. Sampai suatu hari ia lupa mengambil coklat. Ketika meninggalkan toko, Ibrahim memanggilnya, “Jad, kamu lupa sesuatu, Nak.” Jad memeriksa belanjaannya. Tetapi, tidak menemukan sesuatu yang terlupakan.

“Bukan itu,” kata Ibrahim. “Ini. ” Sambil memegang coklat. Jad kaget dan takut bila Ibrahim menyampaikan ‘hal memalukan’ tersebut ke orang tuanya.
“Tidak apa-apa, Nak. Mulai hari ini kau boleh mengambil sebuah coklat gratis sebagai hadiah. Tapi, berjanjilah untuk jujur mengatakannya,” kata Ibrahim.

Jad menjadi sahabat Ibrahim. Ia menumpahkan keluh kesahnya bila menghadapi masalah. Ibrahim tidak pernah langsung menjawabnya, namun selalu menyuruh Jad untuk membuka sebuah buku. Ibrahim akan membaca kemudian menjelaskan jawaban dari masalah yang dihadapi Jad.

Hal tersebut berlangsung lama. Sampai satu ketika anak Ibrahim mendatangi Jad dan memberikan buku kepadanya sembari membawa berita bahwa Ibrahim,  telah Wafat. Ternyata buku itu bertuliskan huruf arab. Ia pun memohon temannya untuk menjelaskan 2 halaman yang dipilihnya. Sang teman membacakan makna tulisan itu. Sungguh, yang disampaikan sahabatnya itu jawaban bagi masalah yang ia hadapi.
Jad lalu bertanya : “Ini kitab apa….?”
“Al-Qur’an, kitab suci Umat Islam.”
Kaget mendengar hal tersebut, ia langsung masuk Islam. Dalam perjalanan hidupnya sebagai Muslim ia banyak mengislamkan orang di Afrika.

Jadi Al Qur'an petunjuk bagi umat manusia,  maka ketika Rasul mengeluhkan umat Islam mengabaikan Al Qur'an seolah-olah tak masuk akal.
Namun ada contoh terjadi : Dalam Al Qur'an ditekankan,  surat Al Maidah ayat 51, tapi banyak orang yang mengingkari.

*Bagaimana "makjuro" (menjauh dari Al Qur'an) bisa terjadi?*

Ada hadits Thabrani , dimana Rasulullah SAW bersabda :
"Ketahuilah bahwa Poros titik orientasi dari umat islam itu beredar tidak pada satu tempat. Sungguh kitab (Al Quran)  dan Sulthan (Penguasa) , dalam waktu dekat saling menjauhi" .

Di Jaman Rasul sebagai Pemimpin, kedua Poros itu menyatu,  karena seperti kata Aisiyah bahwa akhlak Rasulullah itu adalah Al Qur'an. Maka tak ada masalah.
Setelah Rasul wafat,  kedua poros yaitu Al Qur'an dan Penguasa saling menjauh.
Khulafaur Rasyidin berusaha mendekatkan kedua poros dengan sekuat tenaga,  tetapi lama kelamaan menjauh.

Pesan Allah SWT dalam Al Qur'an :

اِتَّبِعُوْا مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ   ۗ  قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran."
(QS. Al-A'raf  3)

Ketika kedua Poros itu menjauh, Allah mengingatkan agar kita mengikut Kitab dan jangan mengikut Pemimpin yang meninggalkan Kitab.
Sayangnya ketika kedua poros itu menjauh,  umat islam menjadikan Al Qur'an "mahjuro" , sesuatu yang dijauhi. Padahal perintahnya tegas ikuti Al Qur'an yang diturunkan sebagai petunjuk.
Tiap tahun umat islam memperingati Nuzulul Qur'an,  tapi omong kosong,  yang terjadi hanya seremonial.

Ada sebagian umat islam yang mengikut Penguasa yang menjauhi Al Qur'an dengan mengambil dalil.

Rasulullah SAW bersabda,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) ”. (HR. Bukhori Muslim)

Tetapi ada hadits lain yang menegaskan bahwa ketaatan terhadap Penguasa itu bersyarat :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah meskipun kaliau dipimpin oleh hamba sahaya dari habasyi, dengar dan taatilah dia selama memimpin kalian dengan kitabullah.” (HR. Tirmidzi)

Sekarang karena berbagai kepentingan, akhirnya hadits-hadits yang bersyarat disingkirkan. Maka kita ketahui bahwa hadits kadang ada unsur fitnahnya. Kalau Al Qur'an semua seragam. Tapi Al Qur'an pun ditinggalkan seperti disebut dalam surat Al Furqan 30 tadi, karena Umat lebih senang mengikuti Penguasa.

Cuma jangan sampai kita melupakan wasiat Nabi Muhammad SAW ,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi).

Kita diperintahkan mengikuti Kitabullah,  bukan mengikuti Sulthan. Problem kita umat meninggalkan Kitabullah.
Yang sudah terjadi dan kemarin jadi nostalgia adalah Al Maidah 51.

Pada skala mikro kita semua adalah Pemimpin. Rumah Tangga pemimpinnya adalah Istri, tetapi untuk urusan di luar rumah maka itu tanggung jawab suami.  Yang harus dilakukan Muslim adalah "Mendengar dan Taat" kepada Pemimpin,  dalam hal rumah tangga maka semua anak harus mendengar dan taat kepada Orang Tua,  sepanjang Orang Tua nya menegakkan Al Qur'an.

Menegakkan Al Qur'an artinya adalah Membaca - Memahami dan Mempraktekkan Al Qur'an.
Rasulullah SAW bersabda:
"Celakalah orang yang membacanya (Al Qur'an) , tetapi ia tidak merenungkan kandungan maknanya (mentadabburinya).  [H.R. Ibnu Hibban]

Diantara kita banyak yang punya Al Qur'an tetapi dibaca saja tidak. Al Qur'an hanya disimpan. Diantara kita banyak yang khatam berkali-kali membaca Al Qur'an pada bulan Ramadhan,  tapi jika ditanya apa faham maknanya?  Jawabnya Tidak!  , karena mereka tak pernah membaca Terjemah dan Tafsirnya. Bahkan mungkin seumur hidup mereka belum pernah Khatam membaca Terjemah Al Qur'an.
Ini bukti umat Islam mulai meninggalkan Al Qur'an seperti yang dikhawatirkan Rasulullah SAW.

Puasa di bulan Ramadhan ini adalah ungkapan rasa syukur atas turunnya Al Qur'an,  maka pada sisa bulan Ramadhan ini mudah-mudahan dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya, kita muhasabah,  re-thinking terhadap amalan kita karena penilaian amal itu pada bagian penutupnya. Kita gunakan Al Qur'an sebagai peningkat ketaatan kita.

Kita tahu definisi syukur itu , dari ucapan kita :
1. Menyatakan bahwa semua nikmat itu dari Allah SWT.
2. ‎Dengan jujur menyatakan bahwa pujian itu bagi Allah yg memberi nikmat tadi. Kadang kita keliru nikmat dari Allah tapi pujian kepada Makhluk. Kepada Makhluk kita berterima kasih,  jangan sampai menafikkan campur tangan Allah.

Kita bersyukur dengan perbuatan
Al Qur'an harus meningkatkan ketaatan, kita pakai sebagai petunjuk hidup karena kita semua adalah Pemimpin.
Sebagai Pemimpin agar ditaati maka kita tegakkan Al Qur'an.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Selasa, 05 Juni 2018

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

FIKIH SUNNAH

Tanggal : 19 Ramadhan 1439 H / 4 Juni 2018

Nara Sumber : Ustadz Djasadi

*1.Puasa Ramadhan*

Rasulullah SAW bersabda,

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad]

Puasa,  Al Qur'an dan amal-amal kita kelak akan bisa bicara dihari kiamat. Seperti tangan dan kaki kita kelak juga akan bersaksi akan perbuatan kita,  pada saat itu mulut justru tak dapat bicara.

اَلْيَوْمَ  نَخْتِمُ عَلٰۤى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَاۤ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا  يَكْسِبُوْنَ

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Ya-Sin 36: Ayat 65)

Puasa dan Al Qur'an memberi syafa'at dan syafa'at mereka diterima Allah. Maka kita harus yakin bahwa puasa kita diterima.

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ مُرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ. قَالَ « عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ ». ثُمَّ أَتَيْتُهُ الثَّانِيَةَ فَقَالَ « عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ »

Dari Abu Umamah berkata: Saya datang kepada Rasulullah SAW, maka saya berkata: “Perintahkan kepada saya dengan sebuah amal yang dapat memasukkan saya ke dalam surga!” Rasulullah SAW menjawab: “Berpuasalah, sesungguhnya tiada tandingan baginya” Kemudian saya datang untuk kedua kalinya, maka Beliau berkata: “Berpuasalah” (HR. Ahmad)

Puasa tidak ada tandingannya,  karena ada janji Allah antara lain puasa sehari ada yang dinilai 83 tahun lebih,  bagi yang kebetulan mendapat Malam Qadar.

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ar Rayyan artinya basah melimpah,  sejuk,  nyaman.

*2. Lailatul Qodar*

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَاۤ  اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ   ۙ  خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya Al-Qur'an pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr 97: Ayat 1-3)

Lailatul Qodar hanya ada pada bulan Ramadhan,  Tarawih juga hanya ada pada bulan Ramadhan. Betapa istimewanya bulan Ramadhan. Manusia dilarang untuk makan, minum dan hubungan suami isteri juga patuh. Itu karena Ramadhan.

Kita disunahkan mengintai Lailatul Qodar pada malam ganjil , pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Nabi biasanya membawa keluarganya untuk ibadah dan menjauhi isterinya.
Ada beberapa pendapat ulama dalam menentukan malam ini. Ada yang mengatakan malam 21,  23,  25 dan ada yg berpendapat malam 29, serta ada yang berpendapat pindah-pindah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir.
Tetapi mayoritas sepakat pada malam 27.

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

“Barangsiapa ingin mencarinya (lailatul qadar), hendaklah ia mencarinya pada malam ke-27” (HR. Ahmad)

Lalu kita ambil sikap bagaimana? Kalau saya sejak hari pertama harus bersiap menyambut lailatul qodar. Karena yang menentukan Allah maka bisa jadi Allah menurunkan kapan saja ketika hambaNya serius beribadah. Bisa jadi Allah menurunkan lailatul qadar meskipun waktu itu kebetulan dia berhalangan puasa akibat menstruasi misalnya,  bila dia memang menyambut lailatul qodar sejak awal,  sebelum datangnya menstruasi. Wallohu alam.

Rasulullah SAW bersabda.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إَيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhori Muslim)

*3. I'tikaf*

I'tikaf artinya ialah berada di sesuatu dan mengikat diri kepadanya, baik ia berupa kebaikan atau kejahatan.

Allah SWT berfirman:

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ  الَّتِيْۤ اَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُوْنَ

" Ingatlah, ketika dia Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?" (QS. Al-Anbiya  52)

Keadaan kaum Nabi Ibrahim dulu mengikat diri (I'tikaf)  pada patung.
I'tikaf dalam istilah maksudnya ialah menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Para ulama sepakat bahwa I'tikaf disyariatkan oleh agama. Nabi selama Ramadhan beritikaf selama 10 hari. Sedang pada tahun wafatnya beliau beritikaf sampai 20 hari. Begitu pula para sahabat,  para isteri nabi melakukan I'tikaf bersama nabi dan sepeninggalnya.

Hanya walau I'tikaf itu merupakan taqarrub atau pendekatan diri kepada Allah, tidaklah ditemukan sebuah haditspun menyatakan keutamaannya.

Berkata Abu Daud : "Saya bertanya kepada Ahmad ra,  Tahukah anda sesuatu keterangan mengenai keutamaan I'tikaf?
Ujarnya : Tidak,  kecuali suatu keterangan yang dhoif. "

Macam itikaf ada dua,  sunah dan wajib.
Sunah ialah yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala daripadaNya serta mengikuti sunah Rasulullah SAW. Itikaf macam ini lebih utama melakukannya pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan sebagaimana telah diterangkan dahulu.

Adapun I'tikaf wajib ialah yang telah diakui seseorang menjadi kewajibannya dengan nadzar mutlak atau nadzar bersyarat. Maka jika bernadzar jangan sembarangan.

Sabda Rasulullah saw.

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ

“Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut.” (HR. Bukhari)

Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi SAW:

كنت نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام؟ قال: “فأؤف بنذرك

“Aku pernah bernazar di zaman jahiliyah (sebelum masuk Islam) untuk melakukan i’tikaf semalam di masjidil Haram? Nabi SAW mengatakan penuhi nazarmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Waktunya iktikaf yang wajib hendaknya dilakukan sesuai dengan apa yang telah dinadzarkan seseorang. Maka bila ia bernadzar akan bernadzar itikaf 1 hari atau lebih hendaklah dipenuhi seperti apa yang telah dijanjikannya itu.

Hadits dari Aisiyah :
" Bahwa Nabi SAW jika bermaksud hendak beriktikaf lebih dulu melakukan shalat subuh, lalu masuk ke tempatnya beritikaf. Dan pada suatu kali ia bermaksud hendak beritikaf pada 10 hari terakhir dari Ramadhan. Maka disuruhnyalah membuat ruangannya hingga selesai. "

Tapi ini perintah untuk nabi sendiri, bukan untuk yg lain. Maka perintah Nabi kepada istrinya buat merobohkan bangunan mereka dan ditinggalkan itikaf oleh mereka setelah berniat,  menjadi bukti bolehnya menghentikan itikaf setelah memulai.

Juga hadits tersebut menjadi bukti bahwa seorang suami boleh melarang istri melakukan itikaf tanpa ijin.
Selain itikaf, seorang isteri harus ijin pada suami jika mau berpuasa sunah.
Syarat itikaf ia harus muslim,  mumaiyiz,  suci dari janabat, haid dan nifas.

*4. Bila hari jumat bersamaan dengan hari raya*

Apabila hari raya bertepatan dengan hari jumat maka gugurlah kewajiban shalat jumat bagi orang yang telah mengerjakan shalat hari raya. Berdasarkan hadits :

" Nabi SAW bershalat hari raya kemudian memberi kelonggaran dalam mengerjakan shalat Jum'at. Sabda beliau : " Siapa yang suka bershalat jumat maka bershalatlah".

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

Artinya: “Pada hari ini terkumpul bagi kalian dua hari raya, barangsiapa yang ingin mencukupkan dengan (shalat id) dari shalat Jum’at, maka itu cukup baginya, tetapi kami tetap shalat Jum’at bersama“. (HR. Abu Daud)

Terhadap imam dia disunahkan tetap shalat jumat,agar dapat diikuti oleh orang yang shalat jumat.

Menurut madzab Hambali orang yang tidak shalat jumat sebab sudah shalat hari raya dia wajib shalat dhuhur,  tapi madzab lainnya tidak mewajibkan shalat dhuhur.

اجْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلاَّهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ

“Di masa Ibnu Az-Zubair pernah hari ied jatuh pada hari Jumat. Ibnu Az-Zubair lantas berkata, ‘Telah bergabung dua hari raya (hari ied dan hari Jumat) di satu hari. Dia menggabungkan keduanya.’ Di pagi hari ia melakukan shalat dua raka’at dan Ibnu Az-Zubair tidak menambah lagi dari itu sampai ‘Ashar.” (HR. Abu Daud)

Pada waktu itu penduduk rumahnya jauh,  maka ketika mendatangi masjid mereka menempuh jarak yang jauh.  Maka melonggarkan tidak shalat jumat tadi adalah kebijakan Rasul.
Sekarang kita rumah dekat masjid dan transportasi mudah,  maka kita tetap melakukan shalat jumat.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 04 Juni 2018

Kajian Ahad Sendang Gede

Kajian Ahad SENDANG GEDE

NUZULUL QUR'AN DALAM AL QUR'AN

18 Ramadhan 1439 H / 3 Juni 2018

Dr. H. Rozihan MAg.

*Tafsir Nuzulul Qur'an*

Banyak kisah tentang Nuzulul Qur'an dari perspektif sejarah tentang turunnya Al Qur'an. Dari perspektif sejarah maka Al Qur'an ini turun sebagai petunjuk bagi manusia.  Ini tidak salah karena memang disebut :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ

"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia ...." (QS. Al-Baqarah 185)

Namun dari Perspektif Tafsir Al Qur'an ada yang lebih penting lagi.

*1. Al Qur'an "menjinakkan" indera*

Salah satu diantaranya adalah bahwa kita itu diperintahkan untuk "menjinakkan" indera,  terutama telinga kita. Kenapa dengan telinga?

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ   ۗ  اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."(QS. Al-Isra' 36)

Pendengaran dulu yang akan diminta pertanggung-jawaban. Wahyu itu suara,  jadi wahyu itu didengarkan, karena wahyu adalah Firman atau ucapan Allah.
Maka ada ayat :

 وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًا

"... Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung." (QS. An-Nisa' 164)

Ketika bayi lahir yang diadzani telinga.
Ketika manusia sekarat yang ditalqin telinga. Telinga itu sangat tajam, ketika mau tidur akan mudah bila telinga dijinakkan dengan lagu yang lembut. Melihat televisi jika tanpa suara tidak menarik. Mendengar dapat dilaksanakan dengan pekerjaan lain. Memotong sayur dapat dilakukan bersamaan dengan mendengarkan lagu, tapi akan berbahaya jika dilakukan sambil nonton TV.
Maka pendengaran itu sangat penting.

*2. Al Qur'an menerangi hati yang gelap*

الٓرٰ  ۗ   كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِـتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ   ۙ  بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

"... Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu Muhammad agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, yaitu menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji."
(QS. Ibrahim 1)

Al Qur'an diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari gelap gulita, maksudnya adalah gelapnya hati. Hati yg gelap sangat berbahaya.  Karena hati gelap ada Bapak menghamili anaknya. Karena hati gelap ada Ibu membuang bayinya.
Rosulullah bersabda : “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (HR Bukhori-Muslim).

Maka ketika kita puasa sebenarnya yg dibidik adalah hati atau jiwa agar bersih,  karena hati dampaknya luar biasa. Ketika hati marah maka dampaknya ke seluruh tubuh : Tangan berkacak pinggang, Telunjuk menuding-nuding, Mata melotot, Wajah memerah, Ucapan kasar ...

*3. Al Qur'an obat Penawar Hati agar senang*

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْـقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, ...." (QS. Al-Isra'  82)

مَاۤ اَنْزَلْـنَا عَلَيْكَ الْـقُرْاٰنَ لِتَشْقٰۤى

"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;" (QS. Ta-Ha  2)

Agama mengajarkan agar kita hidup senang dan tenang sehingga nyaman. Jika kita cemas maka hidup terganggu.

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

"Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (QS. Al-Baqarah 2)

Supaya tenang maka menurut saja pada Al Qur'an,  pasti tak ada keraguan. Menurut terhadap apa-apa yg diperintahkan,  misalnya antara lain adalah perintah untuk menikahkan anak yang telah dewasa, tak perlu takut miskin karena setelah menikah pasti muncul kemauan berusaha mencari rezeki.

*4. Al Qur'an melarang keserakahan*

Surat yang pertama kali turun di Mekkah bukanlah tentang Tauhid,  tetapi tentang bahayanya keserakahan. Karena memang Tauhid itu ada hubungan dengan Keserakahan. Ada 12 surat yang dapat menjelaskan hal itu,  tapi disini tidak akan dibahas semua . Ayat-ayat tersebut tak ada yang membahas tentang ibadah kepada Allah.

4. 1 . Tafsir Surat Al Alaq 6-8

Biasanya orang akan fokus pada Surat Al Alaq ayat 1-5 ketika disebut tentang ayat yang pertama kali turun. Tetapi Kuncinya sebenarnya ada pada ayat lanjutannya,  yaitu ayat 6, 7 dan 8.

كَلَّاۤ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰۤى اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰى اِنَّ  اِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰى
"Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembalimu." (QS. Al-'Alaq 96: Ayat6- 8)

Manusia itu sewenang-wenang, sombong dan bertindak semaunya sendiri. Lihat saja ketika dia merasa sehat maka apa saja dimakan dan kadang tak terkendali,  semaunya sendiri. Mengambil makanan ketika pesta prasmanan dengan berlebihan,  akhirnya dibuang,  mubadzir.
Itu karena manusia merasa cukup. Cukup uang,  cukup jabatan dan cukup ilmu mengakibatkan manusia bertindak semaunya sendiri.

Maka filsafat Orang Jawa dulu sudah benar : " Ojo Dumeh " yang kelanjutannya bisa macam-macam : Ojo Dumeh Kuoso (Jangan mentang -mentang kuasa),  Ojo Dumeh sugih (Jangan mentang-mentang kaya),  Ojo Dumeh ayu (Jangan mentang-mentang cantik). Ketahuilah jika Allah berkehendak dalam waktu 2 jam saja kecantikan bisa hilang. Ketika memasak tiba-tiba kompor meledak,  maka hilanglah kecantikan.
Maka ayat ke 8 perlu diingat,  kepada Tuhanmulah kembalimu, agar kita ingat mati, agar kita tidak bersikap keterlaluan.
4. 2. Tafsir Surat Al Mudatsir 1-6

Ketika Nabi menggigil ketakutan karena ketemu Jibril,  kemudian Nabi diselimuti oleh istrinya,  maka turunlah ayat

 يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ   قُمْ فَأَنْذِرْ    وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ  وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ  وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

Hai orang yang berkemul (berselimut),bangunlah, lalu berilah peringatan!
dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.

Kita diminta membersihkan pakaian. Pakaian ini adalah kiasan. Bahwa kadang manusia berpakaian kera (tak tahu malu),  kadang pakaian tikus (menjengkelkan). Itu semua harus dibersihkan.
Kemudian Kuncinya jika memberi jangan mengharap balasan. Memberi dengan mengharap balasan pasti akan kecewa. Banyak orang yg diberi namun tidak berterima kasih,  diberi salam tapi tidak mau menjawab. Jika mengharap balasan akan sakit hati,  maka jika memberi jangan mengharap balasan, karena itu tanda keserakahan.

4.3. Tafsir Surat Al Lahab 2-3

مَاۤ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا  كَسَبَ سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

"Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka)." (QS. Al-Lahab Ayat 2-3)

Ayat ini merupakan peringatan bagi yg menumpuk harta.  Bahwa harta harus dizakati.  Orang-orang yang serakah tak mau membayar zakat,  dia akan masuk neraka.
Maka ketika mempunyai uang harus diputar dan dimanfaatkan menjadi suatu investasi. Bila harta disimpan dan harus dizakati, maka harta bisa habis. Karena besaran zakat harta yg tidak dimanfaatkan adalah 2,5% dari harta.
Namun bila diputar dan menghasilkan,  yang dizakati adalah hasilnya bila telah mencapai nishob. Bila tidak mampu memutar harta, bisa dititipkan ke lembaga misal Bank.

4. 4. Tafsir Surat Al Humazah 1-3

وَيْلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ  الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗ  يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗۤ اَخْلَدَهٗ

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya." (QS. Al-Humazah Ayat 1-3)

Orang yg suka mengumpulkan harta, ketika dia tahu hartanya tak bertambah dia akan mengumpat. Dia merasa bahwa dengan harta yang banyak akan kekal.
Itu adalah keserakahan.  Padahal uang yang disimpan tidak kekal,  justru uang yang disedekahkanlah yang kekal.

Rasulullah SAW bersabda,

" يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟

“Anak Adam akan berkata, “Hartaku, Hartaku!” Lalu dikatakan, “Wahai Anak Adam! Bukankah hartamu yang telah kamu makan lalu habis atau yang kamu pakai lalu usang, atau yang kamu sedekahkan. Itulah yang kamu bawa.” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Ibaratnya bila uang kita 5 juta,  disedekahkan 1 juta maka yang kekal jadi milik kita adalah 1 juta,  sisanya jadi warisan ketika kita mati.

4. 5 Tafsir Surat Al Ma'un, 1-3

Allah SWT berfirman:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَ وَ لَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."
(QS. Al-Ma'un Ayat 1-3)

Menyantuni anak yatim itu penting,  bahkan sampai ada kisah Sufi tentang ustadz masuk neraka dan Pelacur masuk surga.

Ada seorang Ustadz dan pelacur. Sang Ustadz berusaha menasehati Pelacur dan menawarinya bekerja jadi pembantu rumah tangganya. Kedekatan ustadz dengan Pelacur mengakibatkan kecemburuan istrinya. Dan akhirnya Pembantu dikeluarkan dan karena tak ada kerja lain,  kembali jadi Pelacur.

Beberapa lama kemudian sang Ustadz dan pelacur tersebut meninggal dunia. Yang melayat ustadz banyak sekali sampai meluber,  sebaliknya Pelacur sampai membusuk tak ada yang merawatnya. Dalam perjalanan ke akhirat, mereka berdua bertemu dan terjadi dialog.

Ustadz: Hai pelacur kamu mau ke mana?
Pelacur: Saya akan ke surga.
Ustadz: Tidak mungkin kamu ke surga karena hidup kamu penuh dengan dosa.
Pelacur: Hidup saya memang penuh dengan dosa, tapi hal itu saya lakukan karena tidak ada pilihan lain dan saya tidak pernah berniat untuk melakukan hal tersebut.
Ustadz: Saya yang akan menuju surga karena hidupku penuh dengan ibadah setiap hari.
Kemudian Ustadz bertanya pada Malaikat:

Ustadz: Malaikat, apakah benar perempuan ini akan menuju surga..?
Malaikat: Ya, benar perempuan ini menuju surga dan anda akan menuju neraka.
Ustadz: Tidak bisa.!!, kehidupan saya terbalik dengan dia. Hidup saya penuh dengan amal ibadah dan dia penuh dengan dosa. Pasti ada kesalahan. Saya tidak percaya ini, coba tanyakan pada Allah.
Akhirnya Malaikat pergi menghadap Allah dan beberapa saat kemudian kembali lagi.

Ustadz: Bagaimana Malaikat? Saya pasti ke surga dan dia ke neraka.
Malaikat: Tidak, kamu tetap ke neraka dan perempuan ini ke surga.
Ustadz: Loh.. kok bisa?
Malaikat : Memang benar hidup kamu penuh dengan ibadah, pahala. Hidup kamu lebih baik dengan dia.
Pelacur ini anak yatim dan memelihara anak , dia tak punya penghasilan dan kerja karena terpaksa.
Kamu melihatnya tanpa peduli penderitaannya , kamu selalu menghitung-hitung dosanya. Setiap kamu menghitung dosa wanita ini pahalamu diberikan kepadanya sampai akhirnya pahalamu habis.
Akhirnya perempuan ini masuk surga karena pahala yang kamu berikan.
Bukankah kamu seorang Ustadz sudah tahu hal ini ? Bukankah kamu Ustadz sudah tahu kewajiban menyantuni anak yatim?

Kisah di atas adalah dongeng Sufi, intinya adalah betapa pentingnya menyantuni anak yatim. Mereka yang tak mau menyantuni disebut sebagai pendusta agama. Tauhid sangat terkait dengan kepedulian sosial.
Dulu Kiyai Ahmad Dahlan berbulan-bulan mengajarkan ayat ini,  sampai santri bosan.  Akhirnya santri dianggap lulus setelah bisa praktek. Jadi Al Qur'an tak cukup dipelajari.

4.6. Tafsir Surat At Takatsur 1-2

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takasur Ayat 1-2)

Bermegah-megah menumpuk Kekayaan itu tidak salah asal tidak lalai kewajiban membayar zakat, infaq.  Itu harus terus dikerjakan sampai ajal menjemput. Menumpuk harta tidak salah tetapi akan diminta pertanggung jawaban.

4. 7. Tafsir Surat Al Lail 5-10

فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰى فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰى
وَاَمَّا مَنْۢ  بَخِلَ وَاسْتَغْنٰى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰى فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰى
"Maka barang siapa memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan. Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran." (QS. Al-Lail Ayat 5- 10)

Perintah utamanya ternyata MEMBERIKAN HARTA bukan TAKWA. Karena Takwa itu mudah,  sedangkan memberi itu sulit.  Takwa itu artinya hati-hati,  adapun Memberi itu adalah sikap perbuatan hati-hati dari bahaya Keserakahan.
Maka janganlah merasa terlalu sedih bila kehilangan dan jangan terlalu senang jika mendapatkan.

4. 8 Tafsir Surat Al Balad 12-16

وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا الْعَقَبَةُ   فَكُّ رَقَبَةٍ اَوْ اِطْعٰمٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍ  يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍ  اَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍ

"Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?
Yaitu melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir." (QS. Al-Balad Ayat 12-16)

Hal yang sulit adalah melepas budak. Menurut tafsir yang dimaksud adalah bahwa kita ini diperbudak materi.  Itu harus dilepaskan.  Kemudian memberi makan orang yang lapar.
Berikutnya memberi kepada anak yatim yang kerabat. Itu adalah perbuatan sulit karena biasanya kerabat tidak mengenal terima kasih. Dia menganggap itu sudah kewajiban,  maka kadang sudah diberi masih mencemooh. Beda dengan memberi orang yang jauh,  Pemberian tak seberapa sudah amat berterima kasih.
Ayat ini teguran bahwa kita lebih senang menyantuni orang jauh daripada keluarga dekat. Maka kita di ayat lain dilarang mengharap balasan jika memberi.

Masih ada lagi Surat Ad Dhuha yang melarang menghardik anak yatim atau mencela orang miskin. Juga Surat Al In syirah.
Jadi jelas Nuzulul Qur'an itu pertama kali yang diperintahkan mengenai Tauhid pasti terkait dengan Jangan Serakah dan Kepedulian Sosial.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 03 Juni 2018

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

TANTANGAN DAKWAH

Tanggal : 17 Ramadhan 1439 H / 2 Juni 2018

Nara Sumber : Ustadz Dr.dr. H. Masrifan Djamil MMR, MPH

*1. Penyebaran Hoax lebih hebat daripada penyebaran Dakwah*

Ada hadits palsu buatan Indonesia, yg dampaknya membentuk budaya baru,  yaitu budaya saling minta maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan, karena hadits palsu tadi memerintahkan untuk saling minta maaf agar puasanya diterima. Hebat Betul ya ,  yg palsu malah membudaya, yg asli tidak diketahui.

Padahal hadits aslinya adalah :
Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, “Amin.” Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, “Amin.” Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, “Amin.”
Setelah Rasulullah saw. turun dari mimbar, kami pun berkata,
“Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.”
Rasulullah saw. bersabda, “Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril muncul di hadapanku dan berkata,
“Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan.” Maka aku berkata, “Amin”
Ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata,
“Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua, atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu masuk surga.” Akupun berkata, Amin :”
Ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata,
“Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu.” Aku pun berkata, Amin.’
(HR. Hakim)

Perintah yg pertama dan kedua in syaa Allah dapat dilakukan. Justru perintah yg ketiga ini sering terlewatkan padahal amalan paling ringan. Maka kita perlu membudayakan untuk bershalawat ketika Nama Nabi Muhammad disebut :
" Shalallahu alaihi wassalam" atau "Allohuma shalli alaihi"
Shalawat Nabi ini kadang-kadang pemakaiannya aneh-aneh. Ada yg digunakan untuk membubarkan majelis pengajian. Sekarang ada lagi,  dipakai ustadz untuk memulai pengajian. Dia meneriakkan : " Allohuma shalli ala Muhammad ".

Ada lagi hadits palsu buatan Indonesia yg beredar lewat WA dan membudaya :
" Barang siapa menyampaikan datangnya malam lailatul qodar kepada umat islam,  dirinya haram dimasukkan ke dalam api neraka".
Luar biasa ngawurnya ;
1. Dia menetapkan bahwa lailatul qodar tanggal 17.
2. ‎Hanya dengan menyampaikan berita sudah bebas dari api neraka...

Mari kita amati dari sisi apa yg terjadi.
Kajian islamiah mulai pudar. Kira-kira apa penyebabnya ?.
Ini adalah tantangan dakwah masa kini.
Yg kita lakukan adalah Passive Finding,  Gedung Dakwah dibuat dengan model operasi Puskesmas ,  yg mau datang silahkan datang,  yg tidak mau - tidak apa. Jadi dakwah secara pasif.

Hal ini beda dengan Jama'ah Tabligh,  mereka dakwah secara aktif. Mereka mendatangi masjid-masjid lain,  mendatangi jama'ah.
Ada lagi dakwah semi aktif,  yaitu dengan menggunakan radio. Ini dilakukan oleh MTA tapi perlu hati-hati jangan menimbulkan perpecahan. Ada lagi model kirim perpos,  belum digital. Mereka kirim punya program ini itu,  tapi kelanjutannya tak jelas. Ada lagi model Ring-ring dakwah - dibagi beberapa kelompok dan diadakan pendataan. Itu semua adalah Teknik-Teknik yg bisa dipilih.

*2. Lemahnya Pendataan*

Ada hadits shahih tentang memberi makan orang berbuka puasa.
“Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasa’i)

Ini mulai banyak terjadi dimana-mana. Kalau ditempat kita jelas siapa yg datang. Di masjid-masjid besar yg mendatangi makanan berbuka puasa jumlahnya ratusan,  tapi tak diketahui mereka puasa atau tidak. Kita tidak punya data.

Kejadian lain adalah ketika kita lewat di Supermarket pada bulan puasa,  disana Rumah-makannya ramai, dan tak sungkan-sungkan,  tak perlu ditutup tirai lagi.  Pertanyaannya apa mereka memang orang yang tak wajib puasa?
Dua tahun yang lalu ada kampanye "Hormatilah Orang Yang Tidak Puasa" . Menjadi pertanyaan besar kita apakah yang terjadi saat ini adalah hasil kampanye itu.?  Apakah kampanye untuk tidak perlu malu bila tidak puasa itu sudah berhasil?

Saat ini sudah tak terdengar lagi Gerakan Kampanye Warung Padang, gerakan  tutup di siang hari Puasa. Ada yang tutup tapi ada juga yang tetap buka warung siang hari. Memang ada Rumah makan yang tutup selama bulan puasa dengan tetap menggaji karyawannya.
Gerakan-gerakan semacam ini perlu dihargai,  misal dengan mengadakan festival Rumah makan yang tutup dan hanya buka malam. Modelnya mereka dibuatkan stand-stand untuk buka puasa,  kemudian setelah tarawih mereka ditampilkan jadi pembicara,  bagaimana kiat mereka bisa menyelenggarakan Resto dengan tetap menghormati bulan Puasa. Bila mereka Kasnya sudah kuat, mereka bisa melakukan ini. Hal ini sudah dilakukan di negara-negara Timur Tengah. Kita perlu programkan untuk Ramadhan tahun depan,  suatu Festival Resto yang Tutup selama Ramadhan.

*3. Gerakan "menghabisi" Arab Saudi*

Kemarin saya dapat kiriman info dari teman,  menyampaikan tentang sebuah Website. Nama website tadi mirip (sengaja dimiripkan?) dengan website islami. Yang perlu menjadi perhatian adalah isi website tadi menghabisi Arab Saudi. Judulnya saja sudah provokatif : "Arab Saudi itu bukan jualan Islam, tetapi menjual Islam untuk jualan". Ini adalah fitnah bahwa Arab Saudi menjual agama untuk kepentingannya.
Isi berita website tadi semuanya mendiskreditkan Arab Saudi. Kita ini sekarang sedang dicoba oleh kekuatan yang memusuhi islam,  yaitu Syi'ah.  Mereka sudah menguasai Iran,  Irak dan Suriah. Tiga kekuatan ini cukup kuat dan berusaha menjatuhkan Arab Saudi. Sejak dulu Iran menuntut agar kota Mekkah dan Medinah dikelola bersama,  tak boleh dimonopoli Arab Saudi.
Sekarang mereka punya cara baru lewat website untuk mempengaruhi dunia islam agar membenci Arab Saudi.

Coba mari sekarang kita hitung :
1. Berapa Mahasiswa yg sudah dibiayai Arab Saudi. Ternyata kita tak bisa menghitung. Banyak sekali karena termasuk Kiyai Wachid Hasyim dan Kiyai Ahmad Dahlan. Kemudian lulusan mereka yg bagus dibantu membangun Pondok Pesantren. Selama membangun Pondok terus didatangi dan dibimbing.
2. ‎Berapa kitab suci Al Qur'an yang sudah dibagikan ke seluruh dunia?  Banyak sekali.

Itu tadi adalah sebagian bukti-bukti persembahan Arab Saudi kepada Dunia Islam.

*4. TANYA JAWAB*

Pertanyaan 1

Tentang Safar,  apa bisa meniatkannya bila kuat akan puasa,  tetapi bila tak kuat nanti dibatalkan,  atau lebih baik tidak puasa dari awal.

Jawaban :

Ada hadits yg mengisahkan bahwa ketika perjalanan jauh,  Rasulullah berhenti dan kemudian makan. Dan beliau memerintahkan yang menyertainya untuk makan. Jadi pemahaman secara tekstual sebaiknya tidak puasa.

Tapi itu kan kondisi dulu,  perjalanan berat,  naik onta dan ada yang jalan kaki. Sekarang naik pesawat dari Jakarta ke Semarang cuma sebentar dan nyaman.
Maka pemahaman secara kontekstual sebaiknya tetap puasa.
Pemahaman tentang jauh atau tidak ternyata tidak seragam. Imam Syafii mengatakan 90 km itu jauh. Yang lain tidak.

Ayat tentang rukshah tadi ada lanjutannya bahwa bila puasa lebih baik,  saya mengatakan ada rahasia bahwa puasa itu baik bagi yg sakit mag, diabetes atau darah tinggi akan membaik dengan puasa. Adapun puasa terkait safar,  maka saya memilih tidak puasa jika puasa sunah,  tapi bila Puasa Ramadhan saya tetap puasa. Kecuali jika jalan darat dan kita nyopir,  maka lebih baik tidak puasa karena membawa keselamatan penumpang.
Menurut saya lebih baik diniatkan dari awal,  jangan batal ditengah jalan.

Pertanyaan 2 :

Kosmetik yg dari siput bagaimana?

Jawaban :

Harus menetapkan dulu siput itu haram atau najis. Kalau tidak najis silahkan.
Tapi hal ini kontroversi.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Jumat, 01 Juni 2018

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

KAFARAT TIDAK PUASA

Tanggal : 15 Ramadhan 1439 H / 31 Mei 2018

Nara Sumber : Ustadz Drs. H. Hamzah Rifqi,  MAg

Ada satu hal di Masyarakat yg menjadi keprihatinan kita yaitu kenyataan bahwa kemauan tafaquh fi dien (memahami agama) memang sangat kecil, sehingga perbaikan-perbaikannya itu menjadi susah. Penyakit akut umat islam salah satunya adalah al Jahl (Kebodohan) , ketidak tahuan terhadap agama. Lebih parahnya lagi ketidak-tahuan ini didasari oleh ketidak-mau-tahuan terhadap ketidak-tahuan.

Kita banyak mendapati di bulan Ramadhan ini,  jelas-jelas bulan Ramadhan dengan banyak spanduk Marhaban Yaa Ramadhan. Gegap gempita Ramadhan juga terasa di masyarakat, tetapi masih banyak umat islam terutama justru kalangan bawah yg tidak menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Saya amati ketika ada pembagian takjil di jalan itu,  mereka yg tak berpuasa juga minta dan langsung dimakan tanpa menunggu maghrib.

Dalam hadits yg banyak diriwayatkan, dengan berbagai macam tulisan namun pada prinsipnya isinya sama,  ada petunjuk tentang orang yg berpuasa kemudian batal karena pelanggaran puasa.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ وَ فِيْ رِوَايَةٍ أَصَبْتُ أَهْلِيْ فِيْ رَمَضَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ- وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ- قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ عَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا -يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ -أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “Wahai, Rasulullah, celaka !” Beliau menjawab,”Ada apa denganmu?” Dia berkata,”Aku berhubungan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.” (Dalam riwayat lain berbunyi : aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan). Maka Rasulullah SAW berkata,”Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab,”Tidak!” Lalu Beliau SAW berkata lagi,”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab,”Ttidak.” Lalu Beliau SAW bertanya lagi : “Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Rasulullah diam sebentar. Dalam keadaan seperti ini, oleh Nabi SAW diberi satu ‘irq berisi kurma –Al irq adalah alat takaran- (maka) Beliau berkata: “Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab,”Saya orangnya.” Beliau berkata lagi: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!” Kemudian orang tersebut berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku”. Maka Rasulullah SAW tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian (Beliau SAW) berkata: “Berilah makan keluargamu!”
(HR. Bukhory)

Nabi biasanya tak pernah tertawa sampai terbahak-bahak, namun kali ini dikatakan sampai terlihat gigi taring beliau, nabi sangat geli. Orang tadi jelas sudah niat puasa dan sudah puasa,  namun batal puasanya karena tak kuat menahan larangan puasa. Dia tahu bahwa dia harus mengganti puasanya tetapi tidak tahu caranya,  maka dia bertanya kepada Nabi.

Nabi menjelaskan kafarat atau denda terhadap dirinya karena tidak puasa (Batal tanpa alasan yg diijinkan).
Ternyata jawaban Nabi berupa alternatif tingkatan,  jika alternatif 1 tak dapat, maka ditawarkan alternatif 2.  Jadi bukan alternatif pilihan.
Kafarat alternatif bertingkat itu mirip dengan denda haji tamattuk,  yaitu menyembelih hadyu. Bila tak dapat baru diganti puasa 10 hari.

 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖۤ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍ ۚ  فَاِذَاۤ اَمِنْتُمْ ۗ  فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ  فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْ ۗ  تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ...
"... Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya lalu dia bercukur, maka dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barang siapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia wajib menyembelih hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia wajib berpuasa tiga hari dalam musim haji dan tujuh hari setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari)..." (QS. Al-Baqarah 196)

Namun dalam kasus pelanggaran haji yg lain ,(bukan tamattuk) maka kafaratnya berupa alternatif pilihan : berpuasa,  sedekah atau kurban.
Kasus pilihan alternatif bertingkat juga ada pada shalat , bahwa shalat harus berdiri,  jika tak bisa boleh shalat duduk, jika tak bisa boleh shalat berbaring.

Kafarat tidak puasa karena batal , urutannya adalah :
1. Membebaskan budak.
Disini tak ada budak,  karena pembantu bukan budak. Jadi alternatif 1 ini tak bisa dikerjakan.
2. Berpuasa 2 bulan berturut-turut.
3. ‎Memberi makan kepada 60 orang miskin.

Karena orang tadi sudah tua maka dia mendapat kafarat alternatif 3.
Keadaan yg ada dimasyarakat kita tidak sama dengan kisah pada hadits tadi,  karena disini orangnya memang tidak ada niatan berpuasa. Kisah dalam hadits adalah orang sudah niat puasa,  namun ditengah jalan batal tanpa alasan yg bisa diterima. Hanya ada dua alasan yg diijinkan untuk tidak berpuasa tanpa Kafarat, tetapi wajib mengganti dilain waktu, yaitu alasan : Sakit dan Bepergian jauh.

Keadaan di masyarakat kita ,  mereka tidak puasa tanpa alasan. Warung makan tetap operasi namun ditutup tirai itu keuntungan untuk orang yg tidak puasa, karena tak perlu merasa malu.  Bagi yg sudah niat puasa tidak masalah ada warung buka atau tutup.

Pemilik warung yg buka disiang hari bulan Ramadhan termasuk melanggar perintah Allah karena menolong orang untuk berbuat kemungkaran,  yaitu tidak puasa di bulan Ramadhan.

 وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى ۖ  وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"... Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan...." (QS. Al-Ma'idah 2)

Pemilik warung tak bisa beralasan  karena mencari uang. Sebagai muslim dia ridha dengan agamanya maka mestinya mau diatur oleh agamanya.

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَ بِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَ رَسُوْلاً، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا وَ حَكَمًا

(Aku rela bertuhan Allah, aku rela beragama Islam, aku rela bernabi dan berasul Muhammad, dan aku rela Al-Quran menjadi panduan dan hukum.)

Tentunya beda dengan warung yg ada di terminal, karena disana tempatnya musafir,  orang yg memang diijinkan untuk tidak puasa. Kalau di kampung mestinya warung tak diperbolehkan buka siang hari.

Yg menjadi trend sekarang adalah Buka Puasa Bersama. Masalahnya adalah apa mereka menyediakan mushola? Karena bagi yg puasa wajib untuk segera menunaikan shalat maghrib.
Namun sekarang banyak terjadi buka bersama, dalam pelaksanaan menjadi makan bersama. Pernah terjadi, sebelum maghrib makanan sudah habis,  karena yg diundang buka bersama para tukang becak yg tidak puasa. Mereka makan tanpa sungkan, justru yg memberi makan yg sungkan....

Bagaimana kafarat bagi yg tidak puasa dengan sengaja dan tanpa udzur?
Dalam suatu hadits disebutkan :

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ ، مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ ، وَإِنْ صَامَهُ

“Barangsiapa berbuka di siang hari bulan Ramadhan tanpa ada udzur (alasan) dan bukan pula karena sakit, maka perbuatan semacam ini tidak bisa digantikan dengan puasa setahun penuh jika dia memang mampu melakukannya” (Hadits Baihaqi)

Di masyarakat awam ada yg berpendapat bahwa tidak puasa di bulan Ramadhan bisa diganti pada bulan lain. Ini benar-benar kebodohan,  karena yg sudah niat puasa kemudian batal tanpa alasan yg diijinkan itu kafaratnya Puasa 2 bulan berturut. Yg benar adalah puasa yg ditinggal tanpa alasan tadi tak bisa diganti,  karena puasa Ramadhan adalah puasa yg diwajibkan pada waktu tertentu, yaitu bulan Ramadhan, tak dapat dikerjakan di bulan lain kecuali ada udzur.

Seperti shalat ashar misalnya, ada ketentuan waktu yg harus ditepati dan hanya bisa digeser ke dhuhur jadi shalat jamak bila ada alasan.
Demikian juga dengan qurban,  adalah ibadah yg ditentukan waktunya, yaitu antara tanggal 10 setelah shalat Ied sampai 13 Dzulhijjah. Diluar waktu itu ibadahnya tidak sah.

Diriwayatkan dari Abdulah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu bahwa dia berkata:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَقِيَ اللَّهَ بِهِ، وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

Barangsiapa berbuka sehari dari puasa bulan Ramadhân dengan tanpa keringanan, dia bertemu Allâh dengannya, walaupun dia berpuasa setahun semuanya, namun jika Allâh menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Allâh menghendaki, Dia akan menyiksanya”. [Riwayat Thabarani]

Kesimpulannya,  Puasa yg ditinggalkan tak bisa diganti dengan Puasa di bulan lain dan hanya bisa diganti dengan Taubatan nashuha. Kemudian terserah Allah akan mengampuni atau menyiksanya.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا   ۗ  عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَـكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..." (QS. At-Tahrim 8)

Sayangnya kita sulit menyampaikan hal semacam ini karena tak ada medianya. Majelis kajian agama hanya dihadiri oleh orang yg sudah mengerti agama. Mereka yg tak tahu ada di luar sana.  Dan kita dilarang mengarahkan pengeras suara ke luar ketika berdakwah. Lalu orang yg jahl tadi kapan akan bisa?

*TANYA - JAWAB*

Pertanyaan 1 :

Bagaimana hukumnya orang yg tidak puasa tanpa ada alasan yg jelas,  karena merasa dapat diganti di lain waktu. Dan bagaimana pula dengan orang yg memang tak mau puasa?

Jawaban :

Ketika dia awalnya berniat Puasa, tetapi batal ditengah jalan tanpa alasan,  maka kafaratnya Puasa dua bulan berturutan.
Namun jika dia tak mau puasa dengan sengaja maka dia hanya bisa mengganti dengan Taubat Nasuha.

Apabila dia tidak mau Taubat Nasuha maka dia sudah keluar dari Islam dan menjadi Kafir, karena Puasa Ramadhan adalah Rukun Islam.
Rukun adalah sesuatu yg tergantung sesuatu yg lain atasnya. Maka bila dia tak ada, sesuatu yg lain tadi juga tidak ada.
Puasa adalah Rukun Islam jadi bila tidak Puasa maka dia islamnya sudah tidak sah lagi.

Pertanyaan 2 :

Untuk orang yg membayar fidiyah misal bagi wanita hamil bagaimana,  apa harus mengqadla puasa juga.

Jawaban :

Sebenarnya rukshah puasa itu ada dua,  mengqadla dan membayar fidiyah.
Ada dua kharakter untuk penerapan rukshah:
1.  Rukshah bagi yg masih berkemampuan melakukan puasa
2. ‎Rukshah bagi yg tidak berkemampuan puasa.

Contohnya bagi wanita hamil.
1. Wanita hamil,  kemudian dia harus menyusui anaknya dua tahun maka dia tidak mampu mengqadla dan harus membayar fidiyah.
2. ‎Wanita hamil,  kemudian dia melahirkan. Namun anaknya mati.  Maka dia harus mengqadla dan tidak membayar fidiyah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK