Senin, 30 Juli 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

HADITS ARBAIN NAWAWIYAH

Tanggal : 16 Dzulqo'dah 1439 H/ 29 Juli 2018

Nara sumber :  Dr. dr. H. Masrifan Djamil MPH, MMR

Tinggalkan yang meragukan

Ada hadits yang intinya agar kita meninggalkan hal yang meragukan dan agar menuju pada yang tidak meragukan.

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ (. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ )

‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” [HR at-Tirmidzi]

Orang tua kita dulu menasehati jika kita mau pergi tapi ragu-ragu,  maka janganlah pergi. Menurut agama, hal yang meragukan adalah Syubhat . Itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian juga dengan kilafiyah sebaiknya ditinggalkan. Bila kita ingin sesuatu yang tidak ragu-ragu maka ambilah dari Al Qur'an dan Hadits,  jangan mengambil dari Kitab yang disusun Ulama.

Syarat masuk Surga

Salah satu Hadits yang dapat dijadikan rujukan adalah Hadits Arba'in Nawawiyah. Namun sebelumnya akan kita bahas dulu seandainya kita hanya mengerjakan amalan wajib saja.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .

Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk surga?” Beliau menjawab, Ya.” (HR. Muslim).

Alhamdulillah,  hanya dengan begitu bisa masuk surga. Hal ini kemudian dikaji oleh para ulama.
Kita perhatikan tentang kewajiban shalat,  kewajiban ini tolok ukurnya adalah Surat Al Mukminun.

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

" yaitu orang yang khusyuk dalam sholatnya," (QS. Al-Mu'minun 2)

Sholat harus khusyuk, artinya shalat harus standar. Jangan kalau jadi imam di masjid shalatnya lama, tapi kalau shalat sendiri cepat , ini namanya tidak standar. Beberapa sikap shalat ada sedikit perbedaan,  misal mengangkat tangan waktu takbir, semua punya dasar namun akan bagus jika mengerjakan shalat dengan sangat serius dimanapun.
Demikian pula dengan ibadah di bulan Ramadhan itu juga banyak sekali yang harus diseriusi.

Kemudian "menghalalkan yang halal", ini artinya bahwa dalam hal makan saja pasti pilih-pilih. Tidak mau memakan sembelihan yang tak jelas. Maka dia akan menyembelih binatang sembelihan sendiri,  atau membeli daging yang ada sertifikat halalnya atau hanya makan seafood.
Maka bagi kita perlu adanya pihak yang meyakinkan tentang kehalalan makanan yang dijual.

Siapakah yang Selamat ?

Kalau kita ingin selamat maka harus taat kepada Rasul. Ini tidak selalu berarti harus taat kepada ulama perorangan, sebagaimana sabda beliau SAW :

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada Pemimpinku maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada Pemimpinku, maka ia maksiat kepadaku.” (Mutafaq Alaihi)

Namun ketaatan kepada Pemimpin ini kilafiyah,  karena pada waktu itu Pemimpin (Gubernur)  dilantik oleh Nabi. Tentang ketaatan ini diperintahkan juga dalam Al Qur'an, namun derajat ketaatan terhadap Ulil amri beda dengan ketaatan terhadap Rasul. Ketaatan terhadap Ulil amri tak ada kata "wa athii'u" maka bobot ketaatannya beda.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ ۚ  فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِرِ  ۗ  ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Muhammad, dan ulil amri pemegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul , jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' 59)

Kilafiyah bukan Rahmat.

Ada hadits yang mengatakan kilafiyah adalah rahmat, namun itu adalah Hadits Palsu. Hadits yang shahih adalah perintah untuk berjama'ah.

Rasulullah SAW bersabda:

"عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد " [سنن الترمذي: صحيح]

"Hendaklah kalian berjama'ah, dan janganlah kalian berpecah, karena sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendiri, sedangkan terhadap orang yang berdua lebih jauh." [Sunan Tirmidzi]

Setan akan menyenangi orang yang sendirian. Maka disarankan untuk  minimal selalu berdua.

Hadits Arba'in Nawawi

Hadits arbain Nawawiyah,  ditulis oleh Yahya Bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Juma bin Hazam an Nawawi.
Nawawi adalah nama tempat.
Hadits yang sering dibahas adalah tentang Niat,  kemudian Hadits Jibril yang membahas apa itu Islam,  Iman dan Ihsan dan Hadits Tanda-tanda Hari Kiamat.

Beliau menjadi terkenal karena karyanya yang hebat. Perlu menjadi pelajaran buat kita bangsa Indonesia,  karena kita ini sering budayanya salah,  tak mau kesulitan. Bahkan ketika menasehati anak juga :
"Jangan yang sulit-sulit.. ".
Padahal apa yang tidak sulit?  Membuat komputer laptop juga tidak mungkin mudah. Jadi jika kita ingin negaranya maju maka harus berani menempuh kesulitan.

Hadits ke empat

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا                            

[رواه البخاري ومسلم]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah SAW menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga. (HR Bukhori dan Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits :

1. Ruh ditiupkan ke dalam tubuh manusia ketika kandungan berusia 4 bulan.

2.Rezeki,  ajal,  amal dan nasibnya sudah ditentukan. Tapi jangan lupa untuk berdo'a karena ada hadits bahwa do'a -lah yang dapat mengubah nasib seseorang.

3. Maka berdo'alah sebanyak-banyaknya, karena do'a adalah ibadah. Berilah anak dengan nama yang baik, karena nama ibarat do'a orang tua.

4. Amal perbuatan dinilai di akhirnya.
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)
Maka berhati-hatilah. jangan biarkan orang tua hidup sendiri,  karena orang sendiri mudah diganggu setan.

5. Hendaklah kita tidak terpedaya dengan kondisi saat ini , mungkin masih muda dan sehat , justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).

6. ‎Banyak amalan do'a untuk husnul khotimah,  ada yang pendek ada yang panjang.

Do'a terpendek adalah do'a Nabi Yusuf 'Alaihis Salam:

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (QS. Yuusuf: 101)

Do'a yang panjang adalah do'a Salamat.

Pembuktian Hadits ke Empat

Hadits ke-empat ini dan Surat Al Mukminun ayat 12 sampai 14 adalah dalil yang sangat dekat dengan pengetahuan kedokteran dan sudah dibuktikan secara ilmiah dan ditulis oleh Maurice Bucaille.

1. Berjuta-juta sperma ditahan Ovum dan hanya satu yang bisa masuk. Maka hanya sperma yang juara menjadi bayi dan jadilah manusia sempurna.
2. ‎Sudah dibuktikan bahwa jantung mulai berdetak ketika kandungan usia 4 bulan, dan mulai ada gerakan.
3. ‎Pembentukan manusia tak dikendalikan oleh ibunya ,  benar-benar pabrik yang luar biasa karena merupakan gabungan dari kedua orang tuanya sehingga kemudian jadi bayi sempurna.

TANYA JAWAB

Pertanyaan 1 :
Kehidupan dalam rahim,  kenapa penyakit bisa nurun dari orang tua.?

Jawaban :

Ibu dan bapak membawa chromosome,  masing-masing 22.
Maka jika bapak ibunya sakit akan dapat menurunkan penyakit. Ini yang menyebabkan penyakit turunan. Genetic yang dominan akan sangat berpengaruh.
Ada teman yang sekeluarga punya cholesterol tinggi karena turunan,  tetapi ada yang kena sakit jantung dan ada yang tidak kena. Ini karena masing-masing beda dalam menjaga kesehatannya, mungkin juga kepribadiannya beda,  ada yang tipe A dimana dia perfectionist sehingga stressnya tinggi.

Pertanyaan 2 :
Kaitan antara amalan dinilai pada saat akhir dengan Allah yang senang menerima taubat bagaimana?

Jawaban :

Taubat itu tidak diterima ketika nyawa sudah sampai tenggorokan.
Contohnya adalah Fir'aun yang bertobat ketika hampir ajal.
Maka kita agar selalu bertaubat. Jangan lupa untuk selalu istighfar.
Disarankan untuk tiap pagi dan sore membaca Sayidul Istighfar.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 22 Juli 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

JAGALAH ALLAH !

Tanggal : 9 Dzulqo'dah 1439 H/ 22 Juli 2018

Nara sumber :  Arief Rachman, Lc.MA

1. Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas ini adalah salah satu sahabat nabi yang luar biasa, karena selain masih sangat muda,  beliau juga dido'akan oleh Rasulullah :

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, buatlah dia menjadi faqih di dalam agama ini, dan ajarilah dia ilmu ta’wil (ilmu tafsir al-Qur’an).”

Dan do'a Rasul ini terkabul,  Abdullah bin Abbas menjadi sangat pandai dan ahli Tafsir Al Qur'an. Dikisahkan ada beberapa kejadian yang membuktikan kepandaian Abdullah bin Abbas.

1. Ketika Rasulullah mendapatkan wahyu Surat An Nasr. :

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ  ۗ  اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat." (QS. An-Nasr ayat 1- 3)

Umar bin Khattab bertanya kepada Para Sahabat : "Bagaimanakah pendapat kalian tentang makna firman Allah SWT : Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) ?

Maka sebagian dari mereka menjawab. ”Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, apabila kita peroleh kemenangan dan pertolongan."
Dan sebagian dari mereka hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun.
Kemudian Umar menanyakan pendapat Abdullah bin Abbas.
Abdullah bin Abbas pun menangis, sehingga para sahabat lain heran dan bertanya,  kenapa menangis?

Maka Abdullah bin Abbas menjawab, bahwa kalau orang sudah masuk islam berbondong-bondong lalu Nabi sebagai utusan , tugasnya apa lagi ?
Ayat ini merupakan pertanda dekatnya ajal Rasulullah SAW.
Begitu hebatnya pendalaman Abdullah bin Abbas terhadap hal yang tersirat dari ayat.  Padahal saat itu beliau masih kecil.

2. Abdullah bin Abbas adalah seorang yang suka mencari data tentang Sabda Nabi. Beliau mencari kepada Para Sahabat yang lain dan ditulis semua. Sampai Para Sahabat heran karena hampir semua orang sudah tahu,  untuk apa ditulis?
Kemudian setelah Rasulullah wafat,  terjadi perang dengan Musailamah al Kadzab dan banyak sahabat yang meninggal. Baru kemudian orang menyadari pentingnya Abdullah bin Abbas yang belajar dari satu orang ke orang lain dan akhirnya Abdullah bin Abbas menjadi rujukan.

2. Perintah Menjaga Allah

Ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang disampaikan lewat Abdullah bin Abbas dan sangat istimewa , karena merupakan pesan untuk Menjaga Allah.

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas –ra – menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi SAW. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat :Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan , mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering."  (Sunan At Tirmidzi).

Hadits ini istimewa karena bisa diterapkan diseluruh kehidupan kita,  kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat bahkan kehidupan bernegara.
Jadi dari kalimat pendek tadi maknanya sangat luas. Menurut para ulama memang Sabda Nabi selalu sedikit tapi luas. Salah satu contoh adalah ketika ditanya : Agama itu apa?  Maka Rasulullah hanya menjawab bahwa Agama adalah Nasehat. Maka bagi kita menyampaikan agama itu wajib karena memberi nasehat. Namun perlu diingat bahwa cara memberi nasehat itu harus benar.
Nasehat mungkin bermanfaat seketika itu juga,  namun bisa juga bermanfaat jauh hari kemudian. Karena itu perlu memberi nasehat sejak anak masih kecil.  Kenapa?  Karena mengukir ingatan pada anak kecil lebih mudah dilakukan, seperti ungkapan : "Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sedangkan belajar sesudah besar bagai melukis di atas air".

3. Jagalah Allah, Maka Allah akan menjagamu.

Orang yang awam akan bertanya,  kenapa Allah harus dijaga ?
Padahal hadits ini senada dengan firman Allah dalam Al Qur'an.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad  7)

Allah kan Maha Kuasa kenapa harus ditolong?  Maka Para ulama menafsirkan bahwa : Jagalah Allah maksudnya adalah Jagalah agama Allah,  yaitu Islam.

Maknanya luar biasa, ada beberapa makna yang perlu difahami.

3.1. Menjaga Allah, adalah menjaga Hak-hak Allah dari hambaNya.

Dalam sebuah hadits dikatakan tentang hak Allah :

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ,...

Rasulullah SAW bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun,...." (HR Bukhari Muslim)

Hak Allah adalah agar manusia beribadah kepadaNya dan ini juga sesuai dengan ayat :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)

مَاۤ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ  يُّطْعِمُوْنِ

"Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 57)

Manusia beribadah itu merupakan kebutuhan manusia,  sama sekali bukan kebutuhan Allah. Saat ini kita hidup pada masa dimana pengaruh berbagai faham saling mempengaruhi. Mungkin kita tak sadar bahwa kadang ada sesuatu tayangan yang dapat mengikis akidah kita , terutama bagi anak-anak,  misalnya film pertarungan antar dewa yang tak sesuai logika kita. Ini berbahaya sekali bagi agama. Maka kita harus menjaga agama.

Ada lagi misal ada tanya-jawab tentang belajar tenaga sakti apa boleh selama akidahnya kuat?
Tetapi siapa yang bisa menjamin akidah tetap kuat? Maka sebaiknya kita menghindari hal-hal yang menyalahi akidah,  misal ada aturan setelah khataman harus Puasa 9 hari dan sebagainya. Ada pula amalan Asmaul Husna tetapi ada dua yang aneh karena bukan dari Asmaul Husna. Ini merupakan penyimpangan yang harus ditinggalkan.

3.2. Menjaga Allah dengan Komitmen mengerjakan Perintah dan meninggalkan larangan-laranganNya.

Kita perlu mengkaji apa yang diperintah dan apa yang dilarang.
Biasanya perintah dan larangan diawali dengan kata : " Yaa ayuhaladzina Amanu" dan "Yaa Ayuhanass".

Contoh yang paling populer adalah surat Al Baqarah. 183

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ ....

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa ...,"
(QS. Al-Baqarah 183)

Kita semua taat melaksanakan perintah puasa. Akan tetapi aneh, kenapa kita tidak taat pada perintah lain,  padahal redaksional perintahnya mirip.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰى   ۗ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu melaksanakan qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh.." (QS. Al-Baqarah 178)

Orang menjadi bingung,  disini hukumnya tidak begitu. Padahal agama itu diturunkan antara lain untuk menjaga jiwa. Maka ancaman hukuman terhadap Pembunuhan juga amat berat (qisas).
Itu adalah perintah,  ada pula larangan misalnya :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً   ...

"Dan janganlah kamu mendekati zina; zina itu sungguh suatu perbuatan keji..." (QS. Al-Isra'  32)

Maka jika kita menjalankan Perintah dan menjauhi larangan itu namanya menjaga Allah.
Kita menjaga Ayat-ayat Perintah atau larangan Pribadi, maka Allah akan menjaga Pribadi kita. Ayat hubungan kekeluargaan, maka Allah akan menjaga kita dalam masalah keluarga. Bila kita menjaga Ayat-ayat Sosial,  maka Allah akan menjaga Kehidupan Sosial kita.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka..."
(QS. Al-Hujurat 12)

Buruk sangka, ini untuk kehidupan sosial dilarang. Bila kita bisa menjaganya maka Allah akan menjaga kehidupan bermasyarakat.
Dalam Surat Al Hujurat juga diperintahkan menutupi aib.

Di Indonesia ada Pemilu pemimpin 5 tahunan. Memprihatinkan bahwa banyak yang meninggalkan akhlak islam. Hari ini kita mendukung si A,  maka aib pribadi si A ditutup. Namun ketika si A pindah haluan maka semua aib pribadi si A keluar semua. Padahal kita diperintah menutupi aib.

 وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“...Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. ....” [HR. Tirmidzi]

Kita lihat ketika pilkada,  betapa mudahnya kita mengeshare aib pribadi seseorang. Padahal itu larangan.

3.3. Menjaga Allah dengan Prinsip pada batasan Syariah.

Kalau kita bisa Total itu lebih baik, namun bila kondisi tidak memungkinkan maka kita hanya wajib menjalankan sebatas yang bisa dilakukan. Misal dalam hal ini adalah Bank Syariah,  seandainya belum bisa total ekonomi Syariah ya kita menjalankan semaksimalnya yang bisa dilakukan.
Ulama membuat kaedah untuk hal ini,

ما لا يدرك كله لا يترك كله

“Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (yang mampu dikerjakan).”

3.4. Menjaga Allah,  dengan mempergunakan tubuh kita sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.

Allah memberi kita tangan,  kaki, potensi dan sebagainya, jika kita manfaatkan sebagaimana Allah bertujuan menciptakan kita,  maka itu sebenarnya sudah mendatangkan penjagaan Allah pada diri kita.
Maka dalam Al Qur'an banyak ayat dengan kata "ma'a" yang artinya beserta.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْن

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah 153)

Allah beserta orang yang sabar. Sabar itu tidak ada batasnya,  sabar itu indah,  sabar itu bukan defensif, bukan nrima. Sabar itu mempertahankan hak.

4. Jagalah Allah, Maka Allah akan engkau dapati dihadapanmu.

Dalam hadits lain dikatakan :

ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ

“Kenalilah (ingatlah) Allah  di waktu senang pasti Allah  akan mengenalimu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

Yang sering terjadi terbalik,  kita ingat Allah hanya saat susah,  namun saat lapang kita justru lupa. Mestinya ketika lapang,  yaitu sehat dan punya rejeki seharusnya makin banyak ibadahnya, banyak infaknya.
Itu namanya menjaga Allah.

Dalam hadits lain dikatakan
Ada seorang sahabat bertanya : "Ya Rasulullah bagaimana masuk surga?"
Rasulullah menjawab, "laksanakan yang wajib."
Tapi jika ingin tingkatan surga yang lebih baik maka lakukanlah amalan Sunah. Ibarat kuliah jika ingin lulus ada standard minimal kelulusan,  maka lakukan yang wajib. Namun jika ingin mendapat ranking,  lakukan yang sunah.

Ada hadits siapa yang membangun masjid di dunia maka Allah akan membangunkan rumah baginya di surga. Makanya kalau orang Arab memberi bantuan membangun masjid, dia menyumbang sendiri untuk satu masjid. Agak beda disini yang patungan membangun masjid.

Dalam sebuah hadis qudsi:
Allah Ta'ala berfirman, ".. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. ........
Aku menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya ....."  (HR Al Bukhari)

Maka kadang ada orang yang diberi kelebihan dapat melihat melampaui kemampuan biasa,  itu mungkin karena amalan sunahnya luar biasa.

Ketika kita berdo'a maka kita merasa Allah itu dekat. Namun kadang kita keliru dalam memahami kedekatan Allah. Karena mestinya ketika kita berdosa segera bertaubat karena Allah dekat.
Ketika orang tua wafat kita malah minta orang lain mendoakan,  sementara kita malah sibuk melayani tamu. Ini kesadaran yang perlu ditingkatkan.

5. Apabila minta,  maka mintalah sama Allah.

Tak berarti jika meminta kepada Allah itu harus detail.  Kita tak perlu minta mobil , karena mungkin Allah memberi rejeki dengan cara lain.

Ada yang kecewa dengan cara penerimaan siswa cara zona,  karena tak dapat memasukkan anak ke sekolah lain. Ini tak perlu,  karena Allah memberi ilmu lewat jalan lain.

Sebelum kita menikah mungkin berdoa minta jodoh. Cuma mungkin orang tua berdo'a pengin anaknya menikah sama si A, padahal anaknya berdo'a minta nikah sama si B.

Itu semua menunjukkan jika kita berdoa jangan terlalu detail.
Bila kita minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Dalam surat Al Fatihah dikatakan bahwa sebelum meminta awali dulu dengan ibadah.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah 5)

Hal penting lain bahwa do'a secara masal dan tujuan sama dampaknya luar biasa. Demikian pula do'a seorang Pemimpin yang Adil dampaknya luar biasa. Karena itu jika memilih pemimpin,  pilih yang bisa berdo'a.

6. Ketetapan Allah yang berlaku.

Ini yang terakhir terkait dengan :
"Seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu."

Ada kisah tentang Bung Karno (benar atau tidak tak diketahui)  , ketika di penjara di Digul dan diberi tahu akan dieksekusi besuk pagi.
Intinya adalah bahwa kemudian beliau memasrahkan nasib pada Al Qur'an yang dibuka,  kebetulan adalah ayat :

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ  ۚ  فَاِذَا جَآءَ  اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

"Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Al-A'raf 34)

Ternyata eksekusi dibatalkan. Wallohu alam.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 09 Juli 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

ISTILAH YANG BERUBAH MAKNA

Tanggal : 24 Syawal 1439 H/ 8 Juli 2018

Nara sumber :  Drs. H. Fachrur Rozi MAg

Ketika dua orang muslim bertemu di bulan Syawal, maka ucapan yang terbaik adalah : "Taqobalallohu minna wa minkum" (Semoga Allah menerima ibadah kami dan ibadah kalian). Namun ucapan ini semakin hari semakin hilang dari peredaran. Seandainya ada , kadang sebagiannya yang mengucapkan menjadi keliru karena tidak terbiasa. Namun kemudian tambah keliru lagi karena dikatakan : "Minal aidin wal Faizin".

Ada beberapa penggunaan istilah yang sering dipakai selama Ramadhan sampai Syawal yang sudah beredar dikalangan umat Islam.  Tidak keliru tapi perlu diluruskan. Sebab di Grup WA ada tulisan yang diatas-namakan Kholid Basalamah,  entah ini benar atau tidak,  yang mengatakan bahwa ucapan "Minal aidin wal faizin" , adalah ucapan yang keliru dan harus diganti "Taqobalallohu minna wa minkum". Ini perlu diluruskan agar Keislaman kita terjaga kemurniannya,  tetapi dari sisi muamalah tidak tercabut dari akar budaya kita.

Maka ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan,  dan akan kita awali dengan istilah ketika bulan Ramadhan.

1.  Takjil

Kita sering mendengar istilah Takjil. Bahkan takmir masjid juga membuat Jadual Takjil. Secara bahasa,  takjil itu artinya : Segera.
Lengkapnya
اِستَعْجَلَ - يَسْتَعْجِلُ، اِئْتَزَّ

ista'jala - yasta'jilu, iktazza (orang yang selalu tergesa-gesa).
Ketika masuk waktu maghrib,  maka Takjillah...artinya segeralah berbuka. Tetapi di masyarakat, takjil artinya menjadi snack.
Apakah Takmir masjid tidak tahu arti takjil,  sehingga membuat jadual sedekah snack dengan kalimat Jadual Takjil?
Atau kalimat Takjil sudah larut?  Berubah maknanya?
Bahkan hotelpun sudah biasa membuat Pengumuman : Disediakan Takjil gratis,  dan yang dimaksud adalah Kolak (Makanan ringan).

Dari kata Takjil itu kemudian berkembang pertanyaan,  waktu berbuka puasa itu kapan?
Ketika tiba waktu maghrib atau menunggu adzan maghrib selesai?
Memang boleh saja menunggu adzan selesai,  tapi itu bukan syarat untuk berbuka.  Karena belum tentu ada adzan yang terdengar ketika kita di daerah terpencil belum ada listrik dan tak ada radio. Atau ketika kita sedang berada di negara yang jarang ada muslimnya. Alasan kedua karena tak ada standard kapan selesainya adzan,  bisa panjang atau pendek.

2. Tarawih.

Istilah ini ternyata berasal dari Imam Syafii ketika beliau berkunjung ke Medinah. Beliau melihat orang shalat bakda Isya' dengan jumlah raka'at  yang banyak. Beliau berkomentar :
"Hadzihi sholatu Tarawih" ( Ini adalah shalat yang Santai).
Jadi Tarawih artinya santai,  karena beliau melihat shalat yang sangat pelan sekali. Sekarang kata Tarawih digunakan untuk nama shalat malam di bulan Ramadhan.
Karena banyak yang tak tahu artinya,  ketika Bilal mengajak : "Shollu sunattan Tarawih..." ( Mari kita bersama shalat Sunah dengan pelan-pelan.. ) , yang terjadi shalatnya ngebut,  cepat sekali.

Kadang diantara kita ada yang ingin menirukan Rasul dalam beribadah. Untuk diketahui bahwa Rasul tak pernah shalat malam lebih dari 8+3 raka'at. Kita bangga telah mengikuti itu,  tetapi tidak mengikuti selanjutnya. Karena oleh Aisyah dikatakan : "Jangan tanya panjangnya."
Rasulullah sangat lama shalatnya,  ternyata kita tidak siap untuk mengikuti Rasulullah. Kita tidak suka jika imam terlalu lama shalatnya. Bahkan ada masjid yang pesan agar imam yang memimpin jangan membaca surat yang panjang, atau ceramahnya jangan menyinggung hal-hal tertentu. Memang sunahnya sebenarnya yang mengimami adalah Tuan rumah asal bacaannya bagus,  bukan Ustadz tamu.

3. Tadarus

Yang dipraktekkan di masjid-masjid sesudah shalat Witir itu sebenarnya adalah Murotal,  bukan Tadarus. Karena Tadarus itu adalah dari kata

درس - يدرس - ادرس

( darosa - yadrusu - udrus ) = kuliah atau Kajian.
Yang dilakukan adalah membunyikan huruf-hurufnya Al Qur'an , belum sampai level kajian. Meskipun membaca Al Qur'an juga baik disisi Allah, mengerti atau tidak mengerti maknanya.
Di jaman dahulu para ulama memberi nama kegiatan tersebut dengan nama Tadarus karena kegiatannya berupa Taklim,  kajian dan tidak hanya membaca saja,  tetapi setiap membaca satu ayat dilanjutkan dengan penjelasannya. Sehingga selama Ramadhan itu mungkin hanya satu juz saja atau mungkin malah hanya beberapa surat dari Al Qur'an. Namun hal demikian membuat orang semakin faham dengan Al Qur'an.

Contoh misal pemahaman ayat ini :

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,  sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takasur Ayat 1-2)

Jelas kita dilarang menumpuk harta dengan tujuan dikoleksi tanpa dimanfaatkan. Tetapi banyak terjadi misalnya punya gelas bagus dan hanya disimpan saja. Bahkan anaknya sendiri tak boleh pakai gelas bagus karena merasa sayang,  dan diperintahkan pakai gelas lain untuk harian dengan alasan gelas bagus disimpan untuk menjamu tamu. Tetapi apa yang terjadi?  Ketika tamu datang cukup dijamu dengan aqua gelas. Itu contoh sederhana tentang menumpuk harta yang mungkin juga kita lakukan. Membeli sesuatu hanya karena tertarik tapi cuma disimpan tak pernah dimanfaatkan.

4. Iedhul Fitri

Secara bahasa sebenarnya iedhul Fitri  berarti Kembali Sarapan. Setelah lama Ramadhan,  maka ketika Iedhul Fitri , masuk 1 Syawal kita kembali makan. Maka Shalat Iedhul Fitri sunahnya sebelum shalat diawali dengan Sarapan.
Kemudian arti Iedhul Fitri  berkembang jadi Kembali kepada Kesucian,  hal ini ada kisahnya dan ada alasannya. Karena setelah berpuasa selama Ramadhan dikatakan oleh Rasulullah sebagai kembali seperti bayi.
“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Ibnu Rajab).

Kemudian yang sering terucap adalah kata : "Minal aidin wal Faizin". Itupun kadang ditulis dengan tulisan yang salah,  pakai "dz".
Hal begini sering terjadi,  termasuk kata Ramadhan (dibaca Romadhon) artinya adalah "membakar", maksudnya membakar dosa. Ada yang perlu diwaspadai dalam penulisan kata “Ramadhan,” yaitu jangan sampai kita menghilangkan huruf “h” sehingga kemudian menjadi “Ramadan” karena dalam bahasa Arab pengertiannya akan berubah jadi mata bengkak.

Kekeliruan berikutnya adalah kalimat "Minal aidin wal faizin" diartikan sebagai Mohon maaf lahir batin. Kemudian dijawab : Sama-sama...
Ini perlu diluruskan bahwa Minal aidin wal faizin artinya adalah "Kembali dan Menang". Ini adalah sebuah doa yang panjang, kita kembali kepada fithrah dan menang.

Ada sejarah yang melatar belakangi hal ini yaitu Perang Khondag. Ketika Pasukan Mekkah akan menyerbu Rasulullah di Medinah,  kemudian Rasulullah mengajak para Sahabat untuk rapat. Dalam rapat diputuskan strategi menggali parit (khondag)  di pinggir kota untuk perlindungan agar tidak terjadi perang di kota. Ketika menggali parit,  terhalang sebuah Batu yang besar. Dan para sahabat melaporkan hal ini kepada Rasulullah.

Akhirnya Rasulullah mengambil alat pemukul Batu, dan sambil meneriakkan Takbir : " Allahu Akbar", beliau memukul batu.  Batu tadi retak. Kemudian Rasulullah mengulangi memukul kedua kali dan meneriakkan takbir : "Allahu Akbar".
Batu itu pecah dan para sahabat yang mengagumi kekuatan Rasulullah ikut bertakbir juga , memuji Rasulullah :  "Allahu Akbar".
Rasulullah menjawab : "walillah hilhamd" (segala pujian hanya milik Allah).
Itulah riwayat kenapa lafadz takbir Hari Raya,  ada yang dua kali takbir,  dan ada yang tiga kali takbir (dua kali takbir Rasulullah dan jadi tiga kali takbir jika ditambah dengan takbir para sahabat).
Ketika Pasukan Mekkah tiba di dekat Khondag,  mereka berhenti dan berkemah sebelum menyerang.

Di malam hari menjelang perang pada keesokan harinya Rasulullah shalat tahajud memohon pertolongan. Pada saat shalat Witir,  Rasulullah mendengar suara gemuruh. Dan ternyata ketika esok hari,  semua tenda Pasukan Mekkah porak poranda dan mereka lari pulang. Ternyata suara gemuruh malam tadi adalah angin topan yang dikirim Allah untuk menghancurkan musuh.
Itulah perang jaman dulu,  ada etika bahwa perang dimulai ketika dua pihak siap. Ketika musuh hancur akibat angin topan,  maka perang tidak jadi. Rasulullah menang tanpa perang tanpa bertempur.

Beliau kemudian berpidato :
Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah.
(Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.)

Kemudian mereka, Rasulullah dan pasukan pulang ke Medinah, membawa kemenangan. Dan disambut dengan gembira dengan musik yang dipukul (Duff).
Maka Takbiran diperbolehkan dengan alat musik yang dipukul.

Maka kita mengqiyaskan Ramadhan dengan perang,  mudah-mudahan kita yang menjalani ibadah Puasa,  Shalat dan ibadah lainnya telah berhasil mengalahkan hawa nafsu dan kembali menjadi Fitrah.
Kita bersyukur bahwa budaya islam mewarnai Nusantara.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Minal aidin wal Faizin, kullu 'amin wa antum bi khair.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 25 Juni 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

RAMADHAN TELAH LEWAT LALU MAU APA.?

Tanggal : 10 Syawal 1439 H/ 24 Juni 2018

Nara sumber :  Dr. H. Haerudin, SE, MT

Bulan Ramadhan telah lewat,  lalu kita mau berbuat apa?  Puasanya sudah selesai atau belum? Kita mungkin telah merasa selesai lalu kembali seperti biasa.
Kejadian yang sama ketika naik Haji. Setelah selesai merasa puas,  sudah haji.
Padahal ada perintah :

فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَـکُمْ فَاذْکُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَآءَکُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِکْرًا

"Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu.." (QS. Al-Baqarah 200)

Setelah selesai ibadah kita diperintah untuk mengingat Allah seperti ketika kita ingat orang tua dan bahkan harus lebih dari itu. Bukankah jika kita bersusah payah untuk mudik, meskipun jalan macet kita tetap nekad,  itu semua adalah karena kita ingat orang tua, hanya ingin sungkem kepada orang tua.

Ketika Ramadhan pun sama,  tidak ada ibadah yang istirahat. Bahkan ibadah diperkuat,  ibarat obat nyamuk yang melingkar dan lingkarannya makin lama makin besar,  maka ibadah kitapun harus berkelanjutan dan makin kuat.

Khusus selama bulan Ramadhan kita dibiasakan dan membiasakan diri untuk teratur. Makan kita teratur. Ketika maghrib dan sahur. Ini adalah pendidikan. Bukan pada banyaknya atau kualitasnya,  tetapi waktunya. Kita teratur makan. Jam dan Waktu juga teratur. Siklusnya terasa cepat sekali selama Ramadhan.

Ramadhan ini adalah masalah hati, puasa atau tidak tak kelihatan. Orang bisa pura-pura lemas atau ikut buka puasa bersama meskipun tidak puasa. Orang lain tak tahu kondisi kita.
Apa yang harus kita lakukan dengan hati?  Selama Ramadhan kita merasa dekat dengan Allah. Buktinya meskipun lapar dan di rumah sepi kita tak mau mengambil makanan dari kulkas. Karena kita merasa ada Allah yang mengawasi..
Lalu sekarang bagaimana,  apakah masih merasa dekat dengan Allah?

Ada yang bilang Ramadhan musim ibadah,  musim shalat jama'ah, musim membaca Al Qur'an. Berarti setelah Ramadhan sudah tidak musim lagi.
Padahal Allah menyukai amalan yang kontinyu, meskipun jumlahnya tidak banyak.

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ  الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ  تُوْعَدُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fussilat 30)

Ada seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan kemudian bertanya :

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِى حَدِيثِ أَبِى أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ ».

“Wahai Rasulullah SAW , ajarkanlah kepadaku dalam agama islam ini ucapan yang mencakup semua perkara islam sehingga aku tidak perlu lagi bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu [dalam hadits Abu Usamah dikatakan, “selain engkau”]. Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah“, kemudian beristiqamahlah dalam ucapan itu.” (HR Muslim)

Beriman kepada Allah,  kemudian istiqomah itu yang berat. Selama Ramadhan tidak terjadi Pembiasaan,  karenanya tidak menjadi Kebiasaan :
Shalat malam? - sudah banyak yang libur-
Membaca Al Qur'an?  -sudah banyak yang libur-
Jadi kembali seperti sebelum Ramadhan.
Berpuasa mestinya seperti puasanya ulat. Ulat itu menjijikkan, ulat itu merusak karena memakan daun-daunan. Ketika berpuasa menjadi kepompong. Dan ketika selesai dia menjadi kupu-kupu yang indah,  makanannya madu dan kupu-kupu membantu penyerbukkan bunga jadi buah. Jadi puasa menyebabkan ulat berubah jadi kupu-kupu yang bermanfaat. Tak ada yang setelah puasa kembali jadi ulat.

Ada perubahan sikap setelah puasa.Kitapun harus memilih untuk berhati-hati. Yang pertama Lisan, ini yang kadang sulit diatur. Kita harus memilih ucapan mana yang akan kita keluarkan. Ketika Ramadhan ada yang mau mengajak ghibah kita dengan tegas menolak : " Saya sedang Puasa".

Ada perubahan sikap, perubahan pola pikir. Ini yang harus terjadi.
Ketika di siang hari bulan Puasa,  kita alami rasa lapar dan haus dan seandainya boleh minum es alangkah nikmatnya. Semua makanan diingini, tetapi ketika waktu berbuka cukup dengan minum, ternyata semua keinginan pada siang hari tadi hilang. Maka ini mestinya jadi pembelajaran bahwa keinginan itu memang dimunculkan sebagai penggoda. Tetapi harus difahami bahwa keinginan bukanlah kebutuhan. Maka kita harus belajar dan membiasakan diri untuk menyaring mana keinginan dan mana kebutuhan.

Keinginan itu menimbulkan hawa nafsu, cinta dunia dan keserakahan. Kita banyak mengumpulkan koleksi barang hanya karena ingin. Tetapi lalu untuk apa? Uang banyak tersimpan di Bank. Yang memakai yang pinjam, bukan kita. Mobil punya banyak,  paling yang dipakai cuma satu. Ternyata kita terbatas,  kebutuhan kita sedikit tetapi keinginan tak terbatas. Kita tertipu oleh angan-angan yang kita buat sendiri seolah-olah kita harus punya ini punya itu. Maka puasa adalah pembelajaran menahan keinginan.

Kita sering mendengar bahwa dunia ini permainan (la'ibun)  dan dunia ini tipuan (ghurur). Bagi kita orang beriman, kehidupan sejati itu bukan di dunia tetapi nanti di akhirat.  Tidak ada keadilan sejati di dunia. Bekas koruptor mencalonkan diri dalam pemilu bisa menang. Hal itu kan aneh,  yang salah atau yang benar jadi tidak jelas. Demikianlah dunia,  penuh tipuan. Di akhirat jelas beda antara yang salah atau benar.

Di dunia ada yang kaya dan ada yang miskin itu sunatullah. Maka kita di bulan Ramadhan dididik,  jika kita memberi ifthar (makan buka puasa) kepada orang berpuasa mendapat pahalanya sama dengan pahala orang puasa tadi tanpa mengurangi pahalanya. Kenapa haditsnya tidak untuk Sahur?
Karena orang sahur bukan orang lapar. Orang makan sahur itu agar tidak lapar. Orang berbuka adalah gambaran orang lapar.

Ramadhan mendidik kita agar tidak berfikir untuk diri sendiri,  kita harus peduli pada orang lain. Ketika kita puasa tak diperbolehkan hanya makan dan tidur saja. Harus berfikir, mencari apa yang dapat dikerjakan dan memberi manfaat bagi yang lain.
Akhir Ramadhan diwajibkan membayar zakat fithrah berupa makanan pokok. Dan aturannya harus diberikan sebelum Hari Raya,  agar tak ada orang yang kekurangan makan pada saat Hari Raya.

Muslim yang bangun tidur ketika adzan subuh berarti dia tidak belajar. Sudah berkali-kali kajian betapa pentingnya untuk bangun tidur sebelum adzan subuh. Sudah tidak ada lagi istilah tidak tahajud,  shalat tahajud sudah melekat dalam kehidupan. Tak ada lagi istilah shalat Lima waktu,  karena bagi muslim yang baik shalatnya tidak Lima kali tetapi banyak sekali.

Maka bagi muslim yang baik,  Ramadhan tidak berhenti. Puasa tidak berhenti,  karena masih terus berlanjut. Banyak puasa sunah yang dapat dijalani.
Ada Puasa Syawal 6 hari yang bila dilaksanakan akan menjadikan kita dapat pahala puasa setahun.
Ada yang tanya Puasa Qadla dahulu atau Puasa Syawal dulu?  Jawabannya jelas bahwa Puasa Qadla diberi waktu selama 11 bulan,  sedangkan Puasa Syawal harus di bulan Syawal.

Maka untuk istiqomah itu perlu daya juang tinggi,  yaitu untuk meneruskan apa-apa saja yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Ada hadits yang menyebutkan tentang manusia yang paling baik adalah yang memberi manfaat. Tetapi yang sering terjadi adalah pikiran yang terbalik :
"Nanti saya mendapat apa? " bukan "Apa yang bisa saya sumbangkan".
Bila kita istiqomah dalam ibadah mahdoh maka kita akan selalu ingin memberi manfaat kepada orang lain,  melapangkan dada orang lain,  membantu mengurai masalah orang lain.

Ketika kita memberi orang lain itu harus lepas,  tak perlu dipikir lagi. Itu namanya ikhlas. Namun apa yang terjadi?
Yang dipikir adalah uang yang disumbangkan. Ketika kita menyumbang 500 ribu dan kemudian tahu yang lain ternyata rata-rata 200 ribu,  merasa menyumbang terlalu banyak.
Ini termasuk tidak ikhlas,  apa yang sudah disumbangkan tak perlu dipikir lagi, karena artinya tugas - tanggung jawab kita terhadap uang itu sudah selesai.

Justru kita perlu khawatir dengan uang yang masih kita pegang karena akan diminta pertanggung-jawaban.
Akan ditanya asalnya dari mana dan dipergunakan untuk apa?  Maka kita perlu waspada terhadap uang kita, jangan sampai membawa ke arah maksiat.

ثُمَّ لَـتُسْئَـلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

"kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan di dunia itu." (QS. At-Takasur -8)

Sungguh,  semua kenikmatan kita akan ditanya kelak. Maka ketika kita memberi sumbangan berarti tanggung-jawab kita lewat.

Menurut tradisi lama membantu orang lain itu dengan memberi makan. Namun hal ini tidak tepat saat ini karena tak memberi solusi.  Pola pikir harus diubah, memberi manfaat pada orang perlu dipikirkan bagaimana mengentaskan kemiskinan. Dari orang tak punya penghasilan jadi orang yang punya penghasilan. Maka ketika kita memberi jangan asal saja memberi. Kita perlu mencontoh Rasulullah.

Seorang pengemis datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya :
“Apakah kamu punya sesuatu ?”
Pengemis itu menjawab, “Saya punya pakaian.”
Rasul langsung berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”
Lalu pengemis itu menyerahkan kepada Rasulullah, dan Rasulullah menjual kepada sahabat dua dirham. Rasulullah menyuruh pengemis itu untuk membeli makan, dan selebihnya untuk modal kerja.

Pemberian untuk konsumsi harus diubah menjadi pemberian barang modal. Itu namanya memberdayakan. Pemberian semacam ini berat bila dilakukan perorangan, maka harus dilakukan secara berjama'ah misal lewat Muhammadiyah. Harus melewati kajian ekonomi & wira usaha ,  wira usaha apa yang mungkin dikembangkan untuk dapat berjalan.
Maka in syaa Allah pasti bisa tiap bulan menargetkan memberdayakan satu orang. Memberdayakan itu selain memberi modal juga harus memberi pendidikan.

Dalam rangka pendidikan juga pemberian modal harus dengan model pinjaman yang harus kembali dengan dicicil. Ini untuk membentuk tanggung-jawab. Bila hal ini tak dilakukan maka bantuan akan habis tak ada manfaat. Habis untuk konsumtif.
Tentu saja hal ini tidak mudah. Kalau hanya membantu uang gampang, yang sulit adalah membantu memberdayakan orang. Maka sungguh berat perjuangan Persyarikatan. Kalau cuma anggota atau simpatisan pasti banyak, tapi belum tentu ada yang mau jadi Pengurus.

Rasulullah dimanapun berada selalu memberi manfaat. Maka pemahaman hadits di atas harus dimaknai lain :
"Orang yang terbaik adalah yang memberikan manfaat maksimum kepada orang lain".
Bagaimana mengukurnya?  Dikembalikan ke seberapa besar manfaat ekonomi bisa diberdayakan. Kita banyak mengkaji bahwa kemiskinan banyak, tapi jika cuma disebutkan saja percuma. Energi kita jangan dipakai untuk debat hal yang tak manfaat, hanya membikin capai. Harus ada gerakan atau tindakan.

Di Kendal ada gerakan berupa Pondok Wiraswata, yang mengadakan Muhammadiyah dan pesertanya tidak dibatasi,  bahkan Nasranipun boleh ikut. Karena ini gerakan kemanusiaan untuk memberdayakan orang. Tujuan utamanya memberi manfaat.

Kisah-kisah di atas adalah kisah tentang menolong orang. Lalu bagaimana dengan yang ditolong ?.

Nabi SAW bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Bagaimana wujud berterima-kasih? Ketika dia dibantu dengan amanat untuk modal usaha maka dia harus melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Itu salah satu wujud berterimakasih.
Allah memberikan rezeki kepada kita itu berupa peluang,  tidak langsung datang begitu saja. Ada sunatullahnya yang mungkin melalui seseorang. Maka kedatangan orang tersebut sudah dalam ketetapan Allah. Kepada Allah pemberi rezeki kita bersyukur dan kepada orang yang menjadi perantara, kita berterima-kasih.

Ada kisah seorang ahli ibadah yang tinggal disuatu daerah. Terjadi banjir di daerah tersebut. Penduduk langsung mengungsi tetapi ahli ibadah tadi menolak ketika diajak mengungsi karena ia yakin pertolongan ALLAH akan datang.

Banjir semakin tinggi, kali ini sudah setinggi dada. Semua penduduk berusaha mengungsi tetapi Ahli ibadah itu tetap menolak untuk mengungsi, karena ia yakin pertolongan ALLAH akan datang.

Banjir tetap meninggi, kali ini sudah mencapai atap. Semua penduduk tersisa mulai terangkut dengan bantuan perahu. Tapi ahli ibadah  itu tetap menolak , karena ia yakin pertolongan ALLAH akan datang. Ahli ibadah itu kini jadi satu-satunya yang tersisa.

Banjir tetap meninggi, akhirnya sang ahli ibadah mati tenggelam. Di alam kematian, ia bertemu malaikat.
Ia protes, "Wahai Malaikat, aku mau bertemu ALLAH. Aku selalu beribadah dan percaya bahwa Sang Pencipta akan menolongku, tetapi kenapa tidak kunjung datang juga pertolongan itu?"

Malaikat menjawab, "Siapa bilang ALLAH tidak menolong. Ia telah mengirim pertolongan untuk menyelamatkanmu tiga kali tapi kamu acuhkan.Kesimpulannya, kamu memang ingin mati!"

Apa pelajaran yang bisa diambil? Pertolongan Allah atau rezeki itu melewati Sunatullah, bisa lewat manusia.
Allah menggerakkan hati seseorang untuk menolong. Ini yang juga kadang dilupakan,  berterima-kasih.
Berterima kasih itu adalah akhlak, bukan pekerjaan yang mudah. Kadang ada juga orang miskin tapi sombong. Tak mau berterima kasih. Ada yang dibantu dengan membayar uang sekolah,  tetapi dipakai untuk yang lain,  ini termasuk tidak berterima-kasih.

*Tugas-tugas setelah Ramadhan*

Maka setelah Ramadhan tugasnya adalah istiqomah :

-Tak ada cerita bagi lelaki shalat sendiri di rumah. Bagi lelaki shalat wajib harus berjama'ah di masjid. Shalat sendiri di rumah itu kondisi darurat. Untuk ibu-ibupun banyak hadits yang mengatakan keutamaan shalat di masjid.

-Tak ada lagi cerita ada masjid tak punya imam, karena semua umat berjama'ah, sehingga masjid benar-benar makmur.

-Tak ada cerita bagi muslim tak pernah shalat tahajud tiap malam, karena itu pasti dia bangun jauh sebelum subuh,  Bukankah ada alarm dalam HP ?

- Akibat puasanya makbul , tahajudnya kuat akan menjadi energi yang kuat untuk berinfak memberi manfaat kepada orang lain.

- Dengan memberi manfaat secara berjama'ah akan menambah semangat.

- Yang mendapat manfaat berterima kasih. Sehingga ada keseimbangan antara yang menolong dan yang ditolong.

Yang menolong bersemangat dan yang ditolong bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada manusia.
Dengan demikian Ramadhan yang dijalani in syaa Allah akan membekas 11 bulan ke depan. Jadi Ramadhan tidak tamat, tetapi berlanjut.

*TANYA-JAWAB*

Pertanyaan :

1. Apa ada hadits yang membolehkan wanita shalat jama'ah di Masjid. ?
2. ‎Ada kelompok yang protes kenapa ada ceramah di antara tarawih dan witir. Apa ini tidak bid'ah.?
3. ‎Kelompok tadi akhirnya memisahkan diri dan membuat jama'ah tarawih dan witir sendiri di rumah lengkap dengan adzan dan mengundang orang.

Jawaban :

1. Ada hadits yang menyebut bahwa ketika Rasulullah I'tikaf maka isteri-isterinya juga ikut I'tikaf dan tidak ditegur Rasulullah. Selain itu ada hadits yang menyatakan ada wanita bermakmum kepada Rasulullah dan tidak ditegur oleh Rasulullah. Kalau ibu-ibu lebih utama shalat di rumah,  kenapa ada hadits dimana seorang ibu bertanya kepada Rasulullah :

“Dari Musa bin Abdullah bin Yazid dari seorang perempuan dari Bani Abdul Asyhal, ia berkata. Aku berkata, wahai Rasulullah sesungguhnya kami memiliki jalan menuju masjid yang licin, apa yang kami lakukan jika turun hujan. Rasulullah Saw. menjawab: bukankah ada jalan selainnya yang lebih bagus. Perempuan dari Bani Asyhal tersebut berkata. Aku menjawab, ya wahai Rasulullah”. (Musnad Ahmad, Sunan Abî Dawûd, )

Hadits di atas menunjukkan keutamaan wanita berjama'ah di masjid,  walaupun ada persyaratan tidak memakai wewangian supaya tidak muncul fitnah.
Kenapa sering debat tentang ibu yang berjama'ah di masjid tetapi tak pernah diskusi hukum ibu-ibu yang belanja ke Mall,  padahal letaknya lebih jauh dari Masjid?

2. Tarawih itu banyak variasinya,  jumlah rakaat dan teknisnya bermacam-macam. Ada yang 11 rakaat,  23 rakaat bahkan di Mekkah total 33 rakaat. Ada yang 2-2 ada yang 4-4.
Saran saya dikaji semua agar ketika kita memutuskan hukumnya kita tahu dasar hukum yang lain. Semua ada haditsnya dan shahih semua.
Kalau Qunut dalam Witir ada yang beda pendapat tentang shahihnya hadits. Dalam hal ini kita ikut imam saja.
Tentang ceramah,  bila tak mau setelah Tarawih boleh saja diganti ke setelah Shalat Isya. Bila semua tak suka ya boleh dihapus,  tetapi kan sayang waktunya karena sulit memanfaatkan waktu untuk kumpul.

3. Dengan membentuk jama'ah sendiri dan memakai adzan ini tidak boleh karena menjadi Firqoh,  seperti masjid Dhiror yang dilarang.
Bila ini untuk memecah belah maka bahaya karena dianggap sebagai musyrikin.

وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا   ۗ  كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

"... dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. Ar-Rum Ayat31-32)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 24 Juni 2018

Kajian Syawal Muhammadiyah Semarang

Kajian Syawal Muhammadiyah Semarang

DARI OPEN HOUSE SAMPAI HABLUMINANAS UNTUK MENUJU SUKSES

Tanggal : 9 Syawal 1439 H/ 23 Juni 2018

Nara sumber :  Dr. H. Abdul Mu'ti MEd
‎Sekum PP. Muhammadiyah

Berbicara tentang Silaturahmi Halal-bihalal adalah berbicara tentang Keislaman,  KeIndonesiaan sekaligus Kemanusiaan. Halal-bihalal itu suatu tradisi khas Indonesia,  sehingga nuansa kebudayaannya lebih kuat daripada nuansa keislaman dalam arti syariahnya. Tidak ada ajaran atau perintah halal-bihalal,  apalagi sampai mudik jarak jauh. Tapi tradisi yang bagus ini menurut historisnya sebenarnya memang muncul dari ikhtiyar ijtihad kreatif dari pendakwah islam di masa awal, bagaimana agar islam bisa diterima masyarakat dan agar nilai-nilainya itu membumi di masyarakat. Sehingga yang selama ini terjadi,  proses halal bihalal itu sesungguhnya kalau meminjam istilah Kuntowijoyo adalah bentuk universalisasi,  konkretisasi dan obyektivisasi ajaran islam.

Bagaimana ajaran agama islam itu dibahasakan dengan bahasa masyarakat sehingga kemudian menjadi ajaran universal yang diterima oleh masyarakat,  apapun agamanya. Kemudian diberikan contoh bagaimana pelaksanaanya atau konkretisasi dan kemudian diberikan bentuk bagaimana aktualisasinya sehingga membawa sebuah nilai yang membawa keluhuran harkat dan martabat manusia, sehingga ajaran agama islam dapat diterima masyarakat tanpa ada keberatan.  Sehingga halal-bihalal menjadi fenomena ke Indonesiaan yang tidak dapat ditemukan di belahan dunia lain.

Menurut saya tradisi ini baik,  menjadi sebuah contoh bagaimana islam itu ketika dimaknai dengan pemahaman yang komprehensive dan kemudian diimplementasikan secara kreatif ternyata melahirkan sebuah peradaban, kebudayaan dalam masyarakat yang menuju persatuan. Dalam konteks inilah maka Open House yang sekarang menjadi ciri dari halal-bihalal itu menurut saya merupakan bentuk perwujudan dari hadits Nabi :

Rasulullah صلى الله عليه و سلمbersabda,
"Sesungguhnya seorang tamu yang datang mengunjungi seseorang,membawa rezeki untuk orang tersebut dari langit. Apabila ia memakan sesuatu, Allah سبحانه و تعالى akan mengampuni penghuni rumah yang dikunjungi tersebut."

Rumah yang diberkahi Allah adalah rumah yang banyak tamunya. Maka dengan open house, adalah sebuah ikhtiyar agar rumah mendapat keberkahan.

Tetapi tak semua orang bisa open house . Ada beberapa hal yang dapat menunjang untuk open house :
-  Merupakan individu yang Open Mind
-  ‎Merupakan individu yang Open Heart

*1. Menjadi Open Mind*

Orang yang open Mind atau pikirannya terbuka mempunyai 3 ciri.

1.1. Memiliki ilmu yang luas.
Dengan ilmu yang luas maka dia bisa melihat sesuatu dari banyak sudut pandang. Dia bisa melihat dari banyak perspektif. Bila seseorang hanya bisa melihat sesuatu dari satu sudut pandang maka banyak hal menjadi susah, banyak hal menjadi sempit.

1. 2. Mau belajar dan mendengar orang lain.
Dengan mau mendengar maka dia mau mencari informasi baru untuk meningkatkan wawasannya. Sebab jika orang sudah merasa cukup dengan apa yang dia miliki maka dia akan menjadi orang yang Narrow Minded. Pikirannya sempit bahkan akan tertutup dan dia akan menjadi orang yang reaktif. Reaksinya kepada orang lain akan sangat emosional. Karena dia mempunyai keterbatasan ilmu maka dia langsung menghakimi dengan ilmunya yang terbatas. Merasa paling benar dan paling pintar.

1. 3. Menerima hal yang baru.
Kalau dalam Al Qur'an disebutkan

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ

"yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.." (QS. Az-Zumar 18)

Sehingga dalam diri mereka ada proses perubahan , meningkatkan kualitas.
Itu adalah ciri orang yang berkemajuan.
Maka orang kafir adalah orang yang closed Mind, menutup pikiran,  menutup telinga mereka

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ  ۗ  وَعَلٰىۤ اَبْصَارِهِمْ

"Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup..." (QS. Al-Baqarah  7)

*2. Harus Open Heart*

Hatinya harus lapang. Ada beberapa kunci untuk berhati lapang :

2. 1.Melihat dari sisi Positif
Dia mengabaikan sisi negatif. Ketika melihat dari sisi positif maka dunia menjadi indah. Dengan berfikir positif maka akan menghadirkan energi positif dan tubuh jadi sehat.

Maka Allah melarang prasangka buruk.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ  اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا  

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain." (QS. Al-Hujurat 12)

2.2 Memahami Manusia.
Kita harus faham bahwa manusia itu memiliki berbagai macam kharakter. Manusia dengan berbagai perbedaan sifat. Manusia itu individu yang berbeda, maka untuk mendekatinya juga secara unik.

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوْا

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.." (QS. Al-Hujurat 13)

Al Qur'an menegaskan perbedaan dan bagaimana menyikapi perbedaan itu. Menyikapinya dengan cara kita berta'aruf. Dan itu pasti diawali dengan Khusnudzon dan diikuti dengan Khusnul khuluq.

Kita sering menonjolkan perbedaan, bukan persamaan. Padahal dibalik perbedaan ada banyak persamaan.
Ketika perbedaan bersifat politis maka yang sering terjadi justru mengkapitalisasi perbedaan.

2.3. Menjadi Pemaaf
Ciri orang yang bertakwa adalah orang yang memaafkan.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ

"yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.." (QS. Ali 'Imran  134)

Memaafkan itu dampaknya luar biasa, karena bisa menghapuskan hukum. Tetapi yang terjadi sekarang ini,  maaf itu semakin jauh dari kehidupan kita.
Bila ada kesalahan sedikit dan kebetulan  dari golongan yang berbeda, maka kemudian akan dikapitalisasi secara luar biasa.

*Perlunya membentuk Kesadaran Baru*

Inilah yang perlu , dimana iedhul fitri ini menjadi momen refreshing untuk rekonsiliasi. Kalau kita membaca grup-grup WA kebanyakan isinya marah-marah dan memarahi orang lain. Kalau sesama kelompok akan memuji dengan berlebihan,  alias "nggombali".
Kita ingat ketika kasus seorang ibu salah omong tentang jilbab dan konde, banyak  yang marah luar biasa.  Bahkan ketika saya menyarankan untuk dimaafkan saja dan tak perlu diperpanjang karena ibu itu kurang dalam pemahaman,  sayapun ikut dimarahi.

Ketika ada Pernyataan dari Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah  tidak ikut Aksi 212,  muncul kritik bahwa Muhammadiyah gak jelas, tak mendukung perjuangan umat. Seolah yang namanya perjuangan itu hanya ada satu pintu saja. Padahal jalan perjuangan itu banyak,  tidak satu pintu.
Kalau menganggap gerakan hanya satu,  maka jika ada yang berbeda,  menempuh jalan perjuangan lain akan disalahkan. Padahal di aksi 212, Pak Haedar itu hadir sebagai Pribadi.

Umat ini sering terkooptasi oleh Mainstream Opini,  sehingga ketika ada pendapat berbeda dianggap berada pada kelompok yang lain, yang tidak sejalan. Padahal ada contoh ketika ayah nabi Yusuf mencari anaknya,  beliau berpesan agar masuk ke Mesir dari pintu yang berbeda.

وَقَالَ يٰبَنِيَّ لَا تَدْخُلُوْا مِنْۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّادْخُلُوْا مِنْ  اَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ

"Dan dia (Ya'qub) berkata, Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda..." (QS. Yusuf 67)

"Masuklah dari pintu gerbang yang berbeda", maknanya adalah membuat strategi gerakan yg berbeda,  terencana dan tidak "grusa-grusu".

Namun umat lebih senang konfrontatif.
Dakwah yang konfrontatif diminati, padahal Muhammadiyah dalam Muktamar Yogya, memutuskan untuk dakwah lil-muwaja'ah yaitu dakwah dengan pendekatan intelektual dan pendekatan moral . Hal ini kurang diminati. Kalau tidak konfrontatif dianggap tidak serius perjuangannya, maunya head to head.

Kita merasakan itu, ketika ada musibah saudara kita di Rohingya,  saat itu dana terkumpul luar biasa banyaknya , Muhammadiyah bisa mengumpulkan dana sampai 22 Milyar. Mungkin akan terlampaui jika tidak distop. Semangatnya luar biasa. Tetapi ketika ada edaran untuk membangun Madrasah Diniyah atau membantu gaji guru madrasah,  semangatnya tidak sebesar itu.

Semangat membantu Rohingya bagus karena merasa ada yang harus diperangi. Lawannya kelihatan. Ini tidak jelek karena Muhammadiyah sampai saat ini tetap menempatkan Tim dokternya di Rohingya sampai akhir tahun 2018. Namun hal ini jangan sampai melalaikan hal-hal lain yang tidak kalah pentingnya seperti memerangi kemiskinan. Dalam masalah Rohingya,  Muhammadiyah juga mengadakan pendekatan kepada Pemerintah Myanmar,  namun ini dianggap tidak penting.

Kasus Palestina, berapa banyak yang ingin diberangkatkan untuk berjihad disana. Padahal menurut Perwakilan Palestina mereka tidak memerlukan bantuan tentara.Yang diperlukan mereka adalah dukungan spiritual dan politik terhadap perjuangan mereka.
Palestina tak dapat diselesaikan dengan perang karena hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat. Penderitaan rakyat tidak hanya karena tekanan Israel saja tetapi juga karena Hamas dan Fatah yang tak bisa kerja sama.

Tidak semua orang Yahudi mendukung Zionisme Israel. Bahkan dalam perpektif gerakan ketika umat Muslim ini minoritas,  maka partner yang membantu Muslim ini dari Yahudi.  Itu terjadi di Denmark ketika umat Muslim mendapat penolakan dari Pegiat HAM ketika melakukan ibadah Khitan dan penolakan Aktivis Pembela binatang terhadap ibadah Qurban. Akhirnya atas bantuan Yahudi disetujui aturan Penyembelihan untuk kepentingan Spiritual.

Point yang ingin disampaikan adalah jangan memandang Perjuangan dari perspektif yang sempit. Ketika aksi 212 , PP Muhammadiyah mengambil jalan perjuangan lain. Muhammadiyah bersama NU dan MUI menemui Presiden.
Intinya mengusulkan tidak boleh ada intervensi Pak Presiden. Umat islam terpaksa turun ke jalan karena aspirasinya tidak tersampaikan. Itu adalah perjuangan melalui lobby, pendekatan. Pendekatan tidak hanya kepada Presiden tetapi juga kepada Tokoh Politik lain.

Jalan perjuangan ini adalah jalan perjuangan yang senyap,  tidak gegap gempita.  Perjuangan melalui pendekatan juga dilakukan oleh KH. AR. Fakhrudin,  beliau menyurati Pak Harto pada saat itu dengan memakai Jawa Kromo untuk melobby kepada Pak Harto.

Ketika Universitas Muhammadiyah Surabaya,  diresmikan dan mengundang Pak Wapres itu termasuk perjuangan yang lain. Secara tak langsung iklan bagi Muhammadiyah. Apalagi membuat menara At-Tauhid dengan tinggi menara 13 lantai yang oleh sebagian masyarakat dianggap tabu, masyarakat khawatir menara itu akan runtuh. Itu adalah perjuangan di bidang Tauhid. Menara runtuh jika konstruksinya salah, menara tak akan runtuh hanya karena tingkatnya 13.

Pada kesempatan Kajian Ramadhan di PP Muhammadiyah kita juga melaporkan rencana Muktamar Muhammadiyah di Solo tahun 2020. Kita membangun Rusunawa yang nanti setelah muktamar akan dipakai Mahasiswa. Kami melaporkan bahwa Muhammadiyah itu memiliki Fakultas Kedokteran terbanyak di Indonesia karena jumlahnya ada 12.
Point yang ingin disampaikan adalah : *Dalam situasi sosial politik seperti saat ini Muhammadiyah perlu tampil sebagai komponen Pemersatu Bangsa,  bukan sebagai komponen yang ikut bertengkar dengan berbagai elemen bangsa*

Kita boleh tidak suka pada seseorang,  tapi terhadap pemimpin, Muhammadiyah selalu bersikap Loyal tapi Kritis.
Kalau benar kita dukung, kalau salah kita koreksi. Ketika saya ditanya,  katanya Muhammadiyah tidak ikut terlibat demo,  tetapi kenapa menampung warganya yang demo di Kantor PP?  Maka jawaban kami adalah,  apalagi warga Muhammadiyah,  yang bukan warga saja boleh kok. Kita ini jangan jadi bagian yang bermusuhan. Semangatnya adalah mempersatukan. Dan jangan pula karena ingin dianggap toleran lalu meninggalkan maruah. Jangan karena ingin dianggap moderat lalu tak punya prinsip dalam beragama.

Kita ingin menjadi kelompok yang washatiyah. Tanpa kita sadari,  harapan dunia luar kepada Indonesia itu luar biasa. Kita ini diharapkan jadi Pemimpin negara Muslim karena keadaannya.Indonesia itu punya bonus demografi yang bila diikuti dengan pendidikan dan kesehatan yang bagus akan menjadi penentu dunia. Banyak potensi yang bisa dikembangkan oleh Muslim Indonesia.

Problem kita belum berjama'ah dalam bidang ekonomi. Kita baru berjamaah di bidang spiritual atau gerakan sosial, belum ke arah ekonomi produktif. Ini yang perlu , berjamaah dibidang ekonomi tanpa harus membenci atau memusuhi pihak lain.

Problem yang lain adalah terlalu banyak slogan tapi kurang dalam gerakan. Terlalu banyak gerakan megaphone, gerakan retorika daripada perbuatan. Kita lebih memerlukan gerakan struktural daripada slogan. Tiga hal yang akan kita perkuat,  Pendidikan,  Kesehatan dan Ekonomi. Kita hanya perlu terus bergerak,  tak banyak slogan.

Kita perlu melakukan Rekonstruksi dan Transformasi. Rekonstruksi atas tafsir ayat-ayat Al Qur'an dan kemudian melakukan gerakan-gerakan dengan Rekonstruksi Tafsir itu.
Kita contohkan :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْۤا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali agama Allah dan tali perjanjian dengan manusia.." (QS. Ali 'Imran 112)

Ini ayat tentang orang Yahudi.
Pada bagian Hablu minannas, selama ini dimaknai kita menghormati aturan masyarakat,  mematuhi Norma-norma sosial yang berlaku,  membangun hubungan baik. Itu tidak keliru,  tetapi tidak cukup karena yang namanya Hablu minannas itu JEJARING ANTAR MANUSIA.

Kekuatan yang menunjukkan kita berperan atau tidak itu kekuatan jejaring,  kekuatan sharing, itu yang menentukan.
Kalau kita perhatikan bisnis online, anak-anak muda go-jek itu melakukan hablu minannas dengan pendekatan ekonomi. Ibu-ibu perlu apa,  siapa menghasilkan apa maka itu yang dikirim. Sunyi gerakannya tetapi besar manfaatnya.

Sekarang ini enciclopedia yang terbesar apa? Ternyata bukan Britanica atau Americana tetapi Wikipedia. Disana tak ada profesor,  yang ada adalah orang-orang yang berjejaring yang kemudian memiliki informasi dan disharing.
Mengapa kita tidak memulai : "Muhammadiyah kota Semarang" misalnya lalu kalau dicari muncul datanya.

Maka orang yang sukses itu adalah bukan mereka yang bisa menyelesaikan semua pekerjaan seperti Bandung Bondowoso,  tetapi mereka yang sukses ditentukan bagaimana kita membangun relasi dengan yang lain. Membangun hablu minannas dalam arti positif.
Era saat ini adalah era sharing atau berbagi, bukan era kapitalisasi untuk dimiliki sendiri.
Hakekat silaturahmi adalah seperti itu. Menyambung yang putus agar kita tidak mengalami dis-engagements. Orang yang gampang dihubungi pasti lebih banyak sahabat dibandingkan dengan orang yang sulit dihubungi.

Mudah-mudahan dengan semangat halal-bihalal kita bisa tampil dengan semangat memajukan Bangsa dan berfastabiqul Khoirat. Kita berdakwah lil muwaja'ah maka kita bisa membangun solidaritas sosial dan soliditas sosial. In syaa Allah Indonesia akan bisa menjadi negeri yang Baldatun Thoyibatun warabun Ghofur.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 10 Juni 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

IHTASABA WA SHOBARO

Tanggal : 25 Ramadhan 1439 H/ 10 Juni 2018

Nara sumber :  Dr. H. Saerozi, MA

Ada suatu periode di Jawa ketika agama dicampur dengan budaya. Bagi kita saat ini mungkin sangat menggelikan.
- Dulu sehabis maghrib, orang Jawa ada yang wiridan Jawa,  karena memang islam tersebar luas dalam bahasa Jawa.
- ‎Ada lagi mantera-mantera campuran,  Misal surat Al Falaq yang dibaca dan dicampur bahasa Jawa untuk menolak santet. Surat An Nas yang dipakai untuk mengobati sakit perut dengan cara dibaca dan ditiupkan ke perut.

Sampai saat ini masih tersisa budaya Jawa : "Mudunan". Ini kebalikan dengan "Punggahan" pada saat menjelang puasa.
Punggahan artinya adalah menaikkan, dimana Arwah-arwah nenek moyang menjelang Puasa dinaikkan ke atas dengan ritual "Punggahan" (menaikkan)  biar menghadap Allah. Anak cucunya akan puasa dan mendo'akan ketika arwah naik ke atas. Setelah sebulan puasa maka waktunya arwah pulang dengan cara diturunkan, maka ada ritual "Mudunan" (menurunkan).

Filosofinya adalah ketika arwah dinaikkan akan dicuci bersih dosanya. Kemudian setelah bersih diturunkan lagi.
Sayangnya yang memimpin ritual Jawa ini tidak Puasa.  Ritual berangkat ke kuburan , dengan sarung dan kopiah, tapi lengkap dengan merokok.. itu masih terjadi di sebagian desa.
Apakah dia berfikir bahwa Allah yang memberi ampunan itu beda dengan Allah yang memerintahkan Puasa. ? Karena dia ziarah makam untuk meminta Allah memberi ampunan, tapi dilain pihak dia tidak berpuasa, sesuai perintah Allah.

Ada islam campur Jawa. Maka ketika Kiyai Ahmad Dahlan berdakwah beliau mulai memberikan pencerahan :
"Aja kaya ngono...(jangan seperti itu).
Agama jangan dicampur dengan Budaya.Jika dicampur, lama-lama anak cucu kita tidak bisa membedakan mana Budaya dan mana Agama.
Ketika ada ritual pernikahan, ternyata masih ada yang tak tahu mana ritual agama dan mana budaya. Ritual ketika manten harus "diikat selendang" dan ditarik orang tua , dikira termasuk perintah agama. Padahal yang perintah agama hanyalah ijab qabul dan pemberian mas kawin. Terkadang justru budaya lebih diutamakan daripada agama.

Saat ini sudah akhir Ramadhan, alhamdulillah kita diberi sehat. Banyak yang pada bulan Ramadhan ini mereka terkapar di rumah sakit. Ada yang karena sakitnya berat malahan minta di doakan mati. Ini termasuk yang dilarang agama. Yang diperbolehkan adalah doa untuk tetap berharap hidup.

اللَّهُمَّ أَحْيِنِى مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِى، وَتَوَفَّنِى إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِى

‘Ya Allah, hidupkanlah aku (panjangkan usiaku), jika hidup itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku’“.

Ada hadits dalam Musnad Ahmad yang intinya betapa kehidupan muslim itu menakjubkan Nabi SAW .
Ahmad ini adalah imam Ahmad bin Hambal yang kemudian dikenal sebagai imam madzab Hambali.
Nabi SAW bersabda :
“Sungguh mengagumkan keadaan seorang muslim. Jika dia mendapatkan kebaikan , maka ia memuji kepada Allah dan bersyukur...”

Hadits ini membedakan antara memuji dan bersyukur. Kita umat muslim jika bersyukur mengucap Alhamdulillah.
Orang-orang Kristen bersyukur mengucap ; " Puji Tuhan".

Kita perlu mengenal, ada 4 macam kafir :
Kufrun bi wujudillah : Kafir terhadap adanya Allah
Kufrun bi wahdatillah : Kafir terhadap keesaan Allah
Kufrun bi risalati Muhammad : Kafir terhadap diutusnya Nabi Muhammad.
Kufrun bi Nikmatillah : Kafir terhadap Nikmat Allah.

Saksi Jehova adalah bagian dari Kristen yang tidak mengakui tentang keTuhanan Yesus. Yesus adalah manusia biasa,  utusan Allah itu menurut mereka. Mereka tak punya Gereja,  punya mereka adalah Rumah Allah. Dosen saya orang Belanda mau bersyahadat : "Asyhadu an laa ilaaha ilallah", tapi dia tak mau meneruskan. Ketika ditanya kenapa tak mau meneruskan?  Katanya jika diteruskan, kan masuk islam?  Kita orang islam ini ternyata juga ada yang kafir,  yaitu kafir jenis keempat , kafir terhadap nikmat Allah.

Mereka yang tak mau bersyukur, tak mau mengucapkan Alhamdulillah termasuk kafir nikmat Allah. Dalam budaya Jawa, jika bersyukur harus dinyatakan dalam tiga hal : UCAP (Ucapan),  ULAT (ekspresi),  ULAH (perbuatan),  tiga hal ini harus menjadi satu untuk sempurna.
Contohnya,  bersalaman itu adalah Tanda Syukur, dengan Salaman (jabat tangan)  kita mengucap sesuatu,  tapi jika pandangan mata menatap ke arah lain itu tidak baik.  "Ucap" dan "Ulah" mungkin benar tapi "Ulat" salah.

Kembali ke hadits di atas,  masih ada lanjutannya :
" ... ketika mereka mendapatkan musibah, maka mereka "Ihtasaba wa shobaro "  (bermuhasabah dan bersabar)  ...."
Orang Jawa menyebut "nggagapi" ; ketika dirinya mendapat musibah maka mereka nggagapi :
" kok bisa koyo ngene iki mau piye jane.?"
Ini adalah Ihtasaba,  introspeksi - tidak mau menyalahkan orang lain tapi mencari kesalahan pada diri sendiri - ini adalah ciri orang yang besar jiwanya.
Mereka bermuhasabah.

Berikutnya " shobaro" mereka sabar. Sabar ini pendek tulisannya tapi panjang menjalaninya dan sangat sulit.
Ketika kita sakit , malam yang pendek rasanya panjang.  Bagi orang yang sehat,  malam yang panjang terasa pendek.
Ketika kita shalat , waktunya pendek tapi terasa panjang. Tetapi ketika nonton sinetron waktunya panjang terasa pendek.

Hadits tadi ditutup :
"..Orang muslim tadi akan mendapat pahala pada segala sesuatu yang dilakukan, bahkan sampai mengangkat makanan dari piring ke mulutnya,  itupun diberi pahala. "

Itulah kenapa kita selalu diingatkan untuk selalu bersyukur. Bersyukur terutama karena kita masih punya keimanan, masih diberi kesehatan.
Nabi SAW memberi contoh dengan beri'tikaf menjelang Lebaran. 10 hari lamanya ketika beliau berusia dibawah 63 dan ketika masuk usia 63 beliau I'tikaf 20 hari.

Alhamdulillah sekarang mulai ada gerakan untuk i'tikaf di masjid-masjid.
Ini gerakan perubahan yang baik, dari tidak sadar i'tikaf menjadi sadar untuk beri'tikaf. I'tikaf ini adalah dalam rangka untuk Ihtasaba tadi.
Pengajian yang kita lakukan seperti sekarang ini juga untuk Ihtasaba. Dengan pengajian maka hati akan lunak. Jika tidak pernah ikut pengajian, hati akan membatu , hati akan keras.
Bila kita ingin menjadi orang yang dikagumi Nabi SAW maka jadilah orang yang selalu Ihtasaba wa Shobaro,  bermuhasabahlah,  introspeksi-dirimulah dan bersabar.

*TANYA - JAWAB*

Pertanyaan 1 : (Bp. H. Asroh Handoko)

Di sekitar kita masih ada orang yang menyebarkan ajaran dengan mencampur antara agama dan budaya.
Bagaimana hukum terhadap orang yang menyebarkan hal ini.

Jawaban :

Ada istilah Sinkretisme,  yaitu mencampur-aduk antara budaya dan agama. Ada buku berjudul "Wali Songo" karangan Solihin Salam. Dalam buku tadi ada petikan dialog antara Sunan Bonang dan Sunan Kalijogo.

Sunan Bonang bertanya : " Kanjeng Sunan,  apakah Kanjeng Sunan tidak khawatir bila yang Kanjeng Sunan lakukan sekarang ini akan diteruskan oleh anak cucu nanti? "

Sunan Kalijogo menjawab : " Tidak usah khawatir,  generasi keturunan kita nanti akan lebih cerdas dari kita. Mereka akan bisa membedakan mana yang agama dan mana yang budaya".

Maka kita bisa menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Wali songo adalah masa Transisi. Dakwah tidak bisa "sak-deg-sak-nyet" (seketika).  Dakwah butuh proses,  seperti turunnya Al Qur'an itu memerlukan waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dimana ayat pertama turun di Gua Hira dan ayat terakhir di Padang Arafah.

Ada masa Transisi yang harus dan pasti akan berganti.  Seperti dulu ada pengobatan sakit perut dengan dibacakan Surat An Nas dan ditiupkan ke perut,  biarlah itu ada di masa lalu saja,  tak perlu diteruskan lagi.
Lalu bagaimana dengan hukum bagi yang sekarang masih mengajarkannya?
Kita pegang ayat ini :

اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

"... Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan," (QS. Al-Ma'idah  48)

Kita tidak pernah menghukumi orang,  kita serahkan pada Allah SWT.
Ketika kita ditanya tentang nasib orang yang lain agama, maka kitapun akan mengacu pada ayat, ketika Nabi Isa ditanya Allah tentang nasib kaumnya.

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚ  وَاِنْ  تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

in tu'azzib-hum fa innahum 'ibaaduk, wa in taghfir lahum fa innaka antal-'aziizul-hakiim

"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Al-Ma'idah 118)

Maka memang mestinya ada perubahan dari masa Transisi seperti harapan Sunan Kalijogo,  jangan hanya berhenti pada tingkat pemahaman agama jaman itu. Jaman dulu ada Sinkretisasi untuk memudahkan dakwah, maka saat ini waktunya Purifikasi atau pemurnian agama dari pengaruh budaya yang jadi keliru.

Bagi yang masih menyebarkan kita bersikap :

 اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ  لَـنَاۤ اَعْمَالُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۚ  لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۗ  اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۚ  وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ

allohu robbunaa wa robbukum, lanaaa a'maalunaa wa lakum a'maalukum, laa hujjata bainanaa wa bainakum, allohu yajma'u bainanaa, wa ilaihil-mashiir

".. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak perlu ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kita kembali." (QS. Asy-Syura  15)

Pengalaman yang benar terjadi,  kemarin ada Kiyai pada waktu nyadran mengumumkan kepada jama'ahnya. Ternyata dia mengumumkan,  meralat ajaran, bahwa ajarannya yang dulu keliru. Dan dia mengajarkan cara ziarah kubur yang benar sesuai ajaran Rasulullah SAW. Ini bukti bahwa ada yang berubah dari masa Transisi.

Pertanyaan ke 2

Bagaimana membedakan agama dan budaya,  karena sekarang ada yang menganggap purifikasi adalah gerakan islam Radikal. ?

Jawaban :

Keadaan itu tak terlepas dari sejarah Jaman Penjajahan Belanda.
Belanda memilah orang Islam menjadi tiga : Islam Politik , Islam Ibadah dan ‎Islam Budaya
Belanda menetapkan ketiga kelompok ini ketika orang pulang dari ibadah haji,  mereka ditest. Mereka ditanya ketika di Arab ketemu siapa saja dan bagaimana dengan ideologinya.
Bila menyangkut politik dan ingin merdeka maka dikategorikan islam politik. Dia tak boleh memakai gelar haji dan tak boleh memakai sorban atau peci haji. Maka mereka yang pandai dinyatakan tidak lulus ujian.
Yang lulus hanya yang islam ibadah dan islam budaya.  Yang islam ibadah dibiarkan semua perbuatannya. Sedangkan yang cenderung mencampur budaya disponsori oleh Belanda, karena budaya akan dapat menghapus agama.
Pada saat itu masyarakat sangat patuh pada Haji.

Dengan pembagian kelompok islam tadi,  Belanda membenturkan antar kelompok.
Termasuk akibatnya di Sumatera barat ada Perang Paderi karena adu domba. Dan kaum Adat dibantu Belanda. Ada ulama kaum Paderi yang lari ke Mekkah,  salah satunya Syeh Ahmad Khatib. Banyak pemimpin Islam Indonesia belajar darinya, termasuk  Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah  dan Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Termasuk Syeh Nawawi dari Banten juga lari ke Mekkah dan jadi guru Kiyai Ahmad Dahlan dan Kiyai Hasyim Asyari.

Jadi tindakan Belanda dulu adalah menjauhkan politik dari agama,  dan menganjurkan budaya untuk berkembang.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK.

Jumat, 08 Juni 2018

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

Kajian Ramadhan PCM Banyumanik

MEMAHAMI I'TIKAF

Tanggal : 23 Ramadhan 1439 H / 8 Juni 2018

Nara Sumber : Ustadz Ir. H. Didik Udiyono

اِتَّبِعُوْا مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ   ۗ  قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran."
(QS. Al-A'raf 3)

Kita diperintahkan untuk mengikuti Al Qur'an dan jangan mengikuti petunjuk selain Al Qur'an. Untuk diketahui bahwa orang berilmupun bisa bersikap menjauhi Al Qur'an bila menghadapi dilemma pilihan yang berat, pilihan antara duniawi atau ukhrowi.

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan Al Qur'an dan diperintahkan Puasa. Jadi Puasa sebagai konsekwensi diturunkannya Al Qur'an yang merupakan petunjuk bagi manusia.
Pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini adalah khas karena ada contoh dari Rasulullah , yaitu i'tikaf.  Tak ada Sunah qauliyah yang menyatakan perlunya I'tikaf, tetapi banyak sekali Sunah Fikliyah yang menyaksikan bahwa Rasulullah melakukan I'tikaf di 10 hari terakhir.

Sunah itu ada dua,  sunah yang difardhukan dan sunah yang tidak difardhukan. Sunah yang difardhukan itu asal usulnya dari Kitabullah. Persoalan I'tikaf itu asal-usulnya memang disinggung dalam Al Qur'an. (QS Al Baqarah 187), jadi termasuk sunah yang difardhukan. Sunah yang difardhukan untuk melaksanakannya harus sesuai dengan contoh atau petunjuk. Jika kita meninggalkan atau menolak sunah atau menganggap tidak penting maka akan termasuk sesat.

Beda dengan sunah yang tidak difardhukan, tak ada asal-usul dari Al Qur'an. Melaksanakannya mendapat keutamaan, dan bila tak melaksanakannya tidak dianggap keliru. Contohnya : Lelaki memelihara jenggot. Ini dianggap sunah karena ada perintah sunah qauliyah. Jadi tokoh yang menyatakan bahwa jenggot itu tanda orang goblok adalah perbuatan melampaui batas.

Kembali ke masalah i'tikaf, kita tidak menjumpai kisah para sahabat wanita beramai -ramai i'tikaf di masjid. Isteri Rasulullah ketika mencoba ramai-ramai I'tikaf bersama Rasulullah ternyata dicegah. Namun setelah Rasulullah wafat mereka mengikuti I'tikaf.

Bahwa keadaan 10 hari terakhir Ramadhan ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, jelas dinyatakan oleh Aisiyah ra :

َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

‘Aisyah ra berkata: Rasulullah SAW bila memasuki sepuluh hari — yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan– mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (Muttafaq Alaihi.)

Mengencangkan sarungnya bermakna menjauhi isterinya selama 10 hari terakhir. Dalam hadits lain dinyatakan bahwa beliau sangat serius beribadah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha– berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

“Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Maka meskipun tak ada contoh jelas tentang kewajiban wanita beri'tikaf di masjid , namun kita dapat mengikuti semangat bersungguh-sungguh (يَجْتَهِدُ).
Kesungguhan tentang apa?
Ketika Rasulullah bersungguh-sungguh berdiam diri adalah kesungguhan untuk keluar dari spesifikasi asli manusia, yaitu " ifthar" ,membuka diri,  dia ingin apa maka dia lakukan. Maka memasuki 10 hari terakhir adalah "imsak" , menahan diri dari apa yang diinginkan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا  

"Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab  21)

Semangat untuk menahan diri dari keinginan ini yang harus diteladani oleh semua. Karena sesuai perintah Al Qur'an kita harus meneladani Rasulullah.
Dengan menahan diri maka I'tikaf di masjid bukanlah sekedar pindah tidur.

Ada dua tempat di dunia ini yang akan dapat membantu kita untuk menahan diri dan membawa pikiran kita ke alam ukhrowi meninggalkan suasana duniawi, yaitu Kuburan dan Masjid. Namun Rasulullah jelas memilih tempat i'tikaf di masjid. Ini adalah upaya untuk memutus diri dengan dunia.

Maka ketika kita tidak berada di masjid, atau wanita dan ibu-ibu yang tidak dapat melaksanakan I'tikaf di masjid namun pada 10 hari akhir Ramadhan ini dimanapun berada hendaknya menjauhi,  mengambil jarak dengan dunia.Dimanapun berada kita dalam keadaan "imsak" , suasananya lebih mendekati suasana akhirat. Kita mencoba menghayati makna akhirat yang lebih baik dari dunia.

وَلَـلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰى

"dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan."
(QS. Ad-Duha 4)

وَابْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...." (QS. Al-Qasas 77)

Targetnya jelas negeri akhirat, tapi dunia tidak dilupakan. Meskipun dunia ini menyenangkan tetapi digambarkan penuh tipu dan kita dilarang mencaci dunia.
“Dunia adalah sebaik-baik kendaraan, bagi orang beriman ” demikian Rasulullah SAW mengajarkan kita mengenai dunia.
Hadits ini menjelaskan bahwa dunia adalah semata-mata alat untuk mencapai tujuan. Hati-hati banyak jebakan-jebakan dunia, maka kita ambil yang kita butuhkan saja. Jika melampauinya akan dinilai berlebihan.

Maka dalam 354 hari (kalender hijriyah)  kita harus mengambil jarak terhadap dunia selama 10 hari ini.
Jadi aneh,  disini ketika 10 hari terakhir justru agak berkurang ibadahnya.
Mestinya seperti Rasulullah,  beliau mulai masuk i'tikaf bakda subuh tanggal 21 dan tak pernah keluar selama 10 hari.
I'tikaf itu pada prinsipnya adalah belajar untuk menjadi zuhud, bukan mengucilkan diri tetapi memahami bahwa akhirat itu lebih penting dari duniawi.

عَنْ اَبِى مُوْسَى َاْلاَشْعَرِيِّ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَحَبَّ دُنْيَاهُ اَضَرَّ بِآخِرَتِهِ، وَ مَنْ اَحَبَّ آخِرَتَهُ اَضَرَّ بِدُنْيَاهُ، فَآثِرُوْا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى. احمد و رواته ثقات و البزار و ابن حبان فى صحيحه و الحاكم و البيهقى

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mencintai dunianya, maka dia akan mengorbankan akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhiratnya, dia akan mengorbankan dunianya. Maka pilihlah yang kekal dari pada yang akan musnah”. [HR. Ahmad]

Maka kita faham bahwa Allah menciptakan dunia untuk menguji siapa yang lebih bagus amalannya. Bukan siapa yang lebih banyak amalan, tetapi siapa yang lebih bagus amalan.

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ  عَمَلًا   ۗ  وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ

"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)

Dan bagaimana amalan yang bagus?
Kriterianya disebutkan oleh Allah SWT:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تُتْرَكُوْا وَلَـمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلَا رَسُوْلِهٖ وَلَا الْمُؤْمِنِيْنَ وَلِيْجَةً   ۗ  وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja, padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. At-Taubah 16)

Kriterianya ada dua :
1. Amal apapun mesti bernilai Loyalitas kepada Allah, Rasul dan Kaum mukminin.
2. ‎Sikap juang membela agama Allah.

Tak ada kriteria duniawi dalam ayat diatas. Maka dunia yang dimiliki dibuktikan untuk membela agama Allah.
" Mukhlisina lahudien " tidak mengejar pahala,  tapi harus mengarah "ahsanu amalan."

Inilah makna yang harus ditangkap dalam rangka bersungguh-sungguh tadi.
I'tikaf harus menjadikan kita memasuki kualitas zuhud. Tidak sekedar memahami casingnya saja.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK