Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
HIJRAH , TINJAUAN SIRAH NABAWIYAH
Tanggal : 6 Muharram 1440 H/ 16 September 2018
Nara sumber : Tri Wiyanto S.Sos
*Pentingnya belajar Sirah (sejarah)*
Ketika kita berbicara tentang hijrah maka kita akan ketemu hadits tentang niat.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim)
Niat amalan, bisa berdasar tiga hal : Allah dan Rasul, Dunia (pangkat, jabatan , kekayaan, ketenaran dll), dan yang ketiga : Wanita.
Maka ketika kita mau belajar tentang hijrah dari Sirah Nabawiyah , kita luruskan niat kita, bahwa kita akan belajar tentang Rasulullah SAW.
Ketika kita menyatakan iman kepada Allah salah satunya adalah kita harus mengimani Rasul.
Kita harus percaya terhadap apa-apa yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW. Sejarah juga membuktikan bahwa satu-satunya Rasul yang sejarahnya ditulis lengkap sejak lahir sampai wafat secara detail hanya beliau SAW, termasuk ucapan-ucapan beliau.
Maka ketika kita belajar Sirah Nabawiyah manfaatnya adalah :
1. Meningkatkan Keimanan kita kepada Rasulullah SAW
2. Menumbuhkan Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Seolah-olah kita hadir pada saat kehidupan Rasulullah.
3. Kemauan untuk mengikuti (itiba') kepada Rasulullah SAW. Karena kita dapat memahami hadits secara kontekstual, tidak sekedar tekstual.
Secara tak langsung kita melaksanakan perintah Allah untuk meneladani Rasul.
*Peristiwa Hijrah*
Hijrah ini ada dua Pengertian, yaitu Hijrah Makani dan Hijrah Maknawi.
Hijrah Makani
Hijrah makani adalah perpindahan tempat tinggal. Hal ini menjadi sunah bagi kita, minimal kita harus pindah satu kali, yaitu dari mengikut di rumah orang tua kemudian pindah ke rumah sendiri. Dengan berpindah tempat itu merupakan pendidikan mental yang luar biasa. Dengan berpindah maka dia akan bertemu dengan bermacam-macam manusia.
Ketika kita ikut orang tua, maka semua urusan diurus orang tua. Ketika kita pindah ke rumah sendiri, mau tak mau harus mandiri. Ini adalah proses penempaan kematangan jiwa. Maka orang tua harus rela bila anaknya mau berhijrah.
Hijrah Maknawi
Adalah perubahan sikap dari perbuatan tak baik menjadi perbuatan atau perilaku yang baik.
Ada kisah pembunuh 100 orang yang harus hijrah ke tempat orang-orang soleh agar dia menjadi soleh. Dalam perjalanan dia meninggal dan jadi ahli surga. Pelajaran yang diambil adalah bahwa hijrah maknawi saja kadang tidak cukup. Harus disertai hijrah Makani untuk berkumpul dengan orang baik.
*Hijrah di Jaman Rasulullah*
Peristiwa hijrah ini tidak lepas dari masalah politik, maka jika kita mendengar ada ulama kita dicekal, dipersekusi pada jaman ini, hal itu sudah pernah dialami oleh Rasulullah SAW. Bahkan yang dialami Rasul pada waktu itu jauh lebih dahsyat karena yang melakukan persekusi adalah orang Arab pada waktu itu yang kasar dan tak segan membunuh.
Hijrah pada jaman Rasulullah tidak semudah Pindah Rumah pada saat ini. Karena Rasul dan Sahabat tidak boleh membawa harta benda yang dipunyai. Hanya boleh membawa bekal sedikit.
Hijrah pada jaman Rasulullah dan Sahabat tidak dilakukan satu kali. Tapi dilakukan bergelombang.
1. Abu Salamah, pernah hijrah ke Madinah seorang diri.
2. Suhail bin Sinan dan rombongan.
3. Umar bin Khattab dan kawan-kawannya.
Hijrah Rasulullah adalah hijrah gelombang terakhir setelah kawan-kawannya. Khabar akan hijrahnya Rasulullah sudah disambut dengan baik oleh orang-orang Madinah, karena kerabat ibu Rasulullah berasal dari Madinah.
*Kesepakatan Makar Kaum Quraisy*.
Orang-orang Quraisy, terutama Abu Jahal dan Abu Lahab sudah mulai marah terhadap dakwah Rasulullah.
Dianggap Rasulullah membahayakan Tuhan mereka, yaitu Lata dan Uzza.
Mereka mengadakan rapat Parlemen orang Quraisy, yang namanya Darun Nadwah. Darun Nadwah ini mirip MPR jaman dulu, masing-masing daerah mengirim utusan. Namun utusan ini dipilih oleh Kepala Kabilah dan usia utusan minimal 40 tahun.
Rapat dipimpin oleh Abu Jahal. Abu Jahal ini nama julukan, karena nama aslinya Amr bin Hisyam. Dia diberi julukan Abu Jahal artinya Bapak Kebodohan. Tidak berarti dia tidak pandai, tetapi karena kedudukannya sebagai paman Rasulullah namun tidak menyebabkannya beriman. Dia tidak mau tahu terhadap kebenaran-kebenaran yang disampaikan Rasulullah.
Semua Bani berkumpul, dalam catatan sejarah saat itu tanggal 12 September 622. Mereka menetapkan keputusan untuk makar :
1. Menangkap dan memenjarakan Rasulullah, atau
2. Membunuh Rasulullah , atau
3. Rasulullah diusir dari Mekkah.
Keputusan ini diabadikan Allah dalam Al Qur'an. :
وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَ ۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ
"Dan ingatlah , ketika orang-orang kafir Quraisy memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Al-Anfal Ayat 30)
*Mengawali Perjalanan*
Orang-orang Quraisy menjanjikan hadiah besar untuk siapa yang dapat menangkap atau membunuh Rasulullah. Mereka membuat skenario pengepungan rumah Rasulullah, masing-masing Kabilah ada perwakilannya.
Ketika itu Rasulullah ada di dalam rumah yang dikepung. Beliau bersama Abu Bakar dan Ali yang saat itu masih remaja.
Berjalanlah skenario Allah. Pada malam akan hijrah, Nabi Muhammad SAW meminta Ali bin Abi Talib untuk memakai baju dan selimutnya dan berbaring di tempat tidurnya. Maka, ketika algojo kafir Quraisy mengintip ke tempat tidur Muhammad SAW mereka melihat seseorang berbaring di tempat tidur dan mengira bahwa Nabi Muhammad SAW masih tidur.
Pada malam hari itu para pengepung tak mau menyalakan api, khawatir akan terlihat. Maka kondisi gelap sekali dan mereka justru tidak sadar bahwa di tengah malam itu Nabi Muhammad keluar meninggalkan rumah bersama Abu Bakar.
*Bersembunyi di Gua Tsur*
Perjalanan hijrah ini dengan berjalan kaki dan meskipun tujuannya adalah Medinah (arahnya di Utara Mekkah) , namun Rasul tidak langsung menuju kesana. Beliau pergi ke Gua Tsur yang arahnya ke Yaman, di Selatan.
Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam.
Maka ketika para pengepung sadar bahwa Nabi Muhammad telah lolos, mereka mengejar ke arah Medinah. Namun para pengejar tidak melihat jejak. Kemudian para Pemburu ini berpencar dan ada yang mengejar ke Gua Tsur.
Kembali scenario Allah berjalan. Pada Gua Tsur tadi dimana Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di dalamnya , oleh Allah diberi burung merpati yang mengerami telurnya dan laba-laba dengan sarangnya yang menutupi pintu gua yang kecil.
Para pengejar yakin bahwa tak mungkin Nabi bersembunyi dalam gua. Karena bila masuk gua pasti telur merpati terinjak dan sarang laba-laba rusak.
Orang Quraisy meskipun jahat namun akhlak mereka tak mau mengganggu burung dara. Maka mereka kemudian pulang ke Mekkah. Rasul dan Abu Bakar tetap tinggal beberapa hari di Gua Tsur.
*Peran Asma' binti Abu Bakar*
Ransum makan untuk Rasul dan Abu Bakar selama di Gua Tsur dikirim oleh Asma'.
Asma' mengangkut perbekalan Rasul dan Abu Bakar dengan onta. Ketika ingin mengikat makanan, dia tidak mempunyai tali untuk mengikatnya. Lalu, dia merobek ikat pinggangnya menjadi dua, satu untuk mengikat makanan dan satu lagi untuk mengikat pinggangnya.
Dialah Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq , peran Asma’ hebat sekali dalam mendukung dakwah Nabi Muhammad SAW.
Setelah dirasa aman, kira-kira 4 hari kemudian Rasul dan Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Medinah dengan membawa onta yang dikirim Asma'.
*Pemburu bernama Suraqa*
Karena ontanya cuma satu maka onta tidak ditunggangi. Mereka jalan kaki dari Mekkah ke Medinah ditengah Padang pasir yang panas dan tidak melalui jalan yang biasa dilalui. Ketika itu kaum Quraisy tetap mencari Rasulullah SAW.
Pada hari ke 3 , atau seminggu setelah meninggalkan rumah, ada yang mengetahui posisi Nabi.
Ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan orang sedang dalam perjalanan dengan seekor onta, maka seorang Quraisy bernama Suraqa bin Malik mengejar mereka.
Demikian bersemangatnya Suraqa mengejar Nabi Muhammad SAW hingga kudanya tersungkur dalam pasir. Dia hendak memanah Nabi, namun seperti kebiasaan mereka mengundi nasib dulu, maka sebelum memanah dia mengundi dulu : panah atau tidak.. ?
Ternyata undian menghasilkan tidak dipanah. Kemudian dia mengejar lagi, namun terulang lagi, kudanya tersungkur lagi.
Hal ini terulang sampai tiga kali,
sehingga Suraqa merasa itu suatu alamat buruk jika ia bersikeras mengejar sasarannya itu.
Setelah itu Nabi Muhammad justru berhenti menanti Suraqa.
Suraqa kembali pulang, bahkan dia menyerahkan kudanya kepada Nabi Muhammad dan dia juga merahasiakan route perjalanan Hijrah Nabi Muhammad SAW.
*Kisah Ali bin Abi Thalib*
Setelah Rasul hijrah, Ali masih tinggal di Mekkah selama tiga hari untuk menyelesaikan pesan-pesan Nabi. Pesan itu adalah mengembalikan barang titipan . Karena Rasul sebagai al-Amin (orang yang dipercaya) banyak dititipi barang oleh orang Mekkah.
Hal ini menjadi sunah bagi kita bila akan pergi agar tidak meninggalkan hal yang tidak beres tanpa memberi pesan amanat pada yang tinggal.
Ketika Ali kemudian menyusul ke Medinah, Ali menempuh jalan yang lurus dan biasa dilalui. Dia tiba di Medinah 7 hari lebih cepat dari Rasul yang jalannya memutar untuk menghindari pengejaran.
Maka dapat kita bayangkan betapa beratnya perjalanan hijrah Rasulullah SAW. Sampai banyak orang Medinah yang gelisah. Mereka tiap hari menunggu Rasul diperbatasan kota karena mencemaskan keselamatan Rasul.
*Kepahlawanan Abu Bakar*
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Bakar menceritakan hijrahnya bersama Nabi :
Kami berjalan siang dan malam hingga tibalah kami di pertengahan siang. Jalan yang kami lalui sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat. Kulemparkan pandangan ke segala penjuru, apakah ada satu sisi yang dapat kami dijadikan tempat berteduh. Akhirnya, pandanganku terhenti pada sebuah batu besar yang memiliki bayangan. Kami putuskan untuk istirahat sejenak disana. Aku ratakan tanah sebagai tempat istirahat Nabi SAW , lalu kuhamparkan sehelai jubah kulit dan mempersilahkan beliau untuk tidur di atasnya. Istirahatlah wahai Rasulullah. Beliau pun beristirahat.
Setelah itu, aku melihat keadaan sekitar. Apakah ada seseorang yang bisa dimintai bantuan. Aku pun bertemu seorang penggembala kambing yang juga mencari tempat untuk berteduh. Aku bertanya kepadanya, “Wahai anak muda, engkau budaknya siapa?” Ia menyebutkan nama tuannya, salah seorang Quraisy yang kukenal. Aku bertanya lagi, “Apakah kambing-kambingmu memiliki susu?” “Iya.” Jawabnya. “Bisakah engkau perahkan untukku?” pintaku. Ia pun mengiyakannya.
Setelah diperah. Aku membawa susu tersebut kepada Nabi dan ternyata beliau masih tertidur. Aku tidak suka jika aku sampai membuatnya terbangun. Saat beliau terbangun aku berkata, “Minumlah wahai Rasulullah”. Beliau pun minum susu tersebut sampai aku merasa puas melihatnya.
Luar biasa ! Abu Bakar, seorang yang kaya, mau bersusah payah menjadi pelayan Rasulullah.
Satu hal lagi hikmah kisah ini adalah kita disunahkan memberi makan dan minum musafir.
Selama perjalanan, Abu Bakar merahasiakan identitas Rasulullah, untuk keamanan beliau, beliau Rasulullah diperkenalkan sebagai Penunjuk jalan.
*Susu Kambing Tua*
Dalam perjalanan hijrah antara Mekkah dengan Medinah di tempat yang sunyi, Rasulullah dan Abu Bakar berhenti didepan suatu kemah di daerah Qudaid, 130 km dari Mekkah. Maksudnya untuk membeli makanan atau minuman.
“Dapatkah kami membeli tamar dan beberapa teguk susu kambing?” tanya Rasulullah kepada perempuan tua.
“Sayang sekali nak!” sahut Ummu Ma’bad. “Ibu sendiripun merasa lapar dan haus sekali, suami saya sudah lama pergi mencari makanan, sampai sekarang belum kembali.”
Lalu Rasulullah SAW melihat seekor kambing yang sedang ditambat dibelakang rumah itu. Sambil menunjuk kambing tersebut, Rasulullah berkata kepada Ummu Ma’bad. “Ibu, dibelakang kemah ini saya melihat ada seekor kambing.” “Apakah kami dapat membeli air susu kambing itu, walaupun hanya beberapa teguk?”
“Kambing itu sudah lama tidak mengeluarkan susu lagi nak” sahut perempuan tua itu.
“Bolehkah saya mencoba memeras susu kambing itu, kalau–kalau mungkin ada air susunya?” kata Rasulullah.
“Silahkan nak!” ujar Ummu Ma’bad.Rasulullah berjalan mendekati kambing itu. Setelah menengadahkan tangannya untuk memohon doa, beliau memegang susu kambing tersebut dan memerasnya.
Tiba-tiba susu kambing itu mengeluarkan susunya.
Sesudah minum seperlunya, Rasulullahpun meneruskan perjalanannya, sedangkan sisa susu itu masih banyak yang tinggal.
Tatkala suami wanita itu, Abu Ma’bad pulang membawa kambing yang kurus -kurus dan lemah. Ketika ia melihat adanya persediaan air susu kambing. Abu Ma’bad berkata kepada isterinya :
“Darimanakah kau mendapatkan air susu kambing itu?”,
Ummu Ma’bad menjawab
“ Demi Allah , tenda kita telah dilewati orang yang diberkahi oleh Allah. Dia berbicara begini dan begini keadaannya seperti ini dan seperti ini'.
"Demi Allah, aku yakin itu adalah Pemuda Quraisy yang sedang diburu oleh kaumnya".
"Gambarkan bagaimana pemuda itu wahai ummu Ma'bad. "
Maka ummu Ma'bad menceritakan sifat-sifat Rasulullah.
Maka Abu Ma’bad berkata kepada isterinya :
"Demi Allah, ini adalah orang Quraisy yang sedang dibicarakan oleh khalayak ramai. Jika ada kesempatan, aku benar-benar ingin menemani perjalanannya ".
*Suara Jin*
Dikisahkan oleh Asma' binti Abu Bakar, " Kami tidak mengetahui ke arah mana Rasulullah pergi".
Karena jalur yang dilalui oleh Rasulullah bukan jalur yang umum dilalui oleh para musafir.
Namun tak berapa lama muncul sesosok jin dari dataran rendah Mekkah yang kemudian menyuarakan syair. Semua mendengar suara tetapi tak ada yang melihat sosok jin tadi.
Begitu kami mendengar bait-bait syair itu, maka kami mengetahui ke arah mana jalan yang dilalui oleh Rasulullah menuju Madinah.
*Memasuki Quba*
Rasulullah SAW tiba di Quba, dekat kota Madinah pada tanggal 23 September 622. Maka perjalanan yang beliau tempuh sudah 11 hari.
Berita kedatangan Rasulullah disambut dengan Penuh Suka Cita.
Mereka menunggu dibatas kota.
Suatu hari seorang Yahudi yang kebetulan naik diatas rumahnya melihat bintik di kejauhan yang dia yakin itu Rasulullah.
Orang-orang Anshar bergembira dan mereka meneriakkan takbir. Semua menyambut Rasulullah.
Saat itu turunlah ayat Al Qur'an :
فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ مَوْلٰٮهُ وَجِبْرِيْلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ وَالْمَلٰٓئِكَةُ بَعْدَ ذٰلِكَ ظَهِيْرٌ
".. maka sungguh, Allah menjadi pelindungnya dan juga Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya." (QS. At-Tahrim 4)
Ketika mereka bertemu, Abu Bakar berdiri dan Rasul duduk. Orang Anshor mengira bahwa yang berdiri adalah Rasul.
Tatkala panas matahari mengenai Rasulullah, Abu Bakar segera memayungi beliau dengan jubahnya. Saat itulah mereka baru tahu bahwa yang duduk dan diam itulah Rasulullah SAW.
Di Quba Rasulullah mendirikan masjid yang pertama kali.
*Tiba di Madinah*
Berita tentang hijrahnya Nabi SAW yang akan menyusul kaum muslimin Mekkah yang telah tiba sebelumnya sudah tersiar di Yatsrib (Madinah).
Akhirnya, Rasulullah tiba dengan selamat di kota Madinah. Sambutan penuh suka cita diiringi Syair pun berkumandang:
Thola‘al badru ‘alayna
Min Tsaniyyatil Wada’
Wajabasy syukru ‘alayna
Ma da‘a lillahi da‘
Ayyuhal mab‘utsu fina
Ji’ta bil amril mutha’
.....
Banyak yang menawari rumah tinggal kepada Rasulullah. Rasulullah menyerahkan pemilihan rumah kepada ontanya. Dimana onta tadi mau berhenti. Onta itu pertama kali berhenti, tapi beliau tidak turun. Tempat itu kemudian dijadikan tempat Masjid Nabawi.
Kemudian onta itu berjalan lagi dan berhenti di rumah Abu Ayyub.
Abu Ayyub segera mengambil pelana onta. Di rumah Abu Ayyub-lah Nabi SAW memilih untuk tinggal.
*Di Rumah Abu Ayyub*
Rumah Abu Ayyub adalah rumah tingkat. Dia mempersilahkan Rasul menempati yang atas untuk penghormatan. Namun Rasul tak bersedia, karena akan banyak tamu yang harus ditemui. Maka Rasul mempersilahkan Abu Ayyub tidur di atas.
Karena merasa sungkan tidur di atas maka Abu Ayyub memilih tidur di pojok atas, dimana bagian bawahnya adalah dapur. Dengan demikian dia tidak tidur di atas Rasul.
Rasul tinggal di rumah Abu Ayyub selama 7 bulan karena sambil menunggu pembangunan Masjid dan Rumah beliau di dekat masjid.
Isteri Abu Ayyub ini pandai memasak. Suatu ketika dia masak, tetapi Rasul tidak menyentuh makanan. Tentu saja hal ini menjadikan Abu Ayyub bingung dan dia bertanya kenapa Rasul tidak makan.
Rasul menjawab bahwa Jibril membisiki beliau bahwa beliau tak boleh makan karena dalam masakan ada bawang merah dan bawang putih. Namun Rasul tidak melarang Abu Ayyub memakan makanan itu.
Pelajaran dari sini adalah bahwa kita disunahkan untuk mengurangi makanan yang akan menimbulkan bau badan.
Demikian beratnya perjalanan hijrah Rasulullah, beliau berjalan kaki selama 11 hari untuk memenuhi Perintah Allah.
Semoga dengan mempelajari Sejarah Rasulullah dapat meningkatkan kecintaan kita kepada beliau.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAKk
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banyumanik Semarang, menyajikan Media BLOG ini untuk mengkomunikasikan kegiatan kegiatan, program program yang sedang dilaksanakan kepada para anggota dan simpatisan Muhammadiyah di Banyumanik dan sekitarnya. Mari kita bersatu saling melengkapi, guna menegakkan kalimat TAUHID serta menyampaikan kebenaran ISLAM, melalui organisasi dakwah MUHAMMADIYAH di PCM Banyumanik.
Minggu, 16 September 2018
Senin, 10 September 2018
Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
HIJRAH SEBAGAI MOMENTUM INTROSPEKSI DIRI
Tanggal : 28 Dzulhijjah 1439 H/ 9 September 2018
Nara sumber : Drs. H. Aan Jumeno MM
*Tahun Baru Hijriyah*
Ketika kita menjumpai tahun baru biasanya disambut dengan sangat meriah. Sebentar lagi kita menyambut bulan Muharram, artinya memasuki tahun baru, namun selama ini biasanya kita tidak membuat persiapan apapun.
Padahal pada saat itulah Hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Medinah, dimana saat itu beliau dielu-elukan oleh masyarakat Medinah. Sedemikian pentingnya peristiwa itu sampai Umar bin Khattab r.a menetapkan peristiwa Hijrah tadi sebagai awal tahun baru umat islam. Maka semestinya kita umat islam menyambut bulan Muharram dengan semangat.
*Perintah Introspeksi*
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr 18)
Ada orang yang beriman tetapi tidak takwa, tidak mau menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Ada yang usianya 50 tahun tapi takwa baru 2 tahun. Ada yang usia 60 tahun tapi takwa baru 1 tahun, tetapi ada yang usia 25 tahun, takwanya 15 tahun. Jadi beda-beda. Maka kadang kita bandingkan keimanan kita itu dengan iblis. Menurut Imam Ghozali, iblis itu 80 ribu tahun sangat percaya dan takwa kepada Allah, namun setelah dia diperintah bersujud kepada Adam a.s , dia membangkang kepada Allah. Dia membangkang karena merasa lebih tinggi daripada Adam a.s. Hanya dengan membangkang sekali saja, iblis yang takwa 80 ribu tahun dilaknat selamanya.
Kita manusia ini baru takwa berapa tahun? Berapa kali kita membangkang?
Nabi Adam a.s diperintahkan menempati surga dengan berbagai kenikmatan. Banyak yang diperbolehkan dan hanya satu yang dilarang. Namun ternyata justru satu yang dilarang itu diambil akibat godaan iblis.
Kita di dunia ini hampir mirip, banyak yang diperbolehkan namun ada beberapa yang dilarang. Kenyataan banyak juga yang memilih yang dilarang tadi. Alasan mereka : Mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal?
Ini jelas keliru, ini pemikiran orang yang sudah tergoda iblis.
Kita diperintahkan untuk introspeksi diri. Merenungkan apakah kita sudah ada di posisi benar atau belum. Bahkan untuk bicara saja kita diperintahkan agar dipikir dulu.
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)
Apakah berbicara lewat lesan atau lewat medsos aturannya sama.
Kalau yakin baik tidak apa kita bicara panjang lebar. Tetapi saat ini pembicaraan lewat medsos sudah luar biasa keburukannya, bahkan yang buruk mungkin lebih banyak dibanding yang baik .
Ada ujaran kebencian, menghujat orang lain, bahkan ustadz juga dihujat, seolah dirinya sudah sempurna.
Ghibah, membahas kejelekan tak pernah menawarkan solusi yang tentu tak ada maslahatnya.
Mereka itu seolah tak percaya akhirat, dimana semuanya harus dipertanggung-jawabkan.
*Takwa Adalah Kemuliaan*
Ayat di atas tadi mengulang kata "Takwa" sampai dua kali. Ini penegasan agar kita takut. Takut tidak mendapat rahmat Allah yang berupa : Ridha, Surga dan Kasih Sayang.
Rahmat Allah itu diturunkan 1 di dunia dan yang 99 nanti di Akhirat.
Namun manusia pada umumnya senang dunia. Seolah dunia ini kekal.
وَيْلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗ
يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗۤ اَخْلَدَهٗ
"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya."
(QS. Al-Humazah Ayat 1- 3)
Maka kadang orang melihat orang lain berharga atau tidak dari sisi hartanya. Bila kaya dihormati.
Padahal islam jelas memberi pedoman , bahwa yang paling dimuliakan adalah yang paling takwa.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ
".. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.." (QS. Al-Hujurat 13)
Dalam haditspun dikatakan betapa ibadah shalat sunah sebelum fajar itu nilainya melebihi dunia seisinya.
Ini adalah isyarat perintah agar kita takwa, bukan perintah untuk kaya.
*Makna Hijrah*
Hijrah pada dasarnya adalah pindah atau berubah. Maka ada istilah Hijrah Makani (tempat) dan Hijrah Maknawi (makna).
1. Hijrah Makani
Ketika mau ibadah saja diganggu, agama dimusuhi maka perlu hijrah makani. Hal ini yang dilakukan Rasul. Beliau mendapatkan perintah untuk hijrah dari Mekkah ke Medinah untuk menyelamatkan islam.
Ketika itu di Mekkah beliau dimusuhi, bahkan para sahabat ada yang disiksa. Di Medinah Rasulullah sudah ditunggu kehadirannya karena ada dua suku yang selalu bermusuhan, yaitu Aus dan Khazraj.
Karena Rasul sudah terkenal bisa mempersatukan Kabilah-kabilah di Mekkah.
2. Hijrah Maknawi
Nilai hijrah tergantung esensinya.
Menurut Ibnu Hajar : " Hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT ".
Maka pada saat ini hijrah dimaknai lebih luas lagi yaitu perubahan perilaku yang kurang syar'i menuju ke arah yang lebih syar'i.
Misalnya saja dulu kalau mendengar adzan tidak direspond dan tetap nonton TV, sekarang langsung memenuhi panggilan adzan.
Nabi Muhammad SAW mendapat gelar al Amin, yang artinya terpercaya, hal ini karena kebaikan beliau. Yang memberi gelar ini orang Mekkah. Namun karena kemudian Nabi mendakwahkan islam yang dianggap nanti dapat mengganggu kebiasaan Jahiliyah maka beliau dimusuhi.
Keadaan ini hampir sama dengan kondisi saat ini ketika ada Pengajian dibubarkan, dipersekusi hanya karena berbeda. Kenapa? Karena ada yang khawatir kemapanannya terganggu.
*Mengubah Mindset*
Kita ini perlu mengubah mindset hidup ini untuk apa?
Rasulullah SAW bersabda :
َ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ . (HR Bukhâri)
Bagaimana menjadi musafir? Makhluk surga akan terbiasa dengan budaya surga, disana semua patuh pada aturan Allah, bicara teratur dan sebagainya. Maka ketika di dunia ini banyak yang melanggar larangan Allah, bicaranya celometan.
Maka mestinya jika kita musafir pasti tak cocok dengan dunia.
Tetapi yang terjadi malah banyak yang krasan, cocok dengan kemaksiatan dunia. Maka mereka mestinya tidak pantas di surga.
Bagaimanakah Penduduk Surga?
Kita ingat bagaimana Allah memanggil penduduk surga :
يٰۤاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
"Wahai jiwa yang tenang!" (QS. Al-Fajr 27)
Penduduk Surga itu berjiwa tenang (nafsu muthmainah).
Selain Nafsu Muthmainah ada beberapa nafsu lainnya, antara lain :
1. Nafsu Amarah.
Adalah orang-orang yang bangga dengan dosa-dosa, bahkan merasa apa yang dilakukan hebat. Orang seperti ini tak akan suka dengan pengajian ataupun ibadah di masjid.
Nafsu amarah itu senantiasa membawa sesuatu yang buruk dan menggelincirkan, tidak sadar bahwa perbuatannya dosa.
2. Nafsu Lawamah
Dalam nafsu lawamah ini sudah timbul penyesalan. Pekerjaan yang dilarang masih sering dikerjakan namun terkadang suatu ketika menyadari bahwa kegiatan itu dilarangNya. Ada yang menyebut dengan istilah " Tobat - Kumat".
3. Nafsu Mulhamah
Orang-orang pada tingkatan nafsu ini jiwanya sudah diilhami dengan ketakwaan kepada Allah.
Pada dasarnya jiwa manusia itu dipengaruhi dengan kedosaan dan ketakwaan.
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا
"maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya," (QS. Asy-Syams 8)
*Tugas Utama Manusia*
Tugas manusia di dunia ini adalah bertakwa.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)
Menjadi pertanyaan pada diri kita sendiri, apakah kita sudah beribadah 24 jam dalam sehari?
Apakah bisa? Tentu saja bisa dan ada caranya. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.
1. Setiap kegiatan niatnya untuk ibadah.
Rasulullah SAW bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ketika kita bekerja di kantor akan menjadi ibadah jika memang kita berniat untuk ibadah.
2. Tawakal kepada Allah.
Sebelum bekerja kalau mau berangkat , kita bertawakal.
"Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah ".(Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)..
Maka selama itu kerja kita menjadi amal ibadah.
3. Ikhlas.
وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama..." (QS. Al-Bayyinah 5)
Termasuk ibu-ibu yang menjalankan tugas ibu rumah tangga dengan ikhlas akan menjadi amal ibadah.
Ikhlas itu sangat penting, biasanya orang yang tidak ikhlas hasil kerjanya juga tidak baik, hablu-minanasnya juga tidak baik.
Ikhlas itu ibarat filsafat tukang parkir. Sebanyak dan sebagus apapun kendaraan yang dititipkan , dia tak merasa susah jika diambil pemiliknya. Jika kita sadar bahwa harta yang kita miliki itu bukan milik kita maka kita akan ikhlas jika diambil oleh pemiliknya, yaitu Allah SWT.
Ikhlas adalah melakukan segala sesuatu karena Allah. Yakin bahwa dunia tidak abadi dan tidak lama.
*Momentum Untuk Introspeksi*
Dikisahkan dalam Isra' Miradj tentang daya pikat dunia itu ibarat wanita cantik. Maka manusia yang mestinya bersikap sebagai musafir saja akhirnya terpikat dunia dan lupa tujuan perjalanan, yaitu akhirat. Padahal janji Allah jelas :
وَلَـلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰى
"dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan." (QS. Ad-Duha 4)
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” ... (HR. al-Bukhari)
Di dunia ketika dijanjikan upah besar maka akan berbondong-bondong. Mestinya ketika Allah menjanjikan hadiah akhirat yang luar biasa juga begitu. Namun tidak terjadi karena iman atau kepercayaan kurang.
Ketika ada Gempa Lombok, kita diminta untuk "ngamal" namun malah "ngomel".
Ketika ada kotak infak beredar kita pura-pura ngantuk.
Ketika ada ajakan kebaikan, ragu-ragu, akhirnya terlambat.
Kesempatan-kesempatan tidak segera disambut dengan baik.
Momen Hijrah ini adalah momen untuk introspeksi, sesungguhnya posisi kita sampai dimana, nafsu kita sampai dimana, tentunya Tujuannya adalah Nafsu Muthmainah. Dengan introspeksi diharap kelak tak ada penyesalan. Kehidupan akhirat itu abadi, maka pembalasan akan lama. Sudah saatnya kita Fastabiqul Choirot (berpacu dalam kebaikan)
Hijrah itu ada dua, hijrah binafsih dan hijrah jama'ah. Perintahnya adalah:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; ."
(QS. At-Tahrim 6)
Jenis kesalahan juga ada dua : Merugikan diri sendiri dan Merugikan orang lain.
Bila merugikan diri sendiri cukup dengan bertobat :
رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
" ... Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 23)
Tetapi bila merugikan orang lain, harus meminta maaf. Lalu bagaimana caranya minta maaf jika kita memfitnah ulama lewat medsos?
Tentu sulit meminta maaf. Maka kita perlu makin hati-hati bermedsos.
Pekerjaan rumah lainnya adalah amanat, apakah sudah ditunaikan semua? Kita tahu Nabi Ibrahim itu mendapat amanat lewat mimpi saja tetap ditunaikan. Memang dalam kehidupan kita sering dihadapkan pilihan, maka kita perlu mengutamakan mana yang perintah Allah. Introspeksi diri lainnya adalah adakah kita sudah cukup sabar?
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
HIJRAH SEBAGAI MOMENTUM INTROSPEKSI DIRI
Tanggal : 28 Dzulhijjah 1439 H/ 9 September 2018
Nara sumber : Drs. H. Aan Jumeno MM
*Tahun Baru Hijriyah*
Ketika kita menjumpai tahun baru biasanya disambut dengan sangat meriah. Sebentar lagi kita menyambut bulan Muharram, artinya memasuki tahun baru, namun selama ini biasanya kita tidak membuat persiapan apapun.
Padahal pada saat itulah Hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Medinah, dimana saat itu beliau dielu-elukan oleh masyarakat Medinah. Sedemikian pentingnya peristiwa itu sampai Umar bin Khattab r.a menetapkan peristiwa Hijrah tadi sebagai awal tahun baru umat islam. Maka semestinya kita umat islam menyambut bulan Muharram dengan semangat.
*Perintah Introspeksi*
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr 18)
Ada orang yang beriman tetapi tidak takwa, tidak mau menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Ada yang usianya 50 tahun tapi takwa baru 2 tahun. Ada yang usia 60 tahun tapi takwa baru 1 tahun, tetapi ada yang usia 25 tahun, takwanya 15 tahun. Jadi beda-beda. Maka kadang kita bandingkan keimanan kita itu dengan iblis. Menurut Imam Ghozali, iblis itu 80 ribu tahun sangat percaya dan takwa kepada Allah, namun setelah dia diperintah bersujud kepada Adam a.s , dia membangkang kepada Allah. Dia membangkang karena merasa lebih tinggi daripada Adam a.s. Hanya dengan membangkang sekali saja, iblis yang takwa 80 ribu tahun dilaknat selamanya.
Kita manusia ini baru takwa berapa tahun? Berapa kali kita membangkang?
Nabi Adam a.s diperintahkan menempati surga dengan berbagai kenikmatan. Banyak yang diperbolehkan dan hanya satu yang dilarang. Namun ternyata justru satu yang dilarang itu diambil akibat godaan iblis.
Kita di dunia ini hampir mirip, banyak yang diperbolehkan namun ada beberapa yang dilarang. Kenyataan banyak juga yang memilih yang dilarang tadi. Alasan mereka : Mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal?
Ini jelas keliru, ini pemikiran orang yang sudah tergoda iblis.
Kita diperintahkan untuk introspeksi diri. Merenungkan apakah kita sudah ada di posisi benar atau belum. Bahkan untuk bicara saja kita diperintahkan agar dipikir dulu.
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)
Apakah berbicara lewat lesan atau lewat medsos aturannya sama.
Kalau yakin baik tidak apa kita bicara panjang lebar. Tetapi saat ini pembicaraan lewat medsos sudah luar biasa keburukannya, bahkan yang buruk mungkin lebih banyak dibanding yang baik .
Ada ujaran kebencian, menghujat orang lain, bahkan ustadz juga dihujat, seolah dirinya sudah sempurna.
Ghibah, membahas kejelekan tak pernah menawarkan solusi yang tentu tak ada maslahatnya.
Mereka itu seolah tak percaya akhirat, dimana semuanya harus dipertanggung-jawabkan.
*Takwa Adalah Kemuliaan*
Ayat di atas tadi mengulang kata "Takwa" sampai dua kali. Ini penegasan agar kita takut. Takut tidak mendapat rahmat Allah yang berupa : Ridha, Surga dan Kasih Sayang.
Rahmat Allah itu diturunkan 1 di dunia dan yang 99 nanti di Akhirat.
Namun manusia pada umumnya senang dunia. Seolah dunia ini kekal.
وَيْلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗ
يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗۤ اَخْلَدَهٗ
"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya."
(QS. Al-Humazah Ayat 1- 3)
Maka kadang orang melihat orang lain berharga atau tidak dari sisi hartanya. Bila kaya dihormati.
Padahal islam jelas memberi pedoman , bahwa yang paling dimuliakan adalah yang paling takwa.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ
".. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.." (QS. Al-Hujurat 13)
Dalam haditspun dikatakan betapa ibadah shalat sunah sebelum fajar itu nilainya melebihi dunia seisinya.
Ini adalah isyarat perintah agar kita takwa, bukan perintah untuk kaya.
*Makna Hijrah*
Hijrah pada dasarnya adalah pindah atau berubah. Maka ada istilah Hijrah Makani (tempat) dan Hijrah Maknawi (makna).
1. Hijrah Makani
Ketika mau ibadah saja diganggu, agama dimusuhi maka perlu hijrah makani. Hal ini yang dilakukan Rasul. Beliau mendapatkan perintah untuk hijrah dari Mekkah ke Medinah untuk menyelamatkan islam.
Ketika itu di Mekkah beliau dimusuhi, bahkan para sahabat ada yang disiksa. Di Medinah Rasulullah sudah ditunggu kehadirannya karena ada dua suku yang selalu bermusuhan, yaitu Aus dan Khazraj.
Karena Rasul sudah terkenal bisa mempersatukan Kabilah-kabilah di Mekkah.
2. Hijrah Maknawi
Nilai hijrah tergantung esensinya.
Menurut Ibnu Hajar : " Hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT ".
Maka pada saat ini hijrah dimaknai lebih luas lagi yaitu perubahan perilaku yang kurang syar'i menuju ke arah yang lebih syar'i.
Misalnya saja dulu kalau mendengar adzan tidak direspond dan tetap nonton TV, sekarang langsung memenuhi panggilan adzan.
Nabi Muhammad SAW mendapat gelar al Amin, yang artinya terpercaya, hal ini karena kebaikan beliau. Yang memberi gelar ini orang Mekkah. Namun karena kemudian Nabi mendakwahkan islam yang dianggap nanti dapat mengganggu kebiasaan Jahiliyah maka beliau dimusuhi.
Keadaan ini hampir sama dengan kondisi saat ini ketika ada Pengajian dibubarkan, dipersekusi hanya karena berbeda. Kenapa? Karena ada yang khawatir kemapanannya terganggu.
*Mengubah Mindset*
Kita ini perlu mengubah mindset hidup ini untuk apa?
Rasulullah SAW bersabda :
َ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ . (HR Bukhâri)
Bagaimana menjadi musafir? Makhluk surga akan terbiasa dengan budaya surga, disana semua patuh pada aturan Allah, bicara teratur dan sebagainya. Maka ketika di dunia ini banyak yang melanggar larangan Allah, bicaranya celometan.
Maka mestinya jika kita musafir pasti tak cocok dengan dunia.
Tetapi yang terjadi malah banyak yang krasan, cocok dengan kemaksiatan dunia. Maka mereka mestinya tidak pantas di surga.
Bagaimanakah Penduduk Surga?
Kita ingat bagaimana Allah memanggil penduduk surga :
يٰۤاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
"Wahai jiwa yang tenang!" (QS. Al-Fajr 27)
Penduduk Surga itu berjiwa tenang (nafsu muthmainah).
Selain Nafsu Muthmainah ada beberapa nafsu lainnya, antara lain :
1. Nafsu Amarah.
Adalah orang-orang yang bangga dengan dosa-dosa, bahkan merasa apa yang dilakukan hebat. Orang seperti ini tak akan suka dengan pengajian ataupun ibadah di masjid.
Nafsu amarah itu senantiasa membawa sesuatu yang buruk dan menggelincirkan, tidak sadar bahwa perbuatannya dosa.
2. Nafsu Lawamah
Dalam nafsu lawamah ini sudah timbul penyesalan. Pekerjaan yang dilarang masih sering dikerjakan namun terkadang suatu ketika menyadari bahwa kegiatan itu dilarangNya. Ada yang menyebut dengan istilah " Tobat - Kumat".
3. Nafsu Mulhamah
Orang-orang pada tingkatan nafsu ini jiwanya sudah diilhami dengan ketakwaan kepada Allah.
Pada dasarnya jiwa manusia itu dipengaruhi dengan kedosaan dan ketakwaan.
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا
"maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya," (QS. Asy-Syams 8)
*Tugas Utama Manusia*
Tugas manusia di dunia ini adalah bertakwa.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)
Menjadi pertanyaan pada diri kita sendiri, apakah kita sudah beribadah 24 jam dalam sehari?
Apakah bisa? Tentu saja bisa dan ada caranya. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.
1. Setiap kegiatan niatnya untuk ibadah.
Rasulullah SAW bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ketika kita bekerja di kantor akan menjadi ibadah jika memang kita berniat untuk ibadah.
2. Tawakal kepada Allah.
Sebelum bekerja kalau mau berangkat , kita bertawakal.
"Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah ".(Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)..
Maka selama itu kerja kita menjadi amal ibadah.
3. Ikhlas.
وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama..." (QS. Al-Bayyinah 5)
Termasuk ibu-ibu yang menjalankan tugas ibu rumah tangga dengan ikhlas akan menjadi amal ibadah.
Ikhlas itu sangat penting, biasanya orang yang tidak ikhlas hasil kerjanya juga tidak baik, hablu-minanasnya juga tidak baik.
Ikhlas itu ibarat filsafat tukang parkir. Sebanyak dan sebagus apapun kendaraan yang dititipkan , dia tak merasa susah jika diambil pemiliknya. Jika kita sadar bahwa harta yang kita miliki itu bukan milik kita maka kita akan ikhlas jika diambil oleh pemiliknya, yaitu Allah SWT.
Ikhlas adalah melakukan segala sesuatu karena Allah. Yakin bahwa dunia tidak abadi dan tidak lama.
*Momentum Untuk Introspeksi*
Dikisahkan dalam Isra' Miradj tentang daya pikat dunia itu ibarat wanita cantik. Maka manusia yang mestinya bersikap sebagai musafir saja akhirnya terpikat dunia dan lupa tujuan perjalanan, yaitu akhirat. Padahal janji Allah jelas :
وَلَـلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰى
"dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan." (QS. Ad-Duha 4)
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” ... (HR. al-Bukhari)
Di dunia ketika dijanjikan upah besar maka akan berbondong-bondong. Mestinya ketika Allah menjanjikan hadiah akhirat yang luar biasa juga begitu. Namun tidak terjadi karena iman atau kepercayaan kurang.
Ketika ada Gempa Lombok, kita diminta untuk "ngamal" namun malah "ngomel".
Ketika ada kotak infak beredar kita pura-pura ngantuk.
Ketika ada ajakan kebaikan, ragu-ragu, akhirnya terlambat.
Kesempatan-kesempatan tidak segera disambut dengan baik.
Momen Hijrah ini adalah momen untuk introspeksi, sesungguhnya posisi kita sampai dimana, nafsu kita sampai dimana, tentunya Tujuannya adalah Nafsu Muthmainah. Dengan introspeksi diharap kelak tak ada penyesalan. Kehidupan akhirat itu abadi, maka pembalasan akan lama. Sudah saatnya kita Fastabiqul Choirot (berpacu dalam kebaikan)
Hijrah itu ada dua, hijrah binafsih dan hijrah jama'ah. Perintahnya adalah:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; ."
(QS. At-Tahrim 6)
Jenis kesalahan juga ada dua : Merugikan diri sendiri dan Merugikan orang lain.
Bila merugikan diri sendiri cukup dengan bertobat :
رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
" ... Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 23)
Tetapi bila merugikan orang lain, harus meminta maaf. Lalu bagaimana caranya minta maaf jika kita memfitnah ulama lewat medsos?
Tentu sulit meminta maaf. Maka kita perlu makin hati-hati bermedsos.
Pekerjaan rumah lainnya adalah amanat, apakah sudah ditunaikan semua? Kita tahu Nabi Ibrahim itu mendapat amanat lewat mimpi saja tetap ditunaikan. Memang dalam kehidupan kita sering dihadapkan pilihan, maka kita perlu mengutamakan mana yang perintah Allah. Introspeksi diri lainnya adalah adakah kita sudah cukup sabar?
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Senin, 03 September 2018
Kajian Ahad Sendang Gede
Kajian Ahad Sendang Gede
Drs. Syarif Hidayat , MSi
21 Dzulhijjah 1439 H / 2 September 2018
BULAN HARAM
اِنَّ عِدَّةَ الشُّ:هُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram.." (QS. At-Taubah 36)
Bertepatan dengan penciptaan langit dan bumi , Allah telah menetapkan ada 4 bulan haram atau bulan yang dimuliakan. 4 bulan yang dimuliakan ini kita bisa melihat :
1. Dalam tafsir Ibnu Katsir.
2. Pada Terjemah Al Qur'an dari Depag dalam Surat Al Baqarah ayat 197.
Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan bulan haram adalah bulan Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rojab. Saat ini kita masih berada di akhir bulan Dzulhijjah.
*1. Bulan Rojab*
Bulan Rojab menjadi istimewa karena ada peristiwa besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi di kemudian hari, yaitu peristiwa Isra' Miradj Nabi Muhammad SAW.
Intisari dari peristiwa itu adalah kita sebagai umat islam harus benar-benar menjaga shalat. Bukan sekedar menjaga pelaksanaan shalat saja tetapi juga menjaga makna shalat.
Kalau kita menjaga pelaksanaan dan makna shalat maka terciptalah islam rahmatan lil alamien. Karena makna shalat adalah hablu minallah dan hablu minannas.
Perlu dipertanyakan jika ada orang sudah shalat tetapi masih pelit. Perlu dipertanyakan jika ada orang sudah shalat tetapi masih bertengkar dengan tetangga, masih mengurangi timbangan, masih korupsi dan sebagainya. Itu berarti shalatnya belum menjadi kepribadian hidupnya.
Shalat itu sangat penting, ketika Allah menyampaikan perintahNya maka Allah menurunkan Firman. Namun ketika perintah Shalat, Allah memanggil RasulNya untuk menghadap.
1.1. Kedudukan Shalat.
قال النبي صلى الله عليه واله: موضع الصلاة من الدين كموضع الرأس من الجسد
Rasulullah saw bersabda:
“Kedudukan shalat dari agama adalah seperti kedudukan kepala dari badan.”
Tanpa tangan, tanpa kaki manusia dapat hidup, tetapi tanpa kepala manusia tak dapat hidup.
Dalam hadits lain dikatakan betapa pentingnya shalat jama'ah, betapa pentingnya shalat subuh. Maka jika orang tahu pahala shalat subuh berjama'ah niscaya dia akan datang ke masjid, meskipun harus merangkak. Maka pada saat ini ada masjid-masjid yang sudah menyiapkan kursi untuk mereka yang terpaksa harus melakukan shalat dengan duduk.
1. 2. Shalat membedakan Muslim dengan Kafir.
Pada hadits lain dikatakan bahwa yang membedakan antara orang muslim dan orang kafir adalah shalat. Ada bapak-bapak yang hobby nonton bola pada malam hari sehingga waktu subuh mereka mengantuk. Maka perbedaan begadangnya yang muslim dengan yang tidak adalah orang muslim akan tetap shalat subuh dan yang lain akan tidur. Apapun profesinya, guru, tentara, polisi ataupun pedagang yang muslim ketika tiba waktu shalat mereka menghentikan kegiatannya untuk shalat. Maka kita dapat menyaksikan di Mekkah, Medinah ketika menjelang adzan pedagang-pedagang siap-siap menutup dagangannya.
1. 3. Shalat adalah amalan pertama yang dihisab oleh Allah SWT.
Barang siapa shalatnya bagus maka akan bagus pula amal-amal yang lain.
*2. Bulan Muharram*
Muharram adalah bulan pertama dari kalender Hijriyah yang dimuliakan Allah. Tetapi apakah kita akan memuliakan Muharram atau tidak itu kembali ke masing-masing pribadi. Kita akan menyebut. Muharram atau nama lain yang justru dianggap bulan bencana yaitu Suro maka harus dimulai dari diri kita sendiri.
Mengubah budaya ini butuh usaha pembiasaan. Biasakan diri kita melakukan hal baik di bulan Muharram, seperti beli rumah, rehab rumah. Kita sosialisasikan bahwa Muharram itu bulan baik dan tak perlu ketakutan dengan bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pertolongan Allah pada Nabi Adam terjadi pada bulan Muharram. Demikian juga pertolongan Allah pada Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Musa , Nabi Sulaiman, Nabi Daud semua pada bulan Muharram.
Bagaimana bulan Muharram akan mulia jika kita sebagai umat islam tidak memuliakan?
Kita tidak gampang mengembalikan istilah Minggu menjadi Ahad. Ini butuh pembiasaan.
Sama dengan Muharram, apabila kita tidak membiasakan dengan menyebut bulan Muharram maka yg terbayang adalah Suro dengan segala macam kegiatan bulan Suro.
Lebih-lebih jika masuknya bulan bersama musim puting beliung, maka akan tambah menyeramkan. Padahal kita semua yang belajar IPA tahu tentang fenomena alam, adanya angin darat dan angin laut.
Allah menurunkan air dan meniupkan angin sesuai kebutuhan manusia. Tetapi jika dalam energi alam ada yang hilang maka terjadilah ketimpangan. Ibarat bangunan yang disangga empat tiang kokoh, tiba-tiba rusak satu tiang maka akan roboh. Maka ketika angin laut yang mestinya ditahan hutan bakau, namun kemudian hutan bakau hilang , maka angin akan membesar jadi puting beliung. Ini bukan kesialan, tapi akibat dari perbuatan kita sendiri.
Maka dalam Al Qur'an , berkali-kali kita diperintah untuk berfikir :
"a fa laa ta'qiluun ?"
"a fa laa tazakkaruun ?"
Bagaimana kita memuliakan Muharram, mestinya kita mencontoh kepada Rasulullah SAW.
2. 1 . Amalan Puasa Muharram
Pada awalnya Rasul berpuasa pada tanggal 10 Muharram ( hari 'Asyura)
Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’
Nabi berpuasa pada tahun ke 9 Hijriah. Maka pada saat itu Rasul menjawab :
" Bukankah kita beriman kepada Nabi Isa a. s, Nabi Ibrahim a. s dan Nabi Ishak a.s ?
كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰٓئِكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ
"... Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya..." (QS. Al-Baqarah 285)
Kita umat islam wajib mengimani 25 Rasul, kita tak perlu hafal namun setidaknya kita pernah mendengar nama mereka. Maka jaman dulu kakek kita mengajarkan syi'iran yang menyebut nama-nama Nabi.
Kenapa kita perlu tahu? Karena kita disunahkan memberi salam jika kita mendengar Nama Nabi diucapkan oleh seseorang.
Maka kalau mereka berpuasa, kita umat islam juga berhak untuk puasa. Dan untuk menyelisihi kaum Yahudi, Nabi SAW memerintahkan :
“Berpuasalah pada hari ‘Asyura dan selisihilah kaum Yahudi dengan berpuasa satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya.”
Jika engkau tidak bisa berpuasa tanggal 9, 10, dan 11 , maka engkau berpuasalah pada tanggal 9 dan 10 atau tanggal 10 dan 11 Muharram .Bila itupun tidak dapat, maka berpuasalah pada tanggal 10.
Namun dalam riwayatnya Nabi belum sempat menjalani puasa tanggal 9 dan 11 karena beliau wafat.
2. 2. Hari Kasih Sayang
Muharram adalah bulan mulia,bahkan Nabi mengatakan bahwa tanggal 10 Muharram juga disebut Hari Kasih Sayang. Dan Nabi memperingati dengan berpuasa dan menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Anehnya disini ibu-ibu justru memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Ini kekeliruan besar yang harus diluruskan.
Tidak ada salahnya kita mengadakan acara, mengundang fakir miskin dan anak yatim di masjid untuk diberi santunan. Tidak berarti ini riya, karena hal ini dalam rangka syi'ar agama , memberi contoh kepada yang lain agar mereka menirukan.
*3.Dzulqo'dah dan Dzulhijjah*
Dua bulan tadi adalah sejarah awalnya Ibadah Haji.
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ
"Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan haji dalam bulan-bulan itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam haji..." (QS. Al-Baqarah 197)
3. 1. Syariat Haji
Haji itu waktunya sudah ditentukan pada musim haji yaitu bulan Dzulqo'dah dan Dzulhijjah, walaupun puncaknya hanya pada tanggal 8 sd 14 Dzulhijjah. Jadi cuma 7 hari. Namun karena semua orang harus melakukan ibadah pada waktu yang sama, maka perlu penjadualan kedatangan dan pemulangan haji.
Saat ini daftar tunggunya saja sudah sampai 23 tahun. Sehingga akhirnya berangkat sudah tua sekali. Memang hal ini bukan ukuran keberhasilan, karena ada yang tua justru sehat dan yang muda sakit.
Pada saat haji kita dilarang untuk rafats , berbuat maksiat, dan bertengkar. Ini adalah miniatur awal agar baik, maka tidak berarti bahwa setelah pulang lalu tidak dilarang.
Larangan ini sepulang haji tetap berlaku untuk menjaga kemabruran haji. Kita tak boleh berbantahan, mestinya setelah haji dan telah melihat berbagai macam cara shalat akan menambah toleransi kita. Berbeda-beda tadi memang ada dasarnya masing-masing. Yang penting Syarat dan Rukun tidak salah.
3.2. Syariat Qurban.
Berikutnya dalam bulan ini ada Syariat ibadah qurban.
Allah SWT berfirman:
اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.
Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah."
(QS. Al-Kausar Ayat 1- 2)
Mereka yang berkiblat pada ayat ini mengatakan qurban hukumnya wajib bagi yang lapang.
Tetapi mereka yang berkiblat pada hadits Rasulullah SAW ketika menyembelih dua ekor kambing pada hari ‘Id. Hukum Qurban adalah Sunah Muakkad.
Beliau berkata, " Ya, Allah! Sesungguhnya ini dariMu dan untukMu, kurban dari Muhammad dan umatnya...”
3. 3. Sejarah Qurban
3. 3. 1. Jaman Nabi Adam.
Dari sejarahnya qurban sudah ada sejak Nabi Adam a.s. Ketika Nabi Adam a.s mau menikahkan putera-puterinya mereka diminta berqurban. Putera-putera Nabi Adam a.s dalam berqurban diberikan pilihan dan yang diterima qurbannya boleh memilih isterinya. Ketika salah satu diterima qurbannya, maka yang lain iri dan terjadilah pembunuhan yang pertama. Kemudian turun syariat tentang perawatan jenazah.
3. 3. 2. Jaman Nabi Ibrahim
Qurban berikutnya pada jaman Nabi Ibrahim a.s. Riwayatnya karena ada nadzar atau janji. Nabi Ibrahim a.s ini perintis perdagangan di negeri Arab saat itu. Beliau memberikan makan gratis pada tamu-tamunya, bahkan pernah sampai menyembelih 100 ekor onta. Beliau banyak dipuji sampai akhirnya beliau lupa bahwa yang berhak mendapat pujian hanya Allah SWT. Nabi Ibrahim a.s sampai bernadzar bahwa jika punya anak dia sanggup mengorbankannya. Ini nadzar sebelum punya anak.
Ketika beliau punya anak, kemudian Nabi Ibrahim a.s menjalani beberapa ujian. Salah satunya adalah meninggalkan isteri dan anaknya di suatu tempat sampai 12 tahun.
Mereka kemudian dipertemukan, tapi kemudian beliau diingatkan oleh Allah tentang nadzarnya melalui mimpi 3 kali.
"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.." (QS. As-Saffat 102)
3. 3. 3. Jaman Pra Islam
Qurban berikutnya terjadi sebelum Islam. Ketika itu Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad ) bertugas sebagai siqoyah (Petugas pemberi minum kepada jama'ah). Pada suatu saat sumur mereka kering. Kemudian muncul cerita tentang sumur zam-zam yang saat itu hilang karena pernah ditimbun.
Ketika kemudian mendapat petunjuk letak sumur zam-zam maka Abdul Muthalib mulai menggali. Dia membayangkan jika anaknya banyak maka pekerjaannya ringan.
Abdul Muthalib berdo'a agar jika dia diberi anak laki-laki banyak (10) , dia bersedia mengorbankan salah satu anaknya.
Do'a Abdul Muthalib dikabulkan Allah, beliau mempunyai 10 anak putera dan 3 puteri. Dia diingatkan akan nadzarnya. Kemudian Abdullah yang terpilih untuk qurban. Namun atas saran Pendeta saat itu qurban itu diganti dengan 100 onta.
Maka qurban pada waktu pra islam juga berupa teguran.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Drs. Syarif Hidayat , MSi
21 Dzulhijjah 1439 H / 2 September 2018
BULAN HARAM
اِنَّ عِدَّةَ الشُّ:هُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram.." (QS. At-Taubah 36)
Bertepatan dengan penciptaan langit dan bumi , Allah telah menetapkan ada 4 bulan haram atau bulan yang dimuliakan. 4 bulan yang dimuliakan ini kita bisa melihat :
1. Dalam tafsir Ibnu Katsir.
2. Pada Terjemah Al Qur'an dari Depag dalam Surat Al Baqarah ayat 197.
Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan bulan haram adalah bulan Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rojab. Saat ini kita masih berada di akhir bulan Dzulhijjah.
*1. Bulan Rojab*
Bulan Rojab menjadi istimewa karena ada peristiwa besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi di kemudian hari, yaitu peristiwa Isra' Miradj Nabi Muhammad SAW.
Intisari dari peristiwa itu adalah kita sebagai umat islam harus benar-benar menjaga shalat. Bukan sekedar menjaga pelaksanaan shalat saja tetapi juga menjaga makna shalat.
Kalau kita menjaga pelaksanaan dan makna shalat maka terciptalah islam rahmatan lil alamien. Karena makna shalat adalah hablu minallah dan hablu minannas.
Perlu dipertanyakan jika ada orang sudah shalat tetapi masih pelit. Perlu dipertanyakan jika ada orang sudah shalat tetapi masih bertengkar dengan tetangga, masih mengurangi timbangan, masih korupsi dan sebagainya. Itu berarti shalatnya belum menjadi kepribadian hidupnya.
Shalat itu sangat penting, ketika Allah menyampaikan perintahNya maka Allah menurunkan Firman. Namun ketika perintah Shalat, Allah memanggil RasulNya untuk menghadap.
1.1. Kedudukan Shalat.
قال النبي صلى الله عليه واله: موضع الصلاة من الدين كموضع الرأس من الجسد
Rasulullah saw bersabda:
“Kedudukan shalat dari agama adalah seperti kedudukan kepala dari badan.”
Tanpa tangan, tanpa kaki manusia dapat hidup, tetapi tanpa kepala manusia tak dapat hidup.
Dalam hadits lain dikatakan betapa pentingnya shalat jama'ah, betapa pentingnya shalat subuh. Maka jika orang tahu pahala shalat subuh berjama'ah niscaya dia akan datang ke masjid, meskipun harus merangkak. Maka pada saat ini ada masjid-masjid yang sudah menyiapkan kursi untuk mereka yang terpaksa harus melakukan shalat dengan duduk.
1. 2. Shalat membedakan Muslim dengan Kafir.
Pada hadits lain dikatakan bahwa yang membedakan antara orang muslim dan orang kafir adalah shalat. Ada bapak-bapak yang hobby nonton bola pada malam hari sehingga waktu subuh mereka mengantuk. Maka perbedaan begadangnya yang muslim dengan yang tidak adalah orang muslim akan tetap shalat subuh dan yang lain akan tidur. Apapun profesinya, guru, tentara, polisi ataupun pedagang yang muslim ketika tiba waktu shalat mereka menghentikan kegiatannya untuk shalat. Maka kita dapat menyaksikan di Mekkah, Medinah ketika menjelang adzan pedagang-pedagang siap-siap menutup dagangannya.
1. 3. Shalat adalah amalan pertama yang dihisab oleh Allah SWT.
Barang siapa shalatnya bagus maka akan bagus pula amal-amal yang lain.
*2. Bulan Muharram*
Muharram adalah bulan pertama dari kalender Hijriyah yang dimuliakan Allah. Tetapi apakah kita akan memuliakan Muharram atau tidak itu kembali ke masing-masing pribadi. Kita akan menyebut. Muharram atau nama lain yang justru dianggap bulan bencana yaitu Suro maka harus dimulai dari diri kita sendiri.
Mengubah budaya ini butuh usaha pembiasaan. Biasakan diri kita melakukan hal baik di bulan Muharram, seperti beli rumah, rehab rumah. Kita sosialisasikan bahwa Muharram itu bulan baik dan tak perlu ketakutan dengan bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pertolongan Allah pada Nabi Adam terjadi pada bulan Muharram. Demikian juga pertolongan Allah pada Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Musa , Nabi Sulaiman, Nabi Daud semua pada bulan Muharram.
Bagaimana bulan Muharram akan mulia jika kita sebagai umat islam tidak memuliakan?
Kita tidak gampang mengembalikan istilah Minggu menjadi Ahad. Ini butuh pembiasaan.
Sama dengan Muharram, apabila kita tidak membiasakan dengan menyebut bulan Muharram maka yg terbayang adalah Suro dengan segala macam kegiatan bulan Suro.
Lebih-lebih jika masuknya bulan bersama musim puting beliung, maka akan tambah menyeramkan. Padahal kita semua yang belajar IPA tahu tentang fenomena alam, adanya angin darat dan angin laut.
Allah menurunkan air dan meniupkan angin sesuai kebutuhan manusia. Tetapi jika dalam energi alam ada yang hilang maka terjadilah ketimpangan. Ibarat bangunan yang disangga empat tiang kokoh, tiba-tiba rusak satu tiang maka akan roboh. Maka ketika angin laut yang mestinya ditahan hutan bakau, namun kemudian hutan bakau hilang , maka angin akan membesar jadi puting beliung. Ini bukan kesialan, tapi akibat dari perbuatan kita sendiri.
Maka dalam Al Qur'an , berkali-kali kita diperintah untuk berfikir :
"a fa laa ta'qiluun ?"
"a fa laa tazakkaruun ?"
Bagaimana kita memuliakan Muharram, mestinya kita mencontoh kepada Rasulullah SAW.
2. 1 . Amalan Puasa Muharram
Pada awalnya Rasul berpuasa pada tanggal 10 Muharram ( hari 'Asyura)
Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’
Nabi berpuasa pada tahun ke 9 Hijriah. Maka pada saat itu Rasul menjawab :
" Bukankah kita beriman kepada Nabi Isa a. s, Nabi Ibrahim a. s dan Nabi Ishak a.s ?
كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰٓئِكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ
"... Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya..." (QS. Al-Baqarah 285)
Kita umat islam wajib mengimani 25 Rasul, kita tak perlu hafal namun setidaknya kita pernah mendengar nama mereka. Maka jaman dulu kakek kita mengajarkan syi'iran yang menyebut nama-nama Nabi.
Kenapa kita perlu tahu? Karena kita disunahkan memberi salam jika kita mendengar Nama Nabi diucapkan oleh seseorang.
Maka kalau mereka berpuasa, kita umat islam juga berhak untuk puasa. Dan untuk menyelisihi kaum Yahudi, Nabi SAW memerintahkan :
“Berpuasalah pada hari ‘Asyura dan selisihilah kaum Yahudi dengan berpuasa satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya.”
Jika engkau tidak bisa berpuasa tanggal 9, 10, dan 11 , maka engkau berpuasalah pada tanggal 9 dan 10 atau tanggal 10 dan 11 Muharram .Bila itupun tidak dapat, maka berpuasalah pada tanggal 10.
Namun dalam riwayatnya Nabi belum sempat menjalani puasa tanggal 9 dan 11 karena beliau wafat.
2. 2. Hari Kasih Sayang
Muharram adalah bulan mulia,bahkan Nabi mengatakan bahwa tanggal 10 Muharram juga disebut Hari Kasih Sayang. Dan Nabi memperingati dengan berpuasa dan menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Anehnya disini ibu-ibu justru memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Ini kekeliruan besar yang harus diluruskan.
Tidak ada salahnya kita mengadakan acara, mengundang fakir miskin dan anak yatim di masjid untuk diberi santunan. Tidak berarti ini riya, karena hal ini dalam rangka syi'ar agama , memberi contoh kepada yang lain agar mereka menirukan.
*3.Dzulqo'dah dan Dzulhijjah*
Dua bulan tadi adalah sejarah awalnya Ibadah Haji.
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ
"Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan haji dalam bulan-bulan itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam haji..." (QS. Al-Baqarah 197)
3. 1. Syariat Haji
Haji itu waktunya sudah ditentukan pada musim haji yaitu bulan Dzulqo'dah dan Dzulhijjah, walaupun puncaknya hanya pada tanggal 8 sd 14 Dzulhijjah. Jadi cuma 7 hari. Namun karena semua orang harus melakukan ibadah pada waktu yang sama, maka perlu penjadualan kedatangan dan pemulangan haji.
Saat ini daftar tunggunya saja sudah sampai 23 tahun. Sehingga akhirnya berangkat sudah tua sekali. Memang hal ini bukan ukuran keberhasilan, karena ada yang tua justru sehat dan yang muda sakit.
Pada saat haji kita dilarang untuk rafats , berbuat maksiat, dan bertengkar. Ini adalah miniatur awal agar baik, maka tidak berarti bahwa setelah pulang lalu tidak dilarang.
Larangan ini sepulang haji tetap berlaku untuk menjaga kemabruran haji. Kita tak boleh berbantahan, mestinya setelah haji dan telah melihat berbagai macam cara shalat akan menambah toleransi kita. Berbeda-beda tadi memang ada dasarnya masing-masing. Yang penting Syarat dan Rukun tidak salah.
3.2. Syariat Qurban.
Berikutnya dalam bulan ini ada Syariat ibadah qurban.
Allah SWT berfirman:
اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.
Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah."
(QS. Al-Kausar Ayat 1- 2)
Mereka yang berkiblat pada ayat ini mengatakan qurban hukumnya wajib bagi yang lapang.
Tetapi mereka yang berkiblat pada hadits Rasulullah SAW ketika menyembelih dua ekor kambing pada hari ‘Id. Hukum Qurban adalah Sunah Muakkad.
Beliau berkata, " Ya, Allah! Sesungguhnya ini dariMu dan untukMu, kurban dari Muhammad dan umatnya...”
3. 3. Sejarah Qurban
3. 3. 1. Jaman Nabi Adam.
Dari sejarahnya qurban sudah ada sejak Nabi Adam a.s. Ketika Nabi Adam a.s mau menikahkan putera-puterinya mereka diminta berqurban. Putera-putera Nabi Adam a.s dalam berqurban diberikan pilihan dan yang diterima qurbannya boleh memilih isterinya. Ketika salah satu diterima qurbannya, maka yang lain iri dan terjadilah pembunuhan yang pertama. Kemudian turun syariat tentang perawatan jenazah.
3. 3. 2. Jaman Nabi Ibrahim
Qurban berikutnya pada jaman Nabi Ibrahim a.s. Riwayatnya karena ada nadzar atau janji. Nabi Ibrahim a.s ini perintis perdagangan di negeri Arab saat itu. Beliau memberikan makan gratis pada tamu-tamunya, bahkan pernah sampai menyembelih 100 ekor onta. Beliau banyak dipuji sampai akhirnya beliau lupa bahwa yang berhak mendapat pujian hanya Allah SWT. Nabi Ibrahim a.s sampai bernadzar bahwa jika punya anak dia sanggup mengorbankannya. Ini nadzar sebelum punya anak.
Ketika beliau punya anak, kemudian Nabi Ibrahim a.s menjalani beberapa ujian. Salah satunya adalah meninggalkan isteri dan anaknya di suatu tempat sampai 12 tahun.
Mereka kemudian dipertemukan, tapi kemudian beliau diingatkan oleh Allah tentang nadzarnya melalui mimpi 3 kali.
"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.." (QS. As-Saffat 102)
3. 3. 3. Jaman Pra Islam
Qurban berikutnya terjadi sebelum Islam. Ketika itu Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad ) bertugas sebagai siqoyah (Petugas pemberi minum kepada jama'ah). Pada suatu saat sumur mereka kering. Kemudian muncul cerita tentang sumur zam-zam yang saat itu hilang karena pernah ditimbun.
Ketika kemudian mendapat petunjuk letak sumur zam-zam maka Abdul Muthalib mulai menggali. Dia membayangkan jika anaknya banyak maka pekerjaannya ringan.
Abdul Muthalib berdo'a agar jika dia diberi anak laki-laki banyak (10) , dia bersedia mengorbankan salah satu anaknya.
Do'a Abdul Muthalib dikabulkan Allah, beliau mempunyai 10 anak putera dan 3 puteri. Dia diingatkan akan nadzarnya. Kemudian Abdullah yang terpilih untuk qurban. Namun atas saran Pendeta saat itu qurban itu diganti dengan 100 onta.
Maka qurban pada waktu pra islam juga berupa teguran.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Selasa, 21 Agustus 2018
Khutbah Iedhul Adha 1439 H / 2018 Lapangan Setiabudi Banyumanik
HAKEKAT QURBAN ADALAH KEBERPIHAKAN KEPADA ALLAH
Oleh : Drs. H. Sukamdo. M. Si
PCM / Majelis Tabligh Muhammadiyah
Banyumanik - Semarang
Perkenankanlah kami memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan inayahNya kita dapat merayakan Hari Raya Idhul Adha dengan tenang dan khidmad dan dapat melaksanakan sholat Ied dengan khusyuk, semoga ibadah kita diterima Allah SWT.
Pada kesempatan ini kita bisa mengambil pelajaran dari Nabi Ibrahim a.s. Dikisahkan bahwa Ibrahim a.s sangat mencintai anaknya sehingga kecintaannya tersebut telah menimbulkan attachment / keberpihakan yang berlebihan, bahkan melebihi kecintaannya kepada Allah SWT.
Rasa cinta seperti itu telah membuatnya bersikap tidak adil. Dikisahkan Nabi Ibrahim a.s selalu berpihak kepada anaknya apabila anaknya berselisih dengan kawannya. Padahal sebagai seorang Nabi yang membawa ajaran Allah SWT sikap seperti itu akan membahayakan karena sulit baginya untuk berbuat adil, mencintai sesama dengan tidak pandang bulu, serta melakukan kebaikan dengan ikhlas.
Maka Allah SWT menyuruh Nabi Ibrahim a.s mengorbankan anaknya yang sebetulnya dimaksudkan bukan untuk menyembelih anaknya, tetapi untuk memotong rasa attachment / keberpihakan yang begitu besar kepada sesuatu selain Allah SWT. Ketika itulah Nabi Ibrahim a.s mendapat ujian yang begitu berat, sehingga digambarkan begitu sedihnya Ibrahim a.s mendapatkan perintah tersebut.
Setelah melalui perjuangan batin, Nabi Ibrahim a.s mengajak musyawarah kepada anaknya seperti tersebut dalam Al Qur'an surat Ash Shaffat.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْۤ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْۤ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى ۗ
"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!"
قَالَ يٰۤاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Saffat 102)
Setelah melalui perjuangan batin yang panjang dan karena didorong pula oleh anaknya untuk melaksanakan perintah tersebut, akhirnya ia rela mengorbankan anaknya. Ketika pisau sedang diayunkan untuk mengorbankan anaknya, ketika itulah rasa keberpihakan kepada anaknya terputus, sehingga Allah SWT menyetop Ibrahim a.s dan menyuruh menggantikan korbannya dengan seekor kambing gibas.
Kenabian Ibrahim a.s telah sempurna karena saat itu ia hanya mempunyai attachment / keberpihakan kepada Allah SWT, sehingga ia dapat memperlakukan setiap manusia dengan adil, kasih sayang, serta betul-betul ikhlas karena keberpihakan hanya kepada Allah SWT, bukan karena ingin dipuji atau alasan-alasan lainnya.
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Bila kita perhatikan ayat di atas maka akan kita dapati 4 pelajaran darinya.
1. Pelajaran untuk menjunjung tinggi perintah Allah.
2. Ketegaran Nabi Ibrahim a.s dalam menghadapi cobaan / ujian.
3. Pentingnya memberi bekal ilmu dan rasa taqwa kepada anak.
4. Kesabaran Nabi Ismail a.s dan Nabi Ibrahim a.s dalam melaksanakan perintah Allah.
Apabila isi kandungan ayat tersebut kita ambil hikmahnya, kemudian kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari in syaa Allah bangsa ini akan segera bangkit dari persoalan-persoalan keterpurukan selama ini.
Coba kita bayangkan bagaimana dampak positifnya jika umat islam menjunjung tinggi perintah Allah. Tentunya segala aktivitas kerjanya akan punya nilai kendali dan otomatis hal-hal yang negatif akan terhindari.
Kita bisa juga mencoba merenungkan bagaimana hasilnya bila dalam hidup ini kita memiliki ketegaran dalam menghadapi bermacam-macam cobaan. Tentu tidak akan mudah untuk dibelokkan ke arah yang negatif dan merugikan.
Kita bisa memperhatikan bagaimana hasilnya apabila seorang ayah berhasil memberi bekal kepada anaknya berupa ilmu dan rasa taqwa terhadap Allah. Tentu kelak orang tua akan bahagia dan anaknyapun akan menempuh masa depan dengan penuh harapan.
Bagaimana indahnya andaikata bangsa ini bisa mengendalikan emosinya. Maka cobaan yang berbentuk apapun tentunya bisa diatasi dengan baik dan dampaknya adalah Allah SWT akan mengganti musibah dengan kemenangan / kebahagiaan.
Dari peristiwa ini juga dapat diambil pelajaran :
1. Tokoh Nabi Ibrahim a.s sebagai seorang ayah yang harus dijadikan contoh bagi ayah-ayah masa kini. Ia amat mencintai anak dan isterinya , tetapi cintanya kepada Allah SWT berada di atas segala-galanya. Nabi Ibrahim a.s memberikan contoh sebagai orang tua yang baik harus mau bermusyawarah dengan anak dan keluarganya.
2. Siti Hajar yang sangat kuat imannya dan setia kepada suami serta cinta dan kasih sayang kepada puteranya. Ibu yang demikian wajib diteladani oleh ibu-ibu masa kini. Seorang ibu yang baik adalah yang sabar dan tabah. Tidak berduka ketika suaminya tercinta meninggalkannya seorang diri di gurun pasir Sahara, ia merelakan pergi suaminya, karena kepergiannya untuk memenuhi panggilan Ilahi. Kesetiaan, keikhlasan Siti Hajar perlu dicontoh dan diteladani oleh ibu-ibu dan wanita masa kini. Ketabahan, kesabaran dan kesetiaan kepada suami merupakan sumber keharmonisan rumah tangga sekaligus kebahagiaan rumah tangga yaitu Rumah Tangga yang Sakinah, mawaddah wa rahmah.
3. Ismail adalah tokoh remaja, teladan/ contoh yang harus ditiru oleh remaja masa kini, untuk mewujudkan takwanya dan baktinya kepada Allah SWT dan kepada orang tua, ia rela mengorbankan nyawanya berpisah dengan jasadnya. Bukankah itu suatu pengorbanan yang luar biasa?
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Sehingga wajarlah Allah SWT menyatakan dalam Al Qur'an :
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰٓ ؤُا الْمُبِيْنُ
"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (QS. As-Saffat 106)
Anak yang baik adalah anak yang taat, tunduk, patuh pada Allah SWT serta kepada orang tuanya.
Kepada saudaraku yang diberi kemudahan rezeki kami berharap mau melaksanakan qurban. Kita masih mempunyai kesempatan hari ini, 3 hari sesudahnya. Jangan kita ingkari perintah Allah SWT. Jangan kita hanya mementingkan kepentingan diri kita sendiri tanpa memikirkan fakir miskin.
Sungguh mengkhawatirkan sekali orang yang tidak mau menyembelih qurban sementara mereka mampu.
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَ لَمْ يُضَحّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا.
“Barangsiapa yang mempunyai kelapangan rezqi, tetapi tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”. [HR. Ibnu Majah]
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Jadi makna qurban yang secara ritual dirayakan oleh umat Islam setiap tahunnya adalah bukan semata-mata untuk menyembelih kambing atau sapi saja. Tetapi harus diniatkan untuk "menyembelih" keberpihakan kita kepada selain Allah SWT seperti berhala-berhala, kebanggaan diri, uang, status, kekuasaan, golongan dan kesombongan.
Ketika kita telah berpihak kepada Allah SWT kita baru bisa berbuat baik kepada sesama manusia dengan ikhlas dan adil.
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا دِمَآ ؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَـكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
"Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj 37)
*Manfaat Ibadah Qurban*
Dalam surat Al Kautsar terkandung pesan bahwa pembuktian seorang yang beriman yakni menegakkan sholat dan berkorban. Ketika seseorang beriman dan taat kepada Allah SWT dia akan diminta pengorbanannya.
Adapun manfaat berqurban :
1. Berqurban meningkatkan kepedulian, solidaritas dan jiwa sosial terhadap sesama manusia.
2. Berqurban berarti berbagi harta dengan sesama dan ikut membahagiakan mereka.
3. Qurban memberikan pendidikan bagi umat islam agar suka berkorban.
4. Berqurban tidak hanya menyembelih hewan saja, tetapi juga berkorban uang, tenaga dan waktu, serta pikiran.
5. Berqurban dapat menghilangkan sifat kebinatangan yang penuh dengan hawa nafsu.
6. Berqurban dapat mencegah perbuatan dholim seseorang.
7. Berqurban dapat meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
8. Berqurban adalah bagian janji yang diucapkan tiap-tiap sholat. "Sesungguhnya sholatku, pengorbananku ,hidupku, dan matiku hanya untuk Allah SWT ". Karenanya berapa rupiah yang digelontorkan untuk berqurban, semata untuk membuktikan kepatuhan seseorang kepada Allah SWT.
9. Berqurban membahagiakan kaum dhuafa, fakir miskin dan orang sekitarnya.
10. Berqurban dapat mensejahterakan peternak-peternak lokal.
11. Berqurban mempererat tali persaudaraan.
12. Berqurban adalah untuk fastabiqul khoirot.
Jama'ah shalat Iedhul Adha rahimaahullaah.
Ada pertanyaan bagi kita semua, kenapa selama ini kami belum mampu berqurban? Kenapa kami baru berqurban satu kali?
Kepada saudara-saudara yang saat ini bisa berqurban kita do'akan mudah -mudahan tahun depan kita bisa berqurban lagi.
Kepada saudara -saudaraku yang saat ini belum berqurban kita do'akan mudah -mudahan tahun depan bisa berqurban. Aamiin yaa Robbal 'Aalamiin.
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Marilah bersama-sama kita berdo'a sebagaimana do'a yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s.
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّـعْبُدَ الْاَصْنَامَ
"Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala."
(QS. Ibrahim 35)
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim 40)
رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلـِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ
"Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat)." (QS. Ibrahim 41)
رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 23)
رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan 74)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَـنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr 10)
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah 201)
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Oleh : Drs. H. Sukamdo. M. Si
PCM / Majelis Tabligh Muhammadiyah
Banyumanik - Semarang
Perkenankanlah kami memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan inayahNya kita dapat merayakan Hari Raya Idhul Adha dengan tenang dan khidmad dan dapat melaksanakan sholat Ied dengan khusyuk, semoga ibadah kita diterima Allah SWT.
Pada kesempatan ini kita bisa mengambil pelajaran dari Nabi Ibrahim a.s. Dikisahkan bahwa Ibrahim a.s sangat mencintai anaknya sehingga kecintaannya tersebut telah menimbulkan attachment / keberpihakan yang berlebihan, bahkan melebihi kecintaannya kepada Allah SWT.
Rasa cinta seperti itu telah membuatnya bersikap tidak adil. Dikisahkan Nabi Ibrahim a.s selalu berpihak kepada anaknya apabila anaknya berselisih dengan kawannya. Padahal sebagai seorang Nabi yang membawa ajaran Allah SWT sikap seperti itu akan membahayakan karena sulit baginya untuk berbuat adil, mencintai sesama dengan tidak pandang bulu, serta melakukan kebaikan dengan ikhlas.
Maka Allah SWT menyuruh Nabi Ibrahim a.s mengorbankan anaknya yang sebetulnya dimaksudkan bukan untuk menyembelih anaknya, tetapi untuk memotong rasa attachment / keberpihakan yang begitu besar kepada sesuatu selain Allah SWT. Ketika itulah Nabi Ibrahim a.s mendapat ujian yang begitu berat, sehingga digambarkan begitu sedihnya Ibrahim a.s mendapatkan perintah tersebut.
Setelah melalui perjuangan batin, Nabi Ibrahim a.s mengajak musyawarah kepada anaknya seperti tersebut dalam Al Qur'an surat Ash Shaffat.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْۤ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْۤ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى ۗ
"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!"
قَالَ يٰۤاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Saffat 102)
Setelah melalui perjuangan batin yang panjang dan karena didorong pula oleh anaknya untuk melaksanakan perintah tersebut, akhirnya ia rela mengorbankan anaknya. Ketika pisau sedang diayunkan untuk mengorbankan anaknya, ketika itulah rasa keberpihakan kepada anaknya terputus, sehingga Allah SWT menyetop Ibrahim a.s dan menyuruh menggantikan korbannya dengan seekor kambing gibas.
Kenabian Ibrahim a.s telah sempurna karena saat itu ia hanya mempunyai attachment / keberpihakan kepada Allah SWT, sehingga ia dapat memperlakukan setiap manusia dengan adil, kasih sayang, serta betul-betul ikhlas karena keberpihakan hanya kepada Allah SWT, bukan karena ingin dipuji atau alasan-alasan lainnya.
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Bila kita perhatikan ayat di atas maka akan kita dapati 4 pelajaran darinya.
1. Pelajaran untuk menjunjung tinggi perintah Allah.
2. Ketegaran Nabi Ibrahim a.s dalam menghadapi cobaan / ujian.
3. Pentingnya memberi bekal ilmu dan rasa taqwa kepada anak.
4. Kesabaran Nabi Ismail a.s dan Nabi Ibrahim a.s dalam melaksanakan perintah Allah.
Apabila isi kandungan ayat tersebut kita ambil hikmahnya, kemudian kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari in syaa Allah bangsa ini akan segera bangkit dari persoalan-persoalan keterpurukan selama ini.
Coba kita bayangkan bagaimana dampak positifnya jika umat islam menjunjung tinggi perintah Allah. Tentunya segala aktivitas kerjanya akan punya nilai kendali dan otomatis hal-hal yang negatif akan terhindari.
Kita bisa juga mencoba merenungkan bagaimana hasilnya bila dalam hidup ini kita memiliki ketegaran dalam menghadapi bermacam-macam cobaan. Tentu tidak akan mudah untuk dibelokkan ke arah yang negatif dan merugikan.
Kita bisa memperhatikan bagaimana hasilnya apabila seorang ayah berhasil memberi bekal kepada anaknya berupa ilmu dan rasa taqwa terhadap Allah. Tentu kelak orang tua akan bahagia dan anaknyapun akan menempuh masa depan dengan penuh harapan.
Bagaimana indahnya andaikata bangsa ini bisa mengendalikan emosinya. Maka cobaan yang berbentuk apapun tentunya bisa diatasi dengan baik dan dampaknya adalah Allah SWT akan mengganti musibah dengan kemenangan / kebahagiaan.
Dari peristiwa ini juga dapat diambil pelajaran :
1. Tokoh Nabi Ibrahim a.s sebagai seorang ayah yang harus dijadikan contoh bagi ayah-ayah masa kini. Ia amat mencintai anak dan isterinya , tetapi cintanya kepada Allah SWT berada di atas segala-galanya. Nabi Ibrahim a.s memberikan contoh sebagai orang tua yang baik harus mau bermusyawarah dengan anak dan keluarganya.
2. Siti Hajar yang sangat kuat imannya dan setia kepada suami serta cinta dan kasih sayang kepada puteranya. Ibu yang demikian wajib diteladani oleh ibu-ibu masa kini. Seorang ibu yang baik adalah yang sabar dan tabah. Tidak berduka ketika suaminya tercinta meninggalkannya seorang diri di gurun pasir Sahara, ia merelakan pergi suaminya, karena kepergiannya untuk memenuhi panggilan Ilahi. Kesetiaan, keikhlasan Siti Hajar perlu dicontoh dan diteladani oleh ibu-ibu dan wanita masa kini. Ketabahan, kesabaran dan kesetiaan kepada suami merupakan sumber keharmonisan rumah tangga sekaligus kebahagiaan rumah tangga yaitu Rumah Tangga yang Sakinah, mawaddah wa rahmah.
3. Ismail adalah tokoh remaja, teladan/ contoh yang harus ditiru oleh remaja masa kini, untuk mewujudkan takwanya dan baktinya kepada Allah SWT dan kepada orang tua, ia rela mengorbankan nyawanya berpisah dengan jasadnya. Bukankah itu suatu pengorbanan yang luar biasa?
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Sehingga wajarlah Allah SWT menyatakan dalam Al Qur'an :
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰٓ ؤُا الْمُبِيْنُ
"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (QS. As-Saffat 106)
Anak yang baik adalah anak yang taat, tunduk, patuh pada Allah SWT serta kepada orang tuanya.
Kepada saudaraku yang diberi kemudahan rezeki kami berharap mau melaksanakan qurban. Kita masih mempunyai kesempatan hari ini, 3 hari sesudahnya. Jangan kita ingkari perintah Allah SWT. Jangan kita hanya mementingkan kepentingan diri kita sendiri tanpa memikirkan fakir miskin.
Sungguh mengkhawatirkan sekali orang yang tidak mau menyembelih qurban sementara mereka mampu.
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَ لَمْ يُضَحّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا.
“Barangsiapa yang mempunyai kelapangan rezqi, tetapi tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”. [HR. Ibnu Majah]
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Jadi makna qurban yang secara ritual dirayakan oleh umat Islam setiap tahunnya adalah bukan semata-mata untuk menyembelih kambing atau sapi saja. Tetapi harus diniatkan untuk "menyembelih" keberpihakan kita kepada selain Allah SWT seperti berhala-berhala, kebanggaan diri, uang, status, kekuasaan, golongan dan kesombongan.
Ketika kita telah berpihak kepada Allah SWT kita baru bisa berbuat baik kepada sesama manusia dengan ikhlas dan adil.
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا دِمَآ ؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَـكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
"Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj 37)
*Manfaat Ibadah Qurban*
Dalam surat Al Kautsar terkandung pesan bahwa pembuktian seorang yang beriman yakni menegakkan sholat dan berkorban. Ketika seseorang beriman dan taat kepada Allah SWT dia akan diminta pengorbanannya.
Adapun manfaat berqurban :
1. Berqurban meningkatkan kepedulian, solidaritas dan jiwa sosial terhadap sesama manusia.
2. Berqurban berarti berbagi harta dengan sesama dan ikut membahagiakan mereka.
3. Qurban memberikan pendidikan bagi umat islam agar suka berkorban.
4. Berqurban tidak hanya menyembelih hewan saja, tetapi juga berkorban uang, tenaga dan waktu, serta pikiran.
5. Berqurban dapat menghilangkan sifat kebinatangan yang penuh dengan hawa nafsu.
6. Berqurban dapat mencegah perbuatan dholim seseorang.
7. Berqurban dapat meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
8. Berqurban adalah bagian janji yang diucapkan tiap-tiap sholat. "Sesungguhnya sholatku, pengorbananku ,hidupku, dan matiku hanya untuk Allah SWT ". Karenanya berapa rupiah yang digelontorkan untuk berqurban, semata untuk membuktikan kepatuhan seseorang kepada Allah SWT.
9. Berqurban membahagiakan kaum dhuafa, fakir miskin dan orang sekitarnya.
10. Berqurban dapat mensejahterakan peternak-peternak lokal.
11. Berqurban mempererat tali persaudaraan.
12. Berqurban adalah untuk fastabiqul khoirot.
Jama'ah shalat Iedhul Adha rahimaahullaah.
Ada pertanyaan bagi kita semua, kenapa selama ini kami belum mampu berqurban? Kenapa kami baru berqurban satu kali?
Kepada saudara-saudara yang saat ini bisa berqurban kita do'akan mudah -mudahan tahun depan kita bisa berqurban lagi.
Kepada saudara -saudaraku yang saat ini belum berqurban kita do'akan mudah -mudahan tahun depan bisa berqurban. Aamiin yaa Robbal 'Aalamiin.
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Marilah bersama-sama kita berdo'a sebagaimana do'a yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s.
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّـعْبُدَ الْاَصْنَامَ
"Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala."
(QS. Ibrahim 35)
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim 40)
رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلـِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ
"Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat)." (QS. Ibrahim 41)
رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 23)
رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan 74)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَـنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr 10)
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah 201)
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Senin, 20 Agustus 2018
Kajian Ahad AMM Banyumanik
Kajian Ahad AMM Banyumanik
MANHAJ MUHAMMADIYAH
Tanggal : 7 Dzulhijjah 1439 H/ 19 Agustus 2018
Nara sumber : Rahmat Suprapto
*Seputar masalah ibadah Fardhiyah*
Bagaimana cara kerja Muhammadiyah dalam proses istinbath (menetapkan) hukum ? Kadang ada yang menstigma Muhammadiyah ini barang aneh, Qunut tidak pakai, Tahlilan - Yasinan gak mau, sebagian ada yang cingkrang dan jenggotan. Di masyarakat ada yang mempermasalahkan ini bahkan ada yang salah menyalahkan.
Sekarang ini juga dipermasalahkan ketika Muhammadiyah menetapkan shalat Iedhul Adha. Ada yang heran, di Arab wukufnya hari Senin, mestinya Iedhul Adha hari Selasa. Tetapi kenapa Muhammadiyah menetapkan hari Rabu?
Kita perlu tahu, bahwa Muhammadiyah menetapkan hal ini menggunakan hisab, dan hisab Muhammadiyah sudah dibuktikan tepat sekali dengan kejadian Gerhana kemarin. Mekkah itu bahkan pernah salah menetapkan Wukuf.
Kajian kita ini dasarnya dari dua sumber :
1. Surat An Nisa 59
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Muhammad , dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul , jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' 59)
2. Hadits Nabi Muhammad SAW
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة نبيه
“Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya”.(HR. Muslim).
Beberapa theori yang dijadikan sumber adalah Buku HPT (Himpunan Putusan Tarjih) dan Hasil Keputusan Munas Tarjih tahun 2000.
*Manhaj Tarjih*
Pokok-pokok yang melandasi sebagai standar Muhammadiyah menetapkan hukum disebut dengan Manhaj Tarjih, yaitu :
- Pedoman yang digunakan oleh ulama Muhammadiyah atau sebagai pedoman bertarjih yang tentu mengalami dinamika.
- Manhaj Tarjih disusun dan dikembangkan berdasarkan pengalaman para ulama Muhammadiyah untuk menemukan hukum islam.
- Manhaj Tarjih secara harafiah berarti cara melakukan Tarjih.
Putusan Tarjih itu biasanya tentang hal yang baru atau sedang berkembang. Salah satu putusan sebagai contoh adalah haramnya memilih Pemimpin Non Muslim, ini adalah putusan MUI.
Ada lagi contoh tentang vaksin Meningitis untuk Haji. Dikatakan bahwa ada enzym babi sebagai bahan pembuat. Enzym babi tadi digunakan untuk pemantik munculnya virus baru. Ada beberapa barang yang menjijikkan yang dipakai, antara lain nanah dikuku sapi , kemudian ari-ari bayi dan ari-ari kera. Namun karena dalam keadaan darurat, tak dapat menemukan bahan lainnya dan banyak kemaslahatan yang didapat maka vaksin Meningitis diperbolehkan.
Tarjih tidak hanya sekedar kegiatan kuat-menguatkan atau melemahkan suatu pendapat yang ada, tetapi jauh lebih luas sehingga identik dengan ijtihad. Tarjih adalah setiap aktivitas intelektual untuk merespond realitas sosial dan kemanusiaan dari sudut pandang agama islam, khususnya dari sudut pandang norma-norma syariah.
*Model Manhaj Tarjih*
1. Periode KH Ahmad Azhar Bashir.
Menggunakan Methode Bayani , Qiyasi dan Istishlahi.
Bayani artinya menjelaskan teks.
Qiyasi, artinya mencari, menetapkan suatu hukum yang belum ada dengan yang sudah ada dalam Al Qur'an, contoh yang ada dalam Al Qur'an adalah larangan mengatakan "ah" kepada Orang tua,
فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ
"...maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah ..." (QS. Al-Isra' 23)
Maka menyakiti hati atau fisik juga tidak boleh.
Istishlahi adalah Penetapan hukum dengan cara dan penjelasan tentang makna-makna yang muncul dalam simbol-simbol, karena didahului dengan mengkhawatirkan efek domino yang luas.
Contoh : Penetapan bunga bank Konvensional sebagai riba. Ini berat karena tak boleh bertransaksi di bank konvensional, termasuk menabung tidak boleh.
2. Periode Prof. Amin Abdullah.
Menggunakan methode Bayani, Burhani dan Irfani.
Burhani lebih kepada intuisi. Burhan itu artinya bukti-bukti yang muncul.
Irfani maknanya pendalaman filosofis.
3. Periode Prof. Dr. Syamsul Anwar.
Menggunakan Methode al Qiyam al asasiyah ; al ushul al kuliyah ; al ahkam al fariyah.
Hampir sama sebenarnya theori-theori Tarjih tadi.
al Qiyam al asasiyah : Mengungkap makna-makna yang paling dasar. Mirip dengan Bayani, yang muncul secara tekstual.
al ushul al kuliyah : Filosofis. Pendekatan hukum islam lebih kepada hikmahnya, bukan pada ilatnya.
Contoh : Teks ayat mengenai khamr.Ini tahapan kedua.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْـتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ
"Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, ...." (QS. An-Nisa' 43)
Ini tentang khamr diharamkan bukan karena mabuknya, tapi karena ada hal yang lebih dahsyat daripada mabuk, ini model al ushul al kuliyah.
Ada tiga tahapan pelarangan khamr. Pada awalnya boleh, tapi ada peringatan bahwa ada banyak mudharatnya. Kedua tidak boleh bila minum bila mau shalat, karena akan lupa diri sementara. Tahap ketiga dilarang sama sekali.
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah 90)
Al ahkam al Fariyah : Masalah cabang-cabang, misalnya keputusan masalah rokok.
*Posisi Muhammadiyah*
Posisi Muhammadiyah diantara mainstream pemikiran hukum islam di Indonesia. Kalau kita perhatikan ada 3 pemikiran mainstream (theori besar), yaitu : Madzhabiyah, Salafiyah dan Tajdidiyah.
*1. Madzhabiyah.*
Dalam melaksanakan istinbath hukum, minimal harus mendasarkan pada minimal satu madzhab.
Bidang akidah , ujungnya pasti Asy'ariah, Maturidiyah dan Ahlus sunnah wal Jama'ah.
Bidang Fiqih : Syafi'iyah, Malikiah, Hanafiah, Hambaliah.
Bidang Akhlak / Tasawuf : Kitab Al Ihya ulumudin karya Al Gozhali.
*2. Salafiyah*
Menurut theorinya mengembalikan seluruh landasan hidup, kehidupan yang sekarang kembali kepada kehidupan Nabi dan Salafush sholeh, karena merupakan generasi terbaik.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari)
Bidang Syariah dan Akidah mendasari pada Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.
Maka orang Salafi di Indonesia kadang disebut sebagai Wahabi.
Wahabi ini menjadi "penasehat spiritual" kerajaan Saudi.
Salafi ini anti Madzhab, bahkan madzhab dianggap sumber konflik dan kemunduran. Mereka tidak bermadzhab tetapi diam-diam mengikuti ulama-ulama yang bermadzhab wahabi, yaitu : Syech Abdul Aziz bin Baz, Nashirudin al Albani, Utsaimin, Shaleh Fauzan.
*3. Tajdidiyah al Washatiyah Manhajiyah*
Posisi Muhammadiyah ada disini, mengambil theori dari Al Qur'an dan Hadits dengan Manhaj Salaf dan Ulama Madzhab.
Disinilah penyebab kenapa kadang ada yang menuduh Muhammadiyah itu Wahabi. Dalam hal akidah kita meyakini bahwa memang generasi Salaf itu terbaik.
Muhammadiyah tidak anti madzhab tapi tidak terikat oleh madzhab. Dalam arti mengapresiasi seluruh bangunan ilmu, turats.
Tajdid dengan makna purifikasi dalam akidah dan ibadah dan modernisasi pengembangan pada muamalah duniawiyah.
*Tiga Pilar Utama Muhammadiyah*
- Islam yang berkemajuan.
- Islam yang gagah, dengan muamalah yang didahulukan maka menjadi modern, dan Muhammadiyah berprinsip untuk jadi islam yang :
"al yadul ulya khairun minal yadis suflaa" (tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.)
- Islam yang lahir dari iman dan menghasilkan amal sholeh
- islam yang rahmatan lil alamien.
Itu adalah pola-pola aktivitas yang dapat kita amati dari gerakan Muhammadiyah.
*Cara Beribadah*
Ibadah adalah takarub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)
Cara beribadahnya umat islam secara umum sama, bila ada perbedaan hanya karena perbedaan pemahaman terhadap suatu dalil.
Proses yang terjadi adalah Proses Tarjih atau memilih dalil yang terkuat untuk dipakai.
Proses lain adalah Tajdid, memunculkan hukum atau ijtihad baru tentang hal baru seperti vaksin misalnya, dimana Ruh Tajdid adalah akidah dan ibadahnya murni tidak boleh dicampur. Dalam hal muamalah duniawiyah ada modernisasi.
Contoh tentang tajdid yang gampang adalah masalah wudhu.
Ada hadits Rasulullah :
إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ
“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya. ” (HR. Ibnu Majah)
Bila air dua qullah (kira-kira 200 liter) lebih , maka apa yang ada di dalamnya bukan najis.
Jaman dulu untuk wudhu di Masjid pakai bak besar, kadang kaki dimasukkan ke bak karena dianggap tidak mengubah kesucian air. Karena baknya besar sekali maka tak mungkin dikuras terus, karena jadi boros. Akhirnya bak tadi penuh lumut.
Bagaimana dengan Muhammadiyah? Muhammadiyah mengakui hadits tadi shahih. Namun mengambil sikap pembaruan, karena kita butuh lebih dari itu. Perlu sehat jasmani, fisik, spiritual dan sosial.
Muhammadiyah membuat keputusan Tajdid bahwa wudhu sebaiknya memakai kran.
Ini masalah muamalah, jadi boleh dengan pembaruan. Alhamdulillah sekarang semua masjid sudah memakai kran untuk wudhu.
Dalam hal ibadah, Muhammadiyah menolak pembaruan. Contohnya masih tentang wudhu, bahwa Niat wudhu itu dalam hati, melafalkan niat itu tambahan. Maka Muhammadiyah tidak melafalkan niat wudhu karena Nabi tak pernah melafalkan niat wudhu , tapi membaca basmalah. Kemudian setelah wudhu tak ada do'a khusus. Cukup dengan membaca Syahadatain.
Bagaimana dengan Salafiyah? Dalam hal ini sama. Mereka tidak melafalkan niat wudhu.
Lalu bagaimana dengan pengikut madzhabiyah? Mereka melafalkan niat karena memakai dalil umum
, “Amal itu tergantung niatnya, ".
Maka kadang ada yang bilang Muhammadiyah suka cari discount. Wudhu tak perlu pakai lafal niat, Shalat Tarawih tak mau 20 raka'at, maunya 8 raka'at saja. Padahal bukan itu alasannya. Alasan utama adalah Purifikasi jika ibadah meniru Nabi. Jika Nabi tidak melakukan maka Muhammadiyah tidak melakukan.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
MANHAJ MUHAMMADIYAH
Tanggal : 7 Dzulhijjah 1439 H/ 19 Agustus 2018
Nara sumber : Rahmat Suprapto
*Seputar masalah ibadah Fardhiyah*
Bagaimana cara kerja Muhammadiyah dalam proses istinbath (menetapkan) hukum ? Kadang ada yang menstigma Muhammadiyah ini barang aneh, Qunut tidak pakai, Tahlilan - Yasinan gak mau, sebagian ada yang cingkrang dan jenggotan. Di masyarakat ada yang mempermasalahkan ini bahkan ada yang salah menyalahkan.
Sekarang ini juga dipermasalahkan ketika Muhammadiyah menetapkan shalat Iedhul Adha. Ada yang heran, di Arab wukufnya hari Senin, mestinya Iedhul Adha hari Selasa. Tetapi kenapa Muhammadiyah menetapkan hari Rabu?
Kita perlu tahu, bahwa Muhammadiyah menetapkan hal ini menggunakan hisab, dan hisab Muhammadiyah sudah dibuktikan tepat sekali dengan kejadian Gerhana kemarin. Mekkah itu bahkan pernah salah menetapkan Wukuf.
Kajian kita ini dasarnya dari dua sumber :
1. Surat An Nisa 59
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Muhammad , dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul , jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' 59)
2. Hadits Nabi Muhammad SAW
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة نبيه
“Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya”.(HR. Muslim).
Beberapa theori yang dijadikan sumber adalah Buku HPT (Himpunan Putusan Tarjih) dan Hasil Keputusan Munas Tarjih tahun 2000.
*Manhaj Tarjih*
Pokok-pokok yang melandasi sebagai standar Muhammadiyah menetapkan hukum disebut dengan Manhaj Tarjih, yaitu :
- Pedoman yang digunakan oleh ulama Muhammadiyah atau sebagai pedoman bertarjih yang tentu mengalami dinamika.
- Manhaj Tarjih disusun dan dikembangkan berdasarkan pengalaman para ulama Muhammadiyah untuk menemukan hukum islam.
- Manhaj Tarjih secara harafiah berarti cara melakukan Tarjih.
Putusan Tarjih itu biasanya tentang hal yang baru atau sedang berkembang. Salah satu putusan sebagai contoh adalah haramnya memilih Pemimpin Non Muslim, ini adalah putusan MUI.
Ada lagi contoh tentang vaksin Meningitis untuk Haji. Dikatakan bahwa ada enzym babi sebagai bahan pembuat. Enzym babi tadi digunakan untuk pemantik munculnya virus baru. Ada beberapa barang yang menjijikkan yang dipakai, antara lain nanah dikuku sapi , kemudian ari-ari bayi dan ari-ari kera. Namun karena dalam keadaan darurat, tak dapat menemukan bahan lainnya dan banyak kemaslahatan yang didapat maka vaksin Meningitis diperbolehkan.
Tarjih tidak hanya sekedar kegiatan kuat-menguatkan atau melemahkan suatu pendapat yang ada, tetapi jauh lebih luas sehingga identik dengan ijtihad. Tarjih adalah setiap aktivitas intelektual untuk merespond realitas sosial dan kemanusiaan dari sudut pandang agama islam, khususnya dari sudut pandang norma-norma syariah.
*Model Manhaj Tarjih*
1. Periode KH Ahmad Azhar Bashir.
Menggunakan Methode Bayani , Qiyasi dan Istishlahi.
Bayani artinya menjelaskan teks.
Qiyasi, artinya mencari, menetapkan suatu hukum yang belum ada dengan yang sudah ada dalam Al Qur'an, contoh yang ada dalam Al Qur'an adalah larangan mengatakan "ah" kepada Orang tua,
فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ
"...maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah ..." (QS. Al-Isra' 23)
Maka menyakiti hati atau fisik juga tidak boleh.
Istishlahi adalah Penetapan hukum dengan cara dan penjelasan tentang makna-makna yang muncul dalam simbol-simbol, karena didahului dengan mengkhawatirkan efek domino yang luas.
Contoh : Penetapan bunga bank Konvensional sebagai riba. Ini berat karena tak boleh bertransaksi di bank konvensional, termasuk menabung tidak boleh.
2. Periode Prof. Amin Abdullah.
Menggunakan methode Bayani, Burhani dan Irfani.
Burhani lebih kepada intuisi. Burhan itu artinya bukti-bukti yang muncul.
Irfani maknanya pendalaman filosofis.
3. Periode Prof. Dr. Syamsul Anwar.
Menggunakan Methode al Qiyam al asasiyah ; al ushul al kuliyah ; al ahkam al fariyah.
Hampir sama sebenarnya theori-theori Tarjih tadi.
al Qiyam al asasiyah : Mengungkap makna-makna yang paling dasar. Mirip dengan Bayani, yang muncul secara tekstual.
al ushul al kuliyah : Filosofis. Pendekatan hukum islam lebih kepada hikmahnya, bukan pada ilatnya.
Contoh : Teks ayat mengenai khamr.Ini tahapan kedua.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْـتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ
"Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, ...." (QS. An-Nisa' 43)
Ini tentang khamr diharamkan bukan karena mabuknya, tapi karena ada hal yang lebih dahsyat daripada mabuk, ini model al ushul al kuliyah.
Ada tiga tahapan pelarangan khamr. Pada awalnya boleh, tapi ada peringatan bahwa ada banyak mudharatnya. Kedua tidak boleh bila minum bila mau shalat, karena akan lupa diri sementara. Tahap ketiga dilarang sama sekali.
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah 90)
Al ahkam al Fariyah : Masalah cabang-cabang, misalnya keputusan masalah rokok.
*Posisi Muhammadiyah*
Posisi Muhammadiyah diantara mainstream pemikiran hukum islam di Indonesia. Kalau kita perhatikan ada 3 pemikiran mainstream (theori besar), yaitu : Madzhabiyah, Salafiyah dan Tajdidiyah.
*1. Madzhabiyah.*
Dalam melaksanakan istinbath hukum, minimal harus mendasarkan pada minimal satu madzhab.
Bidang akidah , ujungnya pasti Asy'ariah, Maturidiyah dan Ahlus sunnah wal Jama'ah.
Bidang Fiqih : Syafi'iyah, Malikiah, Hanafiah, Hambaliah.
Bidang Akhlak / Tasawuf : Kitab Al Ihya ulumudin karya Al Gozhali.
*2. Salafiyah*
Menurut theorinya mengembalikan seluruh landasan hidup, kehidupan yang sekarang kembali kepada kehidupan Nabi dan Salafush sholeh, karena merupakan generasi terbaik.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari)
Bidang Syariah dan Akidah mendasari pada Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.
Maka orang Salafi di Indonesia kadang disebut sebagai Wahabi.
Wahabi ini menjadi "penasehat spiritual" kerajaan Saudi.
Salafi ini anti Madzhab, bahkan madzhab dianggap sumber konflik dan kemunduran. Mereka tidak bermadzhab tetapi diam-diam mengikuti ulama-ulama yang bermadzhab wahabi, yaitu : Syech Abdul Aziz bin Baz, Nashirudin al Albani, Utsaimin, Shaleh Fauzan.
*3. Tajdidiyah al Washatiyah Manhajiyah*
Posisi Muhammadiyah ada disini, mengambil theori dari Al Qur'an dan Hadits dengan Manhaj Salaf dan Ulama Madzhab.
Disinilah penyebab kenapa kadang ada yang menuduh Muhammadiyah itu Wahabi. Dalam hal akidah kita meyakini bahwa memang generasi Salaf itu terbaik.
Muhammadiyah tidak anti madzhab tapi tidak terikat oleh madzhab. Dalam arti mengapresiasi seluruh bangunan ilmu, turats.
Tajdid dengan makna purifikasi dalam akidah dan ibadah dan modernisasi pengembangan pada muamalah duniawiyah.
*Tiga Pilar Utama Muhammadiyah*
- Islam yang berkemajuan.
- Islam yang gagah, dengan muamalah yang didahulukan maka menjadi modern, dan Muhammadiyah berprinsip untuk jadi islam yang :
"al yadul ulya khairun minal yadis suflaa" (tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.)
- Islam yang lahir dari iman dan menghasilkan amal sholeh
- islam yang rahmatan lil alamien.
Itu adalah pola-pola aktivitas yang dapat kita amati dari gerakan Muhammadiyah.
*Cara Beribadah*
Ibadah adalah takarub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)
Cara beribadahnya umat islam secara umum sama, bila ada perbedaan hanya karena perbedaan pemahaman terhadap suatu dalil.
Proses yang terjadi adalah Proses Tarjih atau memilih dalil yang terkuat untuk dipakai.
Proses lain adalah Tajdid, memunculkan hukum atau ijtihad baru tentang hal baru seperti vaksin misalnya, dimana Ruh Tajdid adalah akidah dan ibadahnya murni tidak boleh dicampur. Dalam hal muamalah duniawiyah ada modernisasi.
Contoh tentang tajdid yang gampang adalah masalah wudhu.
Ada hadits Rasulullah :
إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ
“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya. ” (HR. Ibnu Majah)
Bila air dua qullah (kira-kira 200 liter) lebih , maka apa yang ada di dalamnya bukan najis.
Jaman dulu untuk wudhu di Masjid pakai bak besar, kadang kaki dimasukkan ke bak karena dianggap tidak mengubah kesucian air. Karena baknya besar sekali maka tak mungkin dikuras terus, karena jadi boros. Akhirnya bak tadi penuh lumut.
Bagaimana dengan Muhammadiyah? Muhammadiyah mengakui hadits tadi shahih. Namun mengambil sikap pembaruan, karena kita butuh lebih dari itu. Perlu sehat jasmani, fisik, spiritual dan sosial.
Muhammadiyah membuat keputusan Tajdid bahwa wudhu sebaiknya memakai kran.
Ini masalah muamalah, jadi boleh dengan pembaruan. Alhamdulillah sekarang semua masjid sudah memakai kran untuk wudhu.
Dalam hal ibadah, Muhammadiyah menolak pembaruan. Contohnya masih tentang wudhu, bahwa Niat wudhu itu dalam hati, melafalkan niat itu tambahan. Maka Muhammadiyah tidak melafalkan niat wudhu karena Nabi tak pernah melafalkan niat wudhu , tapi membaca basmalah. Kemudian setelah wudhu tak ada do'a khusus. Cukup dengan membaca Syahadatain.
Bagaimana dengan Salafiyah? Dalam hal ini sama. Mereka tidak melafalkan niat wudhu.
Lalu bagaimana dengan pengikut madzhabiyah? Mereka melafalkan niat karena memakai dalil umum
, “Amal itu tergantung niatnya, ".
Maka kadang ada yang bilang Muhammadiyah suka cari discount. Wudhu tak perlu pakai lafal niat, Shalat Tarawih tak mau 20 raka'at, maunya 8 raka'at saja. Padahal bukan itu alasannya. Alasan utama adalah Purifikasi jika ibadah meniru Nabi. Jika Nabi tidak melakukan maka Muhammadiyah tidak melakukan.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Minggu, 19 Agustus 2018
Kajian Ahad Sendang Gede
Kajian Ahad Sendang Gede
Dr. H.M. Saerozi , MA
7 Dzulhijjah 1439 H / 19 Agustus 2018
SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA
Terkadang kita menemui peristiwa-peristiwa yang mendadak terjadi, di luar persangkaan kita dan sangat mungkin membuat kita bingung.
Kemarin itu ada dua kisah yang saya alami, hal-hal yang membikin bingung seseorang.
Setelah shalat subuh saya dapat telpun dari Tetangga yang sedang berangkat haji di Mekkah. Dia itu puteranya dua masih kecil. Karena tak tega maka dia minta tolong ibunya dari Rembang untuk datang menunggui anaknya, yaitu cucu ibu tadi. Namun Allah berkehendak lain.
Kemarin pagi nenek ini wafat dirumah anaknya. Tentu saja dia bingung, akhirnya minta tolong tetangga untuk membawa jenazah ke Rembang dan memakamkan di Tuban.
Allah itu mengatur segala sesuatu, namun kadang kita tidak sabar dengan cara pengaturan Allah.
*Semua akan indah pada waktunya.*
Lebaran kemarin saya ke Magelang, disana sungkem pada keluarga yang sudah sepuh. Seperti biasa maka jika silaturahim jadi ajang untuk cerita.
Beliau itu dulu , 8 tahun yang lalu mengeluhkan tentang anak lelakinya yang bungsu yang masih menganggur tidak bekerja. Minta tolong pada saya untuk mencarikan pekerjaan biar tidak di rumah saja. Bagaimana tidak, punya anak Empat, yang pertama wanita menjadi pegawai Bank Dunia, saat ini di Australia dan besuk mau ke Amerika. Yang kedua jadi pegawai Islamic Development Bank dan yang ke 3 pegawai Batik Keris. Ketiganya di luar kota, hanya si bungsu dirumah. Tetapi kalau kerja maka dia harus pergi meninggalkan rumah untuk keluar kota.
Kemarin orang tua tadi merasa beruntung karena si bungsu di rumah. Karena dialah yang bisa mengantar orang tuanya pergi atau mau berobat.
Inilah hidup, kita itu makin lama makin tua dan makin lemah.
Maka bagi kita yang usia 50 ke atas, hendaklah mulai memahami bagaimana Allah mengatur kehidupan ini agar kita tak mudah mencela ataupun mengeluh.
*Semua akan indah pada waktunya*.
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa
tafakkaruu fiiLlahi", berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” (Hadits Abu Nu’aim)
Terhadap sesuatu yang di depan maka kita tafakur, kita renungkan. Apalagi dengan kemajuan dunia yang seperti sekarang ini, semua serba beda. Ada aturan-aturan yang kita tak dapat menghindar dari aturan Sunatullah. Kita hanya bisa mensiasati, mencari hikmah dibalik peristiwa yang terjadi.
Dulu saya berangkat haji dalam waktu yang bersamaan dengan ibu saya , namun seperti pada umumnya orang tua, dia tak mau bersama-sama karena takut mengganggu anaknya. Kami berangkat dari tempat yang beda dan akibatnya di Mekkah ditempatkan di maktab yang berjauhan. Hal ini tentu meresahkan saya. Namun atas kehendak Allah, selesai shalat maghrib, ibu saya mengajak ngobrol wanita muda di sebelahnya. Dari pembicaraan saling tanya asal-usul, ternyata wanita tadi adik angkat ibu saya yang terpisah 30 tahun lebih.
Disaat saya bingung membutuhkan pertolongan, bagaimana menemani ibu saya yang saat itu usia 70 tahun ternyata Allah mengirim adik angkat ibu saya untuk menemani ibu saya.
Ada aturan Allah, dimana kita itu ada dibalik peristiwa. Tugas kita adalah mencari hikmah di balik suatu peristiwa.
*Semua akan indah pada waktunya.*
Hari inipun kalau kita membaca WA mungkin bingung. Ini tentang kapan Iedhul Adha? Ada yang mengatakan Puasa Arafah selasa dan Iedhul Adha Rabu. Namun ada yang mengatakan selasa tak boleh puasa karena sudah Hari Raya. Puasanya mestinya hari senin...
Kalau tak pandai mencari hikmah maka akan bingung. Padahal tugas kita mudah, memilih salah satu, kemudian meyakininya.
Karena ada yang bingung dan tanya saya maka saya tunjukkan jawaban dengan menunjukkan contoh :
Teman saya si A itu hari Rayanya selasa. Teman saya si B itu hari Rayanya rabu dan dia shalatnya di lapangan. Teman saya yang C itu hari Rayanya rabu tapi dia shalat di masjid..
Begitupun masih ditanya : " Mana yang paling baik? ".
Jawab saya : " Karepmu.. sing penting shalat, Silahkan mau pilih ikut mana? ".
Tak hanya masalah shalat, sampai sekarang masih ada yang bingung masalah kulit kambing qurban mau diapakan?
Ada lagi kisah lain, ibu yang bertanya kepada saya, tentang suaminya yang pemarah dan sering mengatakan : " Aku cerai kamu..."
Tak lama kemudian mereka berbaikan. Namun tak lama kemudian bila berselisih maka ucapan itu muncul lagi : "Aku cerai kamu..." , demikian itu berkali-kali. Ketika ikut pengajian, dia tanyakan itu pada Kiyai dan kata Kiyai itu sudah berarti cerai. Maka dia bingung dengan status pernikahannya.
Saya jawab ibu itu dengan dua alternatif jawaban.
1. Menurut kitab fiqih klasik maka hubungan ibu sudah bukan suami-isteri lagi. Dan untuk menikah dengan suaminya tidak bisa, karena harus nikah dengan lelaki lain dulu
2. Menurut hukum islam meskipun ucapan cerai tadi sudah ribuan kali, tetapi selama belum didaftarkan di pengadilan agama belum dianggap cerai. Itu hanya dianggap ungkapan kemarahan saja.
Ketika diberi dua alternatif itupun ibu tadi ternyata tetap bingung.
Kita itu akan selalu dihadapkan dengan peristiwa. Tugas kita adalah mencari hikmah. Kita akan selalu dihadapkan banyak pilihan, tugas kita adalah memantabkan hati untuk memilih.
Kadang-kadang yang pada awalnya membahagiakan kita itu ada yang akhirnya menyengsarakan, sebaliknya yang pada awalnya menjengkelkan kita itu suatu saat mungkin menjadi penolong kita. Maka bagi para suami jangan mudah marah pada isteri, dan juga para isteri jangan terlalu menuntut suami.
Jika mau ketika mudanya , maka terimalah ketika tua. Jika mau saat sehat, maka terimalah ketika sakit-sakitan dan jika mau ketika kaya maka tetap sabarlah ketika miskin.
*Semua akan indah pada waktunya.*
Kita ini dihadapkan pada perbedaan -perbedaan yang banyak. Maka Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita sebuah do'a iftitah yang tak banyak dikenal orang.
Biasanya orang hanya mengenal doa iftitah :
"Allahu akbar kabiiroo ... " dst, atau
"Allohuma bait baini wa baina ..." dst.
Padahal banyak sekali do'a iftitah.
Maka saya sarankan bagi yang sering bermasalah dengan pilihan untuk memakai do'a iftitah ini :
"Allahumma Rabba Jibriila wa Mikaaiila wa Israafiila Faathiros-samawaati wal ardhi ‘aalimal-ghaibi wasy-syahaadati anta tahkumu baina ‘ibaadika fiima kaanuu fiihi yakhtalifuuna ihdinii limakhtulifa fiihi minal-haqqi bi-idznika innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraatim-mustaqiim"
Artinya :
“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui hal-hal yang ghaib dan nyata. Engkau yang memutuskan di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau menunjukkan jalan yang lurus bagi orang-orang yang Engkau kehendaki.”
(catatan : do'a di atas berasal dari hadits Aisiyah yang diriwayatkan dalam HR Muslim)
Perbedaan bahkan biasa terjadi dalam urusan sepele, di dalam rumah tangga. Misal tentang masakan yang tidak asin, dilain pihak ada yang senang asin.
Hal sepele begini di dalam jama'ah haji kadang jadi perbincangan. Yang tak suka asin mengatakan lebih sehat, yang suka asin mengatakan tak enak. Maka itu semua harus disikapi dengan bijak.
Di bidang syariah, ada BMT yang bingung terhadap nasabah.
Kita kenal BMT itu tak mengenal riba. Jika orang mau beli sepeda motor dia bisa pinjam uang ke bank dengan bayar bunga. Tapi ke bank syariah diperlakukan beda, seolah Bank yang membelikan sepeda motor, dan bank mengambil laba penjualan. Ini namanya Murabahah.
Namun yang terjadi di Demak ini nasabah Pinjam untuk beli dagangan yang banyak. Maka disiasati dengan perjanjian diwakilkan kepada nasabah untuk membeli barang sendiri, namanya transaksi Wakalah. Permasalahannya nasabah tidak jujur, dia tidak membeli dagangan tetapi memakai uang untuk bayar sekolah anaknya. Maka ada juga bank syariah yang bingung.
Kesimpulan yang dapat diambil, ketika kita memasuki kehidupan saat ini, kehidupan ketika media sosial sedemikian hebatnya, maka ada beberapa hal yang perlu :
1. Harus pandai mencari hikmah dibalik peristiwa.
Bila kita punya anak Mahasiswa abadi yang tidak lulus-lulus, sementara temannya sudah wisuda semua, hendaklah tetap bersabar.
*Semua akan indah pada waktunya*
Saya punya teman yang punya anak down syndrome, namun orang tuanya ikhlas. Anak ini meski down syndrome tapi setiap dengar suara adzan dia berangkat ke masjid. Bahkan dia juga bisa adzan. Saya jadi berfikir, banyak orang normal dengar adzan tapi tak datang ke masjid, apa mereka yang tak mau ke masjid ini harus dibuat begitu dulu?
2. Tak perlu bingung ketika banyak menghadapi Perbedaan.
Lebih-lebih dalam menghadapi Pemilu tahun 2019. Beda pilihan Partai itu biasa, beda Golongan juga biasa. Tak perlu dibawa ke perasaan.
Dalilnya adalah :
- Samakan yang sama, bedakan yang beda.
- Bicarakan yang sama, jangan membicarakan yang beda.
- Jangan menyamakan yang beda dan jangan membedakan yang sama, karena pasti akan jadi masalah.
3. Berdo'a ketika menghadapi pilihan.
Maka berdo'alah dengan do'a iftitah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
"....Engkau yang memutuskan di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..."
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Dr. H.M. Saerozi , MA
7 Dzulhijjah 1439 H / 19 Agustus 2018
SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA
Terkadang kita menemui peristiwa-peristiwa yang mendadak terjadi, di luar persangkaan kita dan sangat mungkin membuat kita bingung.
Kemarin itu ada dua kisah yang saya alami, hal-hal yang membikin bingung seseorang.
Setelah shalat subuh saya dapat telpun dari Tetangga yang sedang berangkat haji di Mekkah. Dia itu puteranya dua masih kecil. Karena tak tega maka dia minta tolong ibunya dari Rembang untuk datang menunggui anaknya, yaitu cucu ibu tadi. Namun Allah berkehendak lain.
Kemarin pagi nenek ini wafat dirumah anaknya. Tentu saja dia bingung, akhirnya minta tolong tetangga untuk membawa jenazah ke Rembang dan memakamkan di Tuban.
Allah itu mengatur segala sesuatu, namun kadang kita tidak sabar dengan cara pengaturan Allah.
*Semua akan indah pada waktunya.*
Lebaran kemarin saya ke Magelang, disana sungkem pada keluarga yang sudah sepuh. Seperti biasa maka jika silaturahim jadi ajang untuk cerita.
Beliau itu dulu , 8 tahun yang lalu mengeluhkan tentang anak lelakinya yang bungsu yang masih menganggur tidak bekerja. Minta tolong pada saya untuk mencarikan pekerjaan biar tidak di rumah saja. Bagaimana tidak, punya anak Empat, yang pertama wanita menjadi pegawai Bank Dunia, saat ini di Australia dan besuk mau ke Amerika. Yang kedua jadi pegawai Islamic Development Bank dan yang ke 3 pegawai Batik Keris. Ketiganya di luar kota, hanya si bungsu dirumah. Tetapi kalau kerja maka dia harus pergi meninggalkan rumah untuk keluar kota.
Kemarin orang tua tadi merasa beruntung karena si bungsu di rumah. Karena dialah yang bisa mengantar orang tuanya pergi atau mau berobat.
Inilah hidup, kita itu makin lama makin tua dan makin lemah.
Maka bagi kita yang usia 50 ke atas, hendaklah mulai memahami bagaimana Allah mengatur kehidupan ini agar kita tak mudah mencela ataupun mengeluh.
*Semua akan indah pada waktunya*.
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa
tafakkaruu fiiLlahi", berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” (Hadits Abu Nu’aim)
Terhadap sesuatu yang di depan maka kita tafakur, kita renungkan. Apalagi dengan kemajuan dunia yang seperti sekarang ini, semua serba beda. Ada aturan-aturan yang kita tak dapat menghindar dari aturan Sunatullah. Kita hanya bisa mensiasati, mencari hikmah dibalik peristiwa yang terjadi.
Dulu saya berangkat haji dalam waktu yang bersamaan dengan ibu saya , namun seperti pada umumnya orang tua, dia tak mau bersama-sama karena takut mengganggu anaknya. Kami berangkat dari tempat yang beda dan akibatnya di Mekkah ditempatkan di maktab yang berjauhan. Hal ini tentu meresahkan saya. Namun atas kehendak Allah, selesai shalat maghrib, ibu saya mengajak ngobrol wanita muda di sebelahnya. Dari pembicaraan saling tanya asal-usul, ternyata wanita tadi adik angkat ibu saya yang terpisah 30 tahun lebih.
Disaat saya bingung membutuhkan pertolongan, bagaimana menemani ibu saya yang saat itu usia 70 tahun ternyata Allah mengirim adik angkat ibu saya untuk menemani ibu saya.
Ada aturan Allah, dimana kita itu ada dibalik peristiwa. Tugas kita adalah mencari hikmah di balik suatu peristiwa.
*Semua akan indah pada waktunya.*
Hari inipun kalau kita membaca WA mungkin bingung. Ini tentang kapan Iedhul Adha? Ada yang mengatakan Puasa Arafah selasa dan Iedhul Adha Rabu. Namun ada yang mengatakan selasa tak boleh puasa karena sudah Hari Raya. Puasanya mestinya hari senin...
Kalau tak pandai mencari hikmah maka akan bingung. Padahal tugas kita mudah, memilih salah satu, kemudian meyakininya.
Karena ada yang bingung dan tanya saya maka saya tunjukkan jawaban dengan menunjukkan contoh :
Teman saya si A itu hari Rayanya selasa. Teman saya si B itu hari Rayanya rabu dan dia shalatnya di lapangan. Teman saya yang C itu hari Rayanya rabu tapi dia shalat di masjid..
Begitupun masih ditanya : " Mana yang paling baik? ".
Jawab saya : " Karepmu.. sing penting shalat, Silahkan mau pilih ikut mana? ".
Tak hanya masalah shalat, sampai sekarang masih ada yang bingung masalah kulit kambing qurban mau diapakan?
Ada lagi kisah lain, ibu yang bertanya kepada saya, tentang suaminya yang pemarah dan sering mengatakan : " Aku cerai kamu..."
Tak lama kemudian mereka berbaikan. Namun tak lama kemudian bila berselisih maka ucapan itu muncul lagi : "Aku cerai kamu..." , demikian itu berkali-kali. Ketika ikut pengajian, dia tanyakan itu pada Kiyai dan kata Kiyai itu sudah berarti cerai. Maka dia bingung dengan status pernikahannya.
Saya jawab ibu itu dengan dua alternatif jawaban.
1. Menurut kitab fiqih klasik maka hubungan ibu sudah bukan suami-isteri lagi. Dan untuk menikah dengan suaminya tidak bisa, karena harus nikah dengan lelaki lain dulu
2. Menurut hukum islam meskipun ucapan cerai tadi sudah ribuan kali, tetapi selama belum didaftarkan di pengadilan agama belum dianggap cerai. Itu hanya dianggap ungkapan kemarahan saja.
Ketika diberi dua alternatif itupun ibu tadi ternyata tetap bingung.
Kita itu akan selalu dihadapkan dengan peristiwa. Tugas kita adalah mencari hikmah. Kita akan selalu dihadapkan banyak pilihan, tugas kita adalah memantabkan hati untuk memilih.
Kadang-kadang yang pada awalnya membahagiakan kita itu ada yang akhirnya menyengsarakan, sebaliknya yang pada awalnya menjengkelkan kita itu suatu saat mungkin menjadi penolong kita. Maka bagi para suami jangan mudah marah pada isteri, dan juga para isteri jangan terlalu menuntut suami.
Jika mau ketika mudanya , maka terimalah ketika tua. Jika mau saat sehat, maka terimalah ketika sakit-sakitan dan jika mau ketika kaya maka tetap sabarlah ketika miskin.
*Semua akan indah pada waktunya.*
Kita ini dihadapkan pada perbedaan -perbedaan yang banyak. Maka Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita sebuah do'a iftitah yang tak banyak dikenal orang.
Biasanya orang hanya mengenal doa iftitah :
"Allahu akbar kabiiroo ... " dst, atau
"Allohuma bait baini wa baina ..." dst.
Padahal banyak sekali do'a iftitah.
Maka saya sarankan bagi yang sering bermasalah dengan pilihan untuk memakai do'a iftitah ini :
"Allahumma Rabba Jibriila wa Mikaaiila wa Israafiila Faathiros-samawaati wal ardhi ‘aalimal-ghaibi wasy-syahaadati anta tahkumu baina ‘ibaadika fiima kaanuu fiihi yakhtalifuuna ihdinii limakhtulifa fiihi minal-haqqi bi-idznika innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraatim-mustaqiim"
Artinya :
“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui hal-hal yang ghaib dan nyata. Engkau yang memutuskan di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau menunjukkan jalan yang lurus bagi orang-orang yang Engkau kehendaki.”
(catatan : do'a di atas berasal dari hadits Aisiyah yang diriwayatkan dalam HR Muslim)
Perbedaan bahkan biasa terjadi dalam urusan sepele, di dalam rumah tangga. Misal tentang masakan yang tidak asin, dilain pihak ada yang senang asin.
Hal sepele begini di dalam jama'ah haji kadang jadi perbincangan. Yang tak suka asin mengatakan lebih sehat, yang suka asin mengatakan tak enak. Maka itu semua harus disikapi dengan bijak.
Di bidang syariah, ada BMT yang bingung terhadap nasabah.
Kita kenal BMT itu tak mengenal riba. Jika orang mau beli sepeda motor dia bisa pinjam uang ke bank dengan bayar bunga. Tapi ke bank syariah diperlakukan beda, seolah Bank yang membelikan sepeda motor, dan bank mengambil laba penjualan. Ini namanya Murabahah.
Namun yang terjadi di Demak ini nasabah Pinjam untuk beli dagangan yang banyak. Maka disiasati dengan perjanjian diwakilkan kepada nasabah untuk membeli barang sendiri, namanya transaksi Wakalah. Permasalahannya nasabah tidak jujur, dia tidak membeli dagangan tetapi memakai uang untuk bayar sekolah anaknya. Maka ada juga bank syariah yang bingung.
Kesimpulan yang dapat diambil, ketika kita memasuki kehidupan saat ini, kehidupan ketika media sosial sedemikian hebatnya, maka ada beberapa hal yang perlu :
1. Harus pandai mencari hikmah dibalik peristiwa.
Bila kita punya anak Mahasiswa abadi yang tidak lulus-lulus, sementara temannya sudah wisuda semua, hendaklah tetap bersabar.
*Semua akan indah pada waktunya*
Saya punya teman yang punya anak down syndrome, namun orang tuanya ikhlas. Anak ini meski down syndrome tapi setiap dengar suara adzan dia berangkat ke masjid. Bahkan dia juga bisa adzan. Saya jadi berfikir, banyak orang normal dengar adzan tapi tak datang ke masjid, apa mereka yang tak mau ke masjid ini harus dibuat begitu dulu?
2. Tak perlu bingung ketika banyak menghadapi Perbedaan.
Lebih-lebih dalam menghadapi Pemilu tahun 2019. Beda pilihan Partai itu biasa, beda Golongan juga biasa. Tak perlu dibawa ke perasaan.
Dalilnya adalah :
- Samakan yang sama, bedakan yang beda.
- Bicarakan yang sama, jangan membicarakan yang beda.
- Jangan menyamakan yang beda dan jangan membedakan yang sama, karena pasti akan jadi masalah.
3. Berdo'a ketika menghadapi pilihan.
Maka berdo'alah dengan do'a iftitah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
"....Engkau yang memutuskan di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..."
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Senin, 06 Agustus 2018
Kajian Ahad Masjid Al Hikmah
Kajian Ahad Masjid Al Hikmah, Sendang Gede, Banyumanik
Dr. H. Rosihan, SH, MAg
22 Dzulqo'dah 1439 H / 5 Agustus 2018
AKHIRAT DAN HARI AKHIR
Akhirat dan Hari Akhir adalah suatu hal yang niscaya, pasti terjadi dan dekat dengan kita. Nabi selalu menghubungkan antara iman dan hari akhir. Al Qur'an juga begitu, bisa dilihat misalnya dalam surat Al Baqarah , Allah SWT berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ...
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir,." (QS. Al-Baqarah 177)
Jadi sangat erat hubungan antara iman kepada Allah dan Hari akhir.
Dalam Al Qur'an dibedakan antara Akhirat dan Hari Akhir.
Akhir : Yaumul akhir, yang dimaksud adalah Hari Kiamat .
Adapun Darul Akhirah artinya adalah-Negeri Akhirat.
Jadi setelah kiamat nanti tidak berarti berhenti semua, masih ada kelanjutannya yang disebut Negeri Akhirat.
وَابْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ ...
"Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, ..." (QS. Al-Qasas 77)
Negeri akhirat itu hampir sama seperti dunia, namun ada perbedaannya. Jadi saat ini kita di dunia, kelak di akhirat.
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَانُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui."
(QS. Al-'Ankabut 64)
*Kehidupan di Dunia*
Darut Dunya disebutkan sangat dekat, diumpamakan sebagai senda gurau atau bermain-main saja, artinya bukan kehidupan yang asli , pasti akan selesai. Yang asli adalah kehidupan akhirat.
Darut Dunya (Negeri dunia) isinya adalah Fisik, materi dan kebendaan. Disebut sebagai Alam Syahadah (alam nyata) karena dapat ditangkap dengan indera, bukan Alam Ghoib.
Al Hayah ad dunia (Kehidupan dunia) disebutkan sebagai sesuatu yang indah , untuk bersenang-senang. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang terkait dengan kebutuhan biologis manusia, maka sangat memerlukan Fisik , materi dan Kebendaan untuk menopang amalah dan muamalah.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Ali 'Imran 14)
Karena kehidupan dunia itu indah, maka banyak sekali yang mencari kehidupan dunia.
Apa saja yang dicari?
Dikatakan manusia itu cinta dan menginginkan wanita. Tak ada laki-laki yang tak menginginkan wanita, lalu apakah wanita tak menginginkan laki-laki? Kenapa tak disebut? Itu adalah karena Al Qur'an kalau menguraikan wanita itu bersifat lembut, maka tak disebut secara jelas. Ada kaidah dalam tafsir bila Al Qur'an menyebut sesuatu maka yang tidak disebut artinya adalah kebalikannya.
Contoh : Al Qur'an melarang berbuat jahat maka maknanya juga Al Qur'an memerintahkan berbuat baik.
Maka ketika disebut Manusia (lelaki) mencintai wanita, bermakna juga Wanita mencintai lelaki.
Berikutnya dikatakan manusia menyenangi anak. Jelas juga disebutkan dalam Al Kahfi
اَلْمَالُ وَ الْبَـنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia...." (QS. Al-Kahfi 46)
Kenapa disebut anak laki-laki dan tidak anak perempuan.? Karena dulu manusia cenderung senang anak laki-laki dibanding anak perempuan. Dalam kaidah ushul fiqih juga menyatakan bahwa hal yang tidak disebut itu lebih utama daripada yang disebut.
Contoh dalam ayat Al Isra'
Allah SWT berfirman:
"... Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' ...." (QS. Al-Isra' 23)
Larangan yang disebut adalah mengatakan 'ah' kepada orang tua. Tidak menyebut larangan memukul orang tua. Tidak berarti bahwa memukul diperbolehkan, namun justru makin tidak boleh.
Ini memakai kaidah, yang tak disebut sebenarnya lebih utama.
Dalam ayat lain ada larangan mendekati zina.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى
"Dan janganlah kamu mendekati zina; ..." (QS. Al-Isra' 32)
Tidak ada tulisan Jangan berzina. Yang dilarang adalah mendekati zina. Maka disini juga memakai kaidah yang tak disebutkan lebih utama (dalam hal ini lebih dilarang).
Kemudian dilanjutkan bahwa manusia itu senang harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak. Ayat ini memastikan tak ada manusia yang tak suka kekayaan. Kita perhatikan ibu-ibu sudah punya satu gelang emas, masih ingin punya gelang kedua dan seterusnya. Bapak-bapak sudah punya rumah, ingin beli rumah yang lebih bagus, ini wajar.
Berikutnya lagi, manusia senang kuda pilihan. Ini melambangkan kendaraan yang pada jaman dulu. Saat ini orang yang punya uang kepenginnya pasti beli mobil baru, tak mau mobil tahun 80 an karena akan mogokan.
Berikutnya lagi disebutkan hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Manusia itu suka menumpuk harta untuk investasi. Kalau punya uang dia belikan tanah, walaupun dibiarkan saja, ibaratnya tanah itu dikencingi saja harganya akan naik.
Itu semua kesenangan dunia yang menipu. Namun bagi yang beriman, harta benda tadi perlu untuk menopang ibadah, seperti dijelaskan pada penutupan ayat :
"...dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.".
Kita ambil contoh untuk naik haji minimal perlu 36 juta rupiah. Maka bila suami isteri pergi haji berdua sudah memerlukan 72 juta rupiah, belum untuk biaya lain-lain.
Bila tak punya uang maka kita tak bisa sedekah, tak bisa infak.
Bila kita ingin ibadah nyaman maka masjid kita perlu dipasang AC. Ini semua perlu uang.
Kesenangan dunia tadi juga untuk menopang muamalah. Tanpa uang kita tak bisa menyejahterakan keluarga. Tanpa uang kita tak bisa menyekolahkan anak.
*Ad darul akhirah (Kehidupan Akhirat)*
وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَانُ
".. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya,."
(QS. Al-'Ankabut 64)
Asal kata hayah, mendapat tambahan alif -nun menjadi al hayawan artinya sempurna.
Akhirat kehidupan yang sempurna.
Seperti kata Syaithan, mendapat tambahan alif nun - artinya mengasingkan diri secara sempurna, itu bukan perbuatan baik. Karena beda pendapat lalu mengasingkan diri. Sebagai manusia berbeda pendapat itu Sunatullah. Kalau kita tidak sama harus difahami. Kalau kita memaksakan kesamaan hasilnya adalah kekecewaan, karena Allah saja tak pernah memaksakan kita untuk beribadat kepadaNya.
وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ
"Dan katakanlah Muhammad, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki beriman hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki kafir biarlah dia kafir..." (QS. Al-Kahf 29)
Dalam ayat lain.
لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ
"Tidak ada paksaan dalam menganut agama, .." (QS. Al-Baqarah 256)
Jadi tak ada paksaan dalam agama, maka kita harus menghargai perbedaan.
Darul akhirat itu kehidupan sempurna, lebih berkualitas dibanding dunia, maka orang yang berfikir kehidupan akhirat hidupnya akan lebih berkualitas, dia tak mengenal iri atau cemburu.
Akhirat itu luas, dunia itu sempit. Karena dunia sempit maka orang yang berfikir dunia akan iri melihat kesuksesan atau kekayaan orang lain. Dia tak pernah merasa iri terhadap orang yang rajin shalat sunah.
Dikisahkan ada orang miskin yang cemburu pada orang kaya, karena orang kaya bisa bersedekah.
Nabi menasehati orang tadi bahwa akhirat itu luas sekali, artinya jika tak punya uang tetap bisa bersedekah dengan membaca Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil.
Orang bisa bersedekah dengan berbuat amal shaleh dan tidak melakukan kejahatan.
*Munasabah Surat.*
Nabi bila shalat Subuh biasa membaca surat yang berpasangan. Dalam keilmuan disebut Munasabah ( berkorelasi). Seperti contoh:
-Surat Ad Dhuha dan surat Insyirah.
-Surat At Takatsur dan surat Al Ashr.
-Surat Al Kafirun dan Surat Al Ikhlas.
-Surat Al Falaq dan Surat An Nass.
Isi kandungan Surat Ad Dhuha
- Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan Nabi Muhammad SAW
- Hari kemudian lebih baik dari sekarang, maka orang harus punya investasi akhirat.
- Larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta.
- Perintah untuk mensyukuri anugerah yang diberikan oleh Allah.
Kandungan Surat Al Insyirah
- Bukankah Kami telah melapangkan dadamu ?, Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu yang memberatkan punggungmu,
- Kemudian Allah memberikan perintah. Perintah ini berlaku bagi kita semua, tidak hanya kepada Nabi Muhammad SAW.
*Perbandingan Dunia dan Akhirat*
Rasulullah SAW bersabda :
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim).
*Macam-macam Alam*
Ada alam Syahadah dan ada Alam Ghaib. Alam Syahadah adalah alam yang dapat disaksikan, Alam Ghoib tak dapat disaksikan.
Muhammad Abduh masih membagi lagi menjadi dua, Kongkrit dan Abstrak. Kongkrit itu nyata, Abstrak itu ada tapi tak dapat disaksikan.
Akhirat itu Ghoib, Surga itu ghoib tetapi Allah itu Abstrak karena keberadaannya dapat dirasakan.
*Hari Kiamat adalah Ghoib*
Allah SWT berfirman:
اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَـةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى
"Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan waktunya agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan." (QS. Ta-Ha 15)
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ فَتَرْدٰى
"Maka janganlah engkau dipalingkan dari Kiamat itu oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa." (QS. Ta-Ha 16)
Hikmah disembunyikan hari kiamat agar manusia selalu berbuat baik. Karena setiap perbuatan manusia, baik atau buruk kelak semua akan mendapat pembalasan.
*Hidup dan mati dalam al Qur'an*
قَالُوْا رَبَّنَاۤ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ
"Mereka menjawab, Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali, lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan bagi kami untuk keluar dari neraka ?"
(QS. Ghafir 40: Ayat 11)
Hidup itu dua kali dan mati juga dua kali. Kehidupan kita yang pertama adalah ketika masih di alam Ruh.
Kemudian kehidupan kita saat ini.
Kematian itu juga dua kali
1. Manusia sebelum lahir belum ditiupkan roh, itu kematian pertama.
2. Manusia setelah meninggal dunia.
Setelah manusia meninggal, kelak akan dihidupkan lagi. Jadi tidak berhenti.
*Kematian versi Raghib al asfahany*
-tiada daya tumbuh dan berkembang (seperti tanaman)
-tiadanya daya fisik
-tiadanya daya berfikir (bodoh)
-kesedihan yang menghancurkan kehidupan
-tidur (ringan dan berat)
Kematian pisahnya roh dng tubuh
Ke alam barzah.
Allah SWT berfirman :
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki, mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman," (QS. Ali imran 169-171)
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Dr. H. Rosihan, SH, MAg
22 Dzulqo'dah 1439 H / 5 Agustus 2018
AKHIRAT DAN HARI AKHIR
Akhirat dan Hari Akhir adalah suatu hal yang niscaya, pasti terjadi dan dekat dengan kita. Nabi selalu menghubungkan antara iman dan hari akhir. Al Qur'an juga begitu, bisa dilihat misalnya dalam surat Al Baqarah , Allah SWT berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ...
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir,." (QS. Al-Baqarah 177)
Jadi sangat erat hubungan antara iman kepada Allah dan Hari akhir.
Dalam Al Qur'an dibedakan antara Akhirat dan Hari Akhir.
Akhir : Yaumul akhir, yang dimaksud adalah Hari Kiamat .
Adapun Darul Akhirah artinya adalah-Negeri Akhirat.
Jadi setelah kiamat nanti tidak berarti berhenti semua, masih ada kelanjutannya yang disebut Negeri Akhirat.
وَابْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ ...
"Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, ..." (QS. Al-Qasas 77)
Negeri akhirat itu hampir sama seperti dunia, namun ada perbedaannya. Jadi saat ini kita di dunia, kelak di akhirat.
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَانُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui."
(QS. Al-'Ankabut 64)
*Kehidupan di Dunia*
Darut Dunya disebutkan sangat dekat, diumpamakan sebagai senda gurau atau bermain-main saja, artinya bukan kehidupan yang asli , pasti akan selesai. Yang asli adalah kehidupan akhirat.
Darut Dunya (Negeri dunia) isinya adalah Fisik, materi dan kebendaan. Disebut sebagai Alam Syahadah (alam nyata) karena dapat ditangkap dengan indera, bukan Alam Ghoib.
Al Hayah ad dunia (Kehidupan dunia) disebutkan sebagai sesuatu yang indah , untuk bersenang-senang. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang terkait dengan kebutuhan biologis manusia, maka sangat memerlukan Fisik , materi dan Kebendaan untuk menopang amalah dan muamalah.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Ali 'Imran 14)
Karena kehidupan dunia itu indah, maka banyak sekali yang mencari kehidupan dunia.
Apa saja yang dicari?
Dikatakan manusia itu cinta dan menginginkan wanita. Tak ada laki-laki yang tak menginginkan wanita, lalu apakah wanita tak menginginkan laki-laki? Kenapa tak disebut? Itu adalah karena Al Qur'an kalau menguraikan wanita itu bersifat lembut, maka tak disebut secara jelas. Ada kaidah dalam tafsir bila Al Qur'an menyebut sesuatu maka yang tidak disebut artinya adalah kebalikannya.
Contoh : Al Qur'an melarang berbuat jahat maka maknanya juga Al Qur'an memerintahkan berbuat baik.
Maka ketika disebut Manusia (lelaki) mencintai wanita, bermakna juga Wanita mencintai lelaki.
Berikutnya dikatakan manusia menyenangi anak. Jelas juga disebutkan dalam Al Kahfi
اَلْمَالُ وَ الْبَـنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia...." (QS. Al-Kahfi 46)
Kenapa disebut anak laki-laki dan tidak anak perempuan.? Karena dulu manusia cenderung senang anak laki-laki dibanding anak perempuan. Dalam kaidah ushul fiqih juga menyatakan bahwa hal yang tidak disebut itu lebih utama daripada yang disebut.
Contoh dalam ayat Al Isra'
Allah SWT berfirman:
"... Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' ...." (QS. Al-Isra' 23)
Larangan yang disebut adalah mengatakan 'ah' kepada orang tua. Tidak menyebut larangan memukul orang tua. Tidak berarti bahwa memukul diperbolehkan, namun justru makin tidak boleh.
Ini memakai kaidah, yang tak disebut sebenarnya lebih utama.
Dalam ayat lain ada larangan mendekati zina.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى
"Dan janganlah kamu mendekati zina; ..." (QS. Al-Isra' 32)
Tidak ada tulisan Jangan berzina. Yang dilarang adalah mendekati zina. Maka disini juga memakai kaidah yang tak disebutkan lebih utama (dalam hal ini lebih dilarang).
Kemudian dilanjutkan bahwa manusia itu senang harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak. Ayat ini memastikan tak ada manusia yang tak suka kekayaan. Kita perhatikan ibu-ibu sudah punya satu gelang emas, masih ingin punya gelang kedua dan seterusnya. Bapak-bapak sudah punya rumah, ingin beli rumah yang lebih bagus, ini wajar.
Berikutnya lagi, manusia senang kuda pilihan. Ini melambangkan kendaraan yang pada jaman dulu. Saat ini orang yang punya uang kepenginnya pasti beli mobil baru, tak mau mobil tahun 80 an karena akan mogokan.
Berikutnya lagi disebutkan hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Manusia itu suka menumpuk harta untuk investasi. Kalau punya uang dia belikan tanah, walaupun dibiarkan saja, ibaratnya tanah itu dikencingi saja harganya akan naik.
Itu semua kesenangan dunia yang menipu. Namun bagi yang beriman, harta benda tadi perlu untuk menopang ibadah, seperti dijelaskan pada penutupan ayat :
"...dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.".
Kita ambil contoh untuk naik haji minimal perlu 36 juta rupiah. Maka bila suami isteri pergi haji berdua sudah memerlukan 72 juta rupiah, belum untuk biaya lain-lain.
Bila tak punya uang maka kita tak bisa sedekah, tak bisa infak.
Bila kita ingin ibadah nyaman maka masjid kita perlu dipasang AC. Ini semua perlu uang.
Kesenangan dunia tadi juga untuk menopang muamalah. Tanpa uang kita tak bisa menyejahterakan keluarga. Tanpa uang kita tak bisa menyekolahkan anak.
*Ad darul akhirah (Kehidupan Akhirat)*
وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَانُ
".. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya,."
(QS. Al-'Ankabut 64)
Asal kata hayah, mendapat tambahan alif -nun menjadi al hayawan artinya sempurna.
Akhirat kehidupan yang sempurna.
Seperti kata Syaithan, mendapat tambahan alif nun - artinya mengasingkan diri secara sempurna, itu bukan perbuatan baik. Karena beda pendapat lalu mengasingkan diri. Sebagai manusia berbeda pendapat itu Sunatullah. Kalau kita tidak sama harus difahami. Kalau kita memaksakan kesamaan hasilnya adalah kekecewaan, karena Allah saja tak pernah memaksakan kita untuk beribadat kepadaNya.
وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ
"Dan katakanlah Muhammad, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki beriman hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki kafir biarlah dia kafir..." (QS. Al-Kahf 29)
Dalam ayat lain.
لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ
"Tidak ada paksaan dalam menganut agama, .." (QS. Al-Baqarah 256)
Jadi tak ada paksaan dalam agama, maka kita harus menghargai perbedaan.
Darul akhirat itu kehidupan sempurna, lebih berkualitas dibanding dunia, maka orang yang berfikir kehidupan akhirat hidupnya akan lebih berkualitas, dia tak mengenal iri atau cemburu.
Akhirat itu luas, dunia itu sempit. Karena dunia sempit maka orang yang berfikir dunia akan iri melihat kesuksesan atau kekayaan orang lain. Dia tak pernah merasa iri terhadap orang yang rajin shalat sunah.
Dikisahkan ada orang miskin yang cemburu pada orang kaya, karena orang kaya bisa bersedekah.
Nabi menasehati orang tadi bahwa akhirat itu luas sekali, artinya jika tak punya uang tetap bisa bersedekah dengan membaca Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil.
Orang bisa bersedekah dengan berbuat amal shaleh dan tidak melakukan kejahatan.
*Munasabah Surat.*
Nabi bila shalat Subuh biasa membaca surat yang berpasangan. Dalam keilmuan disebut Munasabah ( berkorelasi). Seperti contoh:
-Surat Ad Dhuha dan surat Insyirah.
-Surat At Takatsur dan surat Al Ashr.
-Surat Al Kafirun dan Surat Al Ikhlas.
-Surat Al Falaq dan Surat An Nass.
Isi kandungan Surat Ad Dhuha
- Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan Nabi Muhammad SAW
- Hari kemudian lebih baik dari sekarang, maka orang harus punya investasi akhirat.
- Larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta.
- Perintah untuk mensyukuri anugerah yang diberikan oleh Allah.
Kandungan Surat Al Insyirah
- Bukankah Kami telah melapangkan dadamu ?, Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu yang memberatkan punggungmu,
- Kemudian Allah memberikan perintah. Perintah ini berlaku bagi kita semua, tidak hanya kepada Nabi Muhammad SAW.
*Perbandingan Dunia dan Akhirat*
Rasulullah SAW bersabda :
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim).
*Macam-macam Alam*
Ada alam Syahadah dan ada Alam Ghaib. Alam Syahadah adalah alam yang dapat disaksikan, Alam Ghoib tak dapat disaksikan.
Muhammad Abduh masih membagi lagi menjadi dua, Kongkrit dan Abstrak. Kongkrit itu nyata, Abstrak itu ada tapi tak dapat disaksikan.
Akhirat itu Ghoib, Surga itu ghoib tetapi Allah itu Abstrak karena keberadaannya dapat dirasakan.
*Hari Kiamat adalah Ghoib*
Allah SWT berfirman:
اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَـةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى
"Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan waktunya agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan." (QS. Ta-Ha 15)
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ فَتَرْدٰى
"Maka janganlah engkau dipalingkan dari Kiamat itu oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa." (QS. Ta-Ha 16)
Hikmah disembunyikan hari kiamat agar manusia selalu berbuat baik. Karena setiap perbuatan manusia, baik atau buruk kelak semua akan mendapat pembalasan.
*Hidup dan mati dalam al Qur'an*
قَالُوْا رَبَّنَاۤ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ
"Mereka menjawab, Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali, lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan bagi kami untuk keluar dari neraka ?"
(QS. Ghafir 40: Ayat 11)
Hidup itu dua kali dan mati juga dua kali. Kehidupan kita yang pertama adalah ketika masih di alam Ruh.
Kemudian kehidupan kita saat ini.
Kematian itu juga dua kali
1. Manusia sebelum lahir belum ditiupkan roh, itu kematian pertama.
2. Manusia setelah meninggal dunia.
Setelah manusia meninggal, kelak akan dihidupkan lagi. Jadi tidak berhenti.
*Kematian versi Raghib al asfahany*
-tiada daya tumbuh dan berkembang (seperti tanaman)
-tiadanya daya fisik
-tiadanya daya berfikir (bodoh)
-kesedihan yang menghancurkan kehidupan
-tidur (ringan dan berat)
Kematian pisahnya roh dng tubuh
Ke alam barzah.
Allah SWT berfirman :
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki, mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman," (QS. Ali imran 169-171)
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Langganan:
Postingan (Atom)