Minggu, 30 Juli 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

6 Dzulqo'dah 1438 H / 30 Juli 2017

Dr. Zuhad Masduqi, MA

*Iman kepada Allah, Takdir dan Dampaknya Pada Kehidupan*

Rukun iman ada 6, tapi yg paling banyak disebut dalam Al Qur'an ataupun Hadits hanya dua,  yg pertama dan terakhir yaitu iman kepada Allah dan iman kepada Qadla dan Qadar (Takdir).

I. Iman Kepada Allah.
Iman kepada Allah itu aspeknya banyak. Salah satu aspek penting adalah ke-Esaan Allah seperti pada surat Al Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ اَللّٰهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ   ۙ  وَلَمْ يُوْلَدْ  وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu ,tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
(QS. Al-Ikhlas Ayat 1- 4)

Menurut bahasan para ulama ada 3 hal yaitu : Keesaan Dzat,  Keesaan Sifat dan Keesaan Perbuatan.

1. Keesaan Dzat

Allah itu tidak tersusun oleh materi, unsur atau bagian. Karena bila tersusun dari materi berarti ada materi yg mendahului Allah.

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ

"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; ......"
(QS. Al-Hadid 3)

Dalam bahasa Tauhid, Allah itu Qidam dan Baqa (tak ada awal dan kekal).
Allah tak mungkin melahirkan,  karena semua yg melahirkan itu materi. Hubungan Allah dengan Adam adalah Allah menciptakan Adam.

Beda dengan Tuhannya orang Jahiliyah, mereka punya nasab, kapan diciptakan,  dimana diciptakan,  siapa yg menciptakan, diciptakan dari apa.

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى

"Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) Al-Lata dan Al-`Uzza, dan Manat, yang ketiga yang paling kemudian (sebagai anak perempuan Allah)." (QS. An-Najm  19- 20)

Orang jahiliyal bertawassul melalui Berhala untuk berhubungan dengan Tuhannya,  padahal yg membuat berhala dan memberi nama mereka sendiri.

اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ  وَاٰبَآؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ  اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ  اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُ ۚ  وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ  الْهُدٰى

"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka." (QS. An-Najm 23)

Ketika Nabi mengalahkan Mekkah maka semua Berhala dihancurkan dan tak ada yg membalas.
Menurut Imam Ghozali,  kalau ada orang menyembah selain Allah hakikatnya dia tidak menyembah obyek itu tetapi dia menyembah pikirannya (hawa nafsunya) sendiri.
Jadi Berhala tadi adalah Personifikasi dari hawa nafsu. Inilah yg disebutkan orang menyembah hawa nafsunya

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ......

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?  ........."  (QS. Al-Jasiyah 23)

Tuhan orang modern sekarang ini adalah : isme -isme,  seperti Kapitalisme , Sosialisme , Demokrasi dan sebagainya, termasuk UANG.

Jadi akidah Islam itu sangat rasional,  Tuhannya boleh dipertanyakan dan selalu ada jawaban baik secara logika atau Al Qur'an.
Maka sebagai umat islam kita mestinya berfikir Rasional,  Ilmiah dan Empirik.

2. Keesaan Sifat

Allah mempunyai sifat yg beda dengan manusia,  kalau Allah tak terbatas,  manusia terbatas. Jika ada sifat yg sama dengan sifat manusia,  pada hakekatnya hanya sama nama saja,  substansinya beda.

Misal Arrahman- Arrahim,  Maha Pengasih dan Maha Penyayang.  Manusia juga punya Kasih dan Sayang,  namun terbatas.  Suami istri bisa saling mengasihi, namun bila salah satu menyeleweng bisa cerai.
Beda dengan kasih sayang Allah tak terbatas,  meski banyak orang durhaka dengan Korupsi, Musyrik,  Melanggar Syariat tapi Allah tetap memberikan rahmatNya selama mereka memenuhi Hukum Sunatullah. Sebaliknya banyak Muslim yg miskin,  itu semua karena Kasih Sayang Allah tak terbatas.

Rumus untuk menjadi kaya itu bukan Shalat sunnah atau Puasa,  tapi Hukum-hukum  Perolehan Rezeki.
Orang islam yg tidak memanfaatkan Hukum Perolehan Rezeki ya dapat sedikit,  sebaliknya Orang Kafir yg memanfaatkan dapat rezeki banyak.
Kalau kita mengkaji Tafsir Al Qur'an ada 4 hukum -Perolehan Rezeki.

-  Mengembangkan Potensi Daya Manusia secara maksimal.

Allah menyayangi manusia melalui Sistem yg dikenal sebagai Sunatullah. Sunatullah ini tidak pandang bulu, hanya yg mengembangkan dapat banyak.
Manusia tak peduli siapapun dia,  diberi potensi2 : Daya Akal,  Daya Qolbu,  Daya Hidup dan Daya Fisik.

Daya akal,  bila dikembangkan jadi pandai,  mencari pekerjaan mudah. Siapapun tak pandang bulu bila mengembangkan daya akal maka pintu rezeki terbuka lebar.
Daya Qolbu ini hati nurani, kemampuan untuk beriman,  empati, berekspresi,  bila dikembangkan akan menjadi orang yg baik dan pintu rezeki terbuka.
Daya Hidup ,  ini untuk menghadapi lingkungan. Bisa lingkungan alam ataupun sosial ,  bila dikembangkan menjadi orang yg tak gampang menyerah. Pintu rezeki terbuka.
Daya Fisik, kaki misalnya bila dikembangkan jadi Pemain Sepak bola dan bayarannya besar.
Masalah kita adalah kita tidak mengembangkan. Teology kita salah,  hanya mengatakan rezeki dari Allah,  hidupnya pasif.

- Jihad,  usaha yg sungguh2
Siapa yg kerja keras pasti akan dapat lebih banyak dari pada yg malas.

- Silaturahim.

Hadits Nabi :

” مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ”

“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim”

Silaturahim kalau bahasa sekarang adalah Relasi. Barang siapa relasinya banyak maka pintu rezekinya juga akan terbuka. Dan barangsiapa rezekinya banyak,  hidupnya akan sehat dan sejahtera, maka umurnya akan panjang.
Sebaliknya bila tak punya relasi maka rezeki jadi sempit,  kebutuhan hidup tak terpenuhi, jadi sakit-sakitan dan cepat mati.
Allah telah menetapkan Ajal,  artinya Batas Akhir,  bukan Kematian.
Masalah kita Apakah kita bisa mengusahakan hidup kita sampai batas ajal?
Konsep islam,  mati itu ada dua : Mati tabi'i atau mati normal-karena memang sudah sampai ajal.
Mati istirowi,  mati karena sesuatu sebab, misal tertembak,  kecelakaan, mati karena tidak menjaga kesehatan
Jadi Silaturahim itu hasilnya dua : Membuka Pintu Rezeki dan Hidup Sampai Batas Ajal.

- Mengembangkan Daya Fisik dengan cara membuka lapangan Pekerjaan.

Demikianlah cara Allah menyayangi manusia,  lewat sunatullah.

3.  Keesaan Perbuatan

Semua yg ada di alam semesta ,termasuk kita itu ada karena Perbuatan Allah. Allah mencipta melalui Sistem Sunatullah,  tidak semaunya sendiri.
Rezeki,  Reproduksi, Keluarga Sakinah, Negara Adil Makmur semua ada Sunatullahnya.  Bila tidak dijalani ya tak akan terjadi.
Contoh Sunatullah bahwa kerbau beranak kerbau, bukan kambing. Seorang anak akan mirip orang tuanya karena adanya genetik.
Kalau manusia memahami hukum Allah,  Sunatullah dalam Al Qur'an maka dia mestinya akan maju. Maka semestinya orang Islam itu harus berfikir Rasional,  Empirik, Ilmiah.

II.  Iman Kepada Qadla dan Qadar.

Ada dua faham,  faham lama (Jabariyah)  dan Faham Baru. Konsep ini bertentangan sama sekali.
Faham lama :
Takdir adalah Keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta semua amal perbuatan manusia. Semua perbuatan sudah ditulis sebelum diciptakan dan Allah menciptakan manusia penghuni Surga dan Neraka.
Dengan faham ini manusia jadi Fatalistik, tidak berusaha. Konsep ini sekarang menguasai dunia islam,  termasuk di Indonesia.  Jadilah kita orang yg tak pernah maju.  Semestinya kita tidak memakai konsep ini,  harus sesuai Tauhid kita yg Rasional, Ilmiah dan Empirik.

Faham Baru
Disampaikan oleh Imam Al Ghozali (tahun 1111)  ,  pada prinsipnya ada 3 hal : Qadla,  Qadar dan Ikhtiar.
Qadla adalah Pengaturan Allah atas segala sesuatu adalah Berdasarkan hukum Sebab Akibat. Jadi Qadla adalah Sistem
Ketika hukum Sebab Akibat berealisasi maka dia menjadi Takdir. Itulah Qadar,  dia terikat waktu dan tempat kejadian.
Ikhtiar adalah Pilihan kita terhadap Sistem yg ditawarkan Allah. Jadi Takdir itu kita yg memilih.

Contoh Reproduksi manusia :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati dari tanah" (QS. Al-Mu'minun 12)

ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ

"Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam tempat yang kukuh (rahim)." (QS. Al-Mu'minun 13)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ۙ  ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ   ۗ  فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ

"Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik."
(QS. Al-Mu'minun 14)

Itu adalah Qadla atau Sistemnya,  dan Perkawinan Manusia adalah Takdir atau Qadarnya. Ada waktunya dan ada tempatnya.
Allah menciptakan Lelaki cinta Wanita dan sebaliknya,  tapi Siapa menikah dengan siapa itu Pilihan Manusia.
Hitam kawin sama hitam hasilnya anaknya hitam,  itu Sistem. Jika mau anak putih maka harus memilih.

Demikian pula dengan Rezeki,  bila pingin kaya ya harus Memilih ikhtiar untuk menjadi Kaya.
Memang Takdir itu harus diimani,  tapi Konsepnya yg mana?
Orang Islam harus Rasional, Empirik dan Ilmiah karena keimanan kita Rasional, Empirik dan Ilmiah.
Jika kita punya masalah tidak menyerah karena takdir,  tapi ikhtiar mencari Sebab,  lalu kita Analisa dan pilih Solusi.

Demikian semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK

Senin, 24 Juli 2017

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

29 Ramadhan 1438 H / 23 Juli 2017
*Drs. H. Musman Tholib, MA*

*Bermuhammadiyah ; ber islam mengikuti Nabi Muhammad*

PRM Gunung Pring di Muntilan tahun ini terpilih sebagai Ranting Muhammadiyah terbaik di Indonesia.  Adapun kriterianya meliputi : Jama'ah,  Organisasi,  Amal Usaha,  Kaderisasi dan Inovasi.
Kriteria jama'ah terutama kegiatan jama'ah shalat subuh harus makmur dan kontinyu. Masjidnya juga besar dan Organisasinya berfungsi sesuai pembagian tugasnya.

Semangat berislam luar biasa kuat dan Muhammadiyah seolah dijadikan isteri kedua,  maksudnya setelah isteri sesungguhnya. Meskipun hanya 20 Kepala Keluarga , dalam 9 bulan mampu menghimpun dana jama'ah sebesar 2,5 M.
Adapun di bidang Amal usaha mereka  memiliki 2 PAUD,  SD,  SMP dan SMA.
Ketika banyak SMA gulung tikar karena kalah dengan SMK, mereka malah berani inovasi, sekarang sedang membangun SMA Boarding School.

Bila semua Ranting dan Cabang mempunyai semangat berislam seperti itu hasilnya pasti luar biasa.

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar."  (QS. Ali 'Imran 142)

Surga adalah idaman bagi setiap orang yg beriman,  namun untuk masuk surga harus jihad dulu.
Jihad bukan berarti perang,  tapi kegiatan dijalan Allah yg bersungguh -sungguh :

- Berjama'ah shalat subuh itu berjihad.
- Seorang anak yg berbakti kepada orang tua itu berjihad.
- Menuntut ilmu, menghadiri Pengajian  itu berjihad.
- Menyisihkan sebagian rejeki untuk sedekah,  bukan untuk yg lain itu berjihad.
Contoh :
di RS Muhammadiyah Weleri ada gerakan SMS ( sehari menabung seribu) yg ditetapkan kepada karyawannya. Ternyata tidak seribu, tapi lebih.  Dan akhirnya bisa dipakai membangun masjid.

Di sebuah ranting di Wonosobo tiap anggota punya kotak infaq di rumah. Diharapkan tiap bulan dapat 10 rb,  ternyata lebih. Bahkan bisa untuk membeli tanah.
Hal sama juga diterapkan di Jama'ah masjid Candi Raya Semarang.

Ayat diatas tadi,  Intinya adalah Kerja keras,  profesional,  jujur dan ikhlas.
Ada kerja sama,  ada kekompakan dan ada jama'ah.
Seperti di Muhammadiyah,  ada imamah (Pemimpin) ; ada jami'ah ( organisasi)  ; ada jama'ah ( anggota) . Ketiganya tak dapat dipisahkan.
Maka setiap diri harus mempunyai kekuatan,  yg berasal dari Allah.

Pada zaman K.H. Achmad Ghazali beliau pernah menyusun buku Amalan Yaumiah, sebagai pedoman Kaum muslim untuk selalu berdzikir kepada Allah , karena setiap kegiatan harian umat islam itu ada tuntunannya,  mulai dari mau tidur,  bangun tidur, mau mandi, mandi,  bercermin,  bepergian , punya hajat semua ada ucapannya, doa kepada Allah.

Ada Hadits dan Ayat yg penting :

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ  بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab  58)

Catatan penting jangan sampai saling mencaci,  apalagi sesama mukmin, yg tidak ada kesalahannya.
Mencaci-maki mukmin adalah fasik, ada hadits nabi :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

"Mencela seorang mukmin adalah kefasikan, sedang membunuhnya adalah kekafiran,"

Saat ini kita lihat gampang sekali saling mencaci di WA atau media, antar ulama. Harus hati2 tidak semua benar,  kadang untuk memancing kita.
Bila kita mencaci orang dan ternyata tidak benar maka cacian akan kembali kepada diri kita.

Bila kita mendengar hal yg tidak menyenangkan cukup katakan : "maa syaa Allah", "laa haula wa laa quwata ila billaah".
Bila kita melihat saudara kita melakukan kejahatan katakan "Astaghfirullah ".

Sekarang ini mudah saling mengkafirkan, bila kita melihat hal yg salah,  kita manfaatkan sebagai ladang amal , caranya yaitu mendoakan,  do'a yg baik. Memaafkan bila mengenai kita,  atau mendamaikan bila menjadi perselisihan.
Jangan terpengaruh kebesaran nama seseorang, bila bertentangan dengan ajaran Nabi tak perlu diikuti.
Contoh,  Nabi memerintahkan agar merapatkan shaf shalat ya harus diikuti. Ada ulama yg mengatakan kaki tak perlu rapat, kalau ada setan biar ikut jama'ah.
Setan kalau mendekat itu mau menggoda,  bukan mau jama'ah.

Ada suatu do'a di kitab Riyadush sholihin yg perlu kita amalkan. Kita ini tidak lepas dari keburukan, tidak maksum walaupun ustadz.

Nabi SAW mengajarkan bapaknya Al Hushain dua kalimat untuk berdoa dengannya, ‘Allahumma alhimni rusydi wa aidzni min syarri nafsi-”.
(Ya Allah, ilhamkan kepadaku hidayahku dan lindungilah dari kejahatan diriku).
(Hadits Tirmidzi)
Do'a ini minta perlindungan diri dari kejahatan diri sendiri; mungkin ucapan kita kebablasen,  mungkin ke kamar mandi kurang bersuci,  ibu kurang melayani bapak,  bapak kurang bertanggung jawab.

Ternyata Nabi telah mengingatkan kita agar Ibda' bi nafsi.  Mulailah dari dirimu sendiri untuk menjadi baik. Terkadang kalau kita sedang emosi akan lepas kendali dan melakukan kesalahan.
Karena itu pentingnya do'a karena do'a adalah senjatanya orang mukmin.

Ada do'a yg bersifat keseluruhan,  yaitu yg kita baca saat shalat,  ihdinash shirotol mustaqim.  Tunjukkan jalan yg lurus ketika menjadi isteri,  ketika menjadi orang tua,  ketika bekerja dikantor. Dimana saja.

Ada lagi doa yg biasa dihafal :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

/Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa/

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”

Nabi ditanya apa amalan yg paling bagus. Beliau menjawab : shalat jama'ah,  lalu kerjakan dengan tepat waktunya.
Ini kita ikut, jalani petunjuk itu.
Bila kita taat maka kehormatan diri terjaga dan merasa cukup.

Demikian yg perlu dikerjakan.  Bermuhammadiyah, itu artinya ber islam mengikut Nabi Muhammad.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK

Rabu, 19 Juli 2017

Pengajian AMM Banyumanik

Pengajian AMM Banyumanik

22 Syawal 1438 H / 16 Juli. 2017

ustadz Ir. Didik Udiono

akna Halal bi Halal

Ketika kita membahas halal bihalal,  biasanya diarahkan ke Surat Ali Imran 133-136; yg isinya antara lain adalah :
Bersegeralah menuju Ampunan Allah dan Surga ; Mengingatkan untuk bersedekah baik diwaktu lapang ataupun sempit ; serta Memaafkan Kesalahan.

Halal bihalal adalah suatu momen yg tak bisa lepas dari berakhirnya Puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan adalah puasa yg khas, berbeda dengan Puasa Senin Kamis, Puasa Daud, Puasa Assyura,  Puasa Arofah,  berbeda dengan Puasa Ayyamul Bidh.
Dimana letak perbedaannya ? Disebutkan :

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ .....

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa,......"
(QS. Al-Baqarah 183)

Kalimat "Kutiba alaikumush shiyam" itu yg membedakan. Puasa Ramadhan membutuhkan syarat Iman yg spesifik.
Kita tak bisa mengabaikan bahwa masih ada orang islam berpuasa membubarkan Pengajian Buka Puasa Bersama. Tentu bukan seperti itu orang beriman yg dimaksud.

Puasa Ramadhan itu diwajibkan setelah Peristiwa Hijrah ke Medinah. Jika kita memaafkan,  juga jangan dimaknai pemberian maaf secara massal.
Pada saat Fathu Mekkah banyak orang kafir yg dimaafkan ,diberi amnesti , tapi tidak semua dimaafkan.
Abu Sofyan, Pemimpin Kaum Kafir dimaafkan. Wahsyi,  pembunuh Hamzah paman Rasulullah dimaafkan. Namun Abu Sarah yg menistakan Al Qur'an dieksekusi mati.

Ketika Puasa Ramadhan diwajibkan, kondisi para sahabat Nabi diuraikan dalam Al Qur'an sebagai berikut :

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ  بَعْضٍ ۘ

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain......" (QS. At-Taubah 71)

Muhajirin dan Anshor itu saling setia,  saling melindungi,  tolong-menolong.
Maka kalau Puasa Ramadhan semangatnya belum tolong-menolong puasanya belum memadai.
Sahabat di Mekkah digembleng imannya selama 13 tahun,  masih belum memadai.
Prinsipnya adalah :

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ......"
(QS. Al-Baqarah 286)

Setelah hijrah dan saling tolong-menolong,  kaum muslim dipersaudarakan.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ .....

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, ....." (QS. Al-Hujurat 10)

Persaudaraan itu karena iman. Itulah dasar puasa Ramadhan. Maka kalau di bulan Ramadhan ada orang islam yg membubarkan buka puasa bersama,  itu berarti tidak ada rasa persaudaraan.
Imannyapun juga bukan iman yg layak dan Puasanyapun juga tidak layak.
Maka Rasul mengatakan :
"Ka min shoimin laisa lahu min shiyamihi illal ju'i wal athosyi."
Puasa mereka tidak ada pahalanya sama sekali.

Muhammadiyah meninggalkan hal2 yg bid'ah,  karena bid'ah menghalangi sunnah Rasul. Meskipun begitu tak ada sejarahnya Muhammadiyah memprovokasi,  membubarkan majelis bid'ah.  Itu karena menghayati semangat persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshor. Tetapi terhadap mereka yg melecehkan Al Qur'an bersikap tegas,  karena Rasul mencontohkan begitu pada fathu Mekkah.

Manhaj Muhammadiyah meniru sahabat. Memang bersifat Reformis,  tapi itu di bidang Muamalah. Di bidang Syariah dan Akidah mengacu para Sahabat.
Tentang kemarahan juga ada contohnya,  hadits yg diceritakan oleh Aisiyah r.a bahwa Rasulullah tidak pernah membalas kezaliman kepadanya sebatas tidak ada aturan agama (Allah)  yg dilanggar. Tapi sedikit saja hukum Allah dilanggar maka Rasulullah termasuk yg paling marah.

Islam itu tertinggi dan tak bisa dilampaui ketinggiannya. Harus bisa membedakan antara Pribadi dan Simbol islam. Ketika Pribadi dizalimi,  kita maafkan. Namun ketika Simbol islam dilecehkan maka tak ada kompromi.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK

Senin, 10 Juli 2017

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

15 Ramadhan 1438 H / 9 Juli 2017
Drs. H. Nurbini

*Silaturahmi,  keindahan akhlak Islami*

Setelah Lebaran orang biasanya asyik dengan lebaran, sehingga paska ramadhan seolah telah selesai .Padahal saat ramadhan luar biasa ibadahnya, karena motivator untuk itu memang luar biasa.
Banyak hadits yg menjanjikan :
- Adanya malam lailatul qodar
- Adanya pengampunan dosa Sebelumnya.
- Pahala yg dilipat gandakan, dan ibadah sunah pahalanya dinilai wajib.
- Selain itu juga banyaknya umat yg beribadah juga menjadi motivator.

Mestinya bulan Syawal itu Peningkatan, termasuk ibadahnya. Maka agar tidak terlena kita perhatikan ini :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَـقِيْنُ

"dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu." (QS. Al-Hijr 99)

Kita diperintah ibadah sampai mati,  jadi jangan pilih2 hari (misal jumat)  atau pilih bulan (Ramadhan). Ibadah harus terus karena Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadaNya.
Dan ibadah yg disuka adalah yg ajeg.

Mensyukuri nikmat itu dengan menjalani ibadah , apapun ibadahnya. Bila kita mensyukuri Harta ya dengan Zakat, infaq dan sedekah.

Ada hadits :
" Setiap nikmat yg dengan nikmat itu engkau tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah azza wajala ketahuilah yg demikian itu adalah mala petaka yg akan membinasakan (Al Baihaqi).

"Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat". (Idhah ash shabirin) .

Kalau dalam Al Qur'an. :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

".......Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim 7)

Tanda amal ibadah diterima Allah :
"Diantara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan diantara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya".

Jangan sampai terjadi setelah berbuat kebaikan diikuti dengan kejelekan. Lebih2 jangan sampai mendzolimi orang lain,  karena dapat menimbulkan kebangkrutan ketika di akhirat nanti.

Ada hadits yg terkait dengan "hutang" ini agar tidak "Bangkrut" :
"Siapa yg punya urusan dengan orang lain maka selesaikanlah ketika masih di dunia jangan sampai dibawa ke akhirat".

Solusinya adalah minta dihalalkan. Artinya jika kesalahan ya minta dimaafkan. Hal ini pernah dicontohkan Nabi dalam kisah Akasyah. Beliau Rasul berseru sampai 3 kali menawarkan kepada siapa yg mau mengadakan pembalasan bila pernah disakiti oleh Rasul.

Kejahatan boleh dibalas , namun Memaafkan lebih utama.

وَجَزٰٓؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ   فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ  اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim."
(QS. Asy-Syura 40)

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهٖ فَاُولٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِّنْ سَبِيْلٍ

"Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka." (QS. Asy-Syura  41)

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖ ۚ  وَلَئِنْ  صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ

"Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar." (QS. An-Nahl  126)

Ada hadits tentang orang yg didzolimi tapi tidak membalas , tanggapan Rasul tentang hal tersebut seolah dia melempar Abu panas ke wajah orang yg berbuat dzolim.  Maknanya adalah : Orang yg berbuat dzolim akan sakit hati karena yg didzolimi tetap sabar. Dan dia akan malu karena orang lain akan menghina dia.

Masih tentang silaturahmi,  urutannya juga diatur oleh An Nisa 36 :

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا   ۗ  وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَالْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَـارِ الْجُـنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَـنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ  ۙ  وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَانُكُمْ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرَا

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. An-Nisa' 36)

Berbuat baik harus mendahulukan kedua orang tua dulu,  setelah itu baru karib kerabat dan seterusnya.

*Silaturahim itu inti Dakwah Islam*

Silaturahim adalah resep mustajab untuk ukhuwah. Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa silaturahim termasuk inti dakwah Islam, sebagaimana diriwayatkan Abu Umamah, dia berkata: Amr bin ‘Abasah As-Sulami berkata:

فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ

Aku berkata: “Dengan apa Allah mengutusmu?” Rasulullah menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturahim, menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, tidak disekutukan dengan-Nya sesuatupun.” (HR. Muslim)

*Makna Silaturahim*

Silaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata صِلَةٌ dan الرَّحِمُ . Kata صِلَةٌ adalah bentuk mashdar dari kata وَصَلَ- يَصِلُ, yang berarti sampai, menyambung. Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “وَصَلَ – الْاِتِّصَالُ yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (Al-Mufradat fi Gharibil Qur`an, hal. 525)

Adapun kata الرَّحِمُ, Ibnu Manzhur berkata: “الرَّحِمُ adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.”

Jadi, silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab.

*Janji Allah terhadap orang yg menyambung silaturahim*

Dijanjikan masuk surga Adn. Kriterianya ada di ayat ini :

وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَ يَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ

"dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk." (QS. Ar-Ra'd  21)

Hal yg serupa disebut dalam hadits Nabi :
“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”.

Yang kedua adalah sadaqah kepada kerabat. Selain mendapat, pahala sadaqah juga mendapat pahala menyambung silaturahim.

Hadits dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” .

Menyambung silaturahim tidak Sekedar membalas. Menyambung silaturahim adalah menyambung kembali hubungan kekerabatan terhadap mereka yg memutuskannya. Jadi ada 3 karakter : Memutuskan silaturahim ; Membalas silaturahim ; dan Menyambung silaturahim.

*Ancaman Terhadap Orang yg memutuskan silaturahim*

1.  Diancam masuk neraka

وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ ۙ  اُولٰۤئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ

"Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itu memperoleh laknat dan tempat kediaman yang buruk ." (QS. Ar-Ra'd 25)

2. Dibuat buta dan tuli

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْۤا اَرْحَامَكُمْ

"Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?"
(QS. Muhammad 22)

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ

"Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli dan dibutakan penglihatannya."
(QS. Muhammad  23)

3. Disegerakan azab di dunia dan disiksa di neraka.

Rasulullah saw bersabda

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يُدَّخَرُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

"Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi"

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum


SAK

Minggu, 11 Juni 2017

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

16 Ramadhan 1438 H / 11 Juni 2017
*Drs. H. Fachrur Rozy MAg.*

Ibadah puasa adalah satu-satunya ibadah yg tersembunyi,  hanya dirinya sendiri yg tahu dan Allah. Ibadah yg lain jelas akan bisa dilihat .

Syahadad malah harus diucapkan dan didengarkan orang lain. Bahkan sekarang perlu dicatat dan ditanda tangani diatas meterai. Itu semua penting untuk administrasi digunakan untuk mengubah dokumen lain. Itu namanya Maslahah Mursalah, dulu jaman Nabi tidak ada,  sekarang diperlukan.

Shalat jelas terlihat rukuknya, membayar zakat jelas terlihat obyeknya. Apalagi naik Haji. Semua jelas terlihat, yg tidak terlihat hanya puasa.

Puasa itu urusan hamba dengan Allah. Kuncinya ada pada NIAT. Puasa jangan diniati yg lain, misal ingin langsing. Tujuan puasa adalah :
"la allakum tataqun" (Agar engkau menjadi takwa).
La alla. artinya harapan, mungkin tercapai mungkin tidak.
Dan Nabi telah mengingatkan 14 abad  lalu bahwa ada puasa yg hanya menghasilkan lapar dan dahaga. Ujian ada yg lulus ada yg tidak. Kalau pelaksanaannya bagus, in syaa Allah ya lulus.

Rasul pernah ditanya apa itu takwa, jawabnya ' Takwa itu hahuna. (disini-dalam Dada) '.
Alhamdulillah kita mendapat penjelasan dari Khalifah Ali bin Abi Thalib tentang takwa untuk menjadi muhasabah diri sendiri.
Ada 5 tanda menunjukkan adanya takwa, namun pada kesempatan ini hanya 2 yg akan dibahas.

*Al-Khoufu minal Jalil.*

Merasa takut kepada Allah dan yakin Allah selalu melihatnya.

Contoh :
1. Seorang yg berpuasa, ketika wudhu dia meludah berkali-kali hanya karena khawatir air masuk mulutnya.

Itulah orang puasa, jujurnya luar biasa. Jadi kalau puasa berhasil pasti tak ada korupsi.

2. Di rumah,  sepasang suami isteri tak mau berbuat hal yg membatalkan puasa meski hanya berdua, karena takut kepada Allah yg mengawasi.
Padahal ini kepada wanita yg halal, pasti kepada yg tak halal akan tambah mudah untuk menghindarinya.
Itu kalau takwa,  puasanya benar.

Takwa artinya menjalani perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ  وَمَنْ  يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
"Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
(QS. Az-Zalzalah 7- 8)

Dengan keyakinan seperti itu maka takwa akan mewujud dalam diri kita.

*2. Al Amalu bil Tanzil*

Beramal dengan apa yg diturunkan oleh Allah, yaitu Al Qur'an.
Alhamdulillah 6-7 bulan yg lalu umat Islam dihentakkan oleh apa yg diucapkan oleh mantan Gubernur DKI.
Allah menghadirkan dia untuk terpeleset lesannya sehingga membuat sebagian umat Islam membuka Al Qur'an.
Inilah cara Allah mengalahkan Petahana, yg semua survey mengatakan Petahana tidak akan bisa dikalahkan. Siapapun lawannya dia pasti menang, karena dia elektabilitasnya tinggi, tingkat kepuasannya tinggi, dengan dukungan dana luar biasa hampir tak bisa dikalahkan.

Akibatnya dia arogannya luar biasa, sehingga umat Islam resah dan bermunajad kepada Allah,  sehingga Allah memplesetkan dia mengucapkan kalimat itu, menyinggung Al Maidah 51. Sehingga menimbulkan kebangkitan umat Islam.

Umat islam yg faham langsung bereaksi. Umat Islam yg tak faham baru mulai membuka Al Qur'an. Banyak umat Islam yg tak pernah membuka Al Qur'an, kadang dianggap hanya sebagai mantera pengusir jin, kadang ditulis dan digantung dipintu.

Pertanyaan introspeksi, haruskah kesadaran umat islam itu bangkit dengan cara itu. ?
Maka Ramadhan ini menjadi momentum yg tepat untuk membuka Al Qur'an.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ ..........

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda.................."
(QS. Al-Baqarah 185)

Al Qur'an adalah Petunjuk,  Penjelasan dan Pembeda. Jadi tidak benar jika dikatakan agama apa saja sama, karena Al Qur'an jelas mengatakan berbeda.

Allah SWT berfirman :

قُلْ يٰۤاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!" (QS. Al-Kafirun  1)

Berarti orang kafir itu memang ada. Meskipun beda namun kita-tetap wajib toleransi, hubungan sosial dijaga dengan baik , tolong -menolong dalam hal kemanusiaan.
Dalam agama pedomannya :

لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun 6)

Demikian Al Qur'an mengajarkan kepada kita, karena itulah Al Qur'an perlu dibaca.

Membaca Al Qur'an itu ada beberapa cara :
Murotal.  : Membaca dengan pelan, karena perintahnya memang begitu.

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا

"........ dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzzammil  4)

Tadarus : Membaca Al Qur'an dengan dilihat terjemahnya. Dikaji maknanya karena itu namanya Pengajian.
Mungkin tidak khatam dalam 1 bulan, namun banyak hal yg bisa kita mengerti.

Qiro'ah,  seperti kalau kita membaca novel,  membaca dengan penghayatan.

Jadi ada tingkatan,  membaca saja,  memahami,  menghayati dan yg terakhir mengamalkan,  yaitu Tilawah.

Al Amalu bil Tanzil,  Qur'an jadi panduan, dibaca, difahami,  dihayati kemudian diamalkan.

Demikian semoga manfaat
Barokallohu fikum

SAK

Minggu, 04 Juni 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

9 Ramadhan 1438 H / 4 Juni 2017
*Drs. H. Hamzah Rifqi MSi*

*Korelasi Puasa dengan Iman*

Banyak yg mengaku islam, tapi di bulan Ramadhan tidak berpuasa. Padahal mereka tidak ada udzur tidak ada halangan. Tidak sakit dan tidak pula bepergian. Tanpa alasan mereka meninggalkan ibadah puasa.

Puasa diperintahkan kepada orang yg beriman.

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 183)

Jadi puasa adalah resiko dari keimanan. Ibarat membayar pajak mobil adalah resiko mempunyai mobil.
Namun banyak yg mengaku beriman tapi tak mau berpuasa.

Itulah yg terjadi di masyarakat kita. Persepsi kita tentang orang islam kebanyakan keliru. Kita sering menganggap bahwa jika dia Islam maka dia beriman.

Ternyata tidak benar, ada orang yg mengaku islam tapi tidak beriman.
Allah telah memberi tahu hal itu kepada Nabi :

قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا    ۗ  قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ   ۚ  وَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْئًــا   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Orang-orang Arab Badui berkata, Kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka), Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah tunduk (Islam), karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat  14)

Nabi manusia biasa seperti kita, tidak tahu apa yg ada di dalam hati.
Apalagi yg dalam hati, yg nyata saja kadang Nabi tidak tahu. Ini tentang kisah lain :

_Kisah tentang seorang lelaki yang menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan. Nabi memberikan solusi padanya dengan tiga alternatif; membebaskan budak, puasa dua bulan berturut-turut dan memberi makan enam puluh orang miskin. Lelaki tadi ternyata tidak menyanggupi ketiga alternatif ini. Nabi kemudian memberikan sekantung kurma. Lelaki tadi kemudian diperintah untuk menyedekahkannya. Tanpa disangka ternyata lelaki tadi tidak mendapat orang yang lebih miskin darinya. Serentak Rasul pun tertawa hingga terlihat giginya kemudian ia memerintahkan pemuda tadi untuk memberi makan kurma itu pada keluarganya._

Dalam kisah tadi jelas bahwa Nabi tidak tahu keadaan laki2 tesebut. Maka beliau bertanya. Namun Allah Maha Tahu apa yg ada di dalam hati. Dan Allah memberi tahu kepada Nabi.

Boleh jadi ada orang mengucapkan kalimat syahadat namun tidak masuk dalam hati sama sekali. Maka tak perlu heran tentang orang yg islam tapi tak beriman. Mereka memasuki bulan Ramadhan pun juga tidak merasa.
Ini lah yg dikhawatirkan Nabi.

Dikisahkan dalam hadits :

عن معاذ بن جبل قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ اْلجَنَّةَ

Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu  berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang akhir ucapannya “laa ilaaha illallah” maka dia akan masuk surga”.
Kemudian Mu'adz minta ijin kepada Nabi untuk menceritakan hal tersebut kepada orang banyak . Namun jawab Nabi tidak perlu,  karena khawatir bahwa kelak manusia hanya mengandalkan amalan itu. Kemudian Mu'adz menceritakan kepada Anas dan sampailah kepada kita.
Sekarang kekhawatiran Nabi terbukti. Banyak yg bersyahadat tapi tidak beriman.

Itulah sebabnya, kenapa sekarang ini seorang Naib bila menikahkan mempelai selalu minta agar yg pria mengucapkan syahadat. Padahal hal tersebut tak termasuk syariat nikah.
Karena untuk melindungi dirinya dari dosa, sebab ada larangan menikahkan lelaki kafir dengan wanita mukminah.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا جَآءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّ   ۗ  اَللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِهِنَّ   ۚ  فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِ   ۗ  لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ   ۚ  وَاٰ تُوْهُمْ مَّاۤ اَنْفَقُوْا   ۗ  وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ اِذَاۤ اٰ تَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ   ۗ  وَلَا تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـئَـلُوْا مَاۤ اَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْـئَـلُوْا مَاۤ اَنْفَقُوْا   ۗ  ذٰ لِكُمْ حُكْمُ اللّٰهِ   ۗ  يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ   ۗ  وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." (QS. Al-Mumtahanah 10)

Mereka yg mengaku beriman akan diuji, karena Allah tahu mana yg serius dan mana yg hanya dimulut saja.

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا  يُفْتَـنُوْنَ
وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ  الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."
(QS. Al-'Ankabut 2- 3)

Bila mereka benar beriman maka pasti percaya terhadap Informasi yg disampaikan oleh Allah dan Rasulnya.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ   ۗ  اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar."
(QS. Al-Hujurat  15)

Dulu ketika turun ayat2 yg melarang khomr, ataupun melarang judi mereka langsung percaya meskipun tak bisa membuktikan kemudhorotannya.
Namun sekarang justru ketika kita telah mampu membuktikan kemudhorotan khomr ataupun judi, masih banyak yg melanggarnya, karena tidak beriman.

Yg bisa dibuktikan saja mereka tak percaya, apalagi yg belum terjadi?
Kelak manusia akan dibagi dua, yg beriman masuk surga dan yg tidak masuk neraka. Di neraka mereka diberi minum dari sumber air yg mendidih.

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ

"Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina, (karena) bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas." (QS. Al-Ghasyiyah  Ayat 2 - 5)

Bila orang percaya ini, niscaya dia akan puasa sekarang. Masalahnya memang mereka tak percaya, ini dianggap ilusi saja, yg menceritakan belum mengalami.

وَمِنَ النَّاسِ  مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ

"Dan di antara manusia ada yang berkata, Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Baqarah 8)

Mereka itu tidak menuhankan Allah ,melainkan menuhankan hawa nafsunya.
Jadi ketika Allah memerintahkan menahan lapar dan haus di siang hari ,  mereka memilih yg lain.

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَاۤ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوْاۤ اَنُؤْمِنُ كَمَاۤ اٰمَنَ السُّفَهَآءُ  ۗ  اَ لَاۤ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَآءُ وَلٰـكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman! Mereka menjawab, Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman? Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu."
(QS. Al-Baqarah 13)

Repotnya mereka itu bodoh, tetapi tidak tahu kalau dirinya bodoh. Berapa banyak diantara kita yg tak tahu cara wudhunya salah?  Berapa banyak yg tak tahu cara mandi besar?  Padahal wudhu dan mandi besar adalah syarat sahnya shalat.
Solusinya hanya satu, yaitu Belajar ! .
Nabi itu diperintahkan kepada umat untuk memberi pengajaran, termasuk cara beribadah.

Dikisahkan dalam hadits :
Pada suatu hari, seorang sahabat masuk ke dalam masjid. Saat Rasulullah berada dalam masjid. Sahabat tersebut melakukan shalat 2 rakaat .
Rasulullah memperhatikan. Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah. Rasulullah bersabda :
 “Ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!”

Sahabat itu mengulangi shalatnya kembali. Namun usai mengerjakan shalat, Rasulullah bersabda :
 “Ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!”

Demikian berulang tiga kali.  Akhirnya sahabat itu berkata :
“Saya tidak bisa shalat selain seperti shalat yang tadi. Jika salah, maka ajarilah saya!”

Rasulullah bersabda , “Jika engkau hendak melaksanakan shalat, maka lakukanlah wudhu’ dengan sempurna, kemudian menghadaplah kiblat dan ucapkanlah takbir, kemudian bacalah surat Al-Qur’an yang mudah bagimu , kemudian lakukanlah shalat dengan thuma’ninah”

Thuma'ninah adalah rukun shalat, namun berapa banyak orang yg shalatnya ngebut ?
Di YouTube ada tarawih 23 raka'at dalam waktu 8 menit. Ini jelas tidak Thuma'ninah.

Pada hakekatnya puasa adalah test case dari Allah;  orang beriman atau tidak.
Ada yg islam tapi tidak beriman.
Petani menanam padi ,kadang diserang hama, tidak panen. Demikian juga dengan puasa, ada yg tidak menghasilkan apa -apa, karena tidak meninggalkan dusta dan dosa.

Demikian semoga bermanfaat.
Barokallohu fikum

SAK

Senin, 29 Mei 2017

Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

2 Ramadhan 1438 H / 28 Mei 2017

Dr. dr. Masrifan Djamil

*Kajian Ramadhan*

Ada hadits yg terkenal, yaitu ketika Rasulullah s.a.w naik ke atas mimbar, beliau berkata ‘Aamiin,’ 3 kali  lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku berkata: ‘Aamiin.’”

Kesimpulannya pada umumnya orang yg memasuki bulan Ramadhan dijanjikan keluar Ramadhan dalam keadaan suci, tetapi tentu tidak semua karena yg diseru adalah orang yg beriman.

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 183)

Pada kenyataan ada yg tidak berpuasa,  ada pula yg menjalani seadanya, seolah bukan bulan istimewa.
Mereka yg menjalani dengan serius mengatakan bahwa kita sudah diberi waktu 11 bulan untuk bekerja, maka bulan Ramadhan ini kita istimewakan khusus untuk beribadah.
Ini tentang iman, dan iman pasti diuji.
Kita mendapat petunjuk tentang ciri orang beriman ada dalam Surat al Mukminun :

1. Shalatnya khusyu'

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

"(yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya,"
(QS. Al-Mu'minun 2)

Khusyu' artinya memanjangkan rukuk dan sujud.

2. Tidak berbuat dan berkata sia2

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ

"dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,"
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 3)

Seperti WA ibarat pisau bermata dua ,bisa bermanfaat namun bisa sia2.
*Sungguh indah mukmin itu, dia itu tidak banyak bicara -dan jika  bicara selalu bermanfaat.*
Ini sesuai hadits :

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت ,
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam"

3. Berzakat

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فَاعِلُوْنَ

"dan orang yang menunaikan zakat,"
(QS. Al-Mu'minun  4)

4.  Menjaga kesetiaan suami isteri

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ

"dan orang yang memelihara kemaluannya,"
(QS. Al-Mu'minun 5)

5. Memegang amanah dan janji

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ

"Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,"
(QS. Al-Mu'minun 8)

6. Menjaga shalatnya

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ

"serta orang yang memelihara sholatnya."
(QS. Al-Mu'minun 9)

7.  Taat kepada Allah dan Rasul

Ciri lain ada dalam Surat al Anfal,  mereka taat kepada Allah dan Rasul,  bukan kepada guru. Pengertiannya adalah bahwa orang beriman itu berpegang teguh pada Al Qur'an dan Sunah.
Kita tahu bahwa dulu Imam Ghozali pun belajar ilmu kepada semua madzab,  tidak pilih2. Ada ucapan dari imam Ali yg sangat penting :

 أنظر ما قال ولا تنظر من قال

"lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan".

Intinya orang beriman melihat kebenaran tanpa mempersoalkan siapa yg mengatakan. Dan penting sekali untuk menanamkan :
*"Ati’ullaha wa ati’ur rasula"*

8. Bila disebut Asma Allah hatinya gemetar.

9. Bila dibacakan ayat2 Allah,  imannya bertambah.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
(QS. Al-Anfal 2)

Rujukan Orang Beriman

1. Menjadi Profesional

".... Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Baqarah  177)

Dikaitkan dengan kalimat (pada ayat yg sama)  : "orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, " maka orang mukmin haruslah : PROFESIONAL , TEPAT WAKTU.
Dengan disiplin waktu maka hidup bisa efektif. Misal mengadakan rapat bisa beberapa tempat dan semua menghasilkan keputusan, tidak sia-sia.

2. Al Qur'an sebagai Petunjuk

Al Qur'an diturunkan dibulan Ramadhan
(QS. Al-Baqarah 185), dan disini menjadi kebiasaan membaca Al Qur'an di masjid dengan pengeras suara.
Terkadang yg baca tak benar bacaannya, apalagi artinya tidak tahu.
Padahal siapapun yg mendengar Al Qur'an dibaca wajib memperhatikan.

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا  لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 204)

Yg dianjurkan adalah melakukan tadarus, yaitu membaca dan memahami maknanya. Menurut istilah Kiai Mustofa Bisri :"Moco Qur'an sak maknane ", jadi diatur ada yg membaca dan ada yg menerjemahkan.
Kalau ini dilaksanakan niscaya orang  Indonesia akan berubah,  menjadi orang yg beriman dan takwa. Karena kalau orang beriman jika diberi tahu ayat akan "samiknaa wa atho'naa". Apalagi jika memahami bahwa Al Qur'an adalah hudalinass.

3. Banyak berdo'a

Sering sekali terjadi kontroversi tentang do'a. Do'a harus begini begitu,  do'a hari pertama puasa begini ..dan seterusnya.
Padahal jika berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, (QS. An-Nisa' 59)

Kita itu berdoa kepada Tuhan yg dekat, Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat jadi tak perlu berteriak.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku...."
(QS. Al-Baqarah 186)

Juga berdo'a itu tidak dibatasi,  berdo'a sebanyaknya dan sesuai kebutuhan yg tentunya berbeda. Jangan mengamalkan do'a harian yg sering dishare di WA.
Dianjurkan banyak membaca :
Laa-haula Walaa Quwwata Illaa Billaah

Salah satu dasar agar banyak berdoa adalah hadits :

“Ada tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak; seseorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzhalimi.”

Dalam hadits yg lain dikatakan siapa yg selalu berdzikir maka dia bersama Allah.

4. Sabar dalam ketaatan.

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ

"Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 128)

Sabar itu tak ada batasnya, masing-2 sudah sabar, cuma beda derajatnya.
Untuk bersabar kita butuh minta tolong kepada Yang Maha Sabar.
Lebih2 dibulan Ramadhan, puasanya sendiri pahalanya besar dan sabarnya tak terhingga pahalanya. Menurut al Baqarah 187,  puasa itu menahan diri,  sabar disegala urusan, termasuk melakukan sunnah puasa.
Bukannya mandi besar atau berendam dilaut. Juga bukan ziarah makam karena do'a darimana saja bisa.
Yg perlu dilakukan adalah shalat syuruq dan i'tiqaf.

Demikian semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

SAK