Selasa, 21 Agustus 2018

Khutbah Iedhul Adha 1439 H / 2018 Lapangan Setiabudi Banyumanik

HAKEKAT QURBAN ADALAH KEBERPIHAKAN KEPADA ALLAH

‎Oleh : Drs. H. Sukamdo. M. Si

PCM / Majelis Tabligh Muhammadiyah
‎Banyumanik - Semarang

Perkenankanlah kami memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan inayahNya kita dapat merayakan Hari Raya Idhul Adha dengan tenang dan khidmad dan dapat melaksanakan sholat Ied dengan khusyuk, semoga ibadah kita diterima Allah SWT.

Pada kesempatan ini kita bisa mengambil pelajaran dari Nabi Ibrahim a.s. Dikisahkan bahwa Ibrahim a.s sangat mencintai anaknya sehingga kecintaannya tersebut telah menimbulkan attachment / keberpihakan yang berlebihan, bahkan melebihi kecintaannya kepada Allah SWT.

Rasa cinta seperti itu telah membuatnya bersikap tidak adil. Dikisahkan Nabi Ibrahim a.s selalu berpihak kepada anaknya apabila anaknya berselisih dengan kawannya. Padahal sebagai seorang Nabi yang membawa ajaran Allah SWT sikap seperti itu akan membahayakan karena sulit baginya untuk berbuat adil, mencintai sesama dengan tidak pandang bulu, serta melakukan kebaikan dengan ikhlas.

Maka Allah SWT menyuruh Nabi Ibrahim a.s mengorbankan anaknya yang sebetulnya dimaksudkan bukan untuk menyembelih anaknya, tetapi untuk memotong rasa attachment / keberpihakan yang begitu besar kepada sesuatu selain Allah SWT. Ketika itulah Nabi Ibrahim a.s mendapat ujian yang begitu berat, sehingga digambarkan begitu sedihnya Ibrahim a.s mendapatkan perintah tersebut.

Setelah melalui perjuangan batin, Nabi Ibrahim a.s mengajak musyawarah kepada anaknya seperti tersebut dalam Al Qur'an surat Ash Shaffat.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْۤ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْۤ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى ۗ

"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!"

قَالَ يٰۤاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ  سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Saffat 102)

Setelah melalui perjuangan batin yang panjang dan karena didorong pula oleh anaknya untuk melaksanakan perintah tersebut, akhirnya ia rela mengorbankan anaknya. Ketika pisau sedang diayunkan untuk mengorbankan anaknya, ketika itulah rasa keberpihakan kepada anaknya terputus, sehingga Allah SWT menyetop Ibrahim a.s dan menyuruh menggantikan korbannya dengan seekor kambing gibas.

Kenabian Ibrahim a.s telah sempurna karena saat itu ia hanya mempunyai attachment / keberpihakan kepada Allah SWT, sehingga ia dapat memperlakukan setiap manusia dengan adil,  kasih sayang,  serta betul-betul ikhlas karena keberpihakan hanya kepada Allah SWT,  bukan karena ingin dipuji atau alasan-alasan lainnya.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Bila kita perhatikan ayat di atas maka akan kita dapati 4 pelajaran darinya.

1. Pelajaran untuk menjunjung tinggi perintah Allah.
2. ‎Ketegaran Nabi Ibrahim a.s dalam menghadapi cobaan / ujian.
3. ‎Pentingnya memberi bekal ilmu dan rasa taqwa kepada anak.
4. ‎Kesabaran Nabi Ismail a.s dan Nabi Ibrahim a.s dalam melaksanakan perintah Allah.

Apabila isi kandungan ayat tersebut kita ambil hikmahnya,  kemudian kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari in syaa Allah bangsa ini akan segera bangkit dari persoalan-persoalan keterpurukan selama ini.
Coba kita bayangkan bagaimana dampak positifnya jika umat islam menjunjung tinggi perintah Allah. Tentunya segala aktivitas kerjanya akan punya nilai kendali dan otomatis hal-hal yang negatif akan terhindari.

Kita bisa juga mencoba merenungkan bagaimana hasilnya bila dalam hidup ini kita memiliki ketegaran dalam menghadapi bermacam-macam cobaan. Tentu tidak akan mudah untuk dibelokkan ke arah yang negatif dan merugikan.

Kita bisa memperhatikan bagaimana hasilnya apabila seorang ayah berhasil memberi bekal kepada anaknya berupa ilmu dan rasa taqwa terhadap Allah.  Tentu kelak orang tua akan bahagia dan anaknyapun akan menempuh masa depan dengan penuh harapan.

Bagaimana indahnya andaikata bangsa ini bisa mengendalikan emosinya. Maka cobaan yang berbentuk apapun tentunya bisa diatasi dengan baik dan dampaknya adalah Allah SWT akan mengganti musibah dengan kemenangan / kebahagiaan.

Dari peristiwa ini juga dapat diambil pelajaran :

1. Tokoh Nabi Ibrahim a.s sebagai seorang ayah yang harus dijadikan contoh bagi ayah-ayah masa kini. Ia amat mencintai anak dan isterinya , tetapi cintanya kepada Allah SWT berada di atas segala-galanya. Nabi Ibrahim a.s memberikan contoh sebagai orang tua yang baik harus mau bermusyawarah dengan anak dan keluarganya.
2. ‎Siti Hajar yang sangat kuat imannya dan setia kepada suami serta cinta dan kasih sayang kepada puteranya. Ibu yang demikian wajib diteladani oleh ibu-ibu masa kini. Seorang ibu yang baik adalah yang sabar dan tabah. Tidak berduka ketika suaminya tercinta meninggalkannya seorang diri di gurun pasir Sahara,  ia merelakan pergi suaminya,  karena kepergiannya untuk memenuhi panggilan Ilahi. Kesetiaan, keikhlasan Siti Hajar perlu dicontoh dan diteladani oleh ibu-ibu dan wanita masa kini. Ketabahan, kesabaran dan kesetiaan kepada suami merupakan sumber keharmonisan rumah tangga sekaligus kebahagiaan rumah tangga yaitu Rumah Tangga yang Sakinah, mawaddah wa rahmah.
3. ‎Ismail adalah tokoh remaja, teladan/ contoh yang harus ditiru oleh remaja masa kini,  untuk mewujudkan takwanya dan baktinya kepada Allah SWT dan kepada orang tua, ia rela mengorbankan nyawanya berpisah dengan jasadnya. Bukankah itu suatu pengorbanan yang luar biasa?

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Sehingga wajarlah Allah SWT menyatakan dalam Al Qur'an :

اِنَّ  هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰٓ ؤُا الْمُبِيْنُ

"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (QS. As-Saffat 106)

Anak yang baik adalah anak yang taat, tunduk, patuh pada Allah SWT serta kepada orang tuanya.

Kepada saudaraku yang diberi kemudahan rezeki kami berharap mau melaksanakan qurban. Kita masih mempunyai kesempatan hari ini,  3 hari sesudahnya. Jangan kita ingkari perintah Allah SWT. Jangan kita hanya mementingkan kepentingan diri kita sendiri tanpa memikirkan fakir miskin.
Sungguh mengkhawatirkan sekali orang yang tidak mau menyembelih qurban sementara mereka mampu.

 مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَ لَمْ يُضَحّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا.

“Barangsiapa yang mempunyai kelapangan rezqi, tetapi tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”. [HR. Ibnu Majah]

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Jadi makna qurban yang secara ritual dirayakan oleh umat Islam setiap tahunnya adalah bukan semata-mata untuk menyembelih kambing atau sapi saja. Tetapi harus diniatkan untuk "menyembelih" keberpihakan kita kepada selain Allah SWT seperti berhala-berhala, kebanggaan diri, uang, status, kekuasaan, golongan dan kesombongan.

Ketika kita telah berpihak kepada Allah SWT kita baru bisa berbuat baik kepada sesama manusia dengan ikhlas dan adil.

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا  دِمَآ ؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ  كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا  لَـكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ ۗ  وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

"Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj  37)

*Manfaat Ibadah Qurban*

Dalam surat Al Kautsar terkandung pesan bahwa pembuktian seorang yang beriman yakni menegakkan sholat dan berkorban. Ketika seseorang beriman dan taat kepada Allah SWT dia akan diminta pengorbanannya.
Adapun manfaat berqurban :

1. Berqurban meningkatkan kepedulian, solidaritas dan jiwa sosial terhadap sesama manusia.
2. ‎Berqurban berarti berbagi harta dengan sesama dan ikut membahagiakan mereka.
3. ‎Qurban memberikan pendidikan bagi umat islam agar suka berkorban.
4. ‎Berqurban tidak hanya menyembelih hewan saja, tetapi juga berkorban uang, tenaga dan waktu, serta pikiran.
5. ‎Berqurban dapat menghilangkan sifat kebinatangan yang penuh dengan hawa nafsu.
6. ‎Berqurban dapat mencegah perbuatan dholim seseorang.
7. ‎Berqurban dapat meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
8. ‎Berqurban adalah bagian janji yang diucapkan tiap-tiap sholat. "Sesungguhnya sholatku, pengorbananku ,hidupku,  dan matiku hanya untuk Allah SWT ". Karenanya berapa rupiah yang digelontorkan untuk berqurban, semata untuk membuktikan kepatuhan seseorang kepada Allah SWT.
9. ‎Berqurban membahagiakan kaum dhuafa, fakir miskin dan orang sekitarnya.
10. ‎Berqurban dapat mensejahterakan peternak-peternak lokal.
11. ‎Berqurban mempererat tali persaudaraan.
12. ‎Berqurban adalah untuk fastabiqul khoirot.

Jama'ah shalat Iedhul Adha rahimaahullaah.

Ada pertanyaan bagi kita semua, kenapa selama ini kami belum mampu berqurban?  Kenapa kami baru berqurban satu kali?
Kepada saudara-saudara yang saat ini bisa berqurban kita do'akan mudah -mudahan tahun depan kita bisa berqurban lagi.
Kepada saudara -saudaraku yang saat ini belum berqurban kita do'akan mudah -mudahan tahun depan bisa berqurban. Aamiin yaa Robbal 'Aalamiin.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Marilah bersama-sama kita berdo'a sebagaimana do'a yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s.

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا  الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّـعْبُدَ الْاَصْنَامَ

"Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala."
(QS. Ibrahim 35)

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ   ۖ    رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim  40)

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلـِوَالِدَيَّ  وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

"Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat)." (QS. Ibrahim 41)

رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf  23)

رَبَّنَا هَبْ لَـنَا  مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan 74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَـنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr 10)

رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah  201)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 20 Agustus 2018

Kajian Ahad AMM Banyumanik

Kajian Ahad AMM Banyumanik

MANHAJ MUHAMMADIYAH

Tanggal : 7 Dzulhijjah 1439 H/ 19 Agustus 2018

Nara sumber :  Rahmat Suprapto

*Seputar masalah ibadah Fardhiyah*

Bagaimana cara kerja Muhammadiyah dalam proses istinbath (menetapkan) hukum ? Kadang ada yang menstigma Muhammadiyah ini barang aneh,  Qunut tidak pakai,  Tahlilan - Yasinan gak mau,  sebagian ada yang cingkrang dan jenggotan. Di masyarakat ada yang mempermasalahkan ini bahkan ada yang salah menyalahkan.
Sekarang ini juga dipermasalahkan ketika Muhammadiyah menetapkan shalat Iedhul Adha. Ada yang heran,  di Arab wukufnya hari Senin,  mestinya Iedhul Adha hari Selasa. Tetapi kenapa Muhammadiyah menetapkan hari Rabu?
Kita perlu tahu, bahwa Muhammadiyah menetapkan hal ini menggunakan hisab,  dan hisab Muhammadiyah sudah dibuktikan tepat sekali dengan kejadian Gerhana kemarin. Mekkah itu bahkan pernah salah menetapkan Wukuf.

Kajian kita ini dasarnya dari dua sumber :

1. Surat An Nisa 59

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ ۚ  فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِرِ  ۗ  ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Muhammad , dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul , jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa'  59)

2.  Hadits Nabi Muhammad SAW

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة نبيه

“Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya”.(HR. Muslim).

Beberapa theori yang dijadikan sumber adalah Buku HPT (Himpunan Putusan Tarjih)  dan Hasil Keputusan Munas Tarjih tahun 2000.

*Manhaj Tarjih*

Pokok-pokok yang melandasi sebagai standar Muhammadiyah menetapkan hukum disebut dengan Manhaj Tarjih,  yaitu :

- Pedoman yang digunakan oleh ulama Muhammadiyah atau sebagai pedoman bertarjih yang tentu mengalami dinamika.
- ‎Manhaj Tarjih disusun dan dikembangkan berdasarkan pengalaman para ulama Muhammadiyah untuk menemukan hukum islam.
- ‎Manhaj Tarjih secara harafiah berarti cara melakukan Tarjih.

Putusan Tarjih itu biasanya tentang hal yang baru atau sedang berkembang. Salah satu putusan sebagai contoh adalah haramnya memilih Pemimpin Non Muslim, ini adalah putusan MUI.
Ada lagi contoh tentang vaksin Meningitis untuk Haji. Dikatakan bahwa ada enzym babi sebagai bahan pembuat. Enzym babi tadi digunakan untuk pemantik munculnya virus baru. Ada beberapa barang yang menjijikkan yang dipakai,  antara lain nanah dikuku sapi , kemudian ari-ari bayi dan ari-ari kera.  Namun karena dalam keadaan darurat,  tak dapat menemukan bahan lainnya dan banyak kemaslahatan yang didapat maka vaksin Meningitis diperbolehkan.

Tarjih tidak hanya sekedar kegiatan kuat-menguatkan atau melemahkan suatu pendapat yang ada,  tetapi jauh lebih luas sehingga identik dengan ijtihad. Tarjih adalah setiap aktivitas intelektual untuk merespond realitas sosial dan kemanusiaan dari sudut pandang agama islam,  khususnya dari sudut pandang norma-norma syariah.

*Model Manhaj Tarjih*

1. Periode KH Ahmad Azhar Bashir.
Menggunakan Methode Bayani , Qiyasi dan Istishlahi.
Bayani artinya menjelaskan teks.
Qiyasi, artinya mencari,  menetapkan suatu hukum yang belum ada dengan yang sudah ada dalam Al Qur'an,  contoh yang ada dalam Al Qur'an adalah larangan mengatakan "ah" kepada Orang tua,

فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ

"...maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah ..." (QS. Al-Isra'  23)

Maka menyakiti hati atau fisik juga tidak boleh.

Istishlahi adalah Penetapan hukum dengan cara dan penjelasan tentang makna-makna yang muncul dalam simbol-simbol, karena didahului dengan mengkhawatirkan efek domino yang luas.
Contoh : Penetapan bunga bank Konvensional sebagai riba. Ini berat karena tak boleh bertransaksi di bank konvensional, termasuk menabung tidak boleh.

2. Periode Prof. Amin Abdullah.
Menggunakan methode Bayani, Burhani dan Irfani.
Burhani lebih kepada intuisi. Burhan itu artinya bukti-bukti yang muncul.
Irfani maknanya pendalaman filosofis.

3. Periode Prof. Dr. Syamsul Anwar.
Menggunakan Methode al Qiyam al asasiyah ; al ushul al kuliyah ; al ahkam al fariyah.
Hampir sama sebenarnya theori-theori Tarjih tadi.
al Qiyam al asasiyah : Mengungkap makna-makna yang paling dasar. Mirip dengan Bayani,  yang muncul secara tekstual.
al ushul al kuliyah : Filosofis. Pendekatan hukum islam lebih kepada hikmahnya,  bukan pada ilatnya.
Contoh : Teks ayat mengenai khamr.Ini tahapan kedua.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْـتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ

"Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, ...." (QS. An-Nisa' 43)

Ini tentang khamr diharamkan bukan karena mabuknya, tapi karena ada hal yang lebih dahsyat daripada mabuk, ini model al ushul al kuliyah.

Ada tiga tahapan pelarangan khamr. Pada awalnya boleh, tapi ada peringatan bahwa ada banyak mudharatnya. Kedua tidak boleh bila minum bila mau shalat, karena akan lupa diri sementara. Tahap ketiga dilarang sama sekali.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ  رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah 90)

Al ahkam al Fariyah : Masalah cabang-cabang, misalnya keputusan  masalah rokok.

*Posisi Muhammadiyah*

Posisi Muhammadiyah diantara mainstream pemikiran hukum islam di Indonesia.  Kalau kita perhatikan ada 3 pemikiran mainstream (theori besar),  yaitu : Madzhabiyah,  Salafiyah dan Tajdidiyah.

*1. Madzhabiyah.*

Dalam melaksanakan istinbath hukum, minimal harus mendasarkan pada minimal satu madzhab.
Bidang akidah , ujungnya pasti Asy'ariah,  Maturidiyah dan Ahlus sunnah wal Jama'ah.
Bidang Fiqih : Syafi'iyah,  Malikiah,  Hanafiah,  Hambaliah.
Bidang Akhlak / Tasawuf : Kitab Al Ihya ulumudin karya Al Gozhali.

*2. Salafiyah*

Menurut theorinya mengembalikan seluruh landasan hidup, kehidupan yang sekarang kembali kepada kehidupan Nabi dan Salafush sholeh, karena merupakan generasi terbaik.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari)

Bidang Syariah dan Akidah mendasari pada Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.
Maka orang Salafi di Indonesia kadang disebut sebagai Wahabi.
Wahabi ini menjadi "penasehat spiritual" kerajaan Saudi.
Salafi ini anti Madzhab,  bahkan madzhab dianggap sumber konflik dan kemunduran. Mereka tidak bermadzhab tetapi diam-diam mengikuti ulama-ulama yang bermadzhab wahabi,  yaitu : Syech Abdul Aziz bin Baz,  Nashirudin al Albani, Utsaimin,  Shaleh Fauzan.

*3. Tajdidiyah al Washatiyah Manhajiyah*

Posisi Muhammadiyah ada disini,  mengambil theori dari Al Qur'an dan Hadits dengan Manhaj Salaf dan Ulama Madzhab.
Disinilah penyebab kenapa kadang ada yang menuduh Muhammadiyah itu Wahabi. Dalam hal akidah kita meyakini bahwa memang generasi Salaf itu terbaik.
Muhammadiyah tidak anti madzhab tapi tidak terikat oleh madzhab. Dalam arti mengapresiasi seluruh bangunan ilmu,  turats.
Tajdid dengan makna purifikasi dalam akidah dan ibadah dan modernisasi pengembangan pada muamalah duniawiyah.

*Tiga Pilar Utama Muhammadiyah*

- Islam yang berkemajuan.
- Islam yang gagah,  dengan muamalah yang didahulukan maka menjadi modern, dan Muhammadiyah berprinsip untuk jadi islam yang  :
"al yadul ulya khairun minal yadis suflaa" (tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.)
- Islam yang lahir dari iman dan menghasilkan amal sholeh
- ‎islam yang rahmatan lil alamien.

Itu adalah pola-pola aktivitas yang dapat kita amati dari gerakan Muhammadiyah.

*Cara Beribadah*

Ibadah adalah takarub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)

Cara beribadahnya umat islam secara umum sama,  bila ada perbedaan hanya karena perbedaan pemahaman terhadap suatu dalil.
Proses yang terjadi adalah Proses Tarjih atau memilih dalil yang terkuat untuk dipakai.
Proses lain adalah Tajdid,  memunculkan hukum atau ijtihad baru tentang hal baru seperti vaksin misalnya, dimana Ruh Tajdid adalah akidah dan ibadahnya murni tidak boleh dicampur. Dalam hal muamalah duniawiyah ada modernisasi.

Contoh tentang tajdid yang gampang adalah masalah wudhu.
Ada hadits Rasulullah :

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya. ” (HR. Ibnu Majah)

Bila air dua qullah (kira-kira 200 liter) lebih , maka apa yang ada di dalamnya bukan najis.
Jaman dulu untuk wudhu di Masjid pakai bak besar,  kadang kaki dimasukkan ke bak karena dianggap tidak mengubah kesucian air. Karena baknya besar sekali maka tak mungkin dikuras terus,  karena jadi boros. Akhirnya bak tadi penuh lumut.

Bagaimana dengan Muhammadiyah? Muhammadiyah mengakui hadits tadi shahih. Namun mengambil sikap pembaruan,  karena kita butuh lebih dari itu. Perlu sehat jasmani,  fisik,  spiritual dan sosial.
Muhammadiyah membuat keputusan Tajdid bahwa wudhu sebaiknya memakai kran.
Ini masalah muamalah,  jadi boleh dengan pembaruan. Alhamdulillah sekarang semua masjid sudah memakai kran untuk wudhu.

Dalam hal ibadah,  Muhammadiyah menolak pembaruan. Contohnya masih tentang wudhu,  bahwa Niat wudhu itu dalam hati,  melafalkan niat itu tambahan. Maka Muhammadiyah tidak melafalkan niat wudhu karena Nabi tak pernah melafalkan niat wudhu , tapi membaca basmalah. Kemudian setelah wudhu tak ada do'a khusus. Cukup dengan membaca Syahadatain.

Bagaimana dengan Salafiyah?  Dalam hal ini sama. Mereka tidak melafalkan niat wudhu.
Lalu bagaimana dengan pengikut madzhabiyah?  Mereka melafalkan niat karena memakai dalil umum
, “Amal itu tergantung niatnya, ".

Maka kadang ada yang bilang Muhammadiyah suka cari discount. Wudhu tak perlu pakai lafal niat,  Shalat Tarawih tak mau 20 raka'at,  maunya 8 raka'at saja. Padahal bukan itu alasannya. Alasan utama adalah Purifikasi jika ibadah meniru Nabi. Jika Nabi tidak melakukan maka Muhammadiyah tidak melakukan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 19 Agustus 2018

Kajian Ahad Sendang Gede

Kajian Ahad Sendang Gede

Dr. H.M. Saerozi , MA

7 Dzulhijjah 1439 H / 19 Agustus 2018

SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA

Terkadang kita menemui peristiwa-peristiwa yang mendadak terjadi,  di luar persangkaan kita dan sangat mungkin membuat kita bingung.
Kemarin itu ada dua kisah yang saya alami,  hal-hal yang membikin bingung seseorang.

Setelah shalat subuh saya dapat telpun dari Tetangga yang sedang berangkat haji di Mekkah. Dia itu puteranya dua masih kecil. Karena tak tega maka dia minta tolong ibunya dari Rembang untuk datang menunggui anaknya, yaitu cucu ibu tadi.  Namun Allah berkehendak lain.
Kemarin pagi nenek ini wafat dirumah anaknya. Tentu saja dia bingung,  akhirnya minta tolong tetangga untuk membawa jenazah ke Rembang dan memakamkan di Tuban.

Allah itu mengatur segala sesuatu, namun kadang kita tidak sabar dengan cara pengaturan Allah.
*Semua akan indah pada waktunya.*

Lebaran kemarin saya ke Magelang, disana sungkem pada keluarga yang sudah sepuh. Seperti biasa maka jika silaturahim jadi ajang untuk cerita.
Beliau itu dulu , 8 tahun yang lalu mengeluhkan tentang anak lelakinya yang bungsu yang masih menganggur tidak bekerja. Minta tolong pada saya untuk mencarikan pekerjaan biar tidak di rumah saja. Bagaimana tidak,  punya anak Empat,  yang pertama wanita menjadi pegawai Bank Dunia,  saat ini di Australia dan besuk mau ke Amerika. Yang kedua jadi pegawai Islamic Development Bank dan yang ke 3 pegawai Batik Keris. Ketiganya di luar kota,  hanya si bungsu dirumah. Tetapi kalau kerja maka dia harus pergi meninggalkan rumah untuk keluar kota.
Kemarin orang tua tadi merasa beruntung karena si bungsu di rumah. Karena dialah yang bisa mengantar orang tuanya pergi atau mau berobat.

Inilah hidup,  kita itu makin lama makin tua dan makin lemah.
Maka bagi kita yang usia 50 ke atas,  hendaklah mulai memahami bagaimana Allah mengatur kehidupan ini agar kita tak mudah mencela ataupun mengeluh.
*Semua akan indah pada waktunya*.

Rasulullah saw. pernah bersabda,  “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa
tafakkaruu fiiLlahi", berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.”  (Hadits Abu Nu’aim)

Terhadap sesuatu yang di depan maka kita tafakur, kita renungkan. Apalagi dengan kemajuan dunia yang seperti sekarang ini,  semua serba beda. Ada aturan-aturan yang kita tak dapat menghindar dari aturan Sunatullah. Kita hanya bisa mensiasati,  mencari hikmah dibalik peristiwa yang terjadi.

Dulu saya berangkat haji dalam waktu yang bersamaan dengan ibu saya , namun seperti pada umumnya orang tua,  dia tak mau bersama-sama karena takut mengganggu anaknya. Kami berangkat dari tempat yang beda dan akibatnya di Mekkah ditempatkan di maktab yang berjauhan. Hal ini tentu meresahkan saya. Namun atas kehendak Allah, selesai shalat maghrib,  ibu saya mengajak ngobrol wanita muda di sebelahnya. Dari pembicaraan saling tanya asal-usul,  ternyata wanita tadi adik angkat ibu saya yang terpisah 30 tahun lebih.

Disaat saya bingung membutuhkan pertolongan, bagaimana menemani ibu saya yang saat itu usia 70 tahun ternyata Allah mengirim adik angkat ibu saya untuk menemani ibu saya.
Ada aturan Allah,  dimana kita itu ada dibalik peristiwa.  Tugas kita adalah mencari hikmah di balik suatu peristiwa.
*Semua akan indah pada waktunya.*

Hari inipun kalau kita membaca WA mungkin bingung. Ini tentang kapan Iedhul Adha?  Ada yang mengatakan Puasa Arafah selasa dan Iedhul Adha Rabu. Namun ada yang mengatakan selasa tak boleh puasa karena sudah Hari Raya.  Puasanya mestinya hari senin...
Kalau tak pandai mencari hikmah maka akan bingung. Padahal tugas kita mudah,  memilih salah satu,  kemudian meyakininya.
Karena ada yang bingung dan tanya saya maka saya tunjukkan jawaban dengan menunjukkan contoh :
Teman saya si A itu hari Rayanya selasa. Teman saya si B itu hari Rayanya rabu dan dia shalatnya di lapangan. Teman saya yang C itu hari Rayanya rabu tapi dia shalat di masjid..
Begitupun masih ditanya : " Mana yang paling baik? ".
Jawab saya : " Karepmu.. sing penting shalat,  Silahkan mau pilih ikut mana? ".
Tak hanya masalah shalat,  sampai sekarang masih ada yang bingung masalah kulit kambing qurban mau diapakan?

Ada lagi kisah lain,  ibu yang bertanya kepada saya,  tentang suaminya yang pemarah dan sering mengatakan : " Aku cerai kamu..."
Tak lama kemudian mereka berbaikan. Namun tak lama kemudian bila berselisih maka ucapan itu muncul lagi : "Aku cerai kamu..." , demikian itu berkali-kali. Ketika ikut pengajian,  dia tanyakan itu pada Kiyai dan kata Kiyai itu sudah berarti cerai. Maka dia bingung dengan status pernikahannya.

Saya jawab ibu itu dengan dua alternatif jawaban.
1.  Menurut kitab fiqih klasik maka hubungan ibu sudah bukan suami-isteri lagi. Dan untuk menikah dengan suaminya tidak bisa,  karena harus nikah dengan lelaki lain dulu
2. ‎Menurut hukum islam meskipun ucapan cerai tadi sudah ribuan kali,  tetapi selama belum didaftarkan di pengadilan agama belum dianggap cerai. Itu hanya dianggap ungkapan kemarahan saja.

Ketika diberi dua alternatif itupun ibu tadi ternyata tetap bingung.
Kita itu akan selalu dihadapkan dengan peristiwa. Tugas kita adalah mencari hikmah. Kita akan selalu dihadapkan banyak pilihan,  tugas kita adalah memantabkan hati untuk memilih.

Kadang-kadang yang pada awalnya membahagiakan kita itu ada yang akhirnya menyengsarakan, sebaliknya yang pada awalnya menjengkelkan kita itu suatu saat mungkin menjadi penolong kita. Maka bagi para suami jangan mudah marah pada isteri,  dan juga para isteri jangan terlalu menuntut suami.
Jika mau ketika mudanya , maka terimalah ketika tua. Jika mau saat sehat, maka terimalah ketika sakit-sakitan dan jika mau ketika kaya maka tetap sabarlah ketika miskin.
*Semua akan indah pada waktunya.*

Kita ini dihadapkan pada perbedaan -perbedaan yang banyak. Maka Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita sebuah do'a iftitah yang tak banyak dikenal orang.
Biasanya orang hanya mengenal doa iftitah :
"Allahu akbar kabiiroo ... " dst, atau
"Allohuma bait baini wa baina ..." dst.
Padahal banyak sekali do'a iftitah.
Maka saya sarankan bagi yang sering bermasalah dengan pilihan untuk memakai do'a iftitah ini :

"Allahumma Rabba Jibriila wa Mikaaiila wa Israafiila Faathiros-samawaati wal ardhi ‘aalimal-ghaibi wasy-syahaadati anta tahkumu baina ‘ibaadika fiima kaanuu fiihi yakhtalifuuna ihdinii limakhtulifa fiihi minal-haqqi bi-idznika innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraatim-mustaqiim"

Artinya :
“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi.  Wahai Tuhan yang mengetahui hal-hal yang ghaib dan nyata. Engkau yang memutuskan di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau menunjukkan jalan yang lurus bagi orang-orang yang Engkau kehendaki.”
(catatan : do'a di atas berasal dari hadits Aisiyah yang diriwayatkan dalam HR Muslim)

Perbedaan bahkan biasa terjadi dalam urusan sepele,  di dalam rumah tangga. Misal tentang masakan yang tidak asin,  dilain pihak ada yang senang asin.
Hal sepele begini di dalam jama'ah haji kadang jadi perbincangan. Yang tak suka asin mengatakan lebih sehat,  yang suka asin mengatakan tak enak. Maka itu semua harus disikapi dengan bijak.

Di bidang syariah,  ada BMT yang bingung terhadap nasabah.
Kita kenal BMT itu tak mengenal riba. Jika orang mau beli sepeda motor dia bisa pinjam uang ke bank dengan bayar bunga. Tapi ke bank syariah diperlakukan beda,  seolah Bank yang membelikan sepeda motor, dan bank mengambil laba penjualan. Ini namanya Murabahah.
Namun yang terjadi di Demak ini nasabah Pinjam untuk beli dagangan yang banyak.  Maka disiasati dengan perjanjian diwakilkan kepada nasabah untuk membeli barang sendiri,  namanya transaksi Wakalah. Permasalahannya nasabah tidak jujur,  dia tidak membeli dagangan tetapi memakai uang untuk bayar sekolah anaknya. Maka ada juga bank syariah yang bingung.

Kesimpulan yang dapat diambil,  ketika kita memasuki kehidupan saat ini,  kehidupan ketika media sosial sedemikian hebatnya,  maka ada beberapa hal yang perlu :

1. Harus pandai mencari hikmah dibalik peristiwa.

Bila kita punya anak Mahasiswa abadi yang tidak lulus-lulus,  sementara temannya sudah wisuda semua,  hendaklah tetap bersabar.
*Semua akan indah pada waktunya*

Saya punya teman yang punya anak down syndrome, namun orang tuanya ikhlas. Anak ini meski down syndrome tapi setiap dengar suara adzan dia berangkat ke masjid. Bahkan dia juga bisa adzan. Saya jadi berfikir,  banyak orang normal dengar adzan tapi tak datang ke masjid,  apa mereka yang tak mau ke masjid ini harus dibuat begitu dulu?

2. Tak perlu bingung ketika banyak menghadapi Perbedaan.

Lebih-lebih dalam menghadapi Pemilu tahun 2019. Beda pilihan Partai itu biasa,  beda Golongan juga biasa. Tak perlu dibawa ke perasaan.

Dalilnya adalah :
- Samakan yang sama,  bedakan yang beda.
- ‎Bicarakan yang sama,  jangan membicarakan yang beda.
- ‎Jangan menyamakan yang beda dan jangan membedakan yang sama, karena pasti akan jadi masalah.

3. Berdo'a ketika menghadapi pilihan.

Maka berdo'alah dengan do'a iftitah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

"....Engkau yang memutuskan di antara hamba-hambaMu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan seizinMu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..."

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 06 Agustus 2018

Kajian Ahad Masjid Al Hikmah

Kajian Ahad Masjid Al Hikmah, Sendang Gede, Banyumanik

Dr. H. Rosihan, SH, MAg

22 Dzulqo'dah 1439 H / 5 Agustus 2018

AKHIRAT DAN HARI AKHIR

Akhirat dan Hari Akhir adalah suatu hal yang niscaya, pasti terjadi dan dekat dengan kita. Nabi selalu menghubungkan antara iman dan hari akhir. Al Qur'an juga begitu,  bisa dilihat misalnya dalam surat Al Baqarah , Allah SWT berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ...

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir,." (QS. Al-Baqarah 177)

Jadi sangat erat hubungan antara iman kepada Allah dan Hari akhir.
Dalam Al Qur'an dibedakan antara Akhirat dan Hari Akhir.

Akhir : Yaumul akhir, yang dimaksud adalah Hari Kiamat .
Adapun Darul Akhirah artinya adalah-Negeri Akhirat.
Jadi setelah kiamat nanti tidak berarti berhenti semua,  masih ada kelanjutannya yang disebut Negeri Akhirat.

وَابْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ ...

"Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu,  ..." (QS. Al-Qasas  77)

Negeri akhirat itu hampir sama seperti dunia,  namun ada perbedaannya. Jadi saat ini kita di dunia,  kelak di akhirat.

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ  وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ  لَهِيَ الْحَـيَوَانُ ۘ  لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui."
(QS. Al-'Ankabut  64)

*Kehidupan di Dunia*

Darut Dunya disebutkan sangat dekat,  diumpamakan sebagai senda gurau atau bermain-main saja, artinya bukan kehidupan yang asli , pasti akan selesai. Yang asli adalah kehidupan akhirat.
Darut Dunya (Negeri dunia) isinya adalah Fisik,  materi dan kebendaan. Disebut sebagai Alam Syahadah (alam nyata) karena dapat ditangkap dengan indera,  bukan Alam Ghoib.
Al Hayah ad dunia (Kehidupan dunia)  disebutkan sebagai sesuatu yang indah , untuk bersenang-senang. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang terkait dengan kebutuhan biologis manusia, maka sangat memerlukan Fisik , materi dan Kebendaan untuk menopang amalah dan muamalah.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ  ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۚ  وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Ali 'Imran  14)

Karena kehidupan dunia itu indah,  maka banyak sekali yang mencari kehidupan dunia.
Apa saja yang dicari?
Dikatakan manusia itu cinta dan menginginkan wanita. Tak ada laki-laki yang tak menginginkan wanita,  lalu apakah wanita tak menginginkan laki-laki? Kenapa tak disebut?  Itu adalah karena Al Qur'an kalau menguraikan wanita itu bersifat lembut,  maka tak disebut secara jelas. Ada kaidah dalam tafsir bila Al Qur'an menyebut sesuatu maka yang tidak disebut artinya adalah  kebalikannya.
Contoh : Al Qur'an melarang berbuat jahat maka maknanya juga Al Qur'an memerintahkan berbuat baik.
Maka ketika disebut Manusia (lelaki)  mencintai wanita, bermakna juga Wanita mencintai lelaki.

Berikutnya dikatakan manusia menyenangi anak. Jelas juga disebutkan dalam Al Kahfi

اَلْمَالُ وَ الْبَـنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia...." (QS. Al-Kahfi 46)

Kenapa disebut anak laki-laki dan tidak anak perempuan.? Karena dulu manusia cenderung senang anak laki-laki dibanding anak perempuan. Dalam kaidah ushul fiqih juga menyatakan bahwa hal yang tidak disebut itu lebih utama daripada yang disebut.

Contoh dalam ayat Al Isra'
Allah SWT berfirman:
"... Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' ...." (QS. Al-Isra' 23)

Larangan yang disebut adalah mengatakan 'ah' kepada orang tua. Tidak menyebut larangan memukul orang tua. Tidak berarti bahwa memukul diperbolehkan, namun justru makin tidak boleh.
Ini memakai kaidah,  yang tak disebut sebenarnya lebih utama.
Dalam ayat lain ada larangan mendekati zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى

"Dan janganlah kamu mendekati zina; ..." (QS. Al-Isra' 32)

Tidak ada tulisan Jangan berzina. Yang dilarang adalah mendekati zina. Maka disini juga memakai kaidah yang tak disebutkan lebih utama (dalam hal ini lebih dilarang).

Kemudian dilanjutkan bahwa manusia itu senang harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak. Ayat ini memastikan tak ada manusia yang tak suka kekayaan. Kita perhatikan ibu-ibu sudah punya satu gelang emas,  masih ingin punya gelang kedua dan seterusnya. Bapak-bapak sudah punya rumah,  ingin beli rumah yang lebih bagus,  ini wajar.

Berikutnya lagi, manusia senang kuda pilihan. Ini melambangkan kendaraan yang pada jaman dulu. Saat ini orang yang punya uang kepenginnya pasti beli mobil baru,  tak mau mobil tahun 80 an karena akan mogokan.
Berikutnya lagi disebutkan hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Manusia itu suka menumpuk harta untuk investasi. Kalau punya uang dia belikan tanah,  walaupun dibiarkan saja,  ibaratnya tanah itu dikencingi saja harganya akan naik.

Itu semua kesenangan dunia yang menipu. Namun bagi yang beriman, harta benda tadi perlu untuk menopang ibadah, seperti dijelaskan pada penutupan ayat :
"...dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.".
Kita ambil contoh untuk naik haji minimal perlu 36 juta rupiah.  Maka bila suami isteri pergi haji berdua sudah memerlukan 72 juta rupiah,  belum untuk biaya lain-lain.
Bila tak punya uang maka kita tak bisa sedekah,  tak bisa infak.
Bila kita ingin ibadah nyaman maka masjid kita perlu dipasang AC. Ini semua perlu uang.
Kesenangan dunia tadi juga untuk menopang muamalah. Tanpa uang kita tak bisa menyejahterakan keluarga. Tanpa uang kita tak bisa menyekolahkan anak.

*Ad darul akhirah (Kehidupan Akhirat)*

 وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ  لَهِيَ الْحَـيَوَانُ

".. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya,."
(QS. Al-'Ankabut 64)

Asal kata hayah, mendapat tambahan alif -nun menjadi al hayawan artinya sempurna.
Akhirat kehidupan yang sempurna.
Seperti kata Syaithan,  mendapat tambahan alif nun - artinya mengasingkan diri secara sempurna, itu bukan perbuatan baik. Karena beda pendapat lalu mengasingkan diri. Sebagai manusia berbeda pendapat itu Sunatullah. Kalau kita tidak sama harus difahami. Kalau kita memaksakan kesamaan hasilnya adalah kekecewaan,  karena Allah saja tak pernah memaksakan kita untuk beribadat kepadaNya.

وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ  فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ

"Dan katakanlah Muhammad, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki beriman hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki kafir biarlah dia kafir..." (QS. Al-Kahf 29)

Dalam ayat lain.

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ

"Tidak ada paksaan dalam menganut agama, .." (QS. Al-Baqarah 256)

Jadi tak ada paksaan dalam agama,  maka kita harus menghargai perbedaan.

Darul akhirat itu kehidupan sempurna, lebih berkualitas dibanding dunia, maka orang yang berfikir kehidupan akhirat hidupnya akan lebih berkualitas, dia tak mengenal iri atau cemburu.
Akhirat itu luas, dunia itu sempit. Karena dunia sempit maka orang yang berfikir dunia akan iri melihat kesuksesan atau kekayaan orang lain.  Dia tak pernah merasa iri terhadap orang yang rajin shalat sunah.

Dikisahkan ada orang miskin yang cemburu pada orang kaya,  karena orang kaya bisa bersedekah.
Nabi menasehati orang tadi bahwa akhirat itu luas sekali,  artinya jika tak punya uang tetap bisa bersedekah dengan membaca Tasbih, Tahmid,  Takbir dan Tahlil.
Orang bisa bersedekah dengan berbuat amal shaleh dan tidak melakukan kejahatan.

*Munasabah Surat.*

Nabi bila shalat Subuh biasa membaca surat yang berpasangan. Dalam keilmuan disebut Munasabah ( berkorelasi). Seperti contoh:
-Surat Ad Dhuha dan surat Insyirah.
-‎Surat At Takatsur dan surat Al Ashr.
-‎Surat Al Kafirun dan Surat Al Ikhlas.
-‎Surat Al Falaq dan Surat An Nass.

Isi kandungan Surat Ad Dhuha

- Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan Nabi Muhammad SAW
- ‎Hari kemudian lebih baik dari sekarang, maka orang harus punya investasi akhirat.
- Larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta.
- ‎Perintah untuk mensyukuri anugerah yang diberikan oleh Allah.

Kandungan Surat Al Insyirah

- Bukankah Kami telah melapangkan dadamu ?, ‎Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu yang memberatkan punggungmu,
- ‎Kemudian Allah memberikan perintah. ‎Perintah ini berlaku bagi kita semua, tidak hanya kepada Nabi Muhammad SAW.

*Perbandingan Dunia dan Akhirat*

Rasulullah SAW bersabda :

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim).

*Macam-macam Alam*

Ada alam Syahadah dan ada Alam Ghaib. Alam Syahadah adalah alam yang dapat disaksikan, Alam Ghoib tak dapat disaksikan.
Muhammad Abduh masih membagi lagi menjadi dua,  Kongkrit dan Abstrak.  Kongkrit itu nyata,  Abstrak itu ada tapi tak dapat disaksikan.
Akhirat itu Ghoib,  Surga itu ghoib tetapi Allah itu Abstrak karena keberadaannya dapat dirasakan.

*Hari Kiamat adalah Ghoib*

Allah SWT berfirman:

اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَـةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى

"Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan waktunya agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan." (QS. Ta-Ha 15)

فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ فَتَرْدٰى

"Maka janganlah engkau dipalingkan dari Kiamat itu oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa." (QS. Ta-Ha 16)

Hikmah disembunyikan hari kiamat agar manusia selalu berbuat baik. Karena setiap perbuatan manusia,  baik atau buruk kelak semua akan mendapat pembalasan.

*Hidup dan mati dalam al Qur'an*

قَالُوْا رَبَّنَاۤ اَمَتَّنَا  اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى  خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ

"Mereka menjawab, Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali, lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan bagi kami untuk keluar dari neraka ?"
(QS. Ghafir 40: Ayat 11)

Hidup itu dua kali dan mati juga dua kali. Kehidupan kita yang pertama adalah ketika masih di alam Ruh.
Kemudian kehidupan kita saat ini.
Kematian itu juga dua kali
1. Manusia sebelum lahir belum ditiupkan roh, itu kematian pertama.
2. ‎Manusia setelah meninggal dunia.

Setelah manusia meninggal,  kelak akan dihidupkan lagi. Jadi tidak berhenti.

*Kematian versi Raghib al asfahany*

-tiada daya tumbuh dan berkembang (seperti tanaman)
-‎tiadanya daya fisik
-‎tiadanya daya berfikir (bodoh)
-‎kesedihan yang menghancurkan kehidupan
-‎tidur (ringan dan berat)

Kematian pisahnya roh dng tubuh
Ke alam barzah.

Allah SWT berfirman :
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki, mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman," (QS. Ali imran 169-171)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 30 Juli 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

HADITS ARBAIN NAWAWIYAH

Tanggal : 16 Dzulqo'dah 1439 H/ 29 Juli 2018

Nara sumber :  Dr. dr. H. Masrifan Djamil MPH, MMR

Tinggalkan yang meragukan

Ada hadits yang intinya agar kita meninggalkan hal yang meragukan dan agar menuju pada yang tidak meragukan.

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ (. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ )

‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” [HR at-Tirmidzi]

Orang tua kita dulu menasehati jika kita mau pergi tapi ragu-ragu,  maka janganlah pergi. Menurut agama, hal yang meragukan adalah Syubhat . Itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian juga dengan kilafiyah sebaiknya ditinggalkan. Bila kita ingin sesuatu yang tidak ragu-ragu maka ambilah dari Al Qur'an dan Hadits,  jangan mengambil dari Kitab yang disusun Ulama.

Syarat masuk Surga

Salah satu Hadits yang dapat dijadikan rujukan adalah Hadits Arba'in Nawawiyah. Namun sebelumnya akan kita bahas dulu seandainya kita hanya mengerjakan amalan wajib saja.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .

Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk surga?” Beliau menjawab, Ya.” (HR. Muslim).

Alhamdulillah,  hanya dengan begitu bisa masuk surga. Hal ini kemudian dikaji oleh para ulama.
Kita perhatikan tentang kewajiban shalat,  kewajiban ini tolok ukurnya adalah Surat Al Mukminun.

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

" yaitu orang yang khusyuk dalam sholatnya," (QS. Al-Mu'minun 2)

Sholat harus khusyuk, artinya shalat harus standar. Jangan kalau jadi imam di masjid shalatnya lama, tapi kalau shalat sendiri cepat , ini namanya tidak standar. Beberapa sikap shalat ada sedikit perbedaan,  misal mengangkat tangan waktu takbir, semua punya dasar namun akan bagus jika mengerjakan shalat dengan sangat serius dimanapun.
Demikian pula dengan ibadah di bulan Ramadhan itu juga banyak sekali yang harus diseriusi.

Kemudian "menghalalkan yang halal", ini artinya bahwa dalam hal makan saja pasti pilih-pilih. Tidak mau memakan sembelihan yang tak jelas. Maka dia akan menyembelih binatang sembelihan sendiri,  atau membeli daging yang ada sertifikat halalnya atau hanya makan seafood.
Maka bagi kita perlu adanya pihak yang meyakinkan tentang kehalalan makanan yang dijual.

Siapakah yang Selamat ?

Kalau kita ingin selamat maka harus taat kepada Rasul. Ini tidak selalu berarti harus taat kepada ulama perorangan, sebagaimana sabda beliau SAW :

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada Pemimpinku maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada Pemimpinku, maka ia maksiat kepadaku.” (Mutafaq Alaihi)

Namun ketaatan kepada Pemimpin ini kilafiyah,  karena pada waktu itu Pemimpin (Gubernur)  dilantik oleh Nabi. Tentang ketaatan ini diperintahkan juga dalam Al Qur'an, namun derajat ketaatan terhadap Ulil amri beda dengan ketaatan terhadap Rasul. Ketaatan terhadap Ulil amri tak ada kata "wa athii'u" maka bobot ketaatannya beda.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ ۚ  فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِرِ  ۗ  ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Muhammad, dan ulil amri pemegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul , jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' 59)

Kilafiyah bukan Rahmat.

Ada hadits yang mengatakan kilafiyah adalah rahmat, namun itu adalah Hadits Palsu. Hadits yang shahih adalah perintah untuk berjama'ah.

Rasulullah SAW bersabda:

"عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد " [سنن الترمذي: صحيح]

"Hendaklah kalian berjama'ah, dan janganlah kalian berpecah, karena sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendiri, sedangkan terhadap orang yang berdua lebih jauh." [Sunan Tirmidzi]

Setan akan menyenangi orang yang sendirian. Maka disarankan untuk  minimal selalu berdua.

Hadits Arba'in Nawawi

Hadits arbain Nawawiyah,  ditulis oleh Yahya Bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Juma bin Hazam an Nawawi.
Nawawi adalah nama tempat.
Hadits yang sering dibahas adalah tentang Niat,  kemudian Hadits Jibril yang membahas apa itu Islam,  Iman dan Ihsan dan Hadits Tanda-tanda Hari Kiamat.

Beliau menjadi terkenal karena karyanya yang hebat. Perlu menjadi pelajaran buat kita bangsa Indonesia,  karena kita ini sering budayanya salah,  tak mau kesulitan. Bahkan ketika menasehati anak juga :
"Jangan yang sulit-sulit.. ".
Padahal apa yang tidak sulit?  Membuat komputer laptop juga tidak mungkin mudah. Jadi jika kita ingin negaranya maju maka harus berani menempuh kesulitan.

Hadits ke empat

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا                            

[رواه البخاري ومسلم]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah SAW menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga. (HR Bukhori dan Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits :

1. Ruh ditiupkan ke dalam tubuh manusia ketika kandungan berusia 4 bulan.

2.Rezeki,  ajal,  amal dan nasibnya sudah ditentukan. Tapi jangan lupa untuk berdo'a karena ada hadits bahwa do'a -lah yang dapat mengubah nasib seseorang.

3. Maka berdo'alah sebanyak-banyaknya, karena do'a adalah ibadah. Berilah anak dengan nama yang baik, karena nama ibarat do'a orang tua.

4. Amal perbuatan dinilai di akhirnya.
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)
Maka berhati-hatilah. jangan biarkan orang tua hidup sendiri,  karena orang sendiri mudah diganggu setan.

5. Hendaklah kita tidak terpedaya dengan kondisi saat ini , mungkin masih muda dan sehat , justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).

6. ‎Banyak amalan do'a untuk husnul khotimah,  ada yang pendek ada yang panjang.

Do'a terpendek adalah do'a Nabi Yusuf 'Alaihis Salam:

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (QS. Yuusuf: 101)

Do'a yang panjang adalah do'a Salamat.

Pembuktian Hadits ke Empat

Hadits ke-empat ini dan Surat Al Mukminun ayat 12 sampai 14 adalah dalil yang sangat dekat dengan pengetahuan kedokteran dan sudah dibuktikan secara ilmiah dan ditulis oleh Maurice Bucaille.

1. Berjuta-juta sperma ditahan Ovum dan hanya satu yang bisa masuk. Maka hanya sperma yang juara menjadi bayi dan jadilah manusia sempurna.
2. ‎Sudah dibuktikan bahwa jantung mulai berdetak ketika kandungan usia 4 bulan, dan mulai ada gerakan.
3. ‎Pembentukan manusia tak dikendalikan oleh ibunya ,  benar-benar pabrik yang luar biasa karena merupakan gabungan dari kedua orang tuanya sehingga kemudian jadi bayi sempurna.

TANYA JAWAB

Pertanyaan 1 :
Kehidupan dalam rahim,  kenapa penyakit bisa nurun dari orang tua.?

Jawaban :

Ibu dan bapak membawa chromosome,  masing-masing 22.
Maka jika bapak ibunya sakit akan dapat menurunkan penyakit. Ini yang menyebabkan penyakit turunan. Genetic yang dominan akan sangat berpengaruh.
Ada teman yang sekeluarga punya cholesterol tinggi karena turunan,  tetapi ada yang kena sakit jantung dan ada yang tidak kena. Ini karena masing-masing beda dalam menjaga kesehatannya, mungkin juga kepribadiannya beda,  ada yang tipe A dimana dia perfectionist sehingga stressnya tinggi.

Pertanyaan 2 :
Kaitan antara amalan dinilai pada saat akhir dengan Allah yang senang menerima taubat bagaimana?

Jawaban :

Taubat itu tidak diterima ketika nyawa sudah sampai tenggorokan.
Contohnya adalah Fir'aun yang bertobat ketika hampir ajal.
Maka kita agar selalu bertaubat. Jangan lupa untuk selalu istighfar.
Disarankan untuk tiap pagi dan sore membaca Sayidul Istighfar.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 22 Juli 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

JAGALAH ALLAH !

Tanggal : 9 Dzulqo'dah 1439 H/ 22 Juli 2018

Nara sumber :  Arief Rachman, Lc.MA

1. Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas ini adalah salah satu sahabat nabi yang luar biasa, karena selain masih sangat muda,  beliau juga dido'akan oleh Rasulullah :

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, buatlah dia menjadi faqih di dalam agama ini, dan ajarilah dia ilmu ta’wil (ilmu tafsir al-Qur’an).”

Dan do'a Rasul ini terkabul,  Abdullah bin Abbas menjadi sangat pandai dan ahli Tafsir Al Qur'an. Dikisahkan ada beberapa kejadian yang membuktikan kepandaian Abdullah bin Abbas.

1. Ketika Rasulullah mendapatkan wahyu Surat An Nasr. :

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ  ۗ  اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat." (QS. An-Nasr ayat 1- 3)

Umar bin Khattab bertanya kepada Para Sahabat : "Bagaimanakah pendapat kalian tentang makna firman Allah SWT : Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) ?

Maka sebagian dari mereka menjawab. ”Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, apabila kita peroleh kemenangan dan pertolongan."
Dan sebagian dari mereka hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun.
Kemudian Umar menanyakan pendapat Abdullah bin Abbas.
Abdullah bin Abbas pun menangis, sehingga para sahabat lain heran dan bertanya,  kenapa menangis?

Maka Abdullah bin Abbas menjawab, bahwa kalau orang sudah masuk islam berbondong-bondong lalu Nabi sebagai utusan , tugasnya apa lagi ?
Ayat ini merupakan pertanda dekatnya ajal Rasulullah SAW.
Begitu hebatnya pendalaman Abdullah bin Abbas terhadap hal yang tersirat dari ayat.  Padahal saat itu beliau masih kecil.

2. Abdullah bin Abbas adalah seorang yang suka mencari data tentang Sabda Nabi. Beliau mencari kepada Para Sahabat yang lain dan ditulis semua. Sampai Para Sahabat heran karena hampir semua orang sudah tahu,  untuk apa ditulis?
Kemudian setelah Rasulullah wafat,  terjadi perang dengan Musailamah al Kadzab dan banyak sahabat yang meninggal. Baru kemudian orang menyadari pentingnya Abdullah bin Abbas yang belajar dari satu orang ke orang lain dan akhirnya Abdullah bin Abbas menjadi rujukan.

2. Perintah Menjaga Allah

Ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang disampaikan lewat Abdullah bin Abbas dan sangat istimewa , karena merupakan pesan untuk Menjaga Allah.

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas –ra – menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi SAW. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat :Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan , mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering."  (Sunan At Tirmidzi).

Hadits ini istimewa karena bisa diterapkan diseluruh kehidupan kita,  kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat bahkan kehidupan bernegara.
Jadi dari kalimat pendek tadi maknanya sangat luas. Menurut para ulama memang Sabda Nabi selalu sedikit tapi luas. Salah satu contoh adalah ketika ditanya : Agama itu apa?  Maka Rasulullah hanya menjawab bahwa Agama adalah Nasehat. Maka bagi kita menyampaikan agama itu wajib karena memberi nasehat. Namun perlu diingat bahwa cara memberi nasehat itu harus benar.
Nasehat mungkin bermanfaat seketika itu juga,  namun bisa juga bermanfaat jauh hari kemudian. Karena itu perlu memberi nasehat sejak anak masih kecil.  Kenapa?  Karena mengukir ingatan pada anak kecil lebih mudah dilakukan, seperti ungkapan : "Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sedangkan belajar sesudah besar bagai melukis di atas air".

3. Jagalah Allah, Maka Allah akan menjagamu.

Orang yang awam akan bertanya,  kenapa Allah harus dijaga ?
Padahal hadits ini senada dengan firman Allah dalam Al Qur'an.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad  7)

Allah kan Maha Kuasa kenapa harus ditolong?  Maka Para ulama menafsirkan bahwa : Jagalah Allah maksudnya adalah Jagalah agama Allah,  yaitu Islam.

Maknanya luar biasa, ada beberapa makna yang perlu difahami.

3.1. Menjaga Allah, adalah menjaga Hak-hak Allah dari hambaNya.

Dalam sebuah hadits dikatakan tentang hak Allah :

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ,...

Rasulullah SAW bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun,...." (HR Bukhari Muslim)

Hak Allah adalah agar manusia beribadah kepadaNya dan ini juga sesuai dengan ayat :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 56)

مَاۤ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ  يُّطْعِمُوْنِ

"Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 57)

Manusia beribadah itu merupakan kebutuhan manusia,  sama sekali bukan kebutuhan Allah. Saat ini kita hidup pada masa dimana pengaruh berbagai faham saling mempengaruhi. Mungkin kita tak sadar bahwa kadang ada sesuatu tayangan yang dapat mengikis akidah kita , terutama bagi anak-anak,  misalnya film pertarungan antar dewa yang tak sesuai logika kita. Ini berbahaya sekali bagi agama. Maka kita harus menjaga agama.

Ada lagi misal ada tanya-jawab tentang belajar tenaga sakti apa boleh selama akidahnya kuat?
Tetapi siapa yang bisa menjamin akidah tetap kuat? Maka sebaiknya kita menghindari hal-hal yang menyalahi akidah,  misal ada aturan setelah khataman harus Puasa 9 hari dan sebagainya. Ada pula amalan Asmaul Husna tetapi ada dua yang aneh karena bukan dari Asmaul Husna. Ini merupakan penyimpangan yang harus ditinggalkan.

3.2. Menjaga Allah dengan Komitmen mengerjakan Perintah dan meninggalkan larangan-laranganNya.

Kita perlu mengkaji apa yang diperintah dan apa yang dilarang.
Biasanya perintah dan larangan diawali dengan kata : " Yaa ayuhaladzina Amanu" dan "Yaa Ayuhanass".

Contoh yang paling populer adalah surat Al Baqarah. 183

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ ....

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa ...,"
(QS. Al-Baqarah 183)

Kita semua taat melaksanakan perintah puasa. Akan tetapi aneh, kenapa kita tidak taat pada perintah lain,  padahal redaksional perintahnya mirip.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰى   ۗ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu melaksanakan qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh.." (QS. Al-Baqarah 178)

Orang menjadi bingung,  disini hukumnya tidak begitu. Padahal agama itu diturunkan antara lain untuk menjaga jiwa. Maka ancaman hukuman terhadap Pembunuhan juga amat berat (qisas).
Itu adalah perintah,  ada pula larangan misalnya :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً   ...

"Dan janganlah kamu mendekati zina; zina itu sungguh suatu perbuatan keji..." (QS. Al-Isra'  32)

Maka jika kita menjalankan Perintah dan menjauhi larangan itu namanya menjaga Allah.
Kita menjaga Ayat-ayat Perintah atau larangan Pribadi, maka Allah akan menjaga Pribadi kita. Ayat hubungan kekeluargaan, maka Allah akan menjaga kita dalam masalah keluarga. Bila kita menjaga Ayat-ayat Sosial,  maka Allah akan menjaga Kehidupan Sosial kita.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka..."
(QS. Al-Hujurat 12)

Buruk sangka, ini untuk kehidupan sosial dilarang. Bila kita bisa menjaganya maka Allah akan menjaga kehidupan bermasyarakat.
Dalam Surat Al Hujurat juga diperintahkan menutupi aib.

Di Indonesia ada Pemilu pemimpin 5 tahunan. Memprihatinkan bahwa banyak yang meninggalkan akhlak islam. Hari ini kita mendukung si A,  maka aib pribadi si A ditutup. Namun ketika si A pindah haluan maka semua aib pribadi si A keluar semua. Padahal kita diperintah menutupi aib.

 وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“...Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. ....” [HR. Tirmidzi]

Kita lihat ketika pilkada,  betapa mudahnya kita mengeshare aib pribadi seseorang. Padahal itu larangan.

3.3. Menjaga Allah dengan Prinsip pada batasan Syariah.

Kalau kita bisa Total itu lebih baik, namun bila kondisi tidak memungkinkan maka kita hanya wajib menjalankan sebatas yang bisa dilakukan. Misal dalam hal ini adalah Bank Syariah,  seandainya belum bisa total ekonomi Syariah ya kita menjalankan semaksimalnya yang bisa dilakukan.
Ulama membuat kaedah untuk hal ini,

ما لا يدرك كله لا يترك كله

“Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (yang mampu dikerjakan).”

3.4. Menjaga Allah,  dengan mempergunakan tubuh kita sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.

Allah memberi kita tangan,  kaki, potensi dan sebagainya, jika kita manfaatkan sebagaimana Allah bertujuan menciptakan kita,  maka itu sebenarnya sudah mendatangkan penjagaan Allah pada diri kita.
Maka dalam Al Qur'an banyak ayat dengan kata "ma'a" yang artinya beserta.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْن

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah 153)

Allah beserta orang yang sabar. Sabar itu tidak ada batasnya,  sabar itu indah,  sabar itu bukan defensif, bukan nrima. Sabar itu mempertahankan hak.

4. Jagalah Allah, Maka Allah akan engkau dapati dihadapanmu.

Dalam hadits lain dikatakan :

ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ

“Kenalilah (ingatlah) Allah  di waktu senang pasti Allah  akan mengenalimu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

Yang sering terjadi terbalik,  kita ingat Allah hanya saat susah,  namun saat lapang kita justru lupa. Mestinya ketika lapang,  yaitu sehat dan punya rejeki seharusnya makin banyak ibadahnya, banyak infaknya.
Itu namanya menjaga Allah.

Dalam hadits lain dikatakan
Ada seorang sahabat bertanya : "Ya Rasulullah bagaimana masuk surga?"
Rasulullah menjawab, "laksanakan yang wajib."
Tapi jika ingin tingkatan surga yang lebih baik maka lakukanlah amalan Sunah. Ibarat kuliah jika ingin lulus ada standard minimal kelulusan,  maka lakukan yang wajib. Namun jika ingin mendapat ranking,  lakukan yang sunah.

Ada hadits siapa yang membangun masjid di dunia maka Allah akan membangunkan rumah baginya di surga. Makanya kalau orang Arab memberi bantuan membangun masjid, dia menyumbang sendiri untuk satu masjid. Agak beda disini yang patungan membangun masjid.

Dalam sebuah hadis qudsi:
Allah Ta'ala berfirman, ".. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. ........
Aku menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya ....."  (HR Al Bukhari)

Maka kadang ada orang yang diberi kelebihan dapat melihat melampaui kemampuan biasa,  itu mungkin karena amalan sunahnya luar biasa.

Ketika kita berdo'a maka kita merasa Allah itu dekat. Namun kadang kita keliru dalam memahami kedekatan Allah. Karena mestinya ketika kita berdosa segera bertaubat karena Allah dekat.
Ketika orang tua wafat kita malah minta orang lain mendoakan,  sementara kita malah sibuk melayani tamu. Ini kesadaran yang perlu ditingkatkan.

5. Apabila minta,  maka mintalah sama Allah.

Tak berarti jika meminta kepada Allah itu harus detail.  Kita tak perlu minta mobil , karena mungkin Allah memberi rejeki dengan cara lain.

Ada yang kecewa dengan cara penerimaan siswa cara zona,  karena tak dapat memasukkan anak ke sekolah lain. Ini tak perlu,  karena Allah memberi ilmu lewat jalan lain.

Sebelum kita menikah mungkin berdoa minta jodoh. Cuma mungkin orang tua berdo'a pengin anaknya menikah sama si A, padahal anaknya berdo'a minta nikah sama si B.

Itu semua menunjukkan jika kita berdoa jangan terlalu detail.
Bila kita minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Dalam surat Al Fatihah dikatakan bahwa sebelum meminta awali dulu dengan ibadah.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah 5)

Hal penting lain bahwa do'a secara masal dan tujuan sama dampaknya luar biasa. Demikian pula do'a seorang Pemimpin yang Adil dampaknya luar biasa. Karena itu jika memilih pemimpin,  pilih yang bisa berdo'a.

6. Ketetapan Allah yang berlaku.

Ini yang terakhir terkait dengan :
"Seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu."

Ada kisah tentang Bung Karno (benar atau tidak tak diketahui)  , ketika di penjara di Digul dan diberi tahu akan dieksekusi besuk pagi.
Intinya adalah bahwa kemudian beliau memasrahkan nasib pada Al Qur'an yang dibuka,  kebetulan adalah ayat :

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ  ۚ  فَاِذَا جَآءَ  اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

"Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Al-A'raf 34)

Ternyata eksekusi dibatalkan. Wallohu alam.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 09 Juli 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

ISTILAH YANG BERUBAH MAKNA

Tanggal : 24 Syawal 1439 H/ 8 Juli 2018

Nara sumber :  Drs. H. Fachrur Rozi MAg

Ketika dua orang muslim bertemu di bulan Syawal, maka ucapan yang terbaik adalah : "Taqobalallohu minna wa minkum" (Semoga Allah menerima ibadah kami dan ibadah kalian). Namun ucapan ini semakin hari semakin hilang dari peredaran. Seandainya ada , kadang sebagiannya yang mengucapkan menjadi keliru karena tidak terbiasa. Namun kemudian tambah keliru lagi karena dikatakan : "Minal aidin wal Faizin".

Ada beberapa penggunaan istilah yang sering dipakai selama Ramadhan sampai Syawal yang sudah beredar dikalangan umat Islam.  Tidak keliru tapi perlu diluruskan. Sebab di Grup WA ada tulisan yang diatas-namakan Kholid Basalamah,  entah ini benar atau tidak,  yang mengatakan bahwa ucapan "Minal aidin wal faizin" , adalah ucapan yang keliru dan harus diganti "Taqobalallohu minna wa minkum". Ini perlu diluruskan agar Keislaman kita terjaga kemurniannya,  tetapi dari sisi muamalah tidak tercabut dari akar budaya kita.

Maka ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan,  dan akan kita awali dengan istilah ketika bulan Ramadhan.

1.  Takjil

Kita sering mendengar istilah Takjil. Bahkan takmir masjid juga membuat Jadual Takjil. Secara bahasa,  takjil itu artinya : Segera.
Lengkapnya
اِستَعْجَلَ - يَسْتَعْجِلُ، اِئْتَزَّ

ista'jala - yasta'jilu, iktazza (orang yang selalu tergesa-gesa).
Ketika masuk waktu maghrib,  maka Takjillah...artinya segeralah berbuka. Tetapi di masyarakat, takjil artinya menjadi snack.
Apakah Takmir masjid tidak tahu arti takjil,  sehingga membuat jadual sedekah snack dengan kalimat Jadual Takjil?
Atau kalimat Takjil sudah larut?  Berubah maknanya?
Bahkan hotelpun sudah biasa membuat Pengumuman : Disediakan Takjil gratis,  dan yang dimaksud adalah Kolak (Makanan ringan).

Dari kata Takjil itu kemudian berkembang pertanyaan,  waktu berbuka puasa itu kapan?
Ketika tiba waktu maghrib atau menunggu adzan maghrib selesai?
Memang boleh saja menunggu adzan selesai,  tapi itu bukan syarat untuk berbuka.  Karena belum tentu ada adzan yang terdengar ketika kita di daerah terpencil belum ada listrik dan tak ada radio. Atau ketika kita sedang berada di negara yang jarang ada muslimnya. Alasan kedua karena tak ada standard kapan selesainya adzan,  bisa panjang atau pendek.

2. Tarawih.

Istilah ini ternyata berasal dari Imam Syafii ketika beliau berkunjung ke Medinah. Beliau melihat orang shalat bakda Isya' dengan jumlah raka'at  yang banyak. Beliau berkomentar :
"Hadzihi sholatu Tarawih" ( Ini adalah shalat yang Santai).
Jadi Tarawih artinya santai,  karena beliau melihat shalat yang sangat pelan sekali. Sekarang kata Tarawih digunakan untuk nama shalat malam di bulan Ramadhan.
Karena banyak yang tak tahu artinya,  ketika Bilal mengajak : "Shollu sunattan Tarawih..." ( Mari kita bersama shalat Sunah dengan pelan-pelan.. ) , yang terjadi shalatnya ngebut,  cepat sekali.

Kadang diantara kita ada yang ingin menirukan Rasul dalam beribadah. Untuk diketahui bahwa Rasul tak pernah shalat malam lebih dari 8+3 raka'at. Kita bangga telah mengikuti itu,  tetapi tidak mengikuti selanjutnya. Karena oleh Aisyah dikatakan : "Jangan tanya panjangnya."
Rasulullah sangat lama shalatnya,  ternyata kita tidak siap untuk mengikuti Rasulullah. Kita tidak suka jika imam terlalu lama shalatnya. Bahkan ada masjid yang pesan agar imam yang memimpin jangan membaca surat yang panjang, atau ceramahnya jangan menyinggung hal-hal tertentu. Memang sunahnya sebenarnya yang mengimami adalah Tuan rumah asal bacaannya bagus,  bukan Ustadz tamu.

3. Tadarus

Yang dipraktekkan di masjid-masjid sesudah shalat Witir itu sebenarnya adalah Murotal,  bukan Tadarus. Karena Tadarus itu adalah dari kata

درس - يدرس - ادرس

( darosa - yadrusu - udrus ) = kuliah atau Kajian.
Yang dilakukan adalah membunyikan huruf-hurufnya Al Qur'an , belum sampai level kajian. Meskipun membaca Al Qur'an juga baik disisi Allah, mengerti atau tidak mengerti maknanya.
Di jaman dahulu para ulama memberi nama kegiatan tersebut dengan nama Tadarus karena kegiatannya berupa Taklim,  kajian dan tidak hanya membaca saja,  tetapi setiap membaca satu ayat dilanjutkan dengan penjelasannya. Sehingga selama Ramadhan itu mungkin hanya satu juz saja atau mungkin malah hanya beberapa surat dari Al Qur'an. Namun hal demikian membuat orang semakin faham dengan Al Qur'an.

Contoh misal pemahaman ayat ini :

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,  sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takasur Ayat 1-2)

Jelas kita dilarang menumpuk harta dengan tujuan dikoleksi tanpa dimanfaatkan. Tetapi banyak terjadi misalnya punya gelas bagus dan hanya disimpan saja. Bahkan anaknya sendiri tak boleh pakai gelas bagus karena merasa sayang,  dan diperintahkan pakai gelas lain untuk harian dengan alasan gelas bagus disimpan untuk menjamu tamu. Tetapi apa yang terjadi?  Ketika tamu datang cukup dijamu dengan aqua gelas. Itu contoh sederhana tentang menumpuk harta yang mungkin juga kita lakukan. Membeli sesuatu hanya karena tertarik tapi cuma disimpan tak pernah dimanfaatkan.

4. Iedhul Fitri

Secara bahasa sebenarnya iedhul Fitri  berarti Kembali Sarapan. Setelah lama Ramadhan,  maka ketika Iedhul Fitri , masuk 1 Syawal kita kembali makan. Maka Shalat Iedhul Fitri sunahnya sebelum shalat diawali dengan Sarapan.
Kemudian arti Iedhul Fitri  berkembang jadi Kembali kepada Kesucian,  hal ini ada kisahnya dan ada alasannya. Karena setelah berpuasa selama Ramadhan dikatakan oleh Rasulullah sebagai kembali seperti bayi.
“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Ibnu Rajab).

Kemudian yang sering terucap adalah kata : "Minal aidin wal Faizin". Itupun kadang ditulis dengan tulisan yang salah,  pakai "dz".
Hal begini sering terjadi,  termasuk kata Ramadhan (dibaca Romadhon) artinya adalah "membakar", maksudnya membakar dosa. Ada yang perlu diwaspadai dalam penulisan kata “Ramadhan,” yaitu jangan sampai kita menghilangkan huruf “h” sehingga kemudian menjadi “Ramadan” karena dalam bahasa Arab pengertiannya akan berubah jadi mata bengkak.

Kekeliruan berikutnya adalah kalimat "Minal aidin wal faizin" diartikan sebagai Mohon maaf lahir batin. Kemudian dijawab : Sama-sama...
Ini perlu diluruskan bahwa Minal aidin wal faizin artinya adalah "Kembali dan Menang". Ini adalah sebuah doa yang panjang, kita kembali kepada fithrah dan menang.

Ada sejarah yang melatar belakangi hal ini yaitu Perang Khondag. Ketika Pasukan Mekkah akan menyerbu Rasulullah di Medinah,  kemudian Rasulullah mengajak para Sahabat untuk rapat. Dalam rapat diputuskan strategi menggali parit (khondag)  di pinggir kota untuk perlindungan agar tidak terjadi perang di kota. Ketika menggali parit,  terhalang sebuah Batu yang besar. Dan para sahabat melaporkan hal ini kepada Rasulullah.

Akhirnya Rasulullah mengambil alat pemukul Batu, dan sambil meneriakkan Takbir : " Allahu Akbar", beliau memukul batu.  Batu tadi retak. Kemudian Rasulullah mengulangi memukul kedua kali dan meneriakkan takbir : "Allahu Akbar".
Batu itu pecah dan para sahabat yang mengagumi kekuatan Rasulullah ikut bertakbir juga , memuji Rasulullah :  "Allahu Akbar".
Rasulullah menjawab : "walillah hilhamd" (segala pujian hanya milik Allah).
Itulah riwayat kenapa lafadz takbir Hari Raya,  ada yang dua kali takbir,  dan ada yang tiga kali takbir (dua kali takbir Rasulullah dan jadi tiga kali takbir jika ditambah dengan takbir para sahabat).
Ketika Pasukan Mekkah tiba di dekat Khondag,  mereka berhenti dan berkemah sebelum menyerang.

Di malam hari menjelang perang pada keesokan harinya Rasulullah shalat tahajud memohon pertolongan. Pada saat shalat Witir,  Rasulullah mendengar suara gemuruh. Dan ternyata ketika esok hari,  semua tenda Pasukan Mekkah porak poranda dan mereka lari pulang. Ternyata suara gemuruh malam tadi adalah angin topan yang dikirim Allah untuk menghancurkan musuh.
Itulah perang jaman dulu,  ada etika bahwa perang dimulai ketika dua pihak siap. Ketika musuh hancur akibat angin topan,  maka perang tidak jadi. Rasulullah menang tanpa perang tanpa bertempur.

Beliau kemudian berpidato :
Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah.
(Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.)

Kemudian mereka, Rasulullah dan pasukan pulang ke Medinah, membawa kemenangan. Dan disambut dengan gembira dengan musik yang dipukul (Duff).
Maka Takbiran diperbolehkan dengan alat musik yang dipukul.

Maka kita mengqiyaskan Ramadhan dengan perang,  mudah-mudahan kita yang menjalani ibadah Puasa,  Shalat dan ibadah lainnya telah berhasil mengalahkan hawa nafsu dan kembali menjadi Fitrah.
Kita bersyukur bahwa budaya islam mewarnai Nusantara.

Taqobalallahu minna wa minkum.
Minal aidin wal Faizin, kullu 'amin wa antum bi khair.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK