Selasa, 23 Oktober 2018

Kajian Ahad AMM Banyumanik

Kajian Ahad AMM Banyumanik

TENTANG MUSIBAH

Tanggal : 12 Shafar 1440 H/ 21 Oktober 2018

Nara Sumber : Prof. Dr. H. Yusuf Suyono MA

Diantara pertanyaan orang-orang kepada Majelis Tarjih, ada yang menanyakan tentang banyaknya musibah pada akhir-akhir ini,  baik gempa bumi,  banjir ataupun tsunami. Ada da'i yang mengatakan bahwa itu karena dosa Pemimpin atau dosa rakyat itu sendiri, antara lain adanya LGBT dan kebebasan hidup tanpa ikatan, Perzinaan dan sebagainya sehingga diazab Allah SWT.

Pendapat dari Majelis Tarjih adalah bahwa ujian dari Allah itu selalu ada,  namun tidak selalu berupa kesengsaraan saja. Kesenangan juga ujian dari Allah. Jadi yang di Semarang, kita diuji dengan kesenangan. Nabi Sulaiman juga diuji dengan kesenangan, namun beliau berkata :

 فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ  ۗ  لِيَبْلُوَنِيْٓءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ  ۗ

".. Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya .."
(QS. An-Naml 40)

Kenikmatan adalah ujian apakah seseorang dapat bersyukur atau tidak. Tanpa ujian maka iman dan ketakwaan seseorang tak dapat meningkat,  bagaikan siswa bila mau naik tingkat maka dia diuji dulu.

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ  عَمَلًا   ۗ  وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ

"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun," (QS. Al-Mulk 2)

Tabiat manusia bila diuji dengan kesenangan dia akan senang dan tidak bersyukur,  maka dia tidak lulus. Bila diuji kesengsaraan dia merasa susah.

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ    ۙ  فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ
وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ  ۙ  فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ  اَهَانَنِ

"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku."
(QS. Al-Fajr Ayat 15-16)

Lalu dijawab Allah SWT :

كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ .وَلَا تَحٰٓ ضُّوْنَ  عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ اَكْلًا لَّـمًّا  وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

"Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan yang halal dan yang haram , dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan." (QS. Al-Fajr ayat 17-20)

Ujian kedua berupa kesengsaraan, bila dia dapat bersabar,  maka akan lulus. Ujian itu tanda kecintaan Allah. Kesenangan dan kesengsaraan itu pasti silih berganti dan dunia ini adalah tempat ujian.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya [HR Tirmidzi dan Ibnu Madjah]

Maka kita tak perlu iri bila ada orang yang hobi maksiat tetapi malah selalu mendapat kesenangan. Itulah yang disebut dengan istidraj (jebakan kelimpahan rejeki).

Hadits diatas memberi pengertian bahwa orang muslim yang mendapat musibah adalah orang yang dicintai Allah SWT. Apabila dia mendapat musibah maka dia membaca istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).Juga sekaligus membaca Alhamdulillah,  karena dibalik musibah mesti ada sesuatu yang nikmat. Contoh,  kena musibah mobilnya tabrakan,  mobil penyok tapi dirinya selamat.

Abdullah bin Mas’ud –ra - berkata;

وقال عبدالله بن مسعود رضى الله عنه: الايمان نصفان نصف صبر ونصف شكر

“Iman itu terdiri dari dua bagian, separuhnya berupa kesabaran dan separuhnya berupa syukur.”

Jadi antara Sabar dan Syukur ibarat dua sisi dari mata uang. Selalu muncul bergantian antara Sabar dan Syukur.

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ   ۙ  قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ  ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah Ayat 155 - 157)

Firman Allah SWT itu biasanya ditujukan kepada orang kedua dan Allah sebagai pihak pertama (mutakallim - pembicara).
Sedangkan orang kedua (mukhotob)  ada tiga tingkatan :
- orang awam, tidak tahu.
- ‎orang yang ragu-ragu (membantah)
- ‎orang yang ingkar
Dalam ayat ini digunakan dua huruf taukid untuk menguatkan ,  lam taukid ( لَامُ التَّوْكِيْدِ  )      dan nun taukid ( نُونَا التَّوْكيدِ ) artinya ini peringatan keras yang ditujukan kepada mukhotob yang ingkar.

Ayat tersebut juga menegaskan bahwa setiap manusia di dunia pasti kena musibah. Namun setelah kesengsaraan ada kesenangan.
Mereka yang marah-marah terhadap musibah tak akan mendapat apa-apa. Sedangkan mereka yang sabar akan mendapat pahala. Wajib meyakini bahwa dibalik musibah akan ada hikmahnya.

Allah SWT berfirman:

كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 216)

Maka jika pasanganmu menjengkelkan, bersabarlah. Dengan bersabar pasti akan mendapat balasan lebih baik. Dibalik yang tidak disukai pasti ada kebaikan yang akan diperoleh kemudian. Ada hikmah disana. Belum tentu mereka yang pasangannya terlihat menarik itu akan menyenangkan mereka.

Ummu Salamah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

 مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim)

Diharamkan untuk mengumpat bila terkena musibah dan diperbolehkan mengucapkan " inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" bila ada musibah yang menimpa siapa saja, termasuk bila musibah itu menimpa orang kafir atau berdosa.
Seperti di Palu kemarin diperkirakan musibah terjadi akibat perbuatan dosa-dosa sebelum kejadian. Karena memang ada wasiat dari Rasul bahwa dosa-dosa adalah sumber dari azab Allah.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia;..." (QS. Ar-Rum 41)

Lalu apakah kita diperbolehkan melakukan shalat Ghoib?  Shalat Ghoib hanya diperbolehkan bila diniatkan kepada kurban kaum muslim.

Diantara pelaku maksiat , mereka menolak campur tangan kita, ketika kita menegakkan nahi mungkar, alasan mereka itu hak mereka untuk minum-minum atau berbuat maksiat,  karena memakai uang mereka sendiri. Namun ketahuilah bahwa azab atau musibah yang dijanjikan Allah itu nanti tidak akan pandang bulu. Tidak hanya menimpa mereka yang maksiat saja.

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً   ۚ  وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Anfal  25)

Ketika azab diturunkan maka Tsunami tidak akan memilih apakah itu rumah maksiat atau masjid. Untuk menghindari azab,  kita diperintah untuk Amar Makruf Nahi mungkar sejak dini. Jangan sampai terlambat.

Berikut ini ada percakapan imajiner antara Ahmad,  takmir masjid dengan Jon,  Ketua Takmir.

"Jon, di desa kita ada warung jual miras. Ayo kita tindak!"
"Nggak usah. Yang penting jadi orang baik."

Sebulan kemudian.

"Jon, para pemuda mulai suka mabuk-mabukan di warung itu. Ayo kita tindak sebelum terlambat!"
"Buat apa? Lha wong mereka juga nggak ganggu kita, kok."

Sebulan lagi berlalu.

"Jon, sekarang warung itu dibangun tambah megah. Nggak cuma jual miras, sudah ada pelacurnya juga. Setengah penduduk desa sudah jadi pelanggan. Kalau kita tidak menindak sekarang, besok-besok kita nggak akan punya kekuatan lagi".

"Urus diri sendiri dulu, nggak usah ngurusin orang lain."

Setahun kemudian.

"Jon, desa kita sudah jadi pusat maksiat. Masjid mau dirobohkan. Kamu, sebagai ta'mirnya, juga akan diusir."
"Lho, lho. Kok gitu? Ya jangan gitu, dong. Ayo kita lawan mereka!"
"Sudah terlambat, Jon. Kita sudah jadi minoritas. Dulu saat mereka dengan getol menanamkan ideologi dan memperluas kekuasaan, kita cuma sekedar jadi orang baik. Ternyata itu tidak cukup."

Untuk melakukan nahi mungkar itu ada 3 kekuatan :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Kelompok yang bergerak dengan kekuatan atau kekuasaan, yaitu umaro , dalam hal ini Polisi harus bergerak dulu. Kemudian kelompok kedua yang bergerak dengan lesan seperti Para ulama,  wartawan dan sebagainya. Kemudian yang paling lemah kelompok ketiga, rakyat yang tak setuju kemaksiatan , bergerak dengan do'a. Mereka harus bersatu padu melakukan nahi mungkar.

Ada yang berpendapat bahwa bencana seperti Tsunami itu adalah kejadian alam biasa. Ini aneh bila muncul dari bangsa Indonesia yang katanya religius. Memang benar ada kejadian alam,  tapi apakah alam bergerak sendiri?  Tentu tidak,  karena ada yang menggerakkan alam, yaitu Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا الْبِحَارُ  فُجِّرَتْ

"dan apabila lautan dijadikan meluap," (QS. Al-Infitar 3)

Jelas ada yang membuat laut meluap. Tsunami itu bahasa Jepang, artinya laut meluap atau al-bihaaru fujjirot. Laut ditsunamikan, jadi ada yang membuat tsunami. Lalu siapa?
Orang Atheis , Agnostik dan Materialistik menganggap Tuhan itu seperti pembuat jam. Misal jam dibuat di Swiss,  setelah laku sampai Indonesia maka Pembuat jam di Swiss sudah tidak mengurusi lagi.

Padahal Tuhan tidak begitu. Allah itu menjaga terus ciptaannya.

يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ  يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗۤ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ

"Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. As-Sajdah 5)

Allah SWT itu tidak menganggur setelah penciptaan,  Allah sangat sibuk.

يَسْئَـلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ  كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ

"Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan." (QS. Ar-Rahman  29)

Maka dalam peristiwa tsunami,  lempeng bumi bergerak juga atas kehendak Allah.

Kelebihan Kita sebagai Umat Muhammad SAW adalah bahwa Allah SWT berjanji tak akan memusnahkan kita dalam bencana.

Satu hari Rasulullah SAW setelah shalat dua rakaat kemudian berdoa. Setelah selesai berdoa, Rasulullah SAW pun berkata:

"Aku telah memohon kepada Allah SWT tiga hal. Dari tiga hal itu, hanya dua hal yang Dia kabulkan sementara yang satu lagi ditolak. Tiga hal itu adalah:

1. Aku memohon kepada Allah SWT agar Dia tidak membinasakan umatku dengan musim paceklik yang berkepanjangan. Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT.

2. Aku memohon kepada Allah SWT agar umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti umat Nabi Nuh a.s.). Permohonanku yang ini pun dikabulkan oleh-Nya.

3. Aku memohon kepada Allah SWT agar umatku terbebas dari pertikaian sesama umat Islam.
Tetapi permohonanku yang ini telah ditolak oleh-Nya."

Allah SWT juga memberi jalan keluar kepada kita untuk menghindari tsunami,  menghindari musibah dan mendapatkan keberkahan.

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا  كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami , maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 96)

Dalam ayat tadi dikatakan "seandainya" penduduk bumi beriman dan takwa. Itu artinya tak terjadi, seperti jika kita mengatakan seandainya saya konglomerat, berarti pasti bukan konglomerat.

Jadi sebenarnya solusi untuk menghindari bencana sudah jelas,  yaitu kita beriman , bertakwa. Kemudian melakukan Amar makruf nahi mungkar dengan kerjasama tiga pihak : Umaro,  Ulama dan Rakyat.

Tantangan kita di Indonesia ini adalah kaum Atheis , Liberalis telah berkembang pesat. Mereka berpendapat bahwa bencana adalah peristiwa alam biasa,  tak ada campur tangan Allah. Mereka itu mendustakan ayat Allah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 15 Oktober 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

NIKMAT YANG TERLUPAKAN

Tanggal : 5 Shafar 1440 H/ 14 Oktober 2018

Nara sumber :  Drs.H. Fachrur Rozi MAg

*Turunkan Tensi Kesombongan*

Ibnu Abbas adalah seorang sahabat Rasulullah yang sangat cerdas,  beliau berusia 9 tahun ketika Rasulullah wafat. Dia pernah dido'akan Rasul agar menjadi ahli agama dan do'a Rasul ini terkabul.  Bahkan Rasul pernah berpesan kepada Umar jika dia menemukan ayat yang tidak paham maknanya agar bertanya kepada Ibnu Abbas.

Pelajaran yang didapat adalah bahwa kita boleh belajar kepada siapa saja,  termasuk kepada anak muda kalau memang dia pandai.
Demikian juga jika kita memilih Pemimpin atau Imam Shalat tidak masalah meskipun berusia muda asal berkompeten.
Maka kriteria untuk menjadi Imam Shalat urutannya adalah :
- Yang fasih bacaannya.
- ‎Yang baik akhlaknya
- ‎Yang diterima oleh Kaumnya
- ‎Yang matang usianya.
Dalam hal ini usia ternyata bukan paling utama. Memang pada umumnya ketika tambah usia akan tambah zuhud,  tambah baik.

Manusia itu cenderung sombong karena merasa lebih. Karena merasa lebih tua dia merasa lebih baik. Karena merasa lebih lama tinggal di kampung dia merasa lebih baik. Karena merasa lebih senior di organisasi dia merasa lebih baik.
Ini keliru. Kita dapat belajar dari Perang Khondag,  ternyata bukan usulan Abu Bakar atau Umar yang diterima Rasul,  melainkan usulan Salman al Farisi yang merupakan orang baru masuk islam.

Maka yang paling bagus adalah bagaimana memanfaatkan semangat anak muda dan digabung dengan kebijakan orang tua. Anak muda boleh memberi nasehat kepada yang tua jika memang hal baik.
Maka kitapun memanfaatkan semangat anak muda kita untuk menjadi Sukarelawan menolong bencana ke Palu,  Donggala. Sementara yang tua memberi dukungan segala sarana.

Maka mari kita turunkan Tensi Kesombongan kita. Jangan merasa lebih pandai hanya karena lebih tua. Jangan merasa lebih tahu karena lebih lama tinggal di kampung. Jangan merasa lebih hebat karena merasa lebih dulu masuk organisasi. Belajarlah dari Rasul,  karena Rasul pun memerintah Umar untuk bertanya kepada Ibnu Abbas.

*Dua Nikmat yang Sering dilupakan*.

Ada dua kenikmatan yang pada umumnya membuat sebagian besar umat manusia tertipu,  tidak sadar bahwa hal itu adalah kenikmatan dari Allah. Manusia baru sadar kenikmatan itu ketika kedua nikmat itu mulai hilang.
Nikmat itu adalah *KESEHATAN* dan *KESEMPATAN*

Nabi SAW bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari)

*Nikmat Kesehatan*

Manusia baru menganggap sehat itu nikmat ketika dia menderita sakit. Ketika bangun tidur kemudian membuka mata dan dapat melihat dengan jelas ternyata tidak banyak yang bersyukur dan kemudian mengucap :

“Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur”
(Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkanku setelah mematikanku, dan kepada-Nya-lah kami akan dibangkitkan).

Manusia baru ingat ketika kena sakit mata dan sulit membuka mata.
Gigi yang rutin kita pakai untuk mengunyah makanan juga tak pernah kita syukuri sebagai nikmat Allah. Baru kemudian ketika sakit gigi kita ingin agar nikmat sehatnya gigi dikembalikan.
Minuman teh hangat yang dihidangkan istri tak kita syukuri, bahkan masih protes,  terlalu manis.
Padahal dengan dapat merasakan manis itu berarti kita sehat,  karena ketika sakit semua terasa pahit.

Ketika sakit kita tak dapat membedakan rasa bakso-soto atau sop. Semua hanya terasa panas.
Ketika kita sakit tak dapat menikmati enaknya buah apel , mangga atau jambu. Tetapi anehnya kita baru memberi buah yang enak kepada tetangga kita ketika dia sakit dan diopname di rumah sakit. Ketika tetangga kita sehat malah tak pernah kita kirimi buah yang enak.
Padahal perintah untuk berbuat baik kepada tetangga itu setiap saat :
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim)

*Introspeksi Diri*

Allah SWT berfirman:

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ  اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

"dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Az-Zariyat 21)

Kita diperintahkan untuk "bercermin", melihat diri kita sendiri dengan mata hati kita betapa luar biasa nikmat Allah yang diberikan.
Mulai dari sirkulasi darah di seluruh tubuh kita yang mengalir karena dipompa jantung. Luar biasa,  sistem itu kemudian ditiru manusia sebagai piston dalam mesin mobil.

Kita perhatikan hal kecil,  rambut dikepala kita misalnya,  ada rambut dan ada alis. Sama-sama rambut tapi karakternya beda. Yang satu tumbuh terus yang lain,  alis tidak tumbuh.
Bayangkan jika alis tumbuh,  pasti sangat mengganggu pandangan mata. Fungsi keduanya memang beda karena alis untuk melindungi mata. Namun kembali manusia sering aneh,  alis yang tidak tumbuh malah dikerok habis. Ini namanya tidak mensyukuri nikmat.

Tangan kita ini luar biasa karena mudah ditekuk. Pernah kejadian anak SMA lulus sekolah lalu ngebut dengan motor. Terjadi kecelakaan dan tangan sulit ditekuk. Untuk bisa pulih harus operasi dengan biaya yang mahal.

Itu semua adalah nikmat yang menipu. Ketika kita sehat kita sama sekali tak sadar dan tak mensyukuri nikmat kesehatan.

*Jangan suka Mengeluh*

Manusia itu dikenal sebagai suka mengeluh.

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا

"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh." (QS. Al-Ma'arij  19)

Bayangkan,  ketika bangun tidur Bukannya bersyukur tapi malah mengeluh : " Aduh ...badanku sakit semua rasanya ..."
Apanya yang sakit?  Apakah mata,  mulut,  telinga,  hidung sakit?  Mungkin pinggang sakit gara-gara tidur tidak ditempat biasa.
Yang sakit hanya pinggang tapi yang dikeluhkan sakit semua. Ini mengingkari nikmat Allah.

Manusia itu suka mengeluh. Dia diberi nikmat tidak bersyukur. Namun jika ada sedikit nikmat dicabut maka keluhannya seolah semua nikmat dihilangkan.
Kalau dilanjutkan,  bahwa seorang suami bekerja keras mencari nafkah diberikan pada isteri. Tetapi ketika melakukan sedikit kesalahan maka isteri mengomelnya luar biasa.
Ini berlaku timbal balik,  banyak juga suami yang tak menghargai kebaikan isteri.

Maka jika kita pernah menderita sakit,  bagi orang mukmin itu adalah kenikmatan juga karena memberi kesempatan kepada kita untuk banyak istighfar dan dosa kita diampuni. Mungkin bisa jadi ketika sehat kita jarang istighfar.

*Ketika Tua dikembalikan seperti awal kejadian*

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ  اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(QS. Ya-Sin 68)

Ketika umur kita bertambah, kita akan merasa bahwa kondisi fisik kita yang pada saat muda itu kuat,  sekarang sudah lemah.

Pengalaman pribadi,  ketika muda jadi Pembimbing haji dan ada jama'ah yang hilang maka kita masih kuat dan rajin untuk mencari. Namun kemarin,  karena kaki sakit , meski badan sehat sudah tak mampu lagi mencari jama'ah hilang. Akhirnya kita pasrah berdo'a minta bantuan Allah dan alhamdulillah jama'ah yang hilang ditemukan.

Ketika usia menjadi tua , dampaknya tak selalu pada fisik saja. Sebagian orang ternyata menjadi pikun (lemah ingatan). Ada kisah jama'ah lain yang  punya riwayat hilang beberapa kali,  karena memang pikun.
Dengan memanfaatkan jaringan Pembimbing haji kita bisa saling minta tolong dan jama'ah tadi ketemu setelah 3 hari hilang.
Menurut pengakuannya dia dolan ke rumah temannya. Namun orang yang menampung dirinya tidak pernah merasa kenal dengan dirinya. Dia hanya sekedar menolong jama'ah hilang.

Belum lagi tentang kisah jama'ah lain yang bingung :
- Ada jama'ah yang ketika di asrama Donohudan mencari becak,  mau pulang ke Semarang. Untung bisa dibujuk untuk naik pesawat.
- ‎Ada jama'ah ketika di Mekkah minta dicarikan bis,  mau pulang ke Solo.  Dia mungkin merasa di Semarang.
- ‎Ada jama'ah yang gembira diberi uang 80 real. Tetapi dia kehilangan uang 500 ribu rupiah. Kalau ini jelas jama'ah tertipu.

Itu semua kisah nyata untuk pembelajaran tentang nikmat Allah.
Betapa hebatnya kesehatan fisik,  akal dan jiwa kita. Ketika tubuh kita masih kuat,  ingatan masih kuat kita tidak merasa hal itu adalah nikmat Allah. Kita baru sadar ketika usia tua dan kehilangan tubuh sehat dan ingatan yang kuat.

Maka kita diajari untuk berdo'a
“Allahumma ‘afini fi badani".
(Ya Allah, sehatkanlah badanku)

Dan jika diantara kita ada yang diberi kesempatan untuk tinggal bersama,  merawat orang tua atau mertua maka hendaklah dirinya meningkatkan kesabarannya. Orang tua menjadi pikun itu hal yang wajar namun mudah-mudahan kita terhindar darinya.

*Bagaimana Rasulullah menjaga Kesehatan?*

Ada beberapa cara yang dilakukan Rasulullah dalam menjaga kesehatan.

1. Riyadoh (Olah Raga).

Di masa mudanya Nabi Muhammad giat berolah raga. Ada tiga macam olah raga yang dilakukan Nabi Muhammad,  yaitu : Berkuda , Memanah dan Gulat. Bisa jadi Khabib Nurmagomedov , juara UFC itu mengidolakan Nabi Muhammad pada saat itu.

Di usia senja ketika di Madinah, beliau tetap berolah raga berkuda atau jalan kaki. Beliau jalan kaki dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba pulang pergi, jadi kira-kira 7 KM. Beliau berolahraga bersama isteri beliau Aisiyah.

2. Bangun sebelum Subuh.

Rasul selalu istirahat setelah shalat Isya apabila tak ada acara tertentu dan kemudian beliau selalu bangun sebelum subuh untuk shalat malam.

3. Tidak makan kecuali lapar,  berhenti makan sebelum kenyang.

Muqauqis penguasa Mesir mengirim seorang tabib ke Madinah sebagai tanda persahabatan. Tabib ini bertugas mengobati penduduk Madinah. Dua tahun ia tinggal di Madinah, tapi ia tidak menjumpai seorang pun berobat kepadanya, hingga dia menanyakan ke Nabi, kok bisa….?

“Penduduk Madinah tidak ada yang sakit.” jawab Nabi SAW

“Bagaimana cara seluruh penduduk sehat?”.

Rasulullah SAW menjawab, “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar. Jika makan, kami melakukannya tidak sampai kenyang".

Salah satu sumber penyakit adalah karena tidak dapat mengendalikan isi lambung.

*Nikmat Kesempatan*

Allah memberikan kesempatan kepada kita,  namun sering kita lalaikan. Kadang kita diajak untuk berbuat kebajikan,  apakah itu mengikuti pengajian atau mungkin mengunjungi teman sakit,  namun kita memilih untuk menunda pekan depan. Kenyataan yang terjadi pekan depannya tak ada kesempatan itu lagi. Mungkin ada acara lain atau malah orang yang mau dijenguk sudah sembuh.

Ketika ada kesempatan iedhul fitri kumpul keluarga,  segera laksanakan. Belum tentu kesempatan silaturahim bisa diulang. Jangan sampai menunda-nunda maksud baik,  karena itu adalah nikmat kesempatan yang diberikan.

Kesempatan sering diabaikan,  bahkan kesempatan hidup sering diabaikan. Jangan sampai seseorang menunda-nunda untuk shalat jama'ah di masjid,  karena bisa jadi keduluan dia harus masuk masjid untuk dishalatkan.

Jangan sampai kelak kita menyesal dan berkata :

ُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا

yaa laitanii kuntu turoobaa
(Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.) (QS. An-Naba'  40)

Dengan tetap menjadi tanah meskipun diinjak-injak, namun kelak tak perlu bertanggung jawab.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 07 Oktober 2018

Kajian Ahad Sendang Gede

Kajian Ahad SENDANG GEDE

Dr.Drs. H. Rozihan SH, MAg

27 Muharram 1440 H / 7 Oktober 2018

KARUNIA ILMU & HARTA

*Karunia Allah*

Ada beberapa karunia dari Allah SWT seperti Petunjuk, Naluri,  Ilmu,  Harta, Iman.
Semua orang diberi Petunjuk, berupa Naluri. Misalnya kalau lapar maka nalurinya mencari makan. Jika mendapat serangan atau ancaman berusaha menghindar. Itu naluri yang sama dan dipunyai oleh semuanya.
Namun terkait Petunjuk atau Hidayah keimanan tidak diberikan kepada semua orang.
Terkait dengan Ilmu dan Harta atau Kekayaan diberikan Allah kepada mereka yang mau dan berusaha mendapatnya. Jika tidak mau maka tidak diberi oleh Allah.

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰٮهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗ  وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَآءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗ  وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْـتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

"Bukanlah kewajibanmu Muhammad menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka kebaikannya untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi pahala secara penuh dan kamu tidak akan dirugikan." (QS. Al-Baqarah 272)

*Petunjuk itu dari Allah*

Manusia tak dapat memberi Petunjuk kepada orang lain. Orang tua tak dapat memberi petunjuk kepada anaknya. Sejarah kemanusiaan  membuktikan bahwa Nabi Nuh tak dapat memberi petunjuk kepada anaknya , sehingga anaknya menjadi sesat.

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ  اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ

"Sungguh, engkau Muhammad tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki..." (QS. Al-Qasas 56)

Nabi Muhammad ternyata tak dapat memberi petunjuk kepada Paman yang dikasihinya.
Maka jika kita memberi Petunjuk atau nasehat kepada siapapun tak perlu ngotot, karena memang kita tak diberi kemampuan untuk meyakinkan seseorang. Petunjuk atau hidayah itu wewenang Allah.

Ketika kita menasehati anak itu adalah usaha kita agar anak tidak tersesat. Disamping usaha kita perlu untuk mendo'akan anak.
Nabi mengajarkan kepada kita untuk mendo'akan anak sebagai berikut :

اللهم بارك لي في أولادي واحفظهم وارزقهم ولا تضرهم ووفقهم لطاعتك وارزقنا برهم…

Allahumma barik li fi auladi wahfadhum warzuqhum wa la tadhurrahum wawaffiqhum litho’atik warzuqna birrohum…

Artinya :
“Ya Allah berkatilah aku dalam urusan anak-anak ku, mohon jagalah mereka, anugerahi mereka, jangan lah Engkau murka pada mereka, berilah taufiq agar mereka taat kepada Engkau, dan anugerahi kami atas bakti mereka…”

Dalam surat Al Ahkaf ayat 15 juga dikatakan kita tak punya apa-apa dan tak bisa apa-apa. Karena ketika manusia lahir tak bisa apa-apa.
Maka kita diajarkan berdo'a :

... رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ     ۗ  ۚ  اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

... robbi auzi'niii an asykuro ni'matakallatiii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu wa ashlih lii fii zurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal-muslimiin

"Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.".(QS. Al-Ahqaf  15)

Ada orang diberi nikmat tetapi tak tahu kalau itu nikmat bahkan menyalah-gunakan nikmat. Buktinya ketika tak punya uang dia mengeluh,  padahal dia diberi nikmat berupa kesehatan.
Bukankah sehat itu lebih baik daripada punya uang?
Maka tidak mudah untuk mensyukuri nikmat, kita perlu berdo'a untuk itu. Tidak hanya kepada diri sendiri tapi juga minta agar terhadap orang tua diberi kemampuan bersyukur.

Bayangkan ketika orang tua kita berusia lanjut,  maka akan seperti anak kecil lagi. Emosinya tinggi dan merasa dirinya yang paling benar.
Ini sudah disebutkan dalam Al Qur'an :

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ  اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(QS. Ya-Sin 68)

Maka yang muda harus minta kekuatan untuk bersyukur, orang muda harus sabar agar dapat melayani orang tua. Tentu saja ini tak mudah.

Dengan sabar dan shalat kita minta pertolongan Allah. Memang Sabar dan Shalat yang khusyuk itu suatu hal yang berat, tetapi harus diusahakan.

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۗ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ

"Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sabar dan sholat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS. Al-Baqarah 45)

Bukti bahwa shalat itu berat, ketika shalat kita sulit khusyuk, pikiran melayang kemana-mana.
Dengan doa kita meminta agar anak kita sholeh. Sholeh itu meliputi semua kebaikan.

*Berbuat baik dengan Harta, Kekayaan dan Ilmu*

Karunia Allah ada dua,  harta atau kekayaan dan ilmu. Namun kedua hal itu diberikan kepada mereka yang mengusahakan. Harta tak sama dengan Kekayaan. Harta itu tidak selalu uang. Harta atau Kekayaan termasuk kesehatan kita, anak yang sholeh termasuk Kekayaan.

Ketika kita berbuat baik dengan harta, misal menolong orang dengan harta kita maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Demikian juga jika melakukan kejahatan kepada orang lain, maka kejahatan itu untuk diri kita sendiri.

Karunia berupa harta dan ilmu hanya diberikan kepada yang mengusahakan.  Maka ada beberapa kondisi kepemilikan karunia.

*1. Diberi harta dan ilmu.*

Ini adalah orang yang beruntung. Dia tahu maksudnya harta itu untuk apa. Dia tahu harta sebagian untuk disimpan,  sebagian untuk dibelanjakan dan sebagian untuk sedekah. Dia itu berjalan diatas bumi dengan rendah hati , tidak sombong.

Bila punya uang tak punya ilmu akan sombong, contohnya Fir'aun.
Orang tak punya ilmu ibarat burung beo,  selalu mengucap sesuatu tapi tak faham maksudnya.

Orang berilmu selalu berusaha mencari faham. Ketika shalat dia faham maknanya, faham yang diucapkan. Maka ketika shalat kita tidak faham 100% , kita diberi kesempatan untuk menyempurnakannya dengan mengerjakan shalat sunah qabliyah dan bakdiyah.

Orang berilmu dan punya harta , dia tahu bahwa uang adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan.
Bagaimana uangnya, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa ,  ada manfaatnya atau tidak. Tidak semua barang dibeli olehnya.

ثُمَّ لَـتُسْئَـلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

"kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang megah di dunia itu". (QS. At-Takasur 8)

Orang berilmu itu rendah hati dan menebarkan salam (keselamatan).

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ  هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina , mereka mengucapkan, salam," (QS. Al-Furqan 63)

Jika dia berbuat baik tidak dipamerkan karena dia tahu bahwa yang dikerjakan masih belum banyak. Beda dengan orang tanpa ilmu, dia senang memamerkan amalannya.

Berbuat baik itu tidak harus paling banyak, tetapi berbuat baik yang terbaik. Seperti kita lihat dalam ayat:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ  عَمَلًا   ۗ

"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya...,"
(QS. Al-Mulk 2)

Kehidupan ini adalah ujian. Maka tiap orang pasti punya masalah. Namun masalahnya berbeda-beda. Maka orang Jawa mengatakan bahwa kehidupan itu : "Wang-sinawang".

Allah memberikan ujian sesuai kemampuan. Bagi yang kaya diperintah sedekah harta. Lalu bagaimana orang miskin bersedekah?  Kepada orang miskin diberi karunia bahwa dengan mengucap Tasbih,  Tahmid dan Tahlil itu bernilai sedekah.

Orang berilmu jika dikritik dia menjawab dengan sabar. Karena menasehati orang bodoh itu memang sulit. Maka membutuhkan kesabaran. Bila tidak sabar hanya akan jadi perdebatan.
Bila orang berilmu maka dia mudah mencerna nasehat, karena dia mudah faham. Bahkan Allah juga membedakan antara orang berilmu dan tidak.

... قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ  اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

"... Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar 9)

Maka orang berilmupun akan mencari ibadah yang efektif,  usaha sedikit namun nilainya banyak.
Belum tentu yang terbanyak amalnya itu yang paling baik , kita tak tahu siapa yang amalnya terbaik. Namun hanya orang berilmu bisa memilih amalan terbaik.

*2. Diberi Ilmu tanpa Harta.*

Punya ilmu tak punya harta,  namun
dengan ilmu dia menciptakan kreativitas dan idealisme akan tumbuh dan menjadi rujukan.
Bila punya sedikit uang dia berusaha mengembangkan uangnya. Mungkin dengan membuka usaha atau jasa.

Contoh orang berilmu tapi tak punya harta adalah Nabi Musa. Ilmu yang diperoleh Nabi Musa tentang api yang dapat jadi penerang dan penghangat.

اِذْ قَالَ مُوْسٰى  لِاَهْلِهٖۤ اِنِّيْۤ اٰنَسْتُ نَارًا ۗ  سَاٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِخَبَرٍ اَوْ اٰتِيْكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ  لَّعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ

"Ingatlah ketika Musa berkata kepada keluarganya, Sungguh, aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api (obor) kepadamu agar kamu dapat berdiang." (QS. An-Naml  7)

Meskipun Musa pandai,  namun Allah menyampaikan bahwa diatas orang pandai selalu ada yang lebih pandai. Maka Nabi Musa diperintah untuk belajar ilmu hikmah kepada Nabi Khidir. Maknanya adalah untuk terus menerus mencari ilmu dan jangan sombong.

*3. Diberi Harta tanpa Ilmu.*

Harta tanpa ilmu rapuh karena tidak bisa memanage, akhirnya terjadi kesombongan dan kikir.
Contoh misal orang mau haji tetapi menjual rumahnya,  ini keliru karena hartanya akan habis. Dia tak mengelola hartanya.

Akibat lain karena tak punya ilmu dan ingin hartanya tak berkurang,  dia menjadi kikir. Kemudian dia akan mengajari orang lain untuk kikir.

Allah SWT berfirman:

.... اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرَا
الَّذِيْنَ يَـبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ  ۗ  وَ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا

".. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan." (QS. An-Nisa' 36-37).

*4. Tidak punya Harta dan Ilmu.*

Orang yang celaka , orang yang paling rendah derajatnya susah menjalani kehidupan,  bodoh dan miskin. Kebodohan dan kemiskinan itu bukan takdir, melainkan karena kemalasan tak mau usaha.

... اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا  بِاَنْفُسِهِمْ ۗ

"... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.." (QS. Ar-Ra'd 11)

Perintahnya adalah mengubah cara berfikir. Artinya dia harus mau berusaha karena orang yang lemah tidak disukai oleh Allah.

*5. Punya Harta, punya Ilmu dan Iman*

Orang yang punya ketiganya : Harta,  Ilmu dan Iman akan mulia. Adapun yang punya Harta,  Ilmu tapi tak punya Iman akan celaka.
Harta dan ilmunya akan menjadi Perhiasan yang mencelakakan.

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ     فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ
وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ  ۙ  فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ  اَهَانَنِ

"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku."
(QS. Al-Fajr 15-16)

Padahal orang harus memanfaatkan semua potensinya secara optimal. Untuk mencapai kemuliaan , orang harus kerja keras.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 30 September 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

PELAJARAN POLITIK DARI FATHU MEKKAH

Tanggal : 20 Muharram 1440 H/ 30 September 2018

Nara sumber :  Dr. H. Zuhad Masduqi MA

*Agresi Rezim Mekkah*

Kemenangan Nabi Muhammad SAW  terhadap rezim Mekkah yang dipimpin Abu Sufyan diabadikan dalam Surat An Nasr yang termasuk dalam juz Amma. Surat ini merupakan Surat Madaniyah karena turun di Medinah.

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ
وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ  ۗ  اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat." (QS. An-Nasr Ayat 1-3)

Untuk memahami surat ini,  kita harus mengetahui peristiwa-peristiwa yang melatar-belakanginya. Peristiwa itu terjadi saat Fathu (penaklukan) Mekkah

Rezim Abu Sufyan terus menerus menekan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Para Sahabat sampai pernah hijrah ke Habasyah dalam rangka menghindar dari tekanan Rezim Mekkah.
Pada akhirnya tahun ke 13 setelah kenabian,  Nabi hijrah ke Madinah.
Di Madinah nabi memperoleh kekuatan politik , sosial dan ekonomi. Sehingga kemudian beliau bisa melawan agresi yang dilakukan rezim Mekkah. Agresi ini dilakukan berkali-kali.

Agresi pertama terjadi pada tahun kedua Hijrah yaitu yang disebut dengan Perang Badar.
Agresi kedua yaitu Perang Khandag dimana Abu Sufyan mengerahkan seluruh kekuatan Mekkah. Nabi Muhammad SAW bertahan di dalam kota Madinah.
Ada sahabat bernama Salman al Farisi mengusulkan supaya pertahanannya dengan cara membuat parit lebar 3 meter dan dalam 3 meter sehingga pasukan Ahzab (gabungan musuh) tak dapat masuk ke dalam kota Madinah. Pasukan Ahzab diporak-porandakan oleh badai gurun.

Agresi berikutnya Perang Uhud dimana pasukan Mekkah dapat mengalahkan Nabi Muhammad SAW, karena ada pasukan islam yang tidak menaati perintah Rasul SAW.
Jadi meskipun Nabi Muhammad SAW sudah hijrah ke Madinah,  namun kaum kafir tetap ingin menghancurkan umat islam. Dari sejarah diketahui bahwa Nabi bersifat defensif.

*Perjanjian Hudaibiyah*

Pada tahun ke 6 H,  Rasul dan para Sahabat ingin melaksanakan umrah.
Waktu itu peserta Umrah jumlahnya sekitar 4000 orang. Namun di Hudaibiyah,  sebelum masuk Mekkah,  Nabi Muhammad SAW dihadang oleh Rezim Mekkah.
Terjadi perundingan yang alot. Akhirnya dikirim Usman bin Affan yang dekat dengan Rezim Mekkah oleh Nabi untuk berunding. Namun Usman tidak segera pulang-pulang sehingga timbul desas-desus Usman dibunuh.  Para Sahabat Nabi tetap bertahan di Hudaibiyah siap untuk perang. Mereka berbai'at untuk bertahan. Ketika itu Usman pulang dan ikut berbai'at. Bai'atnya dikenal sebagai Bai'atur Ridhwan.

Selanjutnya perundingan dilanjutkan di Hudaibiyah. Secara politik ini merupakan kemenangan politik umat islam , karena berarti islam sudah diakui kekuatannya oleh Rezim Mekkah, hingga mereka mau datang berunding.

Hasil perundingan sebagai berikut :

1. Kalimat Muhammad Rasulullah, tidak disetujui Rezim Mekkah
, diganti Muhammad bin Abdullah.
Kata Bismillahir rohmanir rohiem juga tidak disetujui.

2. Jika ada Orang Mekkah masuk islam ke Medinah , maka Muhammad harus mengembalikan ke Mekkah.
Tetapi jika ada orang Medinah yang murtad dan kembali ke Mekkah maka orang Medinah tidak berhak meminta orang ini.
Pada awalnya Umar bin Khattab tidak menerima ini,  karena berarti pengikut Rezim Mekkah akan tambah banyak dan Umat Islam berkurang. Namun hal ini diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

3. Setelah perjanjian ini maka orang Arab bebas untuk berkoalisi. Mau pilih Rezim Mekkah atau Umat Islam. Ini merupakan kemenangan Politik umat islam,  karena pada awalnya orang Arab tidak bebas memilih.

Maka sesuatu yang kelihatannya buruk dampaknya belum tentu buruk.

كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)

4. Pada tahun tersebut Nabi tak boleh melaksanakan Umrah. Umrah diijinkan tahun depan dengan catatan tidak boleh membawa senjata.

Akhirnya setelah perjanjian ditandatangani , Nabi Muhammad SAW bersama sahabat kembali ke Madinah. Tahun berikutnya baru melaksanakan Umrah. Maka umrah itu disebut Umratul Qadha'

*Pelaksanaan Perjanjian Hudaibiyah*

Setelah Nabi kembali ke Madinah,  banyak orang Mekkah yang menyatakan masuk Islam dan bergabung dengan Nabi Muhammad SAW. Namun karena Nabi terikat perjanjian Hudaibiyah,  mereka orang Mekkah itu diterima masuk islam tapi harus keluar dari Madinah. Mereka keluar dari Madinah tapi tak mau pulang ke Mekkah. Mereka bermukim didekat jalan antara Mekkah dan Madinah. Jika ada orang Mekkah lewat, mereka merampok orang Mekkah tersebut. Rezim Mekkah kerepotan dan tak dapat mengatasi hal ini.
Orang Islam jumlahnya bertambah,  Rezim Mekkah makin lama makin berkurang.  Maka perjanjian yang awalnya kelihatannya tidak bagus, pada akhirnya ternyata bagus.
Akhirnya point perjanjian tentang hal ini dihapus.

Diantara suku bangsa Arab ada yang terpecah akibat aturan bebas berkoalisi. Maka bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Nabi SAW dan Bani Bakr bergabung di kubu rezim Mekkah. Padahal, dulu antara dua suku ini bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata.

Namun, secara licik, Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah dengan dibantu Rezim Mekkah. Akhirnya orang Khuza’ah menghadap Nabi SAW di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Rezim Mekkah dan Bani Bakr.
Berarti Rezim Mekkah secara sepihak membatalkan Perjanjian Hudaibiyah.

Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, Abu Sufyan pergi ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi SAW, namun beliau tidak memperdulikannya.
Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar r.a agar mereka memberikan bantuan untuk membujuk Nabi SAW. Namun usaha ini gagal. Terakhir kali dia menemui Ali bin Abi Thalib r.a agar memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Nabi SAW.
Namun juga gagal dan Abu Sufyan kemudian kembali ke Mekkah.

Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi SAW berunding dengan para sahabat untuk tindakan berikutnya.
Keputusan rapat mereka akan ke Mekkah diam-diam,  dengan jumlah besar tidak untuk perang, tetapi tetap menyiapkan senjata dan perlengkapan perang.

*Larangan Memilih Pemimpin Kafir*

Tahun ke 10 H , Nabi merencanakan  ke Mekkah dengan pasukan yang jumlahnya melebihi penduduk Mekkah. Beliau ingin menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah.
Salah satu peserta adalah seorang sahabat Muhajirin bernama Hatib bin Balta’ah.
Dia ini mempunyai bisnis dan keluarga di Mekkah. Karena khawatir bisnisnya hancur dan keluarganya terbunuh maka beliau menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan Nabi SAW menuju Mekkah dengan pasukan besar. Surat ini beliau titipkan kepada seorang kurir wanita.  Namun, Allah mewahyukan kepada NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliaupun mengutus Ali untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.
Ali berhasil menyusul wanita tersebut. Ali memeriksa dan menemukan surat tersebut.

Ali  menyerahkan surat tersebut kepada Nabi SAW. Dengan bijak Nabi SAW menanyakan alasan Hatib. Hatib bin Balta’ah pun menjawab:

“.. Demi Allah, aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Di sana aku memiliki istri dan anak. Saya khawatir bisnisku hancur dan keluargaku jadi korban.”

Umar bin Khattab menawarkan diri,
untuk memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati RasulNya. Tapi Hatib punya jasa besar, dia pernah jadi komandan perang Badar.
Terjadi ketegangan diantara para Sahabat. Akhirnya Nabi bersabda :
" Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. In syaa Allah,  Allah tahu hati masing-masing orang...".

Umar bin Khattab-pun hatinya luluh dan tak jadi membunuh Hatib.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Hatib bin Balta’ah adalah bahwa inilah kelemahan manusia. Walau dia orang baik, ikut organisasi tetapi bila punya kepentingan pribadi,  biasanya kepentingan ini yang sering membelokkan arah perjuangan.

Orang Kafir Mekkah itu sejak dulu memusuhi Umat Islam sejak di Mekkah sampai Madinah. Maka ketika Hatib bersahabat dengan orang Mekkah dia mau membocorkan rahasia Umat Islam.
Itulah kelemahan manusia.

Maka kita tak perlu heran bila ada orang ikut organisasi keagamaan, organisasi sosial ataupun organisasi politik,  tiba-tiba berbalik arah.
Itu karena ada kepentingan tadi.
Tak peduli dia ulama besar yang dulu bicaranya lurus , memimpin Majelis Ulama , bisa saja tiba-tiba bicaranya berubah. Dulupun sudah terjadi yaitu Hatib bin Balta'ah.

Dari peristiwa itu turun ayat :

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ

"Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman.." (QS. Ali 'Imran  28)

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ   ۗ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin.." (QS. An-Nisa'  144)

Kata "auwliya" pernah jadi masalah di Indonesia. Ada yang menerjemahkan Pemimpin dan ada yang menerjemahkan Teman Dekat. Kalau membaca tafsir lama semua disebutkan Teman Dekat. Disebut Pemimpin ketika dalam Konteks Demokrasi.

Kalau kita menjadikan orang kafir jadi teman dekat akan melemahkan perjuangan. Menjadikan teman dekat saja tidak boleh apalagi menjadikan Pemimpin, lebih tidak boleh.
Kalau kita berteman dekat dengan Preman,  maka Temannya Preman jadi teman kita dan musuhnya Preman jadi musuh kita.

Kalau Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel,  maka teman Israel jadi teman Indonesia dan musuh Israel jadi musuh Indonesia. Dan semua negara Arab jadi musuh Indonesia.

Agak beda dengan surat Al Maidah 51, karena konteksnya Madinah.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ  ۘ  بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ  ۗ  وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinmu ; mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah  51)

Dulu di Madinah dihuni banyak kaum : Bani Auz,  Bani Khazraj dan suku Yahudi yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Quraizhah dan masyarakat Islam.
Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah lalu diadakan Perjanjian Madinah. Diantara isi perjanjian adalah :

1. Kebebasan Beragama.
2. ‎Orang yang terikat perjanjian tak boleh membantu musuh dari luar untuk menyerang salah satu anggota.
3. ‎Pertahanan bersama kota Madinah.

Namun perjanjian hanya berumur 16 bulan karena Orang Yahudi berkhianat. Kemudian ayat 51 Surat Al Maidah tadi turun.

*Pasukan Islam Menuju Mekkah*

Kemudian, pada tahun ke 8 H, awal Ramadhan Nabi Muhammad SAW keluar Madinah bersama 10.000 orang menuju Mekkah.
Padahal pada waktu Perjanjian Hudaibiyyah di tahun ke 6,  jumlah yang mau ke Mekkah 4000 orang. Jadi dalam waktu 2 tahun islam berkembang 250%. Pertambahan ini akibat perjanjian bebas berkoalisi,  atau dampak kemenangan Politik Perjanjian Hudaibiyah. Itu adalah pengakuan eksistensi umat islam.

Perjalanan dari Madinah ke Mekkah kira-kira dalam waktu 10 hari. Ketika kira-kira kurang 3 hari menjelang sampai Mekkah ,  di suatu tempat yang panas , nabi Muhammad SAW  membatalkan puasanya. Nabi melihat seseorang yang terkapar,  karena tetap menjalankan puasa.
Maka beliau bersabda:

 لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ .

“Bukan merupakan suatu kebaikan berpuasa dalam safar.”

Hadits ini sering dipakai dasar oleh orang yang bepergian tidak boleh puasa. Memang benar bila dipahami secara tekstual adalah tidak boleh puasa ,  namun konteksnya tidak tepat karena pada saat itu panas sangat ekstrim sehingga jika tetap puasa akan membahayakan diri. Maka musafir di bulan Ramadhan membatalkan puasa atau tidak tergantung pada kondisi. Kalau ada hambatan boleh membatalkan, bila tidak ada masalah tetap puasa terus. Bukankah dalam Al Qur'an juga ada petunjuknya :

 وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"... dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 184)

Sebelum memasuki kota Mekkah, pasukan nabi berhenti diluar kota.
Pasukan nabi membuat obor untuk penerangan. Jumlahnya demikian banyak sehingga Abu Sufyan pemimpin Mekkah memeriksanya.Tetapi Abu Sufyan tertangkap.
Padahal saat itu suasana perang,  karena perjanjian Hudaibiyyah dikhianati : Bani Bakr dibantu Rezim Mekkah menyerang Bani Khuza'ah, dimana korbannya banyak sekali. Hal itu artinya pembatalan perjanjian secara sepihak oleh Rezim Mekkah.

Abu Sufyan dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW dan diminta memilih :
- Dibunuh atau Masuk Islam-
karena tugas Nabi memang menyebarkan agama islam.
Abu Sufyan memilih masuk islam. Memang pada awalnya dia terpaksa, tetapi kemudian menjadi muslim baik.

Paman Nabi bernama Al Abbas ketika Perang Badar ada dipihak Mekkah ikut menyerang Nabi. Dia tertangkap, tetapi kemudian dibebaskan dengan membayar diyat. Kemudian Al Abbas menjadi muslim yang baik. Beliau satu-satunya sahabat yang diajari Nabi dengan shalat Tasbih.
Al Abbas ini yang menginterogasi Abu Sufyan. Al Abbas melaporkan kepada Nabi bahwa Abu Sufyan adalah seorang yang sangat menjunjung tinggi kehormatan. Maka Al Abbas menyarankan agar Nabi memberikan kehormatan.

Nabi setuju dan kemudian beliau bersabda kepada Abu Sufyan :
"Wahai Abu Sufyan,  setelah ini kamu saya lepas,  dan kamu pulang. Katakan kepada orang-orangmu, Siapa yang masuk rumahmu dijamin keamanannya,  siapa yang masuk ke Masjidil Haram dijamin keamanannya, siapa yang tetap tinggal di rumah masing-masing dijamin keamanannya. Tetapi siapa yang keluar menyerang maka dia akan ditahan".

Abu Sufyan pulang,  dan mengumumkan pesan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad masuk kota Mekkah tanpa perlawanan. Pelajaran politik yang diambil adalah untuk mempengaruhi suatu kelompok akan efektif bila memakai tokoh kelompok tadi. Bila yang mempengaruhi bukan dari kelompoknya pasti timbul perlawanan.

Nabi Muhammad mengumpulkan orang Mekkah dan berpidato :
"Kamu semua orang bebas,  orang merdeka. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang ditahan. Dan tidak ada harta bendamu yang dirampas oleh kami".

Nabi Muhammad SAW datang dalam posisi sebagai pemenang. Di depan orang Mekkah yang menganiaya beliau selama 13 tahun ketika di Mekkah dan ditambah 8 tahun diperangi ketika di Madinah namun beliau tidak ada mendendam sama sekali. Semua musuh dibebaskan dan mereka berbondong-bondong masuk islam. Pada kondisi inilah turun Surat An Nasr.

Sungguh luar biasa beliau Nabi Muhammad SAW, maka tak heran Michael H. Hart memposisikan beliau sebagai tokoh dunia nomer satu.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 23 September 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

HIKMAH DARI PERISTIWA HIJRAH

Tanggal : 13 Muharram 1440 H/ 23 September 2018

Nara sumber :  Dr. H. Rupi'i Amri MAg

Saat ini kita masih dalam tahun baru hijriyah. Maka tak ada salahnya jika kita membahas seputar hijrah.
Pelajaran yang diabadikan dari hijrah adalah Kalender Islam yang dimunculkan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Kita sebagai umat islam harus mengenal dan mengingat kalender kita tersebut yang nantinya diharapkan akan jadi kebanggaan kita. Pada saat ini kalender islam masih dalam proses untuk kesepakatan penyatuan kalender internasional.

Banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an tentang masalah hijrah. Antara lain salah satunya menyangkut kuatnya persahabatan dari sahabat-sahabat Rasul,  yaitu antara kelompok Muhajirin dan Anshor yang saling menolong ketika menjalankan perintah hijrah dari Allah.

وَيُـؤْثِرُوْنَ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ    ۗ

"... dan mereka mengutamakan Muhajirin atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan..." (QS. Al-Hasyr  9)

Artinya pertolongan kaum Anshor terhadap sahabatnya itu sangat serius. Kalau kaum Muhajirin meninggalkan harta bendanya di Mekkah,  maka kaum Anshor jika punya dua rumah, dia berikan satu kepada Muhajirin. Bila punya dua onta juga akan diberikan satu kepada Muhajirin. Begitu kuatnya persaudaraan mereka dalam membela agama islam.

Dalam Riyadush shalihin disebutkan:
 Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab r.a , ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat itu sangat penting untuk segala aktifitas kita. Maka niat harus diluruskan untuk mencari ridha Allah. Hadits di atas memerinci bahwa niat hijrah dari para Sahabat ada tiga :

1.  Niat mencari ridha Allah.
2. ‎ Niat ingin mendapat hal yang bersifat duniawi.
3. ‎ Niat ingin mendapatkan wanita.

Hadits tadi menjelaskan meskipun para sahabat yang logikanya lebih suci dari kita karena lebih dekat dengan Rasulullah,  tetapi ketika memenuhi perintah Allah ternyata niatnya macam-macam, mirip dengan kita. Ini wajar karena mereka manusia biasa. Bahkan Nabi pun adalah manusia biasa. Bedanya hanya Nabi mendapat wahyu.

قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ

"Katakanlah Muhammad , Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku .," (QS. Fussilat  6)

Maka ada juga orang yang bertanya,  kenapa jika Nabi kok jalan-jalan ke pasar? Padahal ketika Nabi dan Khalifah pergi ke pasar , mereka itu melakukan sidak pemeriksaan apakah Para Pedagang itu jujur pada saat menimbang barang. Karena banyak pedagang nakal,  jika menimbang untuk dirinya ditambah,  jika untuk orang lain dikurangi.
Kemudian turunlah ayat Al Qur'an yang mengancam mereka yang curang itu.

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ
الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَ
وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ

"Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang ! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain , mereka mengurangi." (QS. Al-Muthaffifiin Ayat 1-3)

Salah seorang sahabat ada yang hijrah karena mengikuti wanita yang ikut hijrah. Wanita tersebut bernama Ummu Qois. Maka laki-laki yang berhijrah tadi disebut Muhajir Ummu Qois, yaitu orang yang berhijrah karena Ummu Qois.

Ada 3 Hikmah dari Peristiwa Hijrah yang sangat penting bagi kita :

*1. Hijrah adalah Pengorbanan.*

Ketika awal pertama kali turun perintah hijrah,  Rasulullah memberitahukan kepada Abu Bakar.
Abu Bakar lalu membeli dua ekor onta,  maksudnya yang seekor akan diberikan kepada Rasulullah. Namun Rasul menolak pemberian itu dengan halus , padahal diantara mereka berdua sudah sering saling memberi sesuatu dan tak pernah ditolak.
Abu Bakar tetap bersikeras memberi onta karena dapat kita bayangkan betapa beratnya jika dari Mekkah ke Medinah jalan kaki pada waktu itu dengan kondisi medan yang berat.
Rasul tetap menolak diberi,  namun beliau mau membeli onta tadi dari Abu Bakar dengan harga pasar.

Hikmah Pelajaran :

Rasul memberi pesan bahwa siapapun yang berhijrah,  berniat jihad , ataupun beramal sholeh harus dikerjakan dengan usaha maksimal dan pengorbanan maksimal.
Apabila kita telah selesai mengerjakan satu pekerjaan maka segeralah bergegas menyambut tugas lain,  jangan berhenti.
Setelah semua usaha dilakukan kemudian bertawakalah.

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ

"Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan , tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain , dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS. Al-Insyirah Ayat 7-8)

Maka kita pun harus mulai berfikir apa yang dapat kita wakafkan untuk perjuangan dakwah.?
Bagaimana kita mengkader anak-anak kita dijalan dakwah?
Ini semua pekerjaan rumah bagi kita, apapun profesi kita,  kita harus membuat planning untuk terus maju ke depan dan menjadi lebih baik.

*2. Memahami Makna Hidup*

Orang kafir Quraisy mulai marah kepada Nabi Muhammad SAW, karena dakwah beliau dianggap mulai mengancam adat istiadat mereka. Mereka bersepakat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.
Namun ketika mereka menyergap ke rumah Nabi,  mereka tidak mendapati Nabi Muhammad SAW di rumahnya, karena ternyata yang tidur di tempat tidur Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Hal ini terjadi karena Nabi berpesan agar Ali menempati kamar beliau sementara beliau pergi.
Lalu mengapa Ali berani tidur di kamar Nabi,  padahal dia tahu rumah sudah dikepung musuh dan mereka mau membunuh Nabi. ?

Hikmah Pelajaran :

Gemblengan iman dan akidah yang kuat mengakibatkan Ali berani mengorbankan nyawanya demi membela kepentingan islam dan Nabi Muhammad SAW.
Ini karena Ali bin Abi Thalib benar-benar memahami makna hidup, bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat nanti.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا  ۗ  بَلْ اَحْيَآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ

"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki," (QS. Ali 'Imran 169)

Ketika kita berbicara menyangkut masalah ghoib,  selama itu adalah informasi dari Al Qur'an maka kita harus mengimaninya. Orang-orang yang mati itu sebenarnya tetap hidup tetapi di alam lain. Keadaan mereka akan terkait dengan amalan ketika hidup. Bila amal perbuatannya baik maka ruh akan tenang. Namun bila amalannya buruk maka ruh akan gelisah , ada yang mengatakan "gentayangan". Kita boleh percaya boleh tidak,  hanya Allah yang mengetahui.

Maka dikatakan bahwa ruh pun mengharapkan do'a dari anak atau keluarganya. Kita kenal hadits dari Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Maka kitapun perlu memikirkan investasi. Tidak hanya investasi di dunia tetapi juga investasi di Akhirat.

*3. Perlunya Tawakal dan Ikhtiar*

Pada awalnya para Sahabat pun khawatir ketika banyak mendapat tekanan dari Kaum Quraisy.
Ketika mengawali perjalanan hijrah, Rasul dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur. Abu Bakar sangat khawatir karena gua sangat kecil,  dia takut tertangkap.  Namun Rasul menghiburnya dan meminta dia agar tawakal. Peristiwa itu diabadikan dalam Al Qur'an

ٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا  ۚ

"... Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita..."
(QS. At-Taubah 40)

Akhirnya Allah menurunkan laba-laba yang kemudian membuat sarang menutupi gua. Ketika Kaum Quraisy sampai ke Gua Tsur mereka tidak memeriksa gua, karena mereka tak yakin ada orang di dalamnya karena ada jaring laba-laba yang utuh di mulut gua. Rasulullah dan Abu Bakar selamat.

Hikmah Pelajaran :

Ketika Allah telah memerintahkan, maka Allah akan mengatur segala sesuatu dan keselamatan kita dijaga.

Beberapa tahun kemudian, menjelang Perang Badar ganti Rasul yang khawatir karena merasa persiapan pasukan muslim tidak memadai,  jumlah pasukan muslim kira-kira 300 an padahal musuh sekitar 1000 orang. Beliau dihibur Abu Bakar. Kemudian turunlah ayat Al Qur'an.

Allah SWT berfirman :

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَـيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ ....

"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, ...." (QS. Al-Anfal 60)

Ayat ini memerintahkan Rasulullah untuk berikhtiar mempersiapkan diri.

Hikmah Pelajaran :

Dalam segala hal kita perlu memahami Sunatullah, maka kita harus ikhtiar. Orang muslim itu bisa kalah bisa menang, tergantung sunatullah. Ketika perang terjadi maka pasukan yang kuat , strateginya baik, apakah itu perang, atau pilpres ataupun Perang dagang berpotensi untuk menang.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Senin, 17 September 2018

Kajian Ahad Sendang Gede

Kajian Ahad SENDANG GEDE

Drs. H. Hamzah Rifqi, MSi

6 Muharram 1440 H / 16 September 2018

MENGAMBIL PELAJARAN DARI MUSIBAH

*Indonesia Rawan Bencana*

Saat ini kita memasuki bulan Suro,  kata orang Jawa adalah bulan yang "wingit", bulan yang menyeramkan. Menurut kepercayaan Jawa akan banyak bencana di bulan Suro. Kita orang islam, tidak meyakini kepercayaan tadi. Maka kita bersikap bagiku agamaku dan bagimu kepercayaanmu.

Dari data Badan Meteorology dan Geofisika (BMG), Indonesia ini memang memiliki daerah rawan bencana yang luar biasa. Termasuk semua wilayah Pulau Jawa. Hanya ada sedikit daerah di Papua yang bukan rawan bencana.
Indonesia ini rawan terhadap bencana alam murni,  tanpa campur tangan manusia,  baik itu gempa vulkanic,  gempa Tektonik ,  letusan Gunung berapi, tsunami dan sebagainya. Sebagian lagi bencana karena ulah manusia,  langsung ataupun tidak langsung seperti banjir dan tanah longsor.
Maka sebenarnya kejadian bencana alam di Indonesia adalah hal yang biasa.

*Tiga Tingkat Keberagamaan*

Ada ahli sosiology bernama August Comte yang meneliti tentang perkembangan keberagamaan manusia.

1. Teology :

Manusia belum memiliki fikiran tentang sebab musabab kejadian yang ada di alam ini.
Maka manusia kemudian memohon agar Tuhan (alam)  menjauhkan dari bencana.

Sebagai contoh adalah manusia di sekitar sungai Nil. Ketika air sungai berlebihan maka sungai banjir. Mereka mengatakan Sungai Nil marah. Namun usai banjir ternyata meninggalkan humus dan mengakibatkan tanah subur sehingga manusia sejahtera. Maka agar sungai tidak marah dan selalu membawa kesejahteraan mereka menyembah sungai Nil. Mereka menuhankan Sungai Nil.
Gunung juga demikian. Gunung Merapi ketika marah dia meletus. Namun dari letusan meninggalkan pasir yang bermanfaat.

2. ‎Metafisik :

Perkembangan berikutnya , Manusia telah dapat mengetahui tentang tata cara untuk mencegah bencana.
Gunung,  Laut itu semua dianggap ada pengendalinya. Maka di pantai Selatan Pulau Jawa dikenal Nyai Roro Kidul sebagai pengendali.
Gunung Merapi juga ada penghuninya. Mereka itu masuk dunia metafisik,  tidak kelihatan.

Termasuk kita yang meyakini tanpa mengetahui gejala alamiah,  bahwa alam ini ada yang mengatur,  yaitu Allah.

الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَآءَ بِنَآءً  ۖ  وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ

"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu.." (QS. Al-Baqarah 22)

Allah juga tidak kelihatan. Ini juga perihal metafisik.
Bila mereka yang percaya Nyai Roro Kidul menyembahnya dengan sedekah laut. Kita orang Islam menyembah Allah dengan shalat.
Dalam tahapan ini manusia berusaha mempengaruhi pembuat bencana dengan cara upacara atau ritual-ritual.

3. ‎Positif

Pengetahuan manusia terus berevolusi,  sudah memahami hukum sebab dan akibat. Manusia telah mendapatkan pengetahuan tentang alam dan kejadian-kejadian.
Manusia tidak lagi menggunakan kekuatan di luar dirinya sehingga hal-hal yang tidak nampak termasuk agama mulai ditinggalkan. Semua dianggap terjadi secara alamiah.
Tsunami di laut diketahui bukan akibat Nyai Roro Kidul. Gempa bumi di Lombok juga diketahui akibat gempa tektonik yaitu akibat lempeng bumi yang bergerak. Gempa di Yogya juga diketahui akibat dari aktivitas Gunung Merapi.

Dulu orang meyakini bahwa lahir, rezeki , jodoh dan kematian ada di tangan Allah.
Namun sekarang manusia faham,  harus bersekolah untuk mendapat ilmu,  kemudian dengan ilmu mencari rezeki.
Sekarang manusia berusaha mencari kenalan,  untuk mencari jodoh.
Sekarang manusia dapat mengusahakan perubahan tanggal kelahiran bayinya,  dapat dipercepat dengan usahanya. Bahkan jika mau dia bisa mengusahakan waktu kematiannya.

*Ujian Untuk Diambil Pelajaran.*

Maka saat ini kita tidak heran,  bahwa negeri kita sering dilanda bencana. Semua ada sebab-akibatnya.
Pertanyaannya adakah campur tangan Allah ?
Hal ini yang perlu kita pelajari, jangan sampai terjadi kita ini seperti yang sering disebutkan dalam ayat :
"Apakah kamu tidak mengambil Pelajaran ?".

Rasulullah SAW  ketika mengutus Mu’adz ke Yaman bersabda :
“Bagaimana engkau akan menghukum apabila datang kepadamu satu perkara ?”.
Mu’adz menjawab : “Saya akan menghukum dengan Kitabullah”.

Sabda beliau :“Bagaimana bila tidak terdapat di Kitabullah ?”.
Ia menjawab : “Saya akan menghukum dengan Sunnah Rasulullah”.

Beliau bersabda :“Bagaimana jika tidak terdapat dalam Sunnah Rasulullah ?”. Ia menjawab : “Saya berijtihad dengan pikiran saya dan tidak akan mundur…”.

Betapa banyak ayat al-Qur`an yang menganjurkan kita untuk menggunakan akal pikiran ,  mengambil pelajaran dari kisah-kisah kehidupan.
"Tidakkah kalian berfikir?"
"Tidakkah kalian melihat?"
"Tidakkah kalian mengetahui?"
Tak ada satu tempatpun yang aman dari musibah. Jika dibukit maka akan rawan longsor,  jika didataran rendah mungkin akan rawan banjir. Di tempat lain lagi mungkin rawan badai topan.

*Ujian Telah Dijanjikan.*

Semua dari kita ini pasti akan diuji oleh Allah.  Ujian ini sudah dijanjikan Allah.

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah 155)

*Tidak Ada Musibah Selain Atas IjinNya*

Semua ujian sudah diijinkan Allah.
Kita ini semua ada di dalam tempat yang punya potensi bencana.
Ibarat di kebun binatang,  kita aman karena semua binatang buas ada di dalam kandang. Keadaan itu hanya potensi bahaya karena kandang tertutup. Ketika ada kandang yang rusak,  maka potensi bahaya berubah menjadi bahaya.
Demikian juga dengan alam semesta ini ada dalam kekuasaan Allah. Jika Allah tidak memerintahkan maka Gunung Merapi tidak meletus,  Lempeng bumi tidak bergerak.

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ  وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

"Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Al-Hadid 1)

Allah yang mengatur semua alam semesta ini. Lalu nikmat Allah yang mana hendak kamu dustakan?

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ  وَمَنْ  يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ  وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun 11)

Orang beriman bila kena musibah akan makin beriman.

*Hukum Alam Di Genggaman Allah*

Hukum alam yang membuat adalah Allah. Bahkan Allah bisa mengubah hukum alam. Itu terjadi ketika Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s

قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ

"Kami (Allah) berfirman, Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim," (QS. Al-Anbiya  69)

Maka kita tahu,  ketika Nabi Ibrahim a.s dibakar beliau tidak mati,  bahkan merasa sejuk.
Contoh lain,  ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s

فَاَوْحَيْنَاۤ اِلٰى مُوْسٰۤى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۗ   فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, Pukullah laut itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar." (QS. Asy-Syu'ara'  63)

Tidak masuk akal,  tapi untung Musa taat kepada Allah.  Maka ketika laut di pukul,  laut terbelah karena hukum alam diubah oleh Allah.
Menurut hukum alam : air selalu ke bawah.  Ketika dipukul Musa,  air naik ke atas seperti Gunung. Kemudian Musa dan rombongan diselamatkan. Namun ketika Fir'aun mengejar,  Allah mengembalikan air laut,  maka tenggelamlah Fir'aun dan bala tentaranya.
Maka bila terjadi bencana apapun, dan bila Allah berkehendak akan menyelamatkan suatu kaum pasti kaum itu selamat.

*Mengapa Allah Menghancurkan ?*

Tidak mustahil terjadi, bahwa Allah menghancurkan suatu kaum,  meskipun di dalam kaum tadi ada orang sholeh.

Ada sahabat bertanya kepada Rasulullah :
"Mungkinkah satu negeri dan lingkungan penduduk dihancurkan oleh Allah,  padahal di dalamnya ada orang-orang sholeh? ".
"Ya.. ", jawab Rasulullah. "Karena mereka bersikap "tepo sliro" (lemah-lembut). Mereka orang-orang sholeh itu diam saja terhadap kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang".

Kita sering tak berani melakukan nahi munkar,  alasan karena merasa sungkan maka tak berani menegur yang salah,  apalagi jika yang berbuat salah orang yang berjasa pada kita.

*Kehendak Allah Tidak Ada Yang Bisa Menghindar*

Ketetapan Allah tak ada yang dapat menghindar. Apakah sedang maksiat ataupun sedang shalat,  bila Allah berkehendak untuk mematikan maka tak ada yang bisa menghindar.
Tetapi kita perlu memilih,  mau husnul khotimah atau su'ul khotimah.

Ketika Nabi Nuh membuat kapal, beliau dicemooh oleh orang -orang. Dan orang yang tidak percaya Nabi Nuh tak ada yang selamat. Termasuk puteranya sendiri.

وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِ ۗ  وَنَادٰى نُوْحُ اِبْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ

"Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, Wahai anakku! Naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir."
(QS. Hud 42)

قَالَ سَاٰوِيْۤ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَآءِ ۗ  قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚ  وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

"Anaknya menjawab, Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah! Nuh berkata, Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka anak itu termasuk orang yang ditenggelamkan." (QS. Hud  43)

*Meraih Keberkahan Menghindari Kehancuran.*

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا  كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami , maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 96)

Indonesia meskipun rawan bencana tetapi dikaruniai dengan kekayaan alam yang luar biasa. Bila kita ingin terhindar bencana dan mendapat keberkahan maka harus dibuat.
Ini adalah social engineering,  harus direkayasa ada dakwah amar makruf nahi mungkar. Jangan diam saja dan berpedoman yang penting diri kita baik. Tidak cukup ! Kalau ada kemungkaran harus dicegah.

Rasulullah SAW bersabda:

” من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان “ ( رواه مسلم )

“Barangsiapa di kalangan kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lidahnya dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.” ( HR Muslim )

Nahi mungkar sesuai dengan posisi kita,  maka Ketua RT bertanggung jawab di lingkungan RT nya,  dan demikian seterusnya.
Orang Tua pun harus melakukan Nahi Mungkar di dalam keluarganya. Jangan melakukan pembiaran, karena anak ibarat air , anak perlu dibentuk agar menjadi sholeh.
Berkumpullah dengan orang sholeh agar menjadi sholeh.

*Mungkinkah Ini Pembukaan Bencana?*

Kemunafikan,  itu yang terjadi di sekitar kita. Indonesia digambarkan oleh Doel Sumbang sebagai Negeri Tumaritis  (Negerinya Semar) dalam lagunya :

Yah Tumaritis sayangku
Kini kau mulai tua
Dan tak cantik lagi
Sekarang badanmu sudah tak bersih lagi

Sekarang bajumu sudah tak rapi lagi, kotor oleh debu-debu
Oleh debu kelicikan,
oleh debu kerakusan,
Oleh debu kebejatan moral,
oleh debu kemunafikan...

Allah SWT berfirman:

وَمَا مَنَعَهُمْ اَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقٰتُهُمْ اِلَّاۤ  اَنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَبِرَسُوْلِهٖ وَلَا يَأْتُوْنَ الصَّلٰوةَ  اِلَّا وَهُمْ كُسَالٰى وَلَا يُنْفِقُوْنَ اِلَّا وَهُمْ كٰرِهُوْنَ

"Dan yang menghalang-halangi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak melaksanakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak pula menginfakkan harta mereka, melainkan dengan rasa enggan." (QS. At-Taubah 54)

Munafik jaman dulu masih shalat , tapi tidak sungguh-sungguh. Munafik jaman now sudah tidak shalat lagi,  mereka terang-terangan.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ  ۚ  وَاِذَا قَامُوْۤا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰى  ۙ  يُرَآءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا

"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa' 142)

*Kematian Tak Dapat Dihindarkan*

Dimanapun kita berada,  pada saatnya kematian akan mendatangi kita.

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ   ۗ  وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ   ۚ  وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ   ۗ  قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ  ۗ  فَمَالِ ھٰٓ ؤُلَآ ءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا

"Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, Ini dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, Ini dari engkau Muhammad. Katakanlah, Semuanya datang dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang munafik itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun ?" (QS. An-Nisa' 78)

*Upaya Mendapatkan Husnul Khotimah*

Yang penting,  ada musibah atau tidak ada musibah kita mati husnul khotimah. Jangan sampai harta benda dan anak-anak kita melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَاۤ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ  وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ  فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
(QS. Al-Munafiqun 9)

Jangan sampai kita menyesali kematian kita karena tak sempat berinfak,  bersedekah.

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ  يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ  قَرِيْبٍ ۙ  فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata menyesali , Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Munafiqun 10)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAK

Minggu, 16 September 2018

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

HIJRAH , TINJAUAN SIRAH NABAWIYAH

Tanggal : 6 Muharram 1440 H/ 16 September 2018

Nara sumber :  Tri Wiyanto S.Sos

*Pentingnya belajar Sirah (sejarah)*

Ketika kita berbicara tentang hijrah maka kita akan ketemu hadits tentang niat.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim)

Niat amalan, bisa berdasar tiga hal : Allah dan Rasul,  Dunia (pangkat,  jabatan , kekayaan, ketenaran dll),  dan yang ketiga : Wanita.

Maka ketika kita mau belajar tentang hijrah dari Sirah Nabawiyah , kita luruskan niat kita,  bahwa kita akan belajar tentang Rasulullah SAW.
Ketika kita menyatakan iman kepada Allah salah satunya adalah kita harus mengimani Rasul.
Kita harus percaya terhadap apa-apa yang dibawa Rasulullah Muhammad  SAW. Sejarah juga membuktikan bahwa satu-satunya Rasul yang sejarahnya ditulis lengkap sejak lahir sampai wafat secara detail hanya beliau SAW, termasuk ucapan-ucapan beliau.

Maka ketika kita belajar Sirah Nabawiyah manfaatnya adalah :
1. Meningkatkan Keimanan kita kepada Rasulullah SAW
2. Menumbuhkan ‎Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Seolah-olah kita hadir pada saat kehidupan Rasulullah.
3. ‎Kemauan untuk mengikuti (itiba')  kepada Rasulullah SAW. Karena kita dapat memahami hadits secara kontekstual, tidak sekedar tekstual.
Secara tak langsung kita melaksanakan perintah Allah untuk meneladani Rasul.

*Peristiwa Hijrah*

Hijrah ini ada dua Pengertian,  yaitu Hijrah Makani dan Hijrah Maknawi.

Hijrah Makani

Hijrah makani adalah perpindahan tempat tinggal. Hal ini menjadi sunah bagi kita,  minimal kita harus pindah satu kali,  yaitu dari mengikut di rumah orang tua kemudian pindah ke rumah sendiri. Dengan berpindah tempat itu merupakan pendidikan mental yang luar biasa. Dengan berpindah maka dia akan bertemu dengan bermacam-macam manusia.
Ketika kita ikut orang tua, maka semua urusan diurus orang tua. Ketika kita pindah ke rumah sendiri, mau tak mau harus mandiri. Ini adalah proses penempaan kematangan jiwa. Maka orang tua harus rela bila anaknya mau berhijrah.

Hijrah Maknawi

Adalah perubahan sikap dari perbuatan tak baik menjadi perbuatan atau perilaku yang baik.
Ada kisah pembunuh 100 orang yang harus hijrah ke tempat orang-orang soleh agar dia menjadi soleh. Dalam perjalanan dia meninggal dan jadi ahli surga. Pelajaran yang diambil adalah bahwa hijrah maknawi saja kadang tidak cukup. Harus disertai hijrah Makani untuk berkumpul dengan orang baik.

*Hijrah di Jaman Rasulullah*

Peristiwa hijrah ini tidak lepas dari masalah politik, maka jika kita mendengar ada ulama kita dicekal,  dipersekusi pada jaman ini,  hal itu sudah pernah dialami oleh Rasulullah SAW. Bahkan yang dialami Rasul pada waktu itu jauh lebih dahsyat karena yang melakukan persekusi adalah orang Arab pada waktu itu yang kasar dan tak segan membunuh.

Hijrah pada jaman Rasulullah tidak semudah Pindah Rumah pada saat ini. Karena Rasul dan Sahabat tidak boleh membawa harta benda yang dipunyai. Hanya boleh membawa bekal sedikit.

Hijrah pada jaman Rasulullah dan Sahabat tidak dilakukan satu kali. Tapi dilakukan bergelombang.

1. Abu Salamah, pernah hijrah ke Madinah seorang diri.
2. ‎Suhail bin Sinan dan rombongan.
3. ‎Umar bin Khattab dan kawan-kawannya.

Hijrah Rasulullah adalah hijrah gelombang terakhir setelah kawan-kawannya. Khabar akan hijrahnya Rasulullah sudah disambut dengan baik oleh orang-orang Madinah,  karena kerabat ibu Rasulullah berasal dari Madinah.

*Kesepakatan Makar Kaum Quraisy*.

Orang-orang Quraisy,  terutama Abu Jahal dan Abu Lahab sudah mulai marah terhadap dakwah Rasulullah.
Dianggap Rasulullah membahayakan Tuhan mereka,  yaitu Lata dan Uzza.
Mereka mengadakan rapat Parlemen orang Quraisy,  yang namanya Darun Nadwah. Darun Nadwah ini mirip MPR jaman dulu,  masing-masing daerah mengirim utusan. Namun utusan ini dipilih oleh Kepala Kabilah dan usia utusan minimal 40 tahun.

Rapat dipimpin oleh Abu Jahal. Abu Jahal ini nama julukan,  karena nama aslinya Amr bin Hisyam. Dia diberi julukan Abu Jahal artinya Bapak Kebodohan. Tidak berarti dia tidak pandai,  tetapi karena kedudukannya sebagai paman Rasulullah namun tidak menyebabkannya beriman. Dia tidak mau tahu terhadap kebenaran-kebenaran yang disampaikan Rasulullah.
Semua Bani berkumpul, dalam catatan sejarah saat itu tanggal 12 September 622. Mereka menetapkan keputusan untuk makar :

1. Menangkap dan memenjarakan Rasulullah,  atau
2. ‎Membunuh Rasulullah , atau
3. ‎Rasulullah diusir dari Mekkah.

Keputusan ini diabadikan Allah dalam Al Qur'an. :

وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا  لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَ ۗ  وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗ   وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ

"Dan ingatlah , ketika orang-orang kafir Quraisy memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Al-Anfal Ayat 30)

*Mengawali Perjalanan*

Orang-orang Quraisy menjanjikan hadiah besar untuk siapa yang dapat menangkap atau membunuh Rasulullah. Mereka membuat skenario pengepungan rumah Rasulullah, masing-masing Kabilah ada perwakilannya.
Ketika itu Rasulullah ada di dalam rumah yang dikepung. Beliau bersama Abu Bakar dan Ali yang saat itu masih remaja.

Berjalanlah skenario Allah. Pada malam akan hijrah, Nabi Muhammad SAW meminta Ali bin Abi Talib untuk memakai baju dan selimutnya dan berbaring di tempat tidurnya. Maka, ketika algojo kafir Quraisy mengintip ke tempat tidur Muhammad SAW mereka melihat seseorang berbaring di tempat tidur dan mengira bahwa Nabi Muhammad SAW masih tidur.
Pada malam hari itu para pengepung tak mau menyalakan api,  khawatir akan terlihat. Maka kondisi gelap sekali dan mereka justru tidak sadar bahwa di tengah malam itu Nabi Muhammad keluar meninggalkan  rumah bersama Abu Bakar.

*Bersembunyi di Gua Tsur*

Perjalanan hijrah ini dengan berjalan kaki dan meskipun tujuannya adalah Medinah (arahnya di Utara Mekkah) , namun Rasul tidak langsung menuju kesana.  Beliau pergi ke Gua Tsur yang arahnya ke Yaman,  di Selatan.
Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam.
Maka ketika para pengepung sadar bahwa Nabi Muhammad telah lolos, mereka mengejar ke arah Medinah. Namun para pengejar tidak melihat jejak. Kemudian para Pemburu ini berpencar dan ada yang mengejar ke Gua Tsur.

Kembali scenario Allah berjalan. Pada Gua Tsur tadi dimana Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di dalamnya , oleh Allah diberi burung merpati yang mengerami telurnya dan laba-laba dengan sarangnya yang menutupi pintu gua yang kecil.
Para pengejar yakin bahwa tak mungkin Nabi bersembunyi dalam gua. Karena bila masuk gua pasti telur merpati terinjak dan sarang laba-laba rusak.

Orang Quraisy meskipun jahat namun akhlak mereka tak mau mengganggu burung dara. Maka mereka kemudian pulang ke Mekkah. Rasul dan Abu Bakar tetap tinggal beberapa hari di Gua Tsur.

*Peran Asma' binti Abu Bakar*

Ransum makan untuk Rasul dan Abu Bakar selama di Gua Tsur dikirim oleh Asma'.
Asma' mengangkut perbekalan Rasul dan Abu Bakar dengan onta. Ketika ingin mengikat makanan, dia tidak mempunyai tali untuk mengikatnya. Lalu, dia merobek ikat pinggangnya menjadi dua, satu untuk mengikat makanan dan satu lagi untuk mengikat pinggangnya.

Dialah Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq , peran Asma’ hebat sekali dalam mendukung dakwah Nabi Muhammad SAW.
Setelah dirasa aman, kira-kira 4 hari kemudian Rasul dan Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Medinah dengan membawa onta yang dikirim Asma'.

*Pemburu bernama Suraqa*

Karena ontanya cuma satu maka onta tidak ditunggangi. Mereka jalan kaki dari Mekkah ke Medinah ditengah Padang pasir yang panas dan tidak melalui jalan yang biasa dilalui.  Ketika itu kaum Quraisy tetap mencari Rasulullah SAW.
Pada hari ke 3 , atau seminggu setelah meninggalkan rumah,  ada yang mengetahui posisi Nabi.
Ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan orang sedang dalam perjalanan dengan seekor onta, maka seorang Quraisy bernama Suraqa bin Malik mengejar mereka.

Demikian bersemangatnya Suraqa mengejar Nabi Muhammad SAW  hingga kudanya tersungkur dalam pasir.  Dia hendak memanah Nabi, namun seperti kebiasaan mereka mengundi nasib dulu, maka sebelum memanah dia mengundi dulu :  panah atau tidak.. ?
Ternyata undian menghasilkan tidak dipanah. Kemudian dia mengejar lagi,  namun terulang lagi, kudanya tersungkur lagi.
Hal ini terulang sampai tiga kali,
sehingga Suraqa merasa itu suatu alamat buruk jika ia bersikeras mengejar sasarannya itu.
Setelah itu Nabi Muhammad justru berhenti menanti Suraqa.
Suraqa kembali pulang, bahkan dia menyerahkan kudanya kepada Nabi Muhammad dan dia juga merahasiakan route perjalanan Hijrah Nabi Muhammad SAW.

*Kisah Ali bin Abi Thalib*

Setelah Rasul hijrah,  Ali masih tinggal di Mekkah selama tiga hari untuk menyelesaikan pesan-pesan Nabi. Pesan itu adalah mengembalikan barang titipan . Karena Rasul sebagai al-Amin (orang yang dipercaya)  banyak dititipi barang oleh orang Mekkah.
Hal ini menjadi sunah bagi kita bila akan pergi agar tidak meninggalkan hal yang tidak beres tanpa memberi pesan amanat pada yang tinggal.

Ketika Ali kemudian menyusul ke Medinah,  Ali menempuh jalan yang lurus dan biasa dilalui. Dia tiba di Medinah 7 hari lebih cepat dari Rasul yang jalannya memutar untuk menghindari pengejaran.
Maka dapat kita bayangkan betapa beratnya perjalanan hijrah Rasulullah SAW. Sampai banyak orang Medinah yang gelisah. Mereka tiap hari menunggu Rasul diperbatasan kota karena mencemaskan keselamatan Rasul.

*Kepahlawanan Abu Bakar*

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Bakar menceritakan hijrahnya bersama Nabi :
Kami berjalan siang dan malam hingga tibalah kami di pertengahan siang. Jalan yang kami lalui sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat. Kulemparkan pandangan ke segala penjuru, apakah ada satu sisi yang dapat kami dijadikan tempat berteduh. Akhirnya, pandanganku terhenti pada sebuah batu besar yang memiliki bayangan. Kami putuskan untuk istirahat sejenak disana. Aku ratakan tanah sebagai tempat istirahat Nabi SAW , lalu kuhamparkan sehelai jubah kulit dan mempersilahkan beliau untuk tidur di atasnya. Istirahatlah wahai Rasulullah. Beliau pun beristirahat.

Setelah itu, aku melihat keadaan sekitar. Apakah ada seseorang yang bisa dimintai bantuan. Aku pun bertemu seorang penggembala kambing yang juga mencari tempat untuk berteduh. Aku bertanya kepadanya, “Wahai anak muda, engkau budaknya siapa?” Ia menyebutkan nama tuannya, salah seorang Quraisy yang kukenal. Aku bertanya lagi, “Apakah kambing-kambingmu memiliki susu?” “Iya.” Jawabnya. “Bisakah engkau perahkan untukku?” pintaku. Ia pun mengiyakannya.

Setelah diperah. Aku membawa susu tersebut kepada Nabi dan ternyata beliau masih tertidur. Aku tidak suka jika aku sampai membuatnya terbangun. Saat beliau terbangun aku berkata, “Minumlah wahai Rasulullah”. Beliau pun minum susu tersebut sampai aku merasa puas melihatnya.

Luar biasa ! Abu Bakar, seorang yang kaya, mau bersusah payah menjadi pelayan Rasulullah.
Satu hal lagi hikmah kisah ini adalah kita disunahkan memberi makan dan minum musafir.
Selama perjalanan,  Abu Bakar merahasiakan identitas Rasulullah,  untuk keamanan beliau,  beliau Rasulullah diperkenalkan sebagai Penunjuk jalan.

*Susu Kambing Tua*

Dalam perjalanan hijrah antara Mekkah dengan Medinah di tempat yang sunyi, Rasulullah dan Abu Bakar berhenti didepan suatu kemah di daerah Qudaid,  130 km dari Mekkah. Maksudnya untuk membeli makanan atau minuman.
“Dapatkah kami membeli tamar dan beberapa teguk susu kambing?” tanya Rasulullah kepada perempuan tua.
“Sayang sekali nak!” sahut Ummu Ma’bad. “Ibu sendiripun merasa lapar dan haus sekali, suami saya sudah lama pergi mencari makanan, sampai sekarang belum kembali.”

Lalu Rasulullah SAW  melihat seekor kambing yang sedang ditambat dibelakang rumah itu. Sambil menunjuk kambing tersebut, Rasulullah berkata kepada Ummu Ma’bad. “Ibu, dibelakang kemah ini saya melihat ada seekor kambing.” “Apakah kami dapat membeli air susu kambing itu, walaupun hanya beberapa teguk?”
“Kambing itu sudah lama tidak mengeluarkan susu lagi nak” sahut perempuan tua itu.
“Bolehkah saya mencoba memeras susu kambing itu, kalau–kalau mungkin ada air susunya?” kata Rasulullah.
“Silahkan nak!” ujar Ummu Ma’bad.Rasulullah berjalan mendekati kambing itu. Setelah menengadahkan tangannya untuk memohon doa, beliau memegang susu kambing tersebut dan memerasnya.
Tiba-tiba susu kambing itu mengeluarkan susunya.
Sesudah minum seperlunya, Rasulullahpun meneruskan perjalanannya, sedangkan sisa susu itu masih banyak yang tinggal.

Tatkala suami wanita itu, Abu Ma’bad pulang membawa kambing yang kurus -kurus dan lemah. Ketika ia melihat adanya persediaan air susu kambing. Abu Ma’bad berkata kepada isterinya :
“Darimanakah kau mendapatkan air susu kambing itu?”,
Ummu Ma’bad menjawab
“ Demi Allah , tenda kita telah dilewati orang yang diberkahi oleh Allah. Dia berbicara begini dan begini keadaannya seperti ini dan seperti ini'.
"Demi Allah,  aku yakin itu adalah Pemuda Quraisy yang sedang diburu oleh kaumnya".
"Gambarkan bagaimana pemuda itu wahai ummu Ma'bad. "

Maka ummu Ma'bad menceritakan sifat-sifat Rasulullah.
Maka Abu Ma’bad berkata kepada isterinya :
"Demi Allah,  ini adalah orang Quraisy yang sedang dibicarakan oleh khalayak ramai. Jika ada kesempatan, aku benar-benar ingin menemani perjalanannya ".

*Suara Jin*

Dikisahkan oleh Asma' binti Abu Bakar, " Kami tidak mengetahui ke arah mana Rasulullah pergi".
Karena jalur yang dilalui oleh Rasulullah bukan jalur yang umum dilalui oleh para musafir.
Namun tak berapa lama muncul sesosok jin dari dataran rendah Mekkah yang kemudian menyuarakan syair. Semua mendengar suara tetapi tak ada yang melihat sosok jin tadi.
Begitu kami mendengar bait-bait syair itu, maka kami mengetahui ke arah mana jalan yang dilalui oleh Rasulullah menuju Madinah.

*Memasuki Quba*

Rasulullah SAW tiba di Quba, dekat kota Madinah pada tanggal 23 September 622. Maka perjalanan yang beliau tempuh sudah 11 hari.

Berita kedatangan Rasulullah disambut dengan Penuh Suka Cita.
Mereka menunggu dibatas kota.
Suatu hari seorang Yahudi yang kebetulan naik diatas rumahnya melihat bintik di kejauhan yang dia yakin itu Rasulullah.
Orang-orang Anshar bergembira dan mereka meneriakkan takbir. Semua menyambut Rasulullah.
Saat itu turunlah ayat Al Qur'an :

فَاِنَّ اللّٰهَ  هُوَ مَوْلٰٮهُ وَجِبْرِيْلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ  وَالْمَلٰٓئِكَةُ بَعْدَ ذٰلِكَ  ظَهِيْرٌ

".. maka sungguh, Allah menjadi pelindungnya dan juga Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya." (QS. At-Tahrim 4)

Ketika mereka bertemu, Abu Bakar berdiri dan Rasul duduk. Orang Anshor mengira bahwa yang berdiri adalah Rasul.
Tatkala panas matahari mengenai Rasulullah, Abu Bakar segera mema­yungi beliau dengan jubahnya. Saat itu­lah mereka baru tahu bahwa yang duduk dan diam itulah Rasulullah SAW.
Di Quba Rasulullah mendirikan masjid yang pertama kali.

*Tiba di Madinah*

Berita tentang hijrahnya Nabi SAW yang akan menyusul kaum muslimin Mekkah yang telah tiba sebelumnya su­dah tersiar di Yatsrib (Madinah).
Akhirnya, Rasulullah tiba dengan selamat di kota Madinah. Sambutan penuh suka cita diiringi Syair pun ber­kumandang:

Thola‘al badru ‘alayna
Min Tsaniyyatil Wada’
Wajabasy syukru ‘alayna
Ma da‘a lillahi da‘
Ayyuhal mab‘utsu fina
Ji’ta bil amril mutha’
.....
Banyak yang menawari rumah tinggal kepada Rasulullah. Rasulullah menyerahkan pemilihan rumah kepada ontanya. Dimana onta tadi mau berhenti. Onta itu pertama kali berhenti,  tapi beliau tidak turun. Tempat itu kemudian dijadikan tempat Masjid Nabawi.

Kemudian onta itu berjalan lagi dan berhenti di rumah Abu Ayyub.
Abu Ayyub segera mengambil pelana onta.  Di rumah Abu Ayyub-lah Nabi SAW memilih untuk tinggal.

*Di Rumah Abu Ayyub*

Rumah Abu Ayyub adalah rumah tingkat. Dia mempersilahkan Rasul menempati yang atas untuk penghormatan. Namun Rasul tak bersedia,  karena akan banyak tamu yang harus ditemui. Maka Rasul mempersilahkan Abu Ayyub tidur di atas.
Karena merasa sungkan tidur di atas maka Abu Ayyub memilih tidur di pojok atas, dimana bagian bawahnya adalah dapur. Dengan demikian dia tidak tidur di atas Rasul.

Rasul tinggal di rumah Abu Ayyub selama 7 bulan karena sambil menunggu pembangunan Masjid dan Rumah beliau di dekat masjid.
Isteri Abu Ayyub ini pandai memasak. Suatu ketika dia masak, tetapi Rasul tidak menyentuh makanan. Tentu saja hal ini menjadikan Abu Ayyub bingung dan dia bertanya kenapa Rasul tidak makan.
Rasul menjawab bahwa Jibril membisiki beliau bahwa beliau tak boleh makan karena dalam masakan ada bawang merah dan bawang putih. Namun Rasul tidak melarang Abu Ayyub memakan makanan itu.
Pelajaran dari sini adalah bahwa kita disunahkan untuk mengurangi makanan yang akan menimbulkan bau badan.

Demikian beratnya perjalanan hijrah Rasulullah,  beliau berjalan kaki selama 11 hari untuk memenuhi Perintah Allah.
Semoga dengan mempelajari Sejarah Rasulullah dapat meningkatkan kecintaan kita kepada beliau.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

🖍SAKk