KAJIAN AHAD MUHAMMADIYAH BANYUMANIK
MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI KE 4
Dr.dr. H. Masrifan Djamil, MMR. MPH
12 Shafar 1440 H/ 21 Oktober 2018
*1. Dunia Berubah dengan cepat.*
Begitu cepatnya perubahan terjadi pada saat ini, berbagai layanan sekarang bisa diakses dari rumah saja, ada Halo dokter, ada Gojek dan lain-lain, semua serba online. Kita semua harus tahu jika tidak , pasti akan tertinggal jauh.
Dari Pangkalan Bun sampai Sukamara itu kira-kira 6 jam perjalanan , di kanan kiri penuh kebun kelapa sawit. Tetapi bukan milik kita. Milik penduduk pribumi cuma 1-2 hektar saja, yang ribuan hektar milik Konglomerat pemilik Pabrik Rokok.
Jadi Pabrik Rokok itu sudah menyiapkan diri menghadapi perubahan, bisnisnya dipecah-pecah karena sudah mulai ada perlawanan agar tidak merokok. Di Indonesia sudah ada peringatan : "Merokok itu membunuhmu". Namun meski demikian masih juga banyak perokok. Bahkan perilakunya memprihatinkan dengan membuang puntung rokok sembarangan, bahkan pernah sampai mengakibatkan kebakaran.
Dulu ada Revolusi Industri pertama ketika ditemukan mesin uap, maka kemudian berkembanglah industri Kereta Api menggunakan Mesin Uap. Kemudian disusul dengan Revolusi Industri kedua ketika ditemukan Mesin-mesin Listrik. Produksi menjadi bertambah besar dan lancar. Penemuan Electronika dan Komputer mengantarkan kita memasuki Revolusi Industri ketiga.
Revolusi Industri ketiga sudah kita nikmati dengan adanya Gadget dan Mesin Pintar. Pada jaman dulu kita tak pernah membayangkan bisa nelpun dengan melihat wajah lawan bicara. Kita mengenal itu hanya ada di film James Bond atau Mission Impossible. Saat ini mesin cetak tak hanya mencetak text saja tapi sudah dapat mencetak gambar.
Saat ini kita masuk Revolusi Industri Keempat, dimana komputer makin canggih dan semua terhubung internet. Dulu kita hanya tahu IT (Information Technology) , sekarang kita memasuki IOT (Internet of Things). yaitu suatu konsep dimana konektifitas internet dapat bertukar informasi satu sama lainnya dengan benda-benda yang ada disekelilingnya. Dulu ada issue big data, sekarang perkembangan luar biasa. Data dapat disimpan di "awan" (cloud system).
Bagi orang tua mungkin sudah tak paham, tapi bagi generasi muda perlu untuk faham.
*2. Dampak Perubahan perlu diwaspadai*
Sekarang sudah ada Polisi Cyber, maka siapa yang tidak hati-hati dalam memposting bisa melanggar aturan dan ditangkap. Maka jika kita tidak tahu jangan mudah melakukan share berita , harus tabayun mencari keterangan berita benar atau hoax. Kalau bisa punya grup kecil untuk bertanya.
Waspada terhadap perkembangan anak-anak remaja kita. Pengawasan perlu lebih ketat agar mereka tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas akibat bebasnya informasi.
Di Jakarta ada sepasang remaja yang ditangkap patroli polisi karena "mobil bergoyang". Jaman dulu kalau kita kost biasanya menyatu dengan tuan rumah. Mereka seperti saudara, ikut mengawasi. Sekarang hubungan Pemilik Kost dengan Penghuni adalah murni bisnis, tak ada pengawasan.
Remaja sangat senang mengakses internet, memang ada yang bisnis lewat internet. Namun banyak yang hanya berselancar saja dan dampaknya semangat kerja mereka menjadi rendah. Ada teman pengusaha yang mengeluh kesulitan mencari anak muda yang tekun mau bekerja 5 jam nonstop. Ini bahaya, kita dapat kalah bersaing dengan tenaga kerja asing, mereka kuat bekerja 7 jam nonstop.
Sales force kita lemah, penjualan menjadi berubah. Shopee (dari Singapura) masuk ke Indonesia. Tahu -tahu disini banyak berdiri Perusahaan pengepakan dan pengiriman. Kantor J&T bermunculan sampai ke desa-desa kecil di seluruh Indonesia.
Ini kalau tidak disikapi oleh Generasi muda maka kita akan kalah. Memang ada yang usaha, tapi lama dan tidak berkembang.
Maka sebenarnya semboyan :
"Kerja-kerja -kerja" itu benar, kita tak boleh santai.
Kita masuki jaman IOT, semua diinternetkan. Dulu belajar hadits susah, harus mencari kitab kesana kemari. Sekarang gampang, dengan memanfaatkan Google akan mudah mencari. Bagi yang suka mengaji ini menguntungkan karena mempermudah mencari.
Tetapi ini berbahaya bagi anak muda yang tak pernah ngaji, bisa tersesat karena di internet juga banyak hadits dhoif, hadits palsu dan pelajaran yang menyesatkan.
Maka perlu majelis taklim, agar anak muda tidak tersesat. Alhamdulillah memang ada ulama yang baik seperti Buya Yahya dari Nahdhiyin misalnya. Beliau menanggapi pertanyaan tentang apakah benar arwah itu pulang jika malam Jumat? Beliau mendasari jawaban bahwa itu khayal karena tak ada dalil Al Qur'an ataupun Hadits. Ini jawaban yang benar.
Robot juga sudah mulai, pabrik mobil itu mulai dari pembuatan sampai penyetelan, pemasangan sekrup semua sudah robot. Kita ketinggalan jauh.
Alhamdulillah, Muhammadiyah sudah mulai masuk ke air minum Suli5. Kita memang harus bergerak.
Air itu sangat penting , kalau kita tidak mengelola air, mau ambil air dari mana?
Allah SWT berfirman:
"Katakanlah Muhammad, Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?" (QS. Al-Mulk 30)
Maka jangan sampai kita boros air. Jika minum air kemasan jangan sampai disisakan, itu bukan perilaku muslim, itu termasuk mubazir. Dan perilaku mubazir adalah saudaranya setan.
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْۤا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra' 27)
Masih banyak perubahan teknologi lainnya yang dampaknya juga akan mengubah kehidupan kita.
Ada Sistem Integrasi yang kemudian diaplikasikan pada eKTP. Nantinya semua data akan mudah diungkap, apa seseorang punya masalah pajak atau masalah hukum misalnya.
Kemudian ada e Money untuk bayar toll dan belanja toko Indo Mart. Dimana kita ini sudah ketinggalan 20 tahun dari Filipina. Dulu 20 tahun lalu para Mahasiswa di LN sudah bertransaksi dengan sekolah memakai e Money ini.
Kita tahu Gojek, dulu modalnya kecil. Kemudian menjadi besar melayani Go Food, Go Send karena mendapat suntikan modal dari Ali Baba, perusahaan China.
Belum lagi teknologi operasi, yang disini disalah gunakan, sampai ada yang pernah operasi 24 kali untuk permak wajah. Ini sudah tidak benar.
Takdir itu ditetapkan Allah sejak kita dalam kandungan sejak usia 120 hari. Rejeki sudah ditetapkan, yang dapat mengubah adalah do'a.
Rasulullah SAW bersabda :
“.... Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya ....” (HR. Bukhari dan Muslim)
*3. Apa Yang Harus kita Perbuat?*
Bagi generasi muda jangan tertarik dengan intertaintment bila tidak ingin kalah bersaing. Komputer itu untuk mencari ilmu, bukan untuk melihat film. Film itu dunia khayalan tidak nyata.
Perpustakaan di Luar Negeri buka mulai jam 8 pagi sampai jam 11 malam. Semua anak muda belajar. Semua meja disediakan komputer.
Mahasiswa di Luar negeri selain pandai memanfaatkan komputer juga mempunyai ketrampilan mengetik 10 jari tanpa melihat key board.
Perubahan yang lain pada era ini adalah Medsos. Ini perlu kita ikuti karena berita yang di Medsos ada di TV kadang tidak ada. Kenapa seperti itu? Karena TV sudah dikuasai orang tertentu, maka berita akan dipilih-pilih sesuai keinginan mereka. Kita harus memiliki informasi agar sukses.
Komunikasi antara orang tua dan antar anak semua lewat WA, semua pakai Medsos. Ada akibat sampingan yaitu stress bertambah dan tekanan darah akan tinggi. Maka harus rutin cek Kesehatan. Kendaraan saja selalu rutin cek kesehatan, mestinya manusia harus lebih sering cek kesehatan. Manusia harus sehat agar ibadahnya bagus.
Sesibuk apapun kita harus selalu berdzikir kepada Allah. Dan shalat adalah dzikir untuk mengingat Allah.
اُتْلُ مَاۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
"Bacalah Kitab Al-Qur'an yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-'Ankabut 45)
Jadi shalat itu adalah dzikir yang paling utama. Jika shalatnya kacau maka hidup tidak tenang.
اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَاعْبُدْنِيْ ۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِي
"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku." (QS. Ta-Ha 14)
Jadi yang memberikan nama Allah, Tuhannya umat islam adalah Allah sendiri. Beda dengan agama lain, mereka Tuhannya diberi nama oleh Pemeluk agamanya.
Maka shalat harus tumakninah, pelan-pelan. Kalau diteliti shalat subuh di Mekkah itu rata-rata 7 menit dan di Medinah 10 menit.
Disini shalat subuh paling cuma 3 menit.
Shalat harus memperoleh kenikmatan. Masalah pikiran apapun harus hilang dengan shalat.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ
"Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sholat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,"
(QS. Al-Baqarah 45)
Jadi mestinya orang Mukmin senang shalat. Kalau senang melakukan mestinya tidak tergesa-gesa jika melakukan shalat. Pasti ingin berlama-lama melakukan shalat.
Shalat pasti dapat menghilangkan stress.
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah 153)
Jadi ini sudah merupakan janji Allah, bahwa dengan shalat dan sabar kita akan dapat menghadapi stress apapun yang diakibatkan Revolusi Industri ke 4.
Mudah-mudahan kelak semua bisa menghentikan kegiatan ketika adzan dikumandangkan. Semua ke masjid untuk shalat jama'ah. Untuk itu harus ada SK dari pimpinannya.
Di Semarang baru satu yang menghentikan kegiatan jika ada adzan, yaitu Udinus.
*4. Akibat yang Terjadi*
*4. 1. Kompetisi.*
Mau tak mau harus ada kompetisi yang fair. Di sekolah, didalam organisasi, dimanapun harus ada kompetisi adil. Ini adalah amanat yang harus dijaga.
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ
"Dan sungguh beruntung orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya," (QS. Al-Mu'minun 8)
Memegang amanah itu harus adil.
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤىِٕ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
(QS. An-Nahl 90)
Kalau semua diukur dengan kompetisi, janji ditepati, kriteria jelas maka keluaran akan berkualitas.
Ini di Indonesia tidak terjadi, akibatnya tak ada kompetisi, begitu keluar kandang kita kalahan.
Kita lihat tadi, Gojek asalnya Indonesia, tapi akhirnya Ali Baba masuk. Shopee dari Singapura, bahkan Bank-bank BUMN seperti Mandiri ternyata cuma 51% milik kita.
*4. 2. Cemburu.*
Ini yang dikatakan Rasulullah SAW sebagai penyakit hati. Kalau sistem tidak ditegakkan dengan adil akhirnya terjadi cemburu, iri dan dengki, kemudian Permusuhan akhirnya Perang.
Sekarang sudah terjadi "mban cinde mban ciladan", perlakuan yang tidak adil, tidak ada konsistensi terhadap aturan.
Kita bisa lihat hasil Pilkada, karena "membeli jabatan" akhirnya beberapa Bupati ketangkap KPK.
Jabatan adalah amanah mestinya tidak mendaftar. Dengan mendaftar berarti ambisi mendapat jabatan.
Kita itu diuji oleh Allah :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (QS. Al-Anbiya 35)
Berbagai ujian itu semua dari Allah dan harus diterima dengan ikhlas.
Bagaimana agar kita ikhlas?
Untuk itu kita berdo'a setiap hari seperti diajarkan Rasulullah :
"Rodhitu billahi robba, wabil islaami diina wa bi muhammadin nabiiya wa rosuula wa bil quraani imaama wa hukama . Robbi zidni ilman wardzuqni fahman".
"Allahumma ‘afini fi badani. Allahumma ‘afini fi sam’i. Allahumma ‘afini fi bashari”.
Aku rela bertuhan Allah, aku rela beragama Islam, aku rela bernabi dan berasul Muhammad, dan aku rela Al-Quran menjadi panduan dan hukum. Ya Allah, tambahilah ilmuku, dan pertinggilah kecerdasanku.
Ya Allah sehatkanlah badanku, Ya Allah sehatkanlah pendengaranku, Ya Allah sehatkanlah penglihatanku.
*5. Persatuan Umat harus dijaga*
Saat ini banyak aktivis yang aneh, ketika pelantikan pengurus semua hadir, tetapi waktu kerja dimulai yang datang cuma dua atau tiga orang.
Orang harus selalu tholabul ilmi agar termotivasi. Kalau tidak akan lenyap tergerus oleh revolusi tadi, tergerus kompetisi, cemburu, iri dan dengki.
Semangat hidup harus tetap dijaga, kerja dan cari ilmu jangan ditinggalkan. Jangan putus asa , jangan pesimis atau merasa tua dan lemah untuk melakukan suatu kegiatan.
Setiap saat harus berpandangan positif bahwa Allah pasti akan membantu. Dengan terus mencari ilmu maka kita ketemu teman-teman dan akan termotivasi.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat 10)
Persatuan umat islam harus terus dijaga. Saat ini dalam grup saja lebih suka bertengkar, bermusuhan karena beda pilihan.
Perdebatan agar dihindari dalam grup, jangan sampai "left group" karena memutuskan silaturahim.
Hati-hati, orang semacam ini diancam tak akan masuk surga.
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan persaudaraan. [HR. al-Bukhâri dan Muslim.]
*Orang muslim bagaikan Tubuh*
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
*Orang Muslim bagaikan Bangunan*
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim]
Maka kita menghadapi Revolusi Industri dengan Introspeksi diri. Kita sudah diingatkan dalam surat Al Hasyr agar bertakwa.
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr 18)
Kita sudah diingatkan, maka Revolusi Industri ini untuk menghadapinya adalah dengan takwa. Syarat untuk takwa nomer satu adalah iman. Tak mungkin tanpa iman bisa bertakwa.
Sekarang kita harus memahami situasi. Perubahan ini luar biasa.
Mungkin lagu bangun tidur harus diganti, bukan kuterus mandi tapi kubuka HP. Untuk menjaga anak kita tidak tersesat maka kita pun harus memahami agar dapat terus berbuat kebaikan, memberi peringatan.
Kita tutup kajian ini dengan Surat tentang Ibadur rahman.
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan, salam," (QS. Al-Furqan 63)
وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا
"dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri." (QS. Al-Furqan 64)
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَـنَّمَ ۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
"Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal," (QS. Al-Furqan 65)
اِنَّهَا سَآءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا
"sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." (QS. Al-Furqan 66)
وَالَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامً
"Dan orang-orang yang apabila menginfakkan harta , mereka tidak berlebihan, dan tidak kikir, di antara keduanya secara wajar," (QS. Al-Furqan 67)
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banyumanik Semarang, menyajikan Media BLOG ini untuk mengkomunikasikan kegiatan kegiatan, program program yang sedang dilaksanakan kepada para anggota dan simpatisan Muhammadiyah di Banyumanik dan sekitarnya. Mari kita bersatu saling melengkapi, guna menegakkan kalimat TAUHID serta menyampaikan kebenaran ISLAM, melalui organisasi dakwah MUHAMMADIYAH di PCM Banyumanik.
Minggu, 11 November 2018
Selasa, 06 November 2018
Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
KAJIAN AHAD MUHAMMADIYAH BANYUMANIK
MENYIKAPI MUSIBAH
Dr. H. Hasan Asyari Ulamai, MAg
26 Shafar 1440 H/ 4 November 2018
*Biasakan Tabayun*
Bertubi-tubi musibah menerpa negeri ini, gempa Lombok belum berakhir disusul dengan Palu, terus bencana menimpa Lion Air. Berbagai musibah muncul tanpa kita persiapkan bahkan tanpa kita prediksi.
Bila ada sebuah kampung yang baik, penduduknya semua taat ibadah. Tiba-tiba tertimpa musibah. Maka komentar kita kampung itu kena ujian.
Berikutnya ada informasi tambahan, bahwa penduduk kampung yang taat ibadah tetapi disapu bencana tadi ternyata bukan Muslim. Tiba-tiba komentar berubah, yang menimpa bukan Ujian tetapi Azab.
Aneh kenapa jadi berubah ketika perspektif yang tertimpa musibah diubah dari Muslim ke Non Muslim. Namun perspektif itu akan sama bila dipandang dari sisi mereka, non muslim.
Perlu kita pahami mana azab dan mana ujian agar kita tidak gampang memberi komentar negatif, khususnya kepada orang lain yang mempunyai keyakinan berbeda.
Lebih-lebih pada saat ini, ketika kita sering dihadapkan dengan postingan WA yang seolah-olah benar, padahal tidak benar.
Kita pernah mendapat postingan WA bahwa Tsunami Aceh itu terjadi pada tanggal 26. Demikian juga bencana lain dikaitkan dengan tanggal 26.
" Ini bukan sebuah kebetulan, lihat Al Qur'an juz ke 26".
Demikian kata WA. Kesannya ini hal yang sudah diramalkan Al Qur'an.
Pertanyaannya kenapa tidak Surat ke 26, atau Ayat ke 26 surat Al Qur'an.? Kalau kita pertanyakan hal itu maka akan membuat kita lebih arif. Kemarin itu bencana di Palu tanggal 28, bukan 26. Gempa di Chili tanggal 22 dan di Alaska tanggal 27. Jadi jangan terlalu mudah meramalkan dengan angka.
Kesalahan kita adalah bahwa kita lebih suka beriman pada WA, daripada mengaji Al Qur'an. Bahkan ada postingan bahwa Palu dilanda gempa karena ada Proyek Mata Dajjal. Padahal orang Palu sendiri tidak tahu, karena Proyek itu ada di Sulawesi Barat yang tidak kena bencana. Kita bayangkan betapa sakitnya bila sudah menderita terkena bencana kemudian menerima postingan yang menyudutkan.
Janganlah kita memperbesar hal yang sebetulnya bukan masalah. Dalam WA ada yang mempermasalahkan singkatan Assalammu alaikum dituliskan Ass wr wb. Karena ada yang mempermasalahkan "ass" dalam bahasa Inggris. Ini kurang kerjaan, karena tak ada yang mengatakan hal itu.
Ass wr wb ini singkatan karena dipakai sebagai SMS (short message Service) jadi biasa disingkat. Dalam hadits juga biasa ada singkatan.
Kalau ditelusuri tak ada maknanya.
Ada lagi tulisan In syaa Allah atau In shaa Allah, mana yang benar? Hal seperti ini bisa jadi gaduh. Padahal aslinya ya harus tulisan Arab. Bila diubah ke bahasa Indonesia tinggal kesepakatan kita saja.
Selama ini kita langsung percaya pada postingan WA. Maka biasakanlah tradisi untuk tabayun, memeriksa kebenaran.
*Azab Umat Nabi Muhammad SAW Ditunda*
Al Qur'an mengabadikan do'a Abu Jahal, yang intinya menantang kepada Allah :
وَاِذْ قَالُوا اللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ هٰذَا هُوَ الْحَـقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَاَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ اَ لِيْمٍ
"Dan ingatlah , ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, Ya Allah, jika Al-Qur'an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih." (QS. Al-Anfal 32)
Namun jawaban Allah , Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْ ۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
"Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau Muhammad berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan menghukum mereka, sedang mereka masih memohon ampunan." (QS. Al-Anfal 33)
Pada jaman Nabi Muhammad ada Abu Jahal saja azab Allah masih ditunda, sekarang ketika di Palu masih banyak orang yang istighfar apakah bencana kemarin azab? Namun kita lebih senang mengambil ayat yang berkaitan dengan Nabi-nabi sebelumnya, Nabi Nuh atau Nabi Luth dimana umatnya kena azab.
Sebagai bahan introspeksi diri tidak masalah kita menganggap bencana sebagai azab. Misal diri kita terbentur sesuatu kemudian kita katakan mungkin ini azab Allah menimpa diriku. Hal itu tak masalah. Jangan sampai dikatakan kepada orang lain, misal tetangga kecelakaan lalu dikatakan karena terlalu banyak dosa. Ini tidak tepat.
Ajaran islam itu jelas dan ada cara menerapkannya. Kita tahu perbedaan antara Muslim dan Kafir adalah Sholat. Namun kita tidak diperbolehkan mengkafirkan seseorang karena kita tak pernah melihat dia sholat.
Tuhan berbicara tidak terikat dengan bahasa manusia. Firman Allah diturunkan melalui malaikat Jibril memakai bahasa Arab, karena yang dijadikan utusan , yaitu Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab. Maka Al Qur'an memakai bahasa kaumnya, yaitu bahasa Arab.
Tidak berarti bahwa Allah dan penduduk surga nanti akan berkomunikasi dengan bahasa Arab.
Kenyataan tanpa mengenal bahasa Arab, ternyata jama'ah haji dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Jadi kita tidak tahu kelak di surga memakai bahasa apa, tak ada informasi hal ini.
*Apakah Musibah itu?*
Kata musibah, berasal dari bahasa Arab ashoba-yushibu-mushibatan, yang artinya menimpa atau memperoleh.
Jadi kalau tertimpa sesuatu itu namanya kena musibah. Dalam kalimat ini muatannya masih netral, artinya tertimpa yang enak atau tidak enak, semua namanya kena musibah. Maka terjemahan paling tepat adalah bahasa jawa "ketiban". Dapat dipakai dalam kata "ketiban rejeki" yang maknanya baik.
Istilah musibah ini mempunyai muatan positif atau negatif juga ada dalam Al Qur'an, ketika pada konteks tertentu. Yaitu ketika ada orang yang dengki bila kita mendapat karunia, dan ketika mereka mengetahui kita mendapat musibah.
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ ۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ
"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya.." (QS. Ali 'Imran 120)
*Sikap Menghadapi Musibah*
*1. Musibah adalah Skenario Allah*
قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا
"Katakanlah Muhammad , Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami...." (QS. At-Taubah 51)
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَهَا
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya...." (QS. Al-Hadid 22)
Menetapkan musibah itu sangat mudah bagi Allah. Kenapa yang kena musibah pesawat yang itu, bukan yang lain, itu semua kehendak Allah.
مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ
"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah;...".(QS. At-Taghabun 11)
Jadi musibah tidak selalu akibat kecelakaan saja. Ketika waktu ajal datang maka dalam keadaan apapun kita tak dapat menghindar.
Bisa jadi ketika sedang tidur dapat ditimpa musibah. Maka jika mau tidur jangan lupa untuk berdo'a.
*2.Jangan Sampai Menjadi Penyebab Musibah*
Musibah adalah skenario Allah, namun jangan sampai kita jadi penyebab. Jangan-jangan dalam kasus Lion Air karena ada petugas yang lalai , sehingga dia jadi penyebab kematian banyak orang.
Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً ۚ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 25)
Salah satu fitnah dunia adalah akibat postingan WA, akibat tidak senang pada teman, tidak senang pada Partai tertentu dan sebagainya.
Jangan sampai diri kita jadi penyebab fitnah dengan menyebar informasi WA. Menjadi fitnah jika informasi disebar tanpa ditabayun. Atau menyebar sesuatu yang bukan keahlian kita.
Ada postingan tentang pengobatan herbal dengan cara mudah dan murah. Maka kita tak punya hak untuk posting ulang jika kita bukan ahli pengobatan. Karena jika kita memposting dan dipraktekkan orang kemudian dia kena musibah, maka kitalah penyebab musibah.
Pengobatan meskipun herbal pasti ada takarannya, demikian juga kondisi pasien belum tentu sama. Maka harus lewat ahlinya.
Banjir terjadi karena tanah tak mampu menyerap air. Maka ketika hujan turun, semua air akan ke bawah. Itu sudah menjadi Hukum Allah. Jangan sampai kita menjadi penyebab air turun semua. Gara-gara kita menjadi pengembang perumahan tidak memperhatikan eko systemnya. Itu namanya kita menjadi fitnah (ujian) bagi yang lain.
*3.Sabar Ketika Ditimpa Musibah*
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَابَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۚ
"Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting." (QS. Luqman 17)
Ketika tertimpa musibah hendaklah bersabar. Bagaimanakah orang bersabar itu?
الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
"yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."
(QS. Al-Baqarah 156)
Orang sabar jika terkena musibah, dia mengembalikan semuanya kepada Allah. Bukankah ketika kita bayi baru dilahirkan juga tak punya apa-apa? Bahkan baju saja semua diberi orang. Jadi misal suatu saat kembali tak punya apa-apa, bersikaplah biasa saja.
Tapi umumnya manusia tidak siap. Ketika punya keinginan terlalu tinggi kemudian gagal, dia tidak siap.
Karena tak punya komitmen Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Kita lihat diri kita ketika tiba-tiba dapat uang banyak. Apa yang ada dalam pikiran kita pertama kali? Belanja ke Mall !
Kita ini terdidik untuk konsumtif. Bahkan ada tayangan TV yang menyuguhkan belanja dengan cepat dalam waktu tertentu. Karena konsumtif maka tak siap dan akan menderita ketika kehilangan.
Maka sangat perlu memegang komitmen bahwa segala sesuatu baik yang enak (harta, jabatan) ataupun musibah itu semua dari Allah dan suatu saat akan diambil kembali. Dengan begitu maka kita akan sabar.
*4. Do'a Ketika Musibah*
*4. 1. Do'a untuk Pengobatan*
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri r.a , ia berkata, “Pernah suatu ketika sekelompok sahabat Rasulullah SAW pergi mendatangi sebuah perkampungan Arab, namun penduduk kampung tersebut tidak ada yang mau menjamu mereka.
Pada saat itu juga, tiba-tiba pemimpin kampung tersebut disengat oleh seekor kalajengking. Maka penduduk kampung itupun berkata, “Apakah kalian membawa obat-obatan atau jampi-jampi?” Para sahabat menjawab, “Akan tetapi karena kalian tidak sudi mengobatinya, kecuali jika kalian mau memberikan upah kepada kami”.
Maka mereka pun menjanjikan akan memberikan upah seekor domba. Lalu salah seorang di antara sahabat membaca surah Al Fatihah sambil mengumpulkan air di ludahnya lalu meludahkan ke tempat sengatan kalajengking tersebut hingga kepala kampung itupun menjadi sembuh.
Lalu dengan senang mereka menyerahkan domba yang mereka janjikan kepada para sahabat. Akan tetapi para sahabat menolak hadiah tersebut dan mengatakan, “Kami tidak akan mengambilnya sebelum kami menanyakan kepada Rasulullah.”
Maka mereka pun pergi menanyakannya kepada Rasulullah SAW, hingga beliau tertawa mendengarnya. Lalu kemudian beliau bersabda,
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa ia (Al Fatihah) memang jampi-jampi? Ambillah domba tersebut dan aku minta bagian.” (HR. Bukhari Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa jika ada musibah harus mencari solusi maksimal, jangan menghindar.
Salah satu pengobatan adalah do'a yang dikenal sebagai Rukyah.
Mungkin pengobatan berhasil karena kebetulan saja, tetapi siapa tahu dengan semangat dan keikhlasan kita membantu, Allah memberikan bantuan ?
*4.2. Bila Musibah Menimpa Kita*
Ketika terkena musibah, Nabi tidak memohon apapun, beliau hanya berdo'a memuji Allah.
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Nabi SAW berdo'a ketika terkena musibah :
"Laa ilaaha illaallahul 'adziim,
laa ilaaha illaallahu rabbul arsyil adziim, laa ilaaha illaallahu rabbus-samaawaati wa rabbul ardh, wa rabbul arsyil kariim".
(Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan singgasana yang besar.
Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, dan Tuhan singgasana yang besar). (H.R Buchary).
Ibarat seorang anak yang baik, tidak meminta orang tua pun, orang tua yang baik sudah tahu maksud anaknya, dia membutuhkan uang.
Do'a lainnya Nabi SAW bersabda ucapkanlah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits..."
[Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu].”
Doa-doa tadi diucapkan pada saat terjadi Gerhana, saat Angin Kencang, saat Kekeringan, saat terjadi Guruh, saat hujan lebat.
*4.3. Bila Musibah Menimpa Orang Lain*
Ketika musibah menimpa orang lainpun, kita tetap berdo'a
Memuji syukur bahwa musibah tidak menimpa diri kita.
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوفِىَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ
“Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan,
‘Alhamdulillahilladzi ‘aafaani mimmab talaaka bihi, wa faddhalanii ‘ala katsiirim mimman khalaqa tafdhilaa’
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya.
Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Kesimpulan :
1. Musibah itu bisa positif atau negatif.
2. Menyikapi Musibah , bahwa musibah skenario Allah, ketika ditimpa musibah harus sabar, dan ada do'a untuk menghadapi musibah.
3. Azab dipandang secara individual, bila mengenai diri kita sendiri boleh dikatakan sebagai azab sebagai introspeksi. Jangan mengatakan azab bila musibah menimpa orang lain.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
MENYIKAPI MUSIBAH
Dr. H. Hasan Asyari Ulamai, MAg
26 Shafar 1440 H/ 4 November 2018
*Biasakan Tabayun*
Bertubi-tubi musibah menerpa negeri ini, gempa Lombok belum berakhir disusul dengan Palu, terus bencana menimpa Lion Air. Berbagai musibah muncul tanpa kita persiapkan bahkan tanpa kita prediksi.
Bila ada sebuah kampung yang baik, penduduknya semua taat ibadah. Tiba-tiba tertimpa musibah. Maka komentar kita kampung itu kena ujian.
Berikutnya ada informasi tambahan, bahwa penduduk kampung yang taat ibadah tetapi disapu bencana tadi ternyata bukan Muslim. Tiba-tiba komentar berubah, yang menimpa bukan Ujian tetapi Azab.
Aneh kenapa jadi berubah ketika perspektif yang tertimpa musibah diubah dari Muslim ke Non Muslim. Namun perspektif itu akan sama bila dipandang dari sisi mereka, non muslim.
Perlu kita pahami mana azab dan mana ujian agar kita tidak gampang memberi komentar negatif, khususnya kepada orang lain yang mempunyai keyakinan berbeda.
Lebih-lebih pada saat ini, ketika kita sering dihadapkan dengan postingan WA yang seolah-olah benar, padahal tidak benar.
Kita pernah mendapat postingan WA bahwa Tsunami Aceh itu terjadi pada tanggal 26. Demikian juga bencana lain dikaitkan dengan tanggal 26.
" Ini bukan sebuah kebetulan, lihat Al Qur'an juz ke 26".
Demikian kata WA. Kesannya ini hal yang sudah diramalkan Al Qur'an.
Pertanyaannya kenapa tidak Surat ke 26, atau Ayat ke 26 surat Al Qur'an.? Kalau kita pertanyakan hal itu maka akan membuat kita lebih arif. Kemarin itu bencana di Palu tanggal 28, bukan 26. Gempa di Chili tanggal 22 dan di Alaska tanggal 27. Jadi jangan terlalu mudah meramalkan dengan angka.
Kesalahan kita adalah bahwa kita lebih suka beriman pada WA, daripada mengaji Al Qur'an. Bahkan ada postingan bahwa Palu dilanda gempa karena ada Proyek Mata Dajjal. Padahal orang Palu sendiri tidak tahu, karena Proyek itu ada di Sulawesi Barat yang tidak kena bencana. Kita bayangkan betapa sakitnya bila sudah menderita terkena bencana kemudian menerima postingan yang menyudutkan.
Janganlah kita memperbesar hal yang sebetulnya bukan masalah. Dalam WA ada yang mempermasalahkan singkatan Assalammu alaikum dituliskan Ass wr wb. Karena ada yang mempermasalahkan "ass" dalam bahasa Inggris. Ini kurang kerjaan, karena tak ada yang mengatakan hal itu.
Ass wr wb ini singkatan karena dipakai sebagai SMS (short message Service) jadi biasa disingkat. Dalam hadits juga biasa ada singkatan.
Kalau ditelusuri tak ada maknanya.
Ada lagi tulisan In syaa Allah atau In shaa Allah, mana yang benar? Hal seperti ini bisa jadi gaduh. Padahal aslinya ya harus tulisan Arab. Bila diubah ke bahasa Indonesia tinggal kesepakatan kita saja.
Selama ini kita langsung percaya pada postingan WA. Maka biasakanlah tradisi untuk tabayun, memeriksa kebenaran.
*Azab Umat Nabi Muhammad SAW Ditunda*
Al Qur'an mengabadikan do'a Abu Jahal, yang intinya menantang kepada Allah :
وَاِذْ قَالُوا اللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ هٰذَا هُوَ الْحَـقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَاَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ اَ لِيْمٍ
"Dan ingatlah , ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, Ya Allah, jika Al-Qur'an ini benar wahyu dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih." (QS. Al-Anfal 32)
Namun jawaban Allah , Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْ ۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
"Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau Muhammad berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan menghukum mereka, sedang mereka masih memohon ampunan." (QS. Al-Anfal 33)
Pada jaman Nabi Muhammad ada Abu Jahal saja azab Allah masih ditunda, sekarang ketika di Palu masih banyak orang yang istighfar apakah bencana kemarin azab? Namun kita lebih senang mengambil ayat yang berkaitan dengan Nabi-nabi sebelumnya, Nabi Nuh atau Nabi Luth dimana umatnya kena azab.
Sebagai bahan introspeksi diri tidak masalah kita menganggap bencana sebagai azab. Misal diri kita terbentur sesuatu kemudian kita katakan mungkin ini azab Allah menimpa diriku. Hal itu tak masalah. Jangan sampai dikatakan kepada orang lain, misal tetangga kecelakaan lalu dikatakan karena terlalu banyak dosa. Ini tidak tepat.
Ajaran islam itu jelas dan ada cara menerapkannya. Kita tahu perbedaan antara Muslim dan Kafir adalah Sholat. Namun kita tidak diperbolehkan mengkafirkan seseorang karena kita tak pernah melihat dia sholat.
Tuhan berbicara tidak terikat dengan bahasa manusia. Firman Allah diturunkan melalui malaikat Jibril memakai bahasa Arab, karena yang dijadikan utusan , yaitu Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab. Maka Al Qur'an memakai bahasa kaumnya, yaitu bahasa Arab.
Tidak berarti bahwa Allah dan penduduk surga nanti akan berkomunikasi dengan bahasa Arab.
Kenyataan tanpa mengenal bahasa Arab, ternyata jama'ah haji dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Jadi kita tidak tahu kelak di surga memakai bahasa apa, tak ada informasi hal ini.
*Apakah Musibah itu?*
Kata musibah, berasal dari bahasa Arab ashoba-yushibu-mushibatan, yang artinya menimpa atau memperoleh.
Jadi kalau tertimpa sesuatu itu namanya kena musibah. Dalam kalimat ini muatannya masih netral, artinya tertimpa yang enak atau tidak enak, semua namanya kena musibah. Maka terjemahan paling tepat adalah bahasa jawa "ketiban". Dapat dipakai dalam kata "ketiban rejeki" yang maknanya baik.
Istilah musibah ini mempunyai muatan positif atau negatif juga ada dalam Al Qur'an, ketika pada konteks tertentu. Yaitu ketika ada orang yang dengki bila kita mendapat karunia, dan ketika mereka mengetahui kita mendapat musibah.
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ ۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ
"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya.." (QS. Ali 'Imran 120)
*Sikap Menghadapi Musibah*
*1. Musibah adalah Skenario Allah*
قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا
"Katakanlah Muhammad , Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami...." (QS. At-Taubah 51)
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَهَا
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya...." (QS. Al-Hadid 22)
Menetapkan musibah itu sangat mudah bagi Allah. Kenapa yang kena musibah pesawat yang itu, bukan yang lain, itu semua kehendak Allah.
مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ
"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah;...".(QS. At-Taghabun 11)
Jadi musibah tidak selalu akibat kecelakaan saja. Ketika waktu ajal datang maka dalam keadaan apapun kita tak dapat menghindar.
Bisa jadi ketika sedang tidur dapat ditimpa musibah. Maka jika mau tidur jangan lupa untuk berdo'a.
*2.Jangan Sampai Menjadi Penyebab Musibah*
Musibah adalah skenario Allah, namun jangan sampai kita jadi penyebab. Jangan-jangan dalam kasus Lion Air karena ada petugas yang lalai , sehingga dia jadi penyebab kematian banyak orang.
Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً ۚ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 25)
Salah satu fitnah dunia adalah akibat postingan WA, akibat tidak senang pada teman, tidak senang pada Partai tertentu dan sebagainya.
Jangan sampai diri kita jadi penyebab fitnah dengan menyebar informasi WA. Menjadi fitnah jika informasi disebar tanpa ditabayun. Atau menyebar sesuatu yang bukan keahlian kita.
Ada postingan tentang pengobatan herbal dengan cara mudah dan murah. Maka kita tak punya hak untuk posting ulang jika kita bukan ahli pengobatan. Karena jika kita memposting dan dipraktekkan orang kemudian dia kena musibah, maka kitalah penyebab musibah.
Pengobatan meskipun herbal pasti ada takarannya, demikian juga kondisi pasien belum tentu sama. Maka harus lewat ahlinya.
Banjir terjadi karena tanah tak mampu menyerap air. Maka ketika hujan turun, semua air akan ke bawah. Itu sudah menjadi Hukum Allah. Jangan sampai kita menjadi penyebab air turun semua. Gara-gara kita menjadi pengembang perumahan tidak memperhatikan eko systemnya. Itu namanya kita menjadi fitnah (ujian) bagi yang lain.
*3.Sabar Ketika Ditimpa Musibah*
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَابَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۚ
"Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting." (QS. Luqman 17)
Ketika tertimpa musibah hendaklah bersabar. Bagaimanakah orang bersabar itu?
الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
"yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."
(QS. Al-Baqarah 156)
Orang sabar jika terkena musibah, dia mengembalikan semuanya kepada Allah. Bukankah ketika kita bayi baru dilahirkan juga tak punya apa-apa? Bahkan baju saja semua diberi orang. Jadi misal suatu saat kembali tak punya apa-apa, bersikaplah biasa saja.
Tapi umumnya manusia tidak siap. Ketika punya keinginan terlalu tinggi kemudian gagal, dia tidak siap.
Karena tak punya komitmen Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Kita lihat diri kita ketika tiba-tiba dapat uang banyak. Apa yang ada dalam pikiran kita pertama kali? Belanja ke Mall !
Kita ini terdidik untuk konsumtif. Bahkan ada tayangan TV yang menyuguhkan belanja dengan cepat dalam waktu tertentu. Karena konsumtif maka tak siap dan akan menderita ketika kehilangan.
Maka sangat perlu memegang komitmen bahwa segala sesuatu baik yang enak (harta, jabatan) ataupun musibah itu semua dari Allah dan suatu saat akan diambil kembali. Dengan begitu maka kita akan sabar.
*4. Do'a Ketika Musibah*
*4. 1. Do'a untuk Pengobatan*
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri r.a , ia berkata, “Pernah suatu ketika sekelompok sahabat Rasulullah SAW pergi mendatangi sebuah perkampungan Arab, namun penduduk kampung tersebut tidak ada yang mau menjamu mereka.
Pada saat itu juga, tiba-tiba pemimpin kampung tersebut disengat oleh seekor kalajengking. Maka penduduk kampung itupun berkata, “Apakah kalian membawa obat-obatan atau jampi-jampi?” Para sahabat menjawab, “Akan tetapi karena kalian tidak sudi mengobatinya, kecuali jika kalian mau memberikan upah kepada kami”.
Maka mereka pun menjanjikan akan memberikan upah seekor domba. Lalu salah seorang di antara sahabat membaca surah Al Fatihah sambil mengumpulkan air di ludahnya lalu meludahkan ke tempat sengatan kalajengking tersebut hingga kepala kampung itupun menjadi sembuh.
Lalu dengan senang mereka menyerahkan domba yang mereka janjikan kepada para sahabat. Akan tetapi para sahabat menolak hadiah tersebut dan mengatakan, “Kami tidak akan mengambilnya sebelum kami menanyakan kepada Rasulullah.”
Maka mereka pun pergi menanyakannya kepada Rasulullah SAW, hingga beliau tertawa mendengarnya. Lalu kemudian beliau bersabda,
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa ia (Al Fatihah) memang jampi-jampi? Ambillah domba tersebut dan aku minta bagian.” (HR. Bukhari Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa jika ada musibah harus mencari solusi maksimal, jangan menghindar.
Salah satu pengobatan adalah do'a yang dikenal sebagai Rukyah.
Mungkin pengobatan berhasil karena kebetulan saja, tetapi siapa tahu dengan semangat dan keikhlasan kita membantu, Allah memberikan bantuan ?
*4.2. Bila Musibah Menimpa Kita*
Ketika terkena musibah, Nabi tidak memohon apapun, beliau hanya berdo'a memuji Allah.
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Nabi SAW berdo'a ketika terkena musibah :
"Laa ilaaha illaallahul 'adziim,
laa ilaaha illaallahu rabbul arsyil adziim, laa ilaaha illaallahu rabbus-samaawaati wa rabbul ardh, wa rabbul arsyil kariim".
(Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan singgasana yang besar.
Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, dan Tuhan singgasana yang besar). (H.R Buchary).
Ibarat seorang anak yang baik, tidak meminta orang tua pun, orang tua yang baik sudah tahu maksud anaknya, dia membutuhkan uang.
Do'a lainnya Nabi SAW bersabda ucapkanlah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits..."
[Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu].”
Doa-doa tadi diucapkan pada saat terjadi Gerhana, saat Angin Kencang, saat Kekeringan, saat terjadi Guruh, saat hujan lebat.
*4.3. Bila Musibah Menimpa Orang Lain*
Ketika musibah menimpa orang lainpun, kita tetap berdo'a
Memuji syukur bahwa musibah tidak menimpa diri kita.
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوفِىَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ
“Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan,
‘Alhamdulillahilladzi ‘aafaani mimmab talaaka bihi, wa faddhalanii ‘ala katsiirim mimman khalaqa tafdhilaa’
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya.
Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Kesimpulan :
1. Musibah itu bisa positif atau negatif.
2. Menyikapi Musibah , bahwa musibah skenario Allah, ketika ditimpa musibah harus sabar, dan ada do'a untuk menghadapi musibah.
3. Azab dipandang secara individual, bila mengenai diri kita sendiri boleh dikatakan sebagai azab sebagai introspeksi. Jangan mengatakan azab bila musibah menimpa orang lain.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Minggu, 04 November 2018
Kajian Ahad Sendang Gede
KAJIAN AHAD SENDANG GEDE
MENYINGKAP TABIR KEGAIBAN
Dr. H. Rozihan , SH , MAg
26 Shafar 1440 H/ 4 November 2018
*Agama Dasarnya Kepercayaan*
Ketika kita belajar agama, maka dasar kita adalah percaya dulu. Dengan percaya kita menjadi tenang.
Beda dengan ilmu, kalau belajar ilmu kita dasarnya Ragu, tidak percaya. Setelah kita dapat membuktikan kebenarannya baru kita terima sebagai ilmu.
Ketika kita mau pergi ke luar kota , kita harus percaya dulu dengan kendaraan dan sopir yang akan mengantar kita. Jika kita tak percaya maka akan banyak bertanya dan bahkan mungkin tak jadi berangkat. Maka ketika kita mau naik Pesawat misalnya tak perlu banyak tanya, cukup berdo'a : Bismillahir rohmanir rohiem, maka hati kita akan tenang.
Dalam kehidupan, kita akan pilih-pilih mau percaya dulu atau ragu dulu. Kita tak pernah bertanya kepada Bapak-ibu kita, apakah kita ini anak mereka atau bukan. Kalau ini ditanyakan mungkin hanya akan memancing kemarahan.
Dalam agama, kita percaya dulu baru kemudian diikuti ilmu. Karena tidak semua masalah agama bisa dijelaskan dengan ilmu. Ilmu akan berhenti ketika terjadi kematian.
Percaya itu termasuk pada hal yang ghoib.
*Menjelang Ajal maka yang Ghoib ditampakkan*
لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ
"Sungguh, kamu dahulu lalai tentang peristiwa ini, *maka Kami singkapkan tutup matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam*." (QS. Qaf 22)
Hal-hal yang kita anggap ghoib itu akan tersingkap ketika seseorang mau meninggal dunia. Seperti kasus Lion Air yang kecelakaan itu mungkin ada juga tanda bagi orang lain. Tetapi bahwa akan terjadi kecelakaan itu adalah hal yang masih ghoib ketika belum terjadi.
Kejadian dalam surat Al Qaf itu diberikan kepada kita semua, sebagai individu. Kita ini lalai, tidak tahu terhadap hal ghoib.
Ibarat kita ini bisa melihat benda, jika ada jarak dengan mata kita. Namun justru ketika benda ditempelkan ke mata kita, kita tak dapat melihatnya. Saking dekatnya (menempel ke mata) maka benda tadi tidak kelihatan.
Demikian juga karena Allah Maha Besar, maka mata kita tak mampu melihat Allah.
Karena cahaya Allah itu meliputi langit dan bumi, maka Allah tidak terlihat.
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
"Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi...." (QS. An-Nur 35)
Di dunia ini yang paling kita lihat adalah gemerlap dunia dan keluarga. Namun ada hal-hal baik yang tertutup , yaitu misalnya Pahala. Itu nanti akan disingkapkan oleh Allah. Kapan yang ghoib disingkapkan?
Yaitu ketika kita sudah melakukan, atau ketika seseorang pada saat kritis, menjelang ajal. Allah mengatakan penglihatan kita akan menjadi sangat tajam.
Mirip ketika kita krisis keuangan, tak punya uang sama sekali, maka kita ingat dulu punya uang tapi untuk ini, untuk itu ...
Maka ketika menjelang ajal kita akan melihat yang tak kelihatan , yang kita lupakan. Karena tutup mata kita akan disingkapkan.
*Manusia diwafatkan sesuai kebiasaannya*
Nabi SAW bersabda :
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim)
Kebiasaan kita akan ditunjukkan, karena Kamera CCTV Allah di dunia ini sedemikian besar, dapat merekam semua kebiasaan manusia.
Jika kebiasaan sedekah maka ketika mau meninggal juga ingin sedekah. Bila kebiasaan memaki-maki, maka demikian pula nanti ketika meninggal.
*Perbuatan Baik atau Buruk akan kembali ke diri kita*
Seorang sahabat bernama Sya’ban RA , setiap masuk masjid selalu dipojok masjid. Dia mengambil posisi di pojok karena tidak mau mengganggu dan tak mau terganggu orang lain. Kebiasaan ini dipahami oleh Rasulullah SAW.
Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rasulullah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya. Rasul SAW bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tak seorangpun yang melihat Sya’ban RA.
Sholat subuhpun ditunda sejenak menunggu Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir kesiangan, Rasul SAW memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh.
Selesai sholat subuh, Rasul SAW bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA. Namun tak ada seorangpun yang menjawab.
Rasul SAW bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA. Seorang sahabat mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA. Rasulullah SAW meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.
Rombongan Rasul SAW sampai ke sana kira-kira 3 jam jalan kaki.
Sampai di depan rumah tersebut beliau SAW mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.
“Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul SAW bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA berkata :
“Beliau telah meninggal tadi pagi”
Kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul SAW,
“Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing–masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul SAW.
Di masing–masing teriakannya dia berucap kalimat,
“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”
“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“
“Aduuuh, kenapa tidak semua.”
Rasul SAW menjelaskan bahwa
saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah SWT.
Perjalanan Sya'ban ke masjid 3 jam jalan kaki bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah–langkah nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa surga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:
“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak.
Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Dia memakai dua buah baju dirangkapkan. Sya’ban RA sengaja memakai pakaian baru di dalam dan yang jelek di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar.
Dalam perjalanan dia menemukan orang yang kedinginan. Sya’ban RA pun iba , lalu membuka baju yang luar dan dipakaikan kepada orang tersebut. Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan.
Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :
“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“
Timbul lagi penyesalan Sya’ban RA. Jika dengan baju butut saja bisa mendapat pahala yang begitu besar, tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.
Berikutnya Sya’ban RA melihat adegan saat dia hendak sarapan roti yang dimakan dengan segelas susu. Muncul pengemis yang meminta sedikit roti karena sudah lebih 3 hari tidak makan. Sya’ban RA merasa iba, ia kemudian membagi dua roti itu, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Allah SWT memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga. Ketika melihat itu diapun berteriak lagi:
“Aduuuh, kenapa tidak semua.”
Sya’ban RA menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah.
Kisah di atas dijelaskan oleh Qur'an dalam Surat Al Isra 7, bahwa perbuatan baik itu adalah untuk diri sendiri.
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ
"Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri.." (QS. Al-Isra' 7)
Tapi kadang meyakinkan hal ini sulit, banyak orang yang lebih senang memikirkan kebutuhan sendiri.
*Suara hati itu Fithrah, bila tak didengarkan hati akan tumpul*
Manusia itu dilahirkan fithrah. Lingkungan membentuk jadi tidak baik, contohnya adalah Firaun.
Fir'aun sampai mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Namun ketika akan meninggal dia dikembalikan kepada fithrahnya, maka dia takut dan mohon ampun, namun sudah tidak diterima taubatnya.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبـَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْۤ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْۤا اِسْرَآءِيْلَ وَ اَنَاۡ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menzalimi dan menindas mereka. Sehingga ketika Fir'aun hampir tenggelam, dia berkata, Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim." (QS. Yunus 90)
Contoh lain , laki-laki yang suka selingkuh tak akan merasa salah. Dia tak merasa bahwa perbuatannya menyakiti hati orang lain. Namun ketika isterinya diselingkuhi orang lain, baru dia merasa sakit hati.
Artinya adalah bahwa pada dasarnya hati kecil manusia itu fithrah. Itu disebut Hati nurani atau Suara Hati yang selalu mengajarkan kebenaran.
Bila suara hati tak didengarkan maka lama-lama akan tumpul seperti Fir'aun.
Dan mereka akan terkejut ketika malaikat datang menjemput mereka.
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ اَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِيْ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا اِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ اٰمَنَتْ مِنْ قَبْلُ اَوْ كَسَبَتْ فِيْۤ اِيْمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوْۤا اِنَّا مُنْتَظِرُوْنَ
"Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau belum berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, Tunggulah! Kami pun menunggu." (QS. Al-An'am 158)
*Meneguhkan Kalimat Tauhid*
Lalu apa yang yang harus kita perbuat agar hati tidak tumpul ?
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata , Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu."
(QS. Fussilat 30)
Kita diperintahkan untuk meneguhkan Tauhid. Meneguhkan tauhid itu tidak sekedar dibaca dan bukan mengulang-ulang kalimat Tauhid. Meneguhkan Tauhid adalah
Kemampuan menghadirkan sifat-sifat Allah dalam kehidupan kita.
Jangan sampai kita menduakan Allah dalam perbuatan kita.
Mengulang-ulang kalimat tauhid tanpa memahami makna ibarat burung beo, dia mampu berkata-kata tapi tak tahu maknanya. Misal kita bertamu kerumah seseorang dan yang mempersilahkan masuk adalah burung beo, maka tak mungkin kita menuruti, meski beo itu mengucap puluhan kali : "Silahkan masuk...."
*Simpanan Amal Sholeh*
Mengulang-ulang do'a mungkin dengan harapan agar segera terkabul. Tidak salah memang, namun sebenarnya do'a yang mustajab akan cukup satu kali saja. Ini bisa terjadi jika kita mempunyai simpanan amal sholeh. Ini disebutkan Nabi sebagai Doa ketika kepepet , harus punya amal sholeh sebagai wasilah.
Rasulullah SAW bersabda,
“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.”
Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan hartaku. Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.
“Nabi SAW bersabda, lantas orang yang lain pun berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku karena sedang butuh uang. Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku. Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar.” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.
“Nabi SAW bersabda, lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu yang telah dikembangkan, yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang teguh pendiriannya jika berdo'a cukup sekali. Berdo'a akan mustajab jika kita punya wasilah (perantara). Wasilah itu ada tiga, yaitu :
1. Wasilah dengan Asmaul Husna.
2. Wasilah dengan orang sholeh yang masih hidup.
3. Wasilah dengan amal sholeh.
Maka orang yang teguh Tauhidnya tak perlu takut ketika meninggal jika amal sholehnya banyak.
*Peringatan Allah*
Manusia itu kadang-kadang lalai, meskipun ada peringatan. Kita mengenal ayat bahwa kadang ada hal yang tak kita sukai, padahal itu bermanfaat bagi kita. Demikian juga sebaliknya. Namun kita sering menggerutu jika mendapat hal yang tak kita suka. Padahal mungkin itu peringatan.
Ada kisah tentang orang yang mau ke Singapore dengan pesawat jam 10. Namun diluar pengetahuannya pesawat itu digabung dengan pesawat yang lebih pagi karena jumlah penumpang terlalu sedikit, cuma 9 orang. Orang tadi terlambat, ditinggal pesawat dan dia marah-marah. Dia tak tahu bahwa dia diselamatkan Allah dengan cara itu. Pesawat yang meninggalkan dia jatuh.
Kalau orang diberi kesempatan untuk hidup lebih lama dan bertaubat, kadang masih diberi peringatan.
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَـقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid 16)
Peringatan Allah itu banyak dan macam-macam, ada yang langsung dan ada yang tidak langsung lewat mimpi.
Kisah Ibrahim Adham , seorang ahli tasawuf, pada awalnya dia adalah seorang yang senang mabuk-mabukan. Semua orang itu dilahirkan suci, namun dapat dipengaruhi lingkungan.
Dia tertarik seorang wanita, wanita itu mau jadi isterinya tetapi dengan mempersyaratkan dia berhenti minum-minuman keras. Ibrahim menuruti, kemudian mereka menikah dan punya anak perempuan.
Ketika anaknya umur 7 tahun, Ibrahim Adham kambuh kembali suka minum-minuman keras. Ketika dia sedang minum minuman keras, dia ditegur anak perempuannya. Setiap mau minum ditampar anaknya, akhirnya gelasnya pecah. Ibrahim Adham sangat marah dan dia memukul anaknya. Karena pukulan terlalu keras maka anaknya meninggal dunia.
Isterinyapun meninggal dan Ibrahim Adham bertambah parah dalam hal mabuk-mabukan. Suatu saat Ibrahim Adham ini tertidur dan mendapat Peringatan Allah lewat mimpi.
Menurut Surat Yusuf , mimpi itu ada dua : Mimpi kosong dan Mimpi yang benar.
Mimpi Ibrahim ini mimpi yang benar, dia merasa dikejar ular besar. Kemudian ditolong seorang tua yang membawa tongkat. Namun penolongnya ini kalah. Ibrahim Adham lari terus ke arah gunung dengan tetap dikejar ular. Di Gunung itu dia ditolong anak perempuan kecil dan selamatlah dia.
Ibrahim bertanya kepada anak tadi, kenapa dirinya dikejar ular?
Anak tadi menjelaskan :
"Ular yang mengejar bapak adalah kejahatan bapak, adapun orang tua bertongkat tadi adalah amal baik bapak. Dia kalah karena amal baik bapak cuma sedikit, maka tak bisa menolong".
Ingatlah akan hadits :
إتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن. (رواه الترمذي)
Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada. Dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapus perbuatan buruknya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi)
"Lalu kamu siapa nak? " tanya Ibrahim. "Saya dulu anakmu yang melarang kamu minum minuman keras". Jawab anak tadi.
Begitu bangun kemudian Ibrahim Adam sadar. Dia menjadi khusyu' setelah dibukakan jendela pintu akhirat melalui mimpi.
Maka seperti dalam surat Al Baqarah ayat 4, orang beriman yakin tentang akhirat dan ada pintu akhirat yang dapat dibukakan.
وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
"... dan mereka yakin akan adanya akhirat." (QS. Al-Baqarah 4)
Dalam kisah Sufi yang lain ada dua orang ibu di surga. Mereka ditawari untuk dibukakan pintu akhirat agar dapat mengintip anak-anaknya di dunia. Kedua ibu tersebut setuju dan kemudian mengintip ke dunia.
Seorang ibu menangis karena melihat anaknya sesat. Dia dulu memanjakan anaknya dengan harta dunia, tapi tak pernah membekali agama dan tak pernah menasehati anaknya. Ibu yang lain tertawa-tawa karena dia dulu tak punya harta, tapi sangat perhatian dengan pendidikan agama anaknya.
Demikian tentang kegaiban Alam akhirat yang diceritakan kepada kita.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
MENYINGKAP TABIR KEGAIBAN
Dr. H. Rozihan , SH , MAg
26 Shafar 1440 H/ 4 November 2018
*Agama Dasarnya Kepercayaan*
Ketika kita belajar agama, maka dasar kita adalah percaya dulu. Dengan percaya kita menjadi tenang.
Beda dengan ilmu, kalau belajar ilmu kita dasarnya Ragu, tidak percaya. Setelah kita dapat membuktikan kebenarannya baru kita terima sebagai ilmu.
Ketika kita mau pergi ke luar kota , kita harus percaya dulu dengan kendaraan dan sopir yang akan mengantar kita. Jika kita tak percaya maka akan banyak bertanya dan bahkan mungkin tak jadi berangkat. Maka ketika kita mau naik Pesawat misalnya tak perlu banyak tanya, cukup berdo'a : Bismillahir rohmanir rohiem, maka hati kita akan tenang.
Dalam kehidupan, kita akan pilih-pilih mau percaya dulu atau ragu dulu. Kita tak pernah bertanya kepada Bapak-ibu kita, apakah kita ini anak mereka atau bukan. Kalau ini ditanyakan mungkin hanya akan memancing kemarahan.
Dalam agama, kita percaya dulu baru kemudian diikuti ilmu. Karena tidak semua masalah agama bisa dijelaskan dengan ilmu. Ilmu akan berhenti ketika terjadi kematian.
Percaya itu termasuk pada hal yang ghoib.
*Menjelang Ajal maka yang Ghoib ditampakkan*
لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ
"Sungguh, kamu dahulu lalai tentang peristiwa ini, *maka Kami singkapkan tutup matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam*." (QS. Qaf 22)
Hal-hal yang kita anggap ghoib itu akan tersingkap ketika seseorang mau meninggal dunia. Seperti kasus Lion Air yang kecelakaan itu mungkin ada juga tanda bagi orang lain. Tetapi bahwa akan terjadi kecelakaan itu adalah hal yang masih ghoib ketika belum terjadi.
Kejadian dalam surat Al Qaf itu diberikan kepada kita semua, sebagai individu. Kita ini lalai, tidak tahu terhadap hal ghoib.
Ibarat kita ini bisa melihat benda, jika ada jarak dengan mata kita. Namun justru ketika benda ditempelkan ke mata kita, kita tak dapat melihatnya. Saking dekatnya (menempel ke mata) maka benda tadi tidak kelihatan.
Demikian juga karena Allah Maha Besar, maka mata kita tak mampu melihat Allah.
Karena cahaya Allah itu meliputi langit dan bumi, maka Allah tidak terlihat.
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
"Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi...." (QS. An-Nur 35)
Di dunia ini yang paling kita lihat adalah gemerlap dunia dan keluarga. Namun ada hal-hal baik yang tertutup , yaitu misalnya Pahala. Itu nanti akan disingkapkan oleh Allah. Kapan yang ghoib disingkapkan?
Yaitu ketika kita sudah melakukan, atau ketika seseorang pada saat kritis, menjelang ajal. Allah mengatakan penglihatan kita akan menjadi sangat tajam.
Mirip ketika kita krisis keuangan, tak punya uang sama sekali, maka kita ingat dulu punya uang tapi untuk ini, untuk itu ...
Maka ketika menjelang ajal kita akan melihat yang tak kelihatan , yang kita lupakan. Karena tutup mata kita akan disingkapkan.
*Manusia diwafatkan sesuai kebiasaannya*
Nabi SAW bersabda :
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim)
Kebiasaan kita akan ditunjukkan, karena Kamera CCTV Allah di dunia ini sedemikian besar, dapat merekam semua kebiasaan manusia.
Jika kebiasaan sedekah maka ketika mau meninggal juga ingin sedekah. Bila kebiasaan memaki-maki, maka demikian pula nanti ketika meninggal.
*Perbuatan Baik atau Buruk akan kembali ke diri kita*
Seorang sahabat bernama Sya’ban RA , setiap masuk masjid selalu dipojok masjid. Dia mengambil posisi di pojok karena tidak mau mengganggu dan tak mau terganggu orang lain. Kebiasaan ini dipahami oleh Rasulullah SAW.
Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rasulullah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya. Rasul SAW bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tak seorangpun yang melihat Sya’ban RA.
Sholat subuhpun ditunda sejenak menunggu Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir kesiangan, Rasul SAW memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh.
Selesai sholat subuh, Rasul SAW bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA. Namun tak ada seorangpun yang menjawab.
Rasul SAW bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA. Seorang sahabat mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA. Rasulullah SAW meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.
Rombongan Rasul SAW sampai ke sana kira-kira 3 jam jalan kaki.
Sampai di depan rumah tersebut beliau SAW mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.
“Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul SAW bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA berkata :
“Beliau telah meninggal tadi pagi”
Kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul SAW,
“Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing–masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul SAW.
Di masing–masing teriakannya dia berucap kalimat,
“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”
“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“
“Aduuuh, kenapa tidak semua.”
Rasul SAW menjelaskan bahwa
saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah SWT.
Perjalanan Sya'ban ke masjid 3 jam jalan kaki bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah–langkah nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa surga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:
“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak.
Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Dia memakai dua buah baju dirangkapkan. Sya’ban RA sengaja memakai pakaian baru di dalam dan yang jelek di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar.
Dalam perjalanan dia menemukan orang yang kedinginan. Sya’ban RA pun iba , lalu membuka baju yang luar dan dipakaikan kepada orang tersebut. Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan.
Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :
“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“
Timbul lagi penyesalan Sya’ban RA. Jika dengan baju butut saja bisa mendapat pahala yang begitu besar, tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.
Berikutnya Sya’ban RA melihat adegan saat dia hendak sarapan roti yang dimakan dengan segelas susu. Muncul pengemis yang meminta sedikit roti karena sudah lebih 3 hari tidak makan. Sya’ban RA merasa iba, ia kemudian membagi dua roti itu, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Allah SWT memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga. Ketika melihat itu diapun berteriak lagi:
“Aduuuh, kenapa tidak semua.”
Sya’ban RA menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah.
Kisah di atas dijelaskan oleh Qur'an dalam Surat Al Isra 7, bahwa perbuatan baik itu adalah untuk diri sendiri.
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ
"Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri.." (QS. Al-Isra' 7)
Tapi kadang meyakinkan hal ini sulit, banyak orang yang lebih senang memikirkan kebutuhan sendiri.
*Suara hati itu Fithrah, bila tak didengarkan hati akan tumpul*
Manusia itu dilahirkan fithrah. Lingkungan membentuk jadi tidak baik, contohnya adalah Firaun.
Fir'aun sampai mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Namun ketika akan meninggal dia dikembalikan kepada fithrahnya, maka dia takut dan mohon ampun, namun sudah tidak diterima taubatnya.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبـَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْۤ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْۤا اِسْرَآءِيْلَ وَ اَنَاۡ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menzalimi dan menindas mereka. Sehingga ketika Fir'aun hampir tenggelam, dia berkata, Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim." (QS. Yunus 90)
Contoh lain , laki-laki yang suka selingkuh tak akan merasa salah. Dia tak merasa bahwa perbuatannya menyakiti hati orang lain. Namun ketika isterinya diselingkuhi orang lain, baru dia merasa sakit hati.
Artinya adalah bahwa pada dasarnya hati kecil manusia itu fithrah. Itu disebut Hati nurani atau Suara Hati yang selalu mengajarkan kebenaran.
Bila suara hati tak didengarkan maka lama-lama akan tumpul seperti Fir'aun.
Dan mereka akan terkejut ketika malaikat datang menjemput mereka.
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ اَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِيْ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا اِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ اٰمَنَتْ مِنْ قَبْلُ اَوْ كَسَبَتْ فِيْۤ اِيْمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوْۤا اِنَّا مُنْتَظِرُوْنَ
"Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau belum berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, Tunggulah! Kami pun menunggu." (QS. Al-An'am 158)
*Meneguhkan Kalimat Tauhid*
Lalu apa yang yang harus kita perbuat agar hati tidak tumpul ?
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata , Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu."
(QS. Fussilat 30)
Kita diperintahkan untuk meneguhkan Tauhid. Meneguhkan tauhid itu tidak sekedar dibaca dan bukan mengulang-ulang kalimat Tauhid. Meneguhkan Tauhid adalah
Kemampuan menghadirkan sifat-sifat Allah dalam kehidupan kita.
Jangan sampai kita menduakan Allah dalam perbuatan kita.
Mengulang-ulang kalimat tauhid tanpa memahami makna ibarat burung beo, dia mampu berkata-kata tapi tak tahu maknanya. Misal kita bertamu kerumah seseorang dan yang mempersilahkan masuk adalah burung beo, maka tak mungkin kita menuruti, meski beo itu mengucap puluhan kali : "Silahkan masuk...."
*Simpanan Amal Sholeh*
Mengulang-ulang do'a mungkin dengan harapan agar segera terkabul. Tidak salah memang, namun sebenarnya do'a yang mustajab akan cukup satu kali saja. Ini bisa terjadi jika kita mempunyai simpanan amal sholeh. Ini disebutkan Nabi sebagai Doa ketika kepepet , harus punya amal sholeh sebagai wasilah.
Rasulullah SAW bersabda,
“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.”
Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan hartaku. Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.
“Nabi SAW bersabda, lantas orang yang lain pun berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku karena sedang butuh uang. Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku. Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar.” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.
“Nabi SAW bersabda, lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu yang telah dikembangkan, yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang teguh pendiriannya jika berdo'a cukup sekali. Berdo'a akan mustajab jika kita punya wasilah (perantara). Wasilah itu ada tiga, yaitu :
1. Wasilah dengan Asmaul Husna.
2. Wasilah dengan orang sholeh yang masih hidup.
3. Wasilah dengan amal sholeh.
Maka orang yang teguh Tauhidnya tak perlu takut ketika meninggal jika amal sholehnya banyak.
*Peringatan Allah*
Manusia itu kadang-kadang lalai, meskipun ada peringatan. Kita mengenal ayat bahwa kadang ada hal yang tak kita sukai, padahal itu bermanfaat bagi kita. Demikian juga sebaliknya. Namun kita sering menggerutu jika mendapat hal yang tak kita suka. Padahal mungkin itu peringatan.
Ada kisah tentang orang yang mau ke Singapore dengan pesawat jam 10. Namun diluar pengetahuannya pesawat itu digabung dengan pesawat yang lebih pagi karena jumlah penumpang terlalu sedikit, cuma 9 orang. Orang tadi terlambat, ditinggal pesawat dan dia marah-marah. Dia tak tahu bahwa dia diselamatkan Allah dengan cara itu. Pesawat yang meninggalkan dia jatuh.
Kalau orang diberi kesempatan untuk hidup lebih lama dan bertaubat, kadang masih diberi peringatan.
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَـقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid 16)
Peringatan Allah itu banyak dan macam-macam, ada yang langsung dan ada yang tidak langsung lewat mimpi.
Kisah Ibrahim Adham , seorang ahli tasawuf, pada awalnya dia adalah seorang yang senang mabuk-mabukan. Semua orang itu dilahirkan suci, namun dapat dipengaruhi lingkungan.
Dia tertarik seorang wanita, wanita itu mau jadi isterinya tetapi dengan mempersyaratkan dia berhenti minum-minuman keras. Ibrahim menuruti, kemudian mereka menikah dan punya anak perempuan.
Ketika anaknya umur 7 tahun, Ibrahim Adham kambuh kembali suka minum-minuman keras. Ketika dia sedang minum minuman keras, dia ditegur anak perempuannya. Setiap mau minum ditampar anaknya, akhirnya gelasnya pecah. Ibrahim Adham sangat marah dan dia memukul anaknya. Karena pukulan terlalu keras maka anaknya meninggal dunia.
Isterinyapun meninggal dan Ibrahim Adham bertambah parah dalam hal mabuk-mabukan. Suatu saat Ibrahim Adham ini tertidur dan mendapat Peringatan Allah lewat mimpi.
Menurut Surat Yusuf , mimpi itu ada dua : Mimpi kosong dan Mimpi yang benar.
Mimpi Ibrahim ini mimpi yang benar, dia merasa dikejar ular besar. Kemudian ditolong seorang tua yang membawa tongkat. Namun penolongnya ini kalah. Ibrahim Adham lari terus ke arah gunung dengan tetap dikejar ular. Di Gunung itu dia ditolong anak perempuan kecil dan selamatlah dia.
Ibrahim bertanya kepada anak tadi, kenapa dirinya dikejar ular?
Anak tadi menjelaskan :
"Ular yang mengejar bapak adalah kejahatan bapak, adapun orang tua bertongkat tadi adalah amal baik bapak. Dia kalah karena amal baik bapak cuma sedikit, maka tak bisa menolong".
Ingatlah akan hadits :
إتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن. (رواه الترمذي)
Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada. Dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapus perbuatan buruknya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi)
"Lalu kamu siapa nak? " tanya Ibrahim. "Saya dulu anakmu yang melarang kamu minum minuman keras". Jawab anak tadi.
Begitu bangun kemudian Ibrahim Adam sadar. Dia menjadi khusyu' setelah dibukakan jendela pintu akhirat melalui mimpi.
Maka seperti dalam surat Al Baqarah ayat 4, orang beriman yakin tentang akhirat dan ada pintu akhirat yang dapat dibukakan.
وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
"... dan mereka yakin akan adanya akhirat." (QS. Al-Baqarah 4)
Dalam kisah Sufi yang lain ada dua orang ibu di surga. Mereka ditawari untuk dibukakan pintu akhirat agar dapat mengintip anak-anaknya di dunia. Kedua ibu tersebut setuju dan kemudian mengintip ke dunia.
Seorang ibu menangis karena melihat anaknya sesat. Dia dulu memanjakan anaknya dengan harta dunia, tapi tak pernah membekali agama dan tak pernah menasehati anaknya. Ibu yang lain tertawa-tawa karena dia dulu tak punya harta, tapi sangat perhatian dengan pendidikan agama anaknya.
Demikian tentang kegaiban Alam akhirat yang diceritakan kepada kita.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Selasa, 23 Oktober 2018
Kajian Ahad AMM Banyumanik
Kajian Ahad AMM Banyumanik
TENTANG MUSIBAH
Tanggal : 12 Shafar 1440 H/ 21 Oktober 2018
Nara Sumber : Prof. Dr. H. Yusuf Suyono MA
Diantara pertanyaan orang-orang kepada Majelis Tarjih, ada yang menanyakan tentang banyaknya musibah pada akhir-akhir ini, baik gempa bumi, banjir ataupun tsunami. Ada da'i yang mengatakan bahwa itu karena dosa Pemimpin atau dosa rakyat itu sendiri, antara lain adanya LGBT dan kebebasan hidup tanpa ikatan, Perzinaan dan sebagainya sehingga diazab Allah SWT.
Pendapat dari Majelis Tarjih adalah bahwa ujian dari Allah itu selalu ada, namun tidak selalu berupa kesengsaraan saja. Kesenangan juga ujian dari Allah. Jadi yang di Semarang, kita diuji dengan kesenangan. Nabi Sulaiman juga diuji dengan kesenangan, namun beliau berkata :
فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ ۗ لِيَبْلُوَنِيْٓءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ ۗ
".. Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya .."
(QS. An-Naml 40)
Kenikmatan adalah ujian apakah seseorang dapat bersyukur atau tidak. Tanpa ujian maka iman dan ketakwaan seseorang tak dapat meningkat, bagaikan siswa bila mau naik tingkat maka dia diuji dulu.
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun," (QS. Al-Mulk 2)
Tabiat manusia bila diuji dengan kesenangan dia akan senang dan tidak bersyukur, maka dia tidak lulus. Bila diuji kesengsaraan dia merasa susah.
فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ
وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَانَنِ
"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku."
(QS. Al-Fajr Ayat 15-16)
Lalu dijawab Allah SWT :
كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ .وَلَا تَحٰٓ ضُّوْنَ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ اَكْلًا لَّـمًّا وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
"Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan yang halal dan yang haram , dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan." (QS. Al-Fajr ayat 17-20)
Ujian kedua berupa kesengsaraan, bila dia dapat bersabar, maka akan lulus. Ujian itu tanda kecintaan Allah. Kesenangan dan kesengsaraan itu pasti silih berganti dan dunia ini adalah tempat ujian.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya [HR Tirmidzi dan Ibnu Madjah]
Maka kita tak perlu iri bila ada orang yang hobi maksiat tetapi malah selalu mendapat kesenangan. Itulah yang disebut dengan istidraj (jebakan kelimpahan rejeki).
Hadits diatas memberi pengertian bahwa orang muslim yang mendapat musibah adalah orang yang dicintai Allah SWT. Apabila dia mendapat musibah maka dia membaca istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).Juga sekaligus membaca Alhamdulillah, karena dibalik musibah mesti ada sesuatu yang nikmat. Contoh, kena musibah mobilnya tabrakan, mobil penyok tapi dirinya selamat.
Abdullah bin Mas’ud –ra - berkata;
وقال عبدالله بن مسعود رضى الله عنه: الايمان نصفان نصف صبر ونصف شكر
“Iman itu terdiri dari dua bagian, separuhnya berupa kesabaran dan separuhnya berupa syukur.”
Jadi antara Sabar dan Syukur ibarat dua sisi dari mata uang. Selalu muncul bergantian antara Sabar dan Syukur.
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah Ayat 155 - 157)
Firman Allah SWT itu biasanya ditujukan kepada orang kedua dan Allah sebagai pihak pertama (mutakallim - pembicara).
Sedangkan orang kedua (mukhotob) ada tiga tingkatan :
- orang awam, tidak tahu.
- orang yang ragu-ragu (membantah)
- orang yang ingkar
Dalam ayat ini digunakan dua huruf taukid untuk menguatkan , lam taukid ( لَامُ التَّوْكِيْدِ ) dan nun taukid ( نُونَا التَّوْكيدِ ) artinya ini peringatan keras yang ditujukan kepada mukhotob yang ingkar.
Ayat tersebut juga menegaskan bahwa setiap manusia di dunia pasti kena musibah. Namun setelah kesengsaraan ada kesenangan.
Mereka yang marah-marah terhadap musibah tak akan mendapat apa-apa. Sedangkan mereka yang sabar akan mendapat pahala. Wajib meyakini bahwa dibalik musibah akan ada hikmahnya.
Allah SWT berfirman:
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 216)
Maka jika pasanganmu menjengkelkan, bersabarlah. Dengan bersabar pasti akan mendapat balasan lebih baik. Dibalik yang tidak disukai pasti ada kebaikan yang akan diperoleh kemudian. Ada hikmah disana. Belum tentu mereka yang pasangannya terlihat menarik itu akan menyenangkan mereka.
Ummu Salamah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim)
Diharamkan untuk mengumpat bila terkena musibah dan diperbolehkan mengucapkan " inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" bila ada musibah yang menimpa siapa saja, termasuk bila musibah itu menimpa orang kafir atau berdosa.
Seperti di Palu kemarin diperkirakan musibah terjadi akibat perbuatan dosa-dosa sebelum kejadian. Karena memang ada wasiat dari Rasul bahwa dosa-dosa adalah sumber dari azab Allah.
Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia;..." (QS. Ar-Rum 41)
Lalu apakah kita diperbolehkan melakukan shalat Ghoib? Shalat Ghoib hanya diperbolehkan bila diniatkan kepada kurban kaum muslim.
Diantara pelaku maksiat , mereka menolak campur tangan kita, ketika kita menegakkan nahi mungkar, alasan mereka itu hak mereka untuk minum-minum atau berbuat maksiat, karena memakai uang mereka sendiri. Namun ketahuilah bahwa azab atau musibah yang dijanjikan Allah itu nanti tidak akan pandang bulu. Tidak hanya menimpa mereka yang maksiat saja.
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً ۚ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Anfal 25)
Ketika azab diturunkan maka Tsunami tidak akan memilih apakah itu rumah maksiat atau masjid. Untuk menghindari azab, kita diperintah untuk Amar Makruf Nahi mungkar sejak dini. Jangan sampai terlambat.
Berikut ini ada percakapan imajiner antara Ahmad, takmir masjid dengan Jon, Ketua Takmir.
"Jon, di desa kita ada warung jual miras. Ayo kita tindak!"
"Nggak usah. Yang penting jadi orang baik."
Sebulan kemudian.
"Jon, para pemuda mulai suka mabuk-mabukan di warung itu. Ayo kita tindak sebelum terlambat!"
"Buat apa? Lha wong mereka juga nggak ganggu kita, kok."
Sebulan lagi berlalu.
"Jon, sekarang warung itu dibangun tambah megah. Nggak cuma jual miras, sudah ada pelacurnya juga. Setengah penduduk desa sudah jadi pelanggan. Kalau kita tidak menindak sekarang, besok-besok kita nggak akan punya kekuatan lagi".
"Urus diri sendiri dulu, nggak usah ngurusin orang lain."
Setahun kemudian.
"Jon, desa kita sudah jadi pusat maksiat. Masjid mau dirobohkan. Kamu, sebagai ta'mirnya, juga akan diusir."
"Lho, lho. Kok gitu? Ya jangan gitu, dong. Ayo kita lawan mereka!"
"Sudah terlambat, Jon. Kita sudah jadi minoritas. Dulu saat mereka dengan getol menanamkan ideologi dan memperluas kekuasaan, kita cuma sekedar jadi orang baik. Ternyata itu tidak cukup."
Untuk melakukan nahi mungkar itu ada 3 kekuatan :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Kelompok yang bergerak dengan kekuatan atau kekuasaan, yaitu umaro , dalam hal ini Polisi harus bergerak dulu. Kemudian kelompok kedua yang bergerak dengan lesan seperti Para ulama, wartawan dan sebagainya. Kemudian yang paling lemah kelompok ketiga, rakyat yang tak setuju kemaksiatan , bergerak dengan do'a. Mereka harus bersatu padu melakukan nahi mungkar.
Ada yang berpendapat bahwa bencana seperti Tsunami itu adalah kejadian alam biasa. Ini aneh bila muncul dari bangsa Indonesia yang katanya religius. Memang benar ada kejadian alam, tapi apakah alam bergerak sendiri? Tentu tidak, karena ada yang menggerakkan alam, yaitu Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ
"dan apabila lautan dijadikan meluap," (QS. Al-Infitar 3)
Jelas ada yang membuat laut meluap. Tsunami itu bahasa Jepang, artinya laut meluap atau al-bihaaru fujjirot. Laut ditsunamikan, jadi ada yang membuat tsunami. Lalu siapa?
Orang Atheis , Agnostik dan Materialistik menganggap Tuhan itu seperti pembuat jam. Misal jam dibuat di Swiss, setelah laku sampai Indonesia maka Pembuat jam di Swiss sudah tidak mengurusi lagi.
Padahal Tuhan tidak begitu. Allah itu menjaga terus ciptaannya.
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗۤ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
"Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. As-Sajdah 5)
Allah SWT itu tidak menganggur setelah penciptaan, Allah sangat sibuk.
يَسْئَـلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ
"Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan." (QS. Ar-Rahman 29)
Maka dalam peristiwa tsunami, lempeng bumi bergerak juga atas kehendak Allah.
Kelebihan Kita sebagai Umat Muhammad SAW adalah bahwa Allah SWT berjanji tak akan memusnahkan kita dalam bencana.
Satu hari Rasulullah SAW setelah shalat dua rakaat kemudian berdoa. Setelah selesai berdoa, Rasulullah SAW pun berkata:
"Aku telah memohon kepada Allah SWT tiga hal. Dari tiga hal itu, hanya dua hal yang Dia kabulkan sementara yang satu lagi ditolak. Tiga hal itu adalah:
1. Aku memohon kepada Allah SWT agar Dia tidak membinasakan umatku dengan musim paceklik yang berkepanjangan. Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT.
2. Aku memohon kepada Allah SWT agar umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti umat Nabi Nuh a.s.). Permohonanku yang ini pun dikabulkan oleh-Nya.
3. Aku memohon kepada Allah SWT agar umatku terbebas dari pertikaian sesama umat Islam.
Tetapi permohonanku yang ini telah ditolak oleh-Nya."
Allah SWT juga memberi jalan keluar kepada kita untuk menghindari tsunami, menghindari musibah dan mendapatkan keberkahan.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Dan seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami , maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 96)
Dalam ayat tadi dikatakan "seandainya" penduduk bumi beriman dan takwa. Itu artinya tak terjadi, seperti jika kita mengatakan seandainya saya konglomerat, berarti pasti bukan konglomerat.
Jadi sebenarnya solusi untuk menghindari bencana sudah jelas, yaitu kita beriman , bertakwa. Kemudian melakukan Amar makruf nahi mungkar dengan kerjasama tiga pihak : Umaro, Ulama dan Rakyat.
Tantangan kita di Indonesia ini adalah kaum Atheis , Liberalis telah berkembang pesat. Mereka berpendapat bahwa bencana adalah peristiwa alam biasa, tak ada campur tangan Allah. Mereka itu mendustakan ayat Allah.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
TENTANG MUSIBAH
Tanggal : 12 Shafar 1440 H/ 21 Oktober 2018
Nara Sumber : Prof. Dr. H. Yusuf Suyono MA
Diantara pertanyaan orang-orang kepada Majelis Tarjih, ada yang menanyakan tentang banyaknya musibah pada akhir-akhir ini, baik gempa bumi, banjir ataupun tsunami. Ada da'i yang mengatakan bahwa itu karena dosa Pemimpin atau dosa rakyat itu sendiri, antara lain adanya LGBT dan kebebasan hidup tanpa ikatan, Perzinaan dan sebagainya sehingga diazab Allah SWT.
Pendapat dari Majelis Tarjih adalah bahwa ujian dari Allah itu selalu ada, namun tidak selalu berupa kesengsaraan saja. Kesenangan juga ujian dari Allah. Jadi yang di Semarang, kita diuji dengan kesenangan. Nabi Sulaiman juga diuji dengan kesenangan, namun beliau berkata :
فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ ۗ لِيَبْلُوَنِيْٓءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ ۗ
".. Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya .."
(QS. An-Naml 40)
Kenikmatan adalah ujian apakah seseorang dapat bersyukur atau tidak. Tanpa ujian maka iman dan ketakwaan seseorang tak dapat meningkat, bagaikan siswa bila mau naik tingkat maka dia diuji dulu.
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun," (QS. Al-Mulk 2)
Tabiat manusia bila diuji dengan kesenangan dia akan senang dan tidak bersyukur, maka dia tidak lulus. Bila diuji kesengsaraan dia merasa susah.
فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ
وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَانَنِ
"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku."
(QS. Al-Fajr Ayat 15-16)
Lalu dijawab Allah SWT :
كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ .وَلَا تَحٰٓ ضُّوْنَ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ اَكْلًا لَّـمًّا وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
"Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan yang halal dan yang haram , dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan." (QS. Al-Fajr ayat 17-20)
Ujian kedua berupa kesengsaraan, bila dia dapat bersabar, maka akan lulus. Ujian itu tanda kecintaan Allah. Kesenangan dan kesengsaraan itu pasti silih berganti dan dunia ini adalah tempat ujian.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya [HR Tirmidzi dan Ibnu Madjah]
Maka kita tak perlu iri bila ada orang yang hobi maksiat tetapi malah selalu mendapat kesenangan. Itulah yang disebut dengan istidraj (jebakan kelimpahan rejeki).
Hadits diatas memberi pengertian bahwa orang muslim yang mendapat musibah adalah orang yang dicintai Allah SWT. Apabila dia mendapat musibah maka dia membaca istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).Juga sekaligus membaca Alhamdulillah, karena dibalik musibah mesti ada sesuatu yang nikmat. Contoh, kena musibah mobilnya tabrakan, mobil penyok tapi dirinya selamat.
Abdullah bin Mas’ud –ra - berkata;
وقال عبدالله بن مسعود رضى الله عنه: الايمان نصفان نصف صبر ونصف شكر
“Iman itu terdiri dari dua bagian, separuhnya berupa kesabaran dan separuhnya berupa syukur.”
Jadi antara Sabar dan Syukur ibarat dua sisi dari mata uang. Selalu muncul bergantian antara Sabar dan Syukur.
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah Ayat 155 - 157)
Firman Allah SWT itu biasanya ditujukan kepada orang kedua dan Allah sebagai pihak pertama (mutakallim - pembicara).
Sedangkan orang kedua (mukhotob) ada tiga tingkatan :
- orang awam, tidak tahu.
- orang yang ragu-ragu (membantah)
- orang yang ingkar
Dalam ayat ini digunakan dua huruf taukid untuk menguatkan , lam taukid ( لَامُ التَّوْكِيْدِ ) dan nun taukid ( نُونَا التَّوْكيدِ ) artinya ini peringatan keras yang ditujukan kepada mukhotob yang ingkar.
Ayat tersebut juga menegaskan bahwa setiap manusia di dunia pasti kena musibah. Namun setelah kesengsaraan ada kesenangan.
Mereka yang marah-marah terhadap musibah tak akan mendapat apa-apa. Sedangkan mereka yang sabar akan mendapat pahala. Wajib meyakini bahwa dibalik musibah akan ada hikmahnya.
Allah SWT berfirman:
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 216)
Maka jika pasanganmu menjengkelkan, bersabarlah. Dengan bersabar pasti akan mendapat balasan lebih baik. Dibalik yang tidak disukai pasti ada kebaikan yang akan diperoleh kemudian. Ada hikmah disana. Belum tentu mereka yang pasangannya terlihat menarik itu akan menyenangkan mereka.
Ummu Salamah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim)
Diharamkan untuk mengumpat bila terkena musibah dan diperbolehkan mengucapkan " inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" bila ada musibah yang menimpa siapa saja, termasuk bila musibah itu menimpa orang kafir atau berdosa.
Seperti di Palu kemarin diperkirakan musibah terjadi akibat perbuatan dosa-dosa sebelum kejadian. Karena memang ada wasiat dari Rasul bahwa dosa-dosa adalah sumber dari azab Allah.
Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia;..." (QS. Ar-Rum 41)
Lalu apakah kita diperbolehkan melakukan shalat Ghoib? Shalat Ghoib hanya diperbolehkan bila diniatkan kepada kurban kaum muslim.
Diantara pelaku maksiat , mereka menolak campur tangan kita, ketika kita menegakkan nahi mungkar, alasan mereka itu hak mereka untuk minum-minum atau berbuat maksiat, karena memakai uang mereka sendiri. Namun ketahuilah bahwa azab atau musibah yang dijanjikan Allah itu nanti tidak akan pandang bulu. Tidak hanya menimpa mereka yang maksiat saja.
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً ۚ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Anfal 25)
Ketika azab diturunkan maka Tsunami tidak akan memilih apakah itu rumah maksiat atau masjid. Untuk menghindari azab, kita diperintah untuk Amar Makruf Nahi mungkar sejak dini. Jangan sampai terlambat.
Berikut ini ada percakapan imajiner antara Ahmad, takmir masjid dengan Jon, Ketua Takmir.
"Jon, di desa kita ada warung jual miras. Ayo kita tindak!"
"Nggak usah. Yang penting jadi orang baik."
Sebulan kemudian.
"Jon, para pemuda mulai suka mabuk-mabukan di warung itu. Ayo kita tindak sebelum terlambat!"
"Buat apa? Lha wong mereka juga nggak ganggu kita, kok."
Sebulan lagi berlalu.
"Jon, sekarang warung itu dibangun tambah megah. Nggak cuma jual miras, sudah ada pelacurnya juga. Setengah penduduk desa sudah jadi pelanggan. Kalau kita tidak menindak sekarang, besok-besok kita nggak akan punya kekuatan lagi".
"Urus diri sendiri dulu, nggak usah ngurusin orang lain."
Setahun kemudian.
"Jon, desa kita sudah jadi pusat maksiat. Masjid mau dirobohkan. Kamu, sebagai ta'mirnya, juga akan diusir."
"Lho, lho. Kok gitu? Ya jangan gitu, dong. Ayo kita lawan mereka!"
"Sudah terlambat, Jon. Kita sudah jadi minoritas. Dulu saat mereka dengan getol menanamkan ideologi dan memperluas kekuasaan, kita cuma sekedar jadi orang baik. Ternyata itu tidak cukup."
Untuk melakukan nahi mungkar itu ada 3 kekuatan :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Kelompok yang bergerak dengan kekuatan atau kekuasaan, yaitu umaro , dalam hal ini Polisi harus bergerak dulu. Kemudian kelompok kedua yang bergerak dengan lesan seperti Para ulama, wartawan dan sebagainya. Kemudian yang paling lemah kelompok ketiga, rakyat yang tak setuju kemaksiatan , bergerak dengan do'a. Mereka harus bersatu padu melakukan nahi mungkar.
Ada yang berpendapat bahwa bencana seperti Tsunami itu adalah kejadian alam biasa. Ini aneh bila muncul dari bangsa Indonesia yang katanya religius. Memang benar ada kejadian alam, tapi apakah alam bergerak sendiri? Tentu tidak, karena ada yang menggerakkan alam, yaitu Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ
"dan apabila lautan dijadikan meluap," (QS. Al-Infitar 3)
Jelas ada yang membuat laut meluap. Tsunami itu bahasa Jepang, artinya laut meluap atau al-bihaaru fujjirot. Laut ditsunamikan, jadi ada yang membuat tsunami. Lalu siapa?
Orang Atheis , Agnostik dan Materialistik menganggap Tuhan itu seperti pembuat jam. Misal jam dibuat di Swiss, setelah laku sampai Indonesia maka Pembuat jam di Swiss sudah tidak mengurusi lagi.
Padahal Tuhan tidak begitu. Allah itu menjaga terus ciptaannya.
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗۤ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
"Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. As-Sajdah 5)
Allah SWT itu tidak menganggur setelah penciptaan, Allah sangat sibuk.
يَسْئَـلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ
"Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan." (QS. Ar-Rahman 29)
Maka dalam peristiwa tsunami, lempeng bumi bergerak juga atas kehendak Allah.
Kelebihan Kita sebagai Umat Muhammad SAW adalah bahwa Allah SWT berjanji tak akan memusnahkan kita dalam bencana.
Satu hari Rasulullah SAW setelah shalat dua rakaat kemudian berdoa. Setelah selesai berdoa, Rasulullah SAW pun berkata:
"Aku telah memohon kepada Allah SWT tiga hal. Dari tiga hal itu, hanya dua hal yang Dia kabulkan sementara yang satu lagi ditolak. Tiga hal itu adalah:
1. Aku memohon kepada Allah SWT agar Dia tidak membinasakan umatku dengan musim paceklik yang berkepanjangan. Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT.
2. Aku memohon kepada Allah SWT agar umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti umat Nabi Nuh a.s.). Permohonanku yang ini pun dikabulkan oleh-Nya.
3. Aku memohon kepada Allah SWT agar umatku terbebas dari pertikaian sesama umat Islam.
Tetapi permohonanku yang ini telah ditolak oleh-Nya."
Allah SWT juga memberi jalan keluar kepada kita untuk menghindari tsunami, menghindari musibah dan mendapatkan keberkahan.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Dan seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami , maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 96)
Dalam ayat tadi dikatakan "seandainya" penduduk bumi beriman dan takwa. Itu artinya tak terjadi, seperti jika kita mengatakan seandainya saya konglomerat, berarti pasti bukan konglomerat.
Jadi sebenarnya solusi untuk menghindari bencana sudah jelas, yaitu kita beriman , bertakwa. Kemudian melakukan Amar makruf nahi mungkar dengan kerjasama tiga pihak : Umaro, Ulama dan Rakyat.
Tantangan kita di Indonesia ini adalah kaum Atheis , Liberalis telah berkembang pesat. Mereka berpendapat bahwa bencana adalah peristiwa alam biasa, tak ada campur tangan Allah. Mereka itu mendustakan ayat Allah.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Senin, 15 Oktober 2018
Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
NIKMAT YANG TERLUPAKAN
Tanggal : 5 Shafar 1440 H/ 14 Oktober 2018
Nara sumber : Drs.H. Fachrur Rozi MAg
*Turunkan Tensi Kesombongan*
Ibnu Abbas adalah seorang sahabat Rasulullah yang sangat cerdas, beliau berusia 9 tahun ketika Rasulullah wafat. Dia pernah dido'akan Rasul agar menjadi ahli agama dan do'a Rasul ini terkabul. Bahkan Rasul pernah berpesan kepada Umar jika dia menemukan ayat yang tidak paham maknanya agar bertanya kepada Ibnu Abbas.
Pelajaran yang didapat adalah bahwa kita boleh belajar kepada siapa saja, termasuk kepada anak muda kalau memang dia pandai.
Demikian juga jika kita memilih Pemimpin atau Imam Shalat tidak masalah meskipun berusia muda asal berkompeten.
Maka kriteria untuk menjadi Imam Shalat urutannya adalah :
- Yang fasih bacaannya.
- Yang baik akhlaknya
- Yang diterima oleh Kaumnya
- Yang matang usianya.
Dalam hal ini usia ternyata bukan paling utama. Memang pada umumnya ketika tambah usia akan tambah zuhud, tambah baik.
Manusia itu cenderung sombong karena merasa lebih. Karena merasa lebih tua dia merasa lebih baik. Karena merasa lebih lama tinggal di kampung dia merasa lebih baik. Karena merasa lebih senior di organisasi dia merasa lebih baik.
Ini keliru. Kita dapat belajar dari Perang Khondag, ternyata bukan usulan Abu Bakar atau Umar yang diterima Rasul, melainkan usulan Salman al Farisi yang merupakan orang baru masuk islam.
Maka yang paling bagus adalah bagaimana memanfaatkan semangat anak muda dan digabung dengan kebijakan orang tua. Anak muda boleh memberi nasehat kepada yang tua jika memang hal baik.
Maka kitapun memanfaatkan semangat anak muda kita untuk menjadi Sukarelawan menolong bencana ke Palu, Donggala. Sementara yang tua memberi dukungan segala sarana.
Maka mari kita turunkan Tensi Kesombongan kita. Jangan merasa lebih pandai hanya karena lebih tua. Jangan merasa lebih tahu karena lebih lama tinggal di kampung. Jangan merasa lebih hebat karena merasa lebih dulu masuk organisasi. Belajarlah dari Rasul, karena Rasul pun memerintah Umar untuk bertanya kepada Ibnu Abbas.
*Dua Nikmat yang Sering dilupakan*.
Ada dua kenikmatan yang pada umumnya membuat sebagian besar umat manusia tertipu, tidak sadar bahwa hal itu adalah kenikmatan dari Allah. Manusia baru sadar kenikmatan itu ketika kedua nikmat itu mulai hilang.
Nikmat itu adalah *KESEHATAN* dan *KESEMPATAN*
Nabi SAW bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari)
*Nikmat Kesehatan*
Manusia baru menganggap sehat itu nikmat ketika dia menderita sakit. Ketika bangun tidur kemudian membuka mata dan dapat melihat dengan jelas ternyata tidak banyak yang bersyukur dan kemudian mengucap :
“Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur”
(Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkanku setelah mematikanku, dan kepada-Nya-lah kami akan dibangkitkan).
Manusia baru ingat ketika kena sakit mata dan sulit membuka mata.
Gigi yang rutin kita pakai untuk mengunyah makanan juga tak pernah kita syukuri sebagai nikmat Allah. Baru kemudian ketika sakit gigi kita ingin agar nikmat sehatnya gigi dikembalikan.
Minuman teh hangat yang dihidangkan istri tak kita syukuri, bahkan masih protes, terlalu manis.
Padahal dengan dapat merasakan manis itu berarti kita sehat, karena ketika sakit semua terasa pahit.
Ketika sakit kita tak dapat membedakan rasa bakso-soto atau sop. Semua hanya terasa panas.
Ketika kita sakit tak dapat menikmati enaknya buah apel , mangga atau jambu. Tetapi anehnya kita baru memberi buah yang enak kepada tetangga kita ketika dia sakit dan diopname di rumah sakit. Ketika tetangga kita sehat malah tak pernah kita kirimi buah yang enak.
Padahal perintah untuk berbuat baik kepada tetangga itu setiap saat :
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim)
*Introspeksi Diri*
Allah SWT berfirman:
وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
"dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Az-Zariyat 21)
Kita diperintahkan untuk "bercermin", melihat diri kita sendiri dengan mata hati kita betapa luar biasa nikmat Allah yang diberikan.
Mulai dari sirkulasi darah di seluruh tubuh kita yang mengalir karena dipompa jantung. Luar biasa, sistem itu kemudian ditiru manusia sebagai piston dalam mesin mobil.
Kita perhatikan hal kecil, rambut dikepala kita misalnya, ada rambut dan ada alis. Sama-sama rambut tapi karakternya beda. Yang satu tumbuh terus yang lain, alis tidak tumbuh.
Bayangkan jika alis tumbuh, pasti sangat mengganggu pandangan mata. Fungsi keduanya memang beda karena alis untuk melindungi mata. Namun kembali manusia sering aneh, alis yang tidak tumbuh malah dikerok habis. Ini namanya tidak mensyukuri nikmat.
Tangan kita ini luar biasa karena mudah ditekuk. Pernah kejadian anak SMA lulus sekolah lalu ngebut dengan motor. Terjadi kecelakaan dan tangan sulit ditekuk. Untuk bisa pulih harus operasi dengan biaya yang mahal.
Itu semua adalah nikmat yang menipu. Ketika kita sehat kita sama sekali tak sadar dan tak mensyukuri nikmat kesehatan.
*Jangan suka Mengeluh*
Manusia itu dikenal sebagai suka mengeluh.
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh." (QS. Al-Ma'arij 19)
Bayangkan, ketika bangun tidur Bukannya bersyukur tapi malah mengeluh : " Aduh ...badanku sakit semua rasanya ..."
Apanya yang sakit? Apakah mata, mulut, telinga, hidung sakit? Mungkin pinggang sakit gara-gara tidur tidak ditempat biasa.
Yang sakit hanya pinggang tapi yang dikeluhkan sakit semua. Ini mengingkari nikmat Allah.
Manusia itu suka mengeluh. Dia diberi nikmat tidak bersyukur. Namun jika ada sedikit nikmat dicabut maka keluhannya seolah semua nikmat dihilangkan.
Kalau dilanjutkan, bahwa seorang suami bekerja keras mencari nafkah diberikan pada isteri. Tetapi ketika melakukan sedikit kesalahan maka isteri mengomelnya luar biasa.
Ini berlaku timbal balik, banyak juga suami yang tak menghargai kebaikan isteri.
Maka jika kita pernah menderita sakit, bagi orang mukmin itu adalah kenikmatan juga karena memberi kesempatan kepada kita untuk banyak istighfar dan dosa kita diampuni. Mungkin bisa jadi ketika sehat kita jarang istighfar.
*Ketika Tua dikembalikan seperti awal kejadian*
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(QS. Ya-Sin 68)
Ketika umur kita bertambah, kita akan merasa bahwa kondisi fisik kita yang pada saat muda itu kuat, sekarang sudah lemah.
Pengalaman pribadi, ketika muda jadi Pembimbing haji dan ada jama'ah yang hilang maka kita masih kuat dan rajin untuk mencari. Namun kemarin, karena kaki sakit , meski badan sehat sudah tak mampu lagi mencari jama'ah hilang. Akhirnya kita pasrah berdo'a minta bantuan Allah dan alhamdulillah jama'ah yang hilang ditemukan.
Ketika usia menjadi tua , dampaknya tak selalu pada fisik saja. Sebagian orang ternyata menjadi pikun (lemah ingatan). Ada kisah jama'ah lain yang punya riwayat hilang beberapa kali, karena memang pikun.
Dengan memanfaatkan jaringan Pembimbing haji kita bisa saling minta tolong dan jama'ah tadi ketemu setelah 3 hari hilang.
Menurut pengakuannya dia dolan ke rumah temannya. Namun orang yang menampung dirinya tidak pernah merasa kenal dengan dirinya. Dia hanya sekedar menolong jama'ah hilang.
Belum lagi tentang kisah jama'ah lain yang bingung :
- Ada jama'ah yang ketika di asrama Donohudan mencari becak, mau pulang ke Semarang. Untung bisa dibujuk untuk naik pesawat.
- Ada jama'ah ketika di Mekkah minta dicarikan bis, mau pulang ke Solo. Dia mungkin merasa di Semarang.
- Ada jama'ah yang gembira diberi uang 80 real. Tetapi dia kehilangan uang 500 ribu rupiah. Kalau ini jelas jama'ah tertipu.
Itu semua kisah nyata untuk pembelajaran tentang nikmat Allah.
Betapa hebatnya kesehatan fisik, akal dan jiwa kita. Ketika tubuh kita masih kuat, ingatan masih kuat kita tidak merasa hal itu adalah nikmat Allah. Kita baru sadar ketika usia tua dan kehilangan tubuh sehat dan ingatan yang kuat.
Maka kita diajari untuk berdo'a
“Allahumma ‘afini fi badani".
(Ya Allah, sehatkanlah badanku)
Dan jika diantara kita ada yang diberi kesempatan untuk tinggal bersama, merawat orang tua atau mertua maka hendaklah dirinya meningkatkan kesabarannya. Orang tua menjadi pikun itu hal yang wajar namun mudah-mudahan kita terhindar darinya.
*Bagaimana Rasulullah menjaga Kesehatan?*
Ada beberapa cara yang dilakukan Rasulullah dalam menjaga kesehatan.
1. Riyadoh (Olah Raga).
Di masa mudanya Nabi Muhammad giat berolah raga. Ada tiga macam olah raga yang dilakukan Nabi Muhammad, yaitu : Berkuda , Memanah dan Gulat. Bisa jadi Khabib Nurmagomedov , juara UFC itu mengidolakan Nabi Muhammad pada saat itu.
Di usia senja ketika di Madinah, beliau tetap berolah raga berkuda atau jalan kaki. Beliau jalan kaki dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba pulang pergi, jadi kira-kira 7 KM. Beliau berolahraga bersama isteri beliau Aisiyah.
2. Bangun sebelum Subuh.
Rasul selalu istirahat setelah shalat Isya apabila tak ada acara tertentu dan kemudian beliau selalu bangun sebelum subuh untuk shalat malam.
3. Tidak makan kecuali lapar, berhenti makan sebelum kenyang.
Muqauqis penguasa Mesir mengirim seorang tabib ke Madinah sebagai tanda persahabatan. Tabib ini bertugas mengobati penduduk Madinah. Dua tahun ia tinggal di Madinah, tapi ia tidak menjumpai seorang pun berobat kepadanya, hingga dia menanyakan ke Nabi, kok bisa….?
“Penduduk Madinah tidak ada yang sakit.” jawab Nabi SAW
“Bagaimana cara seluruh penduduk sehat?”.
Rasulullah SAW menjawab, “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar. Jika makan, kami melakukannya tidak sampai kenyang".
Salah satu sumber penyakit adalah karena tidak dapat mengendalikan isi lambung.
*Nikmat Kesempatan*
Allah memberikan kesempatan kepada kita, namun sering kita lalaikan. Kadang kita diajak untuk berbuat kebajikan, apakah itu mengikuti pengajian atau mungkin mengunjungi teman sakit, namun kita memilih untuk menunda pekan depan. Kenyataan yang terjadi pekan depannya tak ada kesempatan itu lagi. Mungkin ada acara lain atau malah orang yang mau dijenguk sudah sembuh.
Ketika ada kesempatan iedhul fitri kumpul keluarga, segera laksanakan. Belum tentu kesempatan silaturahim bisa diulang. Jangan sampai menunda-nunda maksud baik, karena itu adalah nikmat kesempatan yang diberikan.
Kesempatan sering diabaikan, bahkan kesempatan hidup sering diabaikan. Jangan sampai seseorang menunda-nunda untuk shalat jama'ah di masjid, karena bisa jadi keduluan dia harus masuk masjid untuk dishalatkan.
Jangan sampai kelak kita menyesal dan berkata :
ُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا
yaa laitanii kuntu turoobaa
(Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.) (QS. An-Naba' 40)
Dengan tetap menjadi tanah meskipun diinjak-injak, namun kelak tak perlu bertanggung jawab.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
NIKMAT YANG TERLUPAKAN
Tanggal : 5 Shafar 1440 H/ 14 Oktober 2018
Nara sumber : Drs.H. Fachrur Rozi MAg
*Turunkan Tensi Kesombongan*
Ibnu Abbas adalah seorang sahabat Rasulullah yang sangat cerdas, beliau berusia 9 tahun ketika Rasulullah wafat. Dia pernah dido'akan Rasul agar menjadi ahli agama dan do'a Rasul ini terkabul. Bahkan Rasul pernah berpesan kepada Umar jika dia menemukan ayat yang tidak paham maknanya agar bertanya kepada Ibnu Abbas.
Pelajaran yang didapat adalah bahwa kita boleh belajar kepada siapa saja, termasuk kepada anak muda kalau memang dia pandai.
Demikian juga jika kita memilih Pemimpin atau Imam Shalat tidak masalah meskipun berusia muda asal berkompeten.
Maka kriteria untuk menjadi Imam Shalat urutannya adalah :
- Yang fasih bacaannya.
- Yang baik akhlaknya
- Yang diterima oleh Kaumnya
- Yang matang usianya.
Dalam hal ini usia ternyata bukan paling utama. Memang pada umumnya ketika tambah usia akan tambah zuhud, tambah baik.
Manusia itu cenderung sombong karena merasa lebih. Karena merasa lebih tua dia merasa lebih baik. Karena merasa lebih lama tinggal di kampung dia merasa lebih baik. Karena merasa lebih senior di organisasi dia merasa lebih baik.
Ini keliru. Kita dapat belajar dari Perang Khondag, ternyata bukan usulan Abu Bakar atau Umar yang diterima Rasul, melainkan usulan Salman al Farisi yang merupakan orang baru masuk islam.
Maka yang paling bagus adalah bagaimana memanfaatkan semangat anak muda dan digabung dengan kebijakan orang tua. Anak muda boleh memberi nasehat kepada yang tua jika memang hal baik.
Maka kitapun memanfaatkan semangat anak muda kita untuk menjadi Sukarelawan menolong bencana ke Palu, Donggala. Sementara yang tua memberi dukungan segala sarana.
Maka mari kita turunkan Tensi Kesombongan kita. Jangan merasa lebih pandai hanya karena lebih tua. Jangan merasa lebih tahu karena lebih lama tinggal di kampung. Jangan merasa lebih hebat karena merasa lebih dulu masuk organisasi. Belajarlah dari Rasul, karena Rasul pun memerintah Umar untuk bertanya kepada Ibnu Abbas.
*Dua Nikmat yang Sering dilupakan*.
Ada dua kenikmatan yang pada umumnya membuat sebagian besar umat manusia tertipu, tidak sadar bahwa hal itu adalah kenikmatan dari Allah. Manusia baru sadar kenikmatan itu ketika kedua nikmat itu mulai hilang.
Nikmat itu adalah *KESEHATAN* dan *KESEMPATAN*
Nabi SAW bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari)
*Nikmat Kesehatan*
Manusia baru menganggap sehat itu nikmat ketika dia menderita sakit. Ketika bangun tidur kemudian membuka mata dan dapat melihat dengan jelas ternyata tidak banyak yang bersyukur dan kemudian mengucap :
“Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur”
(Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkanku setelah mematikanku, dan kepada-Nya-lah kami akan dibangkitkan).
Manusia baru ingat ketika kena sakit mata dan sulit membuka mata.
Gigi yang rutin kita pakai untuk mengunyah makanan juga tak pernah kita syukuri sebagai nikmat Allah. Baru kemudian ketika sakit gigi kita ingin agar nikmat sehatnya gigi dikembalikan.
Minuman teh hangat yang dihidangkan istri tak kita syukuri, bahkan masih protes, terlalu manis.
Padahal dengan dapat merasakan manis itu berarti kita sehat, karena ketika sakit semua terasa pahit.
Ketika sakit kita tak dapat membedakan rasa bakso-soto atau sop. Semua hanya terasa panas.
Ketika kita sakit tak dapat menikmati enaknya buah apel , mangga atau jambu. Tetapi anehnya kita baru memberi buah yang enak kepada tetangga kita ketika dia sakit dan diopname di rumah sakit. Ketika tetangga kita sehat malah tak pernah kita kirimi buah yang enak.
Padahal perintah untuk berbuat baik kepada tetangga itu setiap saat :
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim)
*Introspeksi Diri*
Allah SWT berfirman:
وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
"dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Az-Zariyat 21)
Kita diperintahkan untuk "bercermin", melihat diri kita sendiri dengan mata hati kita betapa luar biasa nikmat Allah yang diberikan.
Mulai dari sirkulasi darah di seluruh tubuh kita yang mengalir karena dipompa jantung. Luar biasa, sistem itu kemudian ditiru manusia sebagai piston dalam mesin mobil.
Kita perhatikan hal kecil, rambut dikepala kita misalnya, ada rambut dan ada alis. Sama-sama rambut tapi karakternya beda. Yang satu tumbuh terus yang lain, alis tidak tumbuh.
Bayangkan jika alis tumbuh, pasti sangat mengganggu pandangan mata. Fungsi keduanya memang beda karena alis untuk melindungi mata. Namun kembali manusia sering aneh, alis yang tidak tumbuh malah dikerok habis. Ini namanya tidak mensyukuri nikmat.
Tangan kita ini luar biasa karena mudah ditekuk. Pernah kejadian anak SMA lulus sekolah lalu ngebut dengan motor. Terjadi kecelakaan dan tangan sulit ditekuk. Untuk bisa pulih harus operasi dengan biaya yang mahal.
Itu semua adalah nikmat yang menipu. Ketika kita sehat kita sama sekali tak sadar dan tak mensyukuri nikmat kesehatan.
*Jangan suka Mengeluh*
Manusia itu dikenal sebagai suka mengeluh.
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh." (QS. Al-Ma'arij 19)
Bayangkan, ketika bangun tidur Bukannya bersyukur tapi malah mengeluh : " Aduh ...badanku sakit semua rasanya ..."
Apanya yang sakit? Apakah mata, mulut, telinga, hidung sakit? Mungkin pinggang sakit gara-gara tidur tidak ditempat biasa.
Yang sakit hanya pinggang tapi yang dikeluhkan sakit semua. Ini mengingkari nikmat Allah.
Manusia itu suka mengeluh. Dia diberi nikmat tidak bersyukur. Namun jika ada sedikit nikmat dicabut maka keluhannya seolah semua nikmat dihilangkan.
Kalau dilanjutkan, bahwa seorang suami bekerja keras mencari nafkah diberikan pada isteri. Tetapi ketika melakukan sedikit kesalahan maka isteri mengomelnya luar biasa.
Ini berlaku timbal balik, banyak juga suami yang tak menghargai kebaikan isteri.
Maka jika kita pernah menderita sakit, bagi orang mukmin itu adalah kenikmatan juga karena memberi kesempatan kepada kita untuk banyak istighfar dan dosa kita diampuni. Mungkin bisa jadi ketika sehat kita jarang istighfar.
*Ketika Tua dikembalikan seperti awal kejadian*
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(QS. Ya-Sin 68)
Ketika umur kita bertambah, kita akan merasa bahwa kondisi fisik kita yang pada saat muda itu kuat, sekarang sudah lemah.
Pengalaman pribadi, ketika muda jadi Pembimbing haji dan ada jama'ah yang hilang maka kita masih kuat dan rajin untuk mencari. Namun kemarin, karena kaki sakit , meski badan sehat sudah tak mampu lagi mencari jama'ah hilang. Akhirnya kita pasrah berdo'a minta bantuan Allah dan alhamdulillah jama'ah yang hilang ditemukan.
Ketika usia menjadi tua , dampaknya tak selalu pada fisik saja. Sebagian orang ternyata menjadi pikun (lemah ingatan). Ada kisah jama'ah lain yang punya riwayat hilang beberapa kali, karena memang pikun.
Dengan memanfaatkan jaringan Pembimbing haji kita bisa saling minta tolong dan jama'ah tadi ketemu setelah 3 hari hilang.
Menurut pengakuannya dia dolan ke rumah temannya. Namun orang yang menampung dirinya tidak pernah merasa kenal dengan dirinya. Dia hanya sekedar menolong jama'ah hilang.
Belum lagi tentang kisah jama'ah lain yang bingung :
- Ada jama'ah yang ketika di asrama Donohudan mencari becak, mau pulang ke Semarang. Untung bisa dibujuk untuk naik pesawat.
- Ada jama'ah ketika di Mekkah minta dicarikan bis, mau pulang ke Solo. Dia mungkin merasa di Semarang.
- Ada jama'ah yang gembira diberi uang 80 real. Tetapi dia kehilangan uang 500 ribu rupiah. Kalau ini jelas jama'ah tertipu.
Itu semua kisah nyata untuk pembelajaran tentang nikmat Allah.
Betapa hebatnya kesehatan fisik, akal dan jiwa kita. Ketika tubuh kita masih kuat, ingatan masih kuat kita tidak merasa hal itu adalah nikmat Allah. Kita baru sadar ketika usia tua dan kehilangan tubuh sehat dan ingatan yang kuat.
Maka kita diajari untuk berdo'a
“Allahumma ‘afini fi badani".
(Ya Allah, sehatkanlah badanku)
Dan jika diantara kita ada yang diberi kesempatan untuk tinggal bersama, merawat orang tua atau mertua maka hendaklah dirinya meningkatkan kesabarannya. Orang tua menjadi pikun itu hal yang wajar namun mudah-mudahan kita terhindar darinya.
*Bagaimana Rasulullah menjaga Kesehatan?*
Ada beberapa cara yang dilakukan Rasulullah dalam menjaga kesehatan.
1. Riyadoh (Olah Raga).
Di masa mudanya Nabi Muhammad giat berolah raga. Ada tiga macam olah raga yang dilakukan Nabi Muhammad, yaitu : Berkuda , Memanah dan Gulat. Bisa jadi Khabib Nurmagomedov , juara UFC itu mengidolakan Nabi Muhammad pada saat itu.
Di usia senja ketika di Madinah, beliau tetap berolah raga berkuda atau jalan kaki. Beliau jalan kaki dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba pulang pergi, jadi kira-kira 7 KM. Beliau berolahraga bersama isteri beliau Aisiyah.
2. Bangun sebelum Subuh.
Rasul selalu istirahat setelah shalat Isya apabila tak ada acara tertentu dan kemudian beliau selalu bangun sebelum subuh untuk shalat malam.
3. Tidak makan kecuali lapar, berhenti makan sebelum kenyang.
Muqauqis penguasa Mesir mengirim seorang tabib ke Madinah sebagai tanda persahabatan. Tabib ini bertugas mengobati penduduk Madinah. Dua tahun ia tinggal di Madinah, tapi ia tidak menjumpai seorang pun berobat kepadanya, hingga dia menanyakan ke Nabi, kok bisa….?
“Penduduk Madinah tidak ada yang sakit.” jawab Nabi SAW
“Bagaimana cara seluruh penduduk sehat?”.
Rasulullah SAW menjawab, “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar. Jika makan, kami melakukannya tidak sampai kenyang".
Salah satu sumber penyakit adalah karena tidak dapat mengendalikan isi lambung.
*Nikmat Kesempatan*
Allah memberikan kesempatan kepada kita, namun sering kita lalaikan. Kadang kita diajak untuk berbuat kebajikan, apakah itu mengikuti pengajian atau mungkin mengunjungi teman sakit, namun kita memilih untuk menunda pekan depan. Kenyataan yang terjadi pekan depannya tak ada kesempatan itu lagi. Mungkin ada acara lain atau malah orang yang mau dijenguk sudah sembuh.
Ketika ada kesempatan iedhul fitri kumpul keluarga, segera laksanakan. Belum tentu kesempatan silaturahim bisa diulang. Jangan sampai menunda-nunda maksud baik, karena itu adalah nikmat kesempatan yang diberikan.
Kesempatan sering diabaikan, bahkan kesempatan hidup sering diabaikan. Jangan sampai seseorang menunda-nunda untuk shalat jama'ah di masjid, karena bisa jadi keduluan dia harus masuk masjid untuk dishalatkan.
Jangan sampai kelak kita menyesal dan berkata :
ُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا
yaa laitanii kuntu turoobaa
(Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.) (QS. An-Naba' 40)
Dengan tetap menjadi tanah meskipun diinjak-injak, namun kelak tak perlu bertanggung jawab.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Minggu, 07 Oktober 2018
Kajian Ahad Sendang Gede
Kajian Ahad SENDANG GEDE
Dr.Drs. H. Rozihan SH, MAg
27 Muharram 1440 H / 7 Oktober 2018
KARUNIA ILMU & HARTA
*Karunia Allah*
Ada beberapa karunia dari Allah SWT seperti Petunjuk, Naluri, Ilmu, Harta, Iman.
Semua orang diberi Petunjuk, berupa Naluri. Misalnya kalau lapar maka nalurinya mencari makan. Jika mendapat serangan atau ancaman berusaha menghindar. Itu naluri yang sama dan dipunyai oleh semuanya.
Namun terkait Petunjuk atau Hidayah keimanan tidak diberikan kepada semua orang.
Terkait dengan Ilmu dan Harta atau Kekayaan diberikan Allah kepada mereka yang mau dan berusaha mendapatnya. Jika tidak mau maka tidak diberi oleh Allah.
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰٮهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَآءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْـتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ
"Bukanlah kewajibanmu Muhammad menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka kebaikannya untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi pahala secara penuh dan kamu tidak akan dirugikan." (QS. Al-Baqarah 272)
*Petunjuk itu dari Allah*
Manusia tak dapat memberi Petunjuk kepada orang lain. Orang tua tak dapat memberi petunjuk kepada anaknya. Sejarah kemanusiaan membuktikan bahwa Nabi Nuh tak dapat memberi petunjuk kepada anaknya , sehingga anaknya menjadi sesat.
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ
"Sungguh, engkau Muhammad tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki..." (QS. Al-Qasas 56)
Nabi Muhammad ternyata tak dapat memberi petunjuk kepada Paman yang dikasihinya.
Maka jika kita memberi Petunjuk atau nasehat kepada siapapun tak perlu ngotot, karena memang kita tak diberi kemampuan untuk meyakinkan seseorang. Petunjuk atau hidayah itu wewenang Allah.
Ketika kita menasehati anak itu adalah usaha kita agar anak tidak tersesat. Disamping usaha kita perlu untuk mendo'akan anak.
Nabi mengajarkan kepada kita untuk mendo'akan anak sebagai berikut :
اللهم بارك لي في أولادي واحفظهم وارزقهم ولا تضرهم ووفقهم لطاعتك وارزقنا برهم…
Allahumma barik li fi auladi wahfadhum warzuqhum wa la tadhurrahum wawaffiqhum litho’atik warzuqna birrohum…
Artinya :
“Ya Allah berkatilah aku dalam urusan anak-anak ku, mohon jagalah mereka, anugerahi mereka, jangan lah Engkau murka pada mereka, berilah taufiq agar mereka taat kepada Engkau, dan anugerahi kami atas bakti mereka…”
Dalam surat Al Ahkaf ayat 15 juga dikatakan kita tak punya apa-apa dan tak bisa apa-apa. Karena ketika manusia lahir tak bisa apa-apa.
Maka kita diajarkan berdo'a :
... رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ ۚ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
... robbi auzi'niii an asykuro ni'matakallatiii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu wa ashlih lii fii zurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal-muslimiin
"Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.".(QS. Al-Ahqaf 15)
Ada orang diberi nikmat tetapi tak tahu kalau itu nikmat bahkan menyalah-gunakan nikmat. Buktinya ketika tak punya uang dia mengeluh, padahal dia diberi nikmat berupa kesehatan.
Bukankah sehat itu lebih baik daripada punya uang?
Maka tidak mudah untuk mensyukuri nikmat, kita perlu berdo'a untuk itu. Tidak hanya kepada diri sendiri tapi juga minta agar terhadap orang tua diberi kemampuan bersyukur.
Bayangkan ketika orang tua kita berusia lanjut, maka akan seperti anak kecil lagi. Emosinya tinggi dan merasa dirinya yang paling benar.
Ini sudah disebutkan dalam Al Qur'an :
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(QS. Ya-Sin 68)
Maka yang muda harus minta kekuatan untuk bersyukur, orang muda harus sabar agar dapat melayani orang tua. Tentu saja ini tak mudah.
Dengan sabar dan shalat kita minta pertolongan Allah. Memang Sabar dan Shalat yang khusyuk itu suatu hal yang berat, tetapi harus diusahakan.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ
"Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sabar dan sholat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS. Al-Baqarah 45)
Bukti bahwa shalat itu berat, ketika shalat kita sulit khusyuk, pikiran melayang kemana-mana.
Dengan doa kita meminta agar anak kita sholeh. Sholeh itu meliputi semua kebaikan.
*Berbuat baik dengan Harta, Kekayaan dan Ilmu*
Karunia Allah ada dua, harta atau kekayaan dan ilmu. Namun kedua hal itu diberikan kepada mereka yang mengusahakan. Harta tak sama dengan Kekayaan. Harta itu tidak selalu uang. Harta atau Kekayaan termasuk kesehatan kita, anak yang sholeh termasuk Kekayaan.
Ketika kita berbuat baik dengan harta, misal menolong orang dengan harta kita maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Demikian juga jika melakukan kejahatan kepada orang lain, maka kejahatan itu untuk diri kita sendiri.
Karunia berupa harta dan ilmu hanya diberikan kepada yang mengusahakan. Maka ada beberapa kondisi kepemilikan karunia.
*1. Diberi harta dan ilmu.*
Ini adalah orang yang beruntung. Dia tahu maksudnya harta itu untuk apa. Dia tahu harta sebagian untuk disimpan, sebagian untuk dibelanjakan dan sebagian untuk sedekah. Dia itu berjalan diatas bumi dengan rendah hati , tidak sombong.
Bila punya uang tak punya ilmu akan sombong, contohnya Fir'aun.
Orang tak punya ilmu ibarat burung beo, selalu mengucap sesuatu tapi tak faham maksudnya.
Orang berilmu selalu berusaha mencari faham. Ketika shalat dia faham maknanya, faham yang diucapkan. Maka ketika shalat kita tidak faham 100% , kita diberi kesempatan untuk menyempurnakannya dengan mengerjakan shalat sunah qabliyah dan bakdiyah.
Orang berilmu dan punya harta , dia tahu bahwa uang adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan.
Bagaimana uangnya, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa , ada manfaatnya atau tidak. Tidak semua barang dibeli olehnya.
ثُمَّ لَـتُسْئَـلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ
"kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang megah di dunia itu". (QS. At-Takasur 8)
Orang berilmu itu rendah hati dan menebarkan salam (keselamatan).
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina , mereka mengucapkan, salam," (QS. Al-Furqan 63)
Jika dia berbuat baik tidak dipamerkan karena dia tahu bahwa yang dikerjakan masih belum banyak. Beda dengan orang tanpa ilmu, dia senang memamerkan amalannya.
Berbuat baik itu tidak harus paling banyak, tetapi berbuat baik yang terbaik. Seperti kita lihat dalam ayat:
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya...,"
(QS. Al-Mulk 2)
Kehidupan ini adalah ujian. Maka tiap orang pasti punya masalah. Namun masalahnya berbeda-beda. Maka orang Jawa mengatakan bahwa kehidupan itu : "Wang-sinawang".
Allah memberikan ujian sesuai kemampuan. Bagi yang kaya diperintah sedekah harta. Lalu bagaimana orang miskin bersedekah? Kepada orang miskin diberi karunia bahwa dengan mengucap Tasbih, Tahmid dan Tahlil itu bernilai sedekah.
Orang berilmu jika dikritik dia menjawab dengan sabar. Karena menasehati orang bodoh itu memang sulit. Maka membutuhkan kesabaran. Bila tidak sabar hanya akan jadi perdebatan.
Bila orang berilmu maka dia mudah mencerna nasehat, karena dia mudah faham. Bahkan Allah juga membedakan antara orang berilmu dan tidak.
... قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ
"... Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar 9)
Maka orang berilmupun akan mencari ibadah yang efektif, usaha sedikit namun nilainya banyak.
Belum tentu yang terbanyak amalnya itu yang paling baik , kita tak tahu siapa yang amalnya terbaik. Namun hanya orang berilmu bisa memilih amalan terbaik.
*2. Diberi Ilmu tanpa Harta.*
Punya ilmu tak punya harta, namun
dengan ilmu dia menciptakan kreativitas dan idealisme akan tumbuh dan menjadi rujukan.
Bila punya sedikit uang dia berusaha mengembangkan uangnya. Mungkin dengan membuka usaha atau jasa.
Contoh orang berilmu tapi tak punya harta adalah Nabi Musa. Ilmu yang diperoleh Nabi Musa tentang api yang dapat jadi penerang dan penghangat.
اِذْ قَالَ مُوْسٰى لِاَهْلِهٖۤ اِنِّيْۤ اٰنَسْتُ نَارًا ۗ سَاٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِخَبَرٍ اَوْ اٰتِيْكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَّعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ
"Ingatlah ketika Musa berkata kepada keluarganya, Sungguh, aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api (obor) kepadamu agar kamu dapat berdiang." (QS. An-Naml 7)
Meskipun Musa pandai, namun Allah menyampaikan bahwa diatas orang pandai selalu ada yang lebih pandai. Maka Nabi Musa diperintah untuk belajar ilmu hikmah kepada Nabi Khidir. Maknanya adalah untuk terus menerus mencari ilmu dan jangan sombong.
*3. Diberi Harta tanpa Ilmu.*
Harta tanpa ilmu rapuh karena tidak bisa memanage, akhirnya terjadi kesombongan dan kikir.
Contoh misal orang mau haji tetapi menjual rumahnya, ini keliru karena hartanya akan habis. Dia tak mengelola hartanya.
Akibat lain karena tak punya ilmu dan ingin hartanya tak berkurang, dia menjadi kikir. Kemudian dia akan mengajari orang lain untuk kikir.
Allah SWT berfirman:
.... اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرَا
الَّذِيْنَ يَـبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ وَ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا
".. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan." (QS. An-Nisa' 36-37).
*4. Tidak punya Harta dan Ilmu.*
Orang yang celaka , orang yang paling rendah derajatnya susah menjalani kehidupan, bodoh dan miskin. Kebodohan dan kemiskinan itu bukan takdir, melainkan karena kemalasan tak mau usaha.
... اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ ۗ
"... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.." (QS. Ar-Ra'd 11)
Perintahnya adalah mengubah cara berfikir. Artinya dia harus mau berusaha karena orang yang lemah tidak disukai oleh Allah.
*5. Punya Harta, punya Ilmu dan Iman*
Orang yang punya ketiganya : Harta, Ilmu dan Iman akan mulia. Adapun yang punya Harta, Ilmu tapi tak punya Iman akan celaka.
Harta dan ilmunya akan menjadi Perhiasan yang mencelakakan.
فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ
وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَانَنِ
"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku."
(QS. Al-Fajr 15-16)
Padahal orang harus memanfaatkan semua potensinya secara optimal. Untuk mencapai kemuliaan , orang harus kerja keras.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Dr.Drs. H. Rozihan SH, MAg
27 Muharram 1440 H / 7 Oktober 2018
KARUNIA ILMU & HARTA
*Karunia Allah*
Ada beberapa karunia dari Allah SWT seperti Petunjuk, Naluri, Ilmu, Harta, Iman.
Semua orang diberi Petunjuk, berupa Naluri. Misalnya kalau lapar maka nalurinya mencari makan. Jika mendapat serangan atau ancaman berusaha menghindar. Itu naluri yang sama dan dipunyai oleh semuanya.
Namun terkait Petunjuk atau Hidayah keimanan tidak diberikan kepada semua orang.
Terkait dengan Ilmu dan Harta atau Kekayaan diberikan Allah kepada mereka yang mau dan berusaha mendapatnya. Jika tidak mau maka tidak diberi oleh Allah.
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰٮهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَآءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْـتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ
"Bukanlah kewajibanmu Muhammad menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka kebaikannya untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi pahala secara penuh dan kamu tidak akan dirugikan." (QS. Al-Baqarah 272)
*Petunjuk itu dari Allah*
Manusia tak dapat memberi Petunjuk kepada orang lain. Orang tua tak dapat memberi petunjuk kepada anaknya. Sejarah kemanusiaan membuktikan bahwa Nabi Nuh tak dapat memberi petunjuk kepada anaknya , sehingga anaknya menjadi sesat.
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ
"Sungguh, engkau Muhammad tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki..." (QS. Al-Qasas 56)
Nabi Muhammad ternyata tak dapat memberi petunjuk kepada Paman yang dikasihinya.
Maka jika kita memberi Petunjuk atau nasehat kepada siapapun tak perlu ngotot, karena memang kita tak diberi kemampuan untuk meyakinkan seseorang. Petunjuk atau hidayah itu wewenang Allah.
Ketika kita menasehati anak itu adalah usaha kita agar anak tidak tersesat. Disamping usaha kita perlu untuk mendo'akan anak.
Nabi mengajarkan kepada kita untuk mendo'akan anak sebagai berikut :
اللهم بارك لي في أولادي واحفظهم وارزقهم ولا تضرهم ووفقهم لطاعتك وارزقنا برهم…
Allahumma barik li fi auladi wahfadhum warzuqhum wa la tadhurrahum wawaffiqhum litho’atik warzuqna birrohum…
Artinya :
“Ya Allah berkatilah aku dalam urusan anak-anak ku, mohon jagalah mereka, anugerahi mereka, jangan lah Engkau murka pada mereka, berilah taufiq agar mereka taat kepada Engkau, dan anugerahi kami atas bakti mereka…”
Dalam surat Al Ahkaf ayat 15 juga dikatakan kita tak punya apa-apa dan tak bisa apa-apa. Karena ketika manusia lahir tak bisa apa-apa.
Maka kita diajarkan berdo'a :
... رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ ۚ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
... robbi auzi'niii an asykuro ni'matakallatiii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu wa ashlih lii fii zurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal-muslimiin
"Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.".(QS. Al-Ahqaf 15)
Ada orang diberi nikmat tetapi tak tahu kalau itu nikmat bahkan menyalah-gunakan nikmat. Buktinya ketika tak punya uang dia mengeluh, padahal dia diberi nikmat berupa kesehatan.
Bukankah sehat itu lebih baik daripada punya uang?
Maka tidak mudah untuk mensyukuri nikmat, kita perlu berdo'a untuk itu. Tidak hanya kepada diri sendiri tapi juga minta agar terhadap orang tua diberi kemampuan bersyukur.
Bayangkan ketika orang tua kita berusia lanjut, maka akan seperti anak kecil lagi. Emosinya tinggi dan merasa dirinya yang paling benar.
Ini sudah disebutkan dalam Al Qur'an :
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(QS. Ya-Sin 68)
Maka yang muda harus minta kekuatan untuk bersyukur, orang muda harus sabar agar dapat melayani orang tua. Tentu saja ini tak mudah.
Dengan sabar dan shalat kita minta pertolongan Allah. Memang Sabar dan Shalat yang khusyuk itu suatu hal yang berat, tetapi harus diusahakan.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ
"Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sabar dan sholat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS. Al-Baqarah 45)
Bukti bahwa shalat itu berat, ketika shalat kita sulit khusyuk, pikiran melayang kemana-mana.
Dengan doa kita meminta agar anak kita sholeh. Sholeh itu meliputi semua kebaikan.
*Berbuat baik dengan Harta, Kekayaan dan Ilmu*
Karunia Allah ada dua, harta atau kekayaan dan ilmu. Namun kedua hal itu diberikan kepada mereka yang mengusahakan. Harta tak sama dengan Kekayaan. Harta itu tidak selalu uang. Harta atau Kekayaan termasuk kesehatan kita, anak yang sholeh termasuk Kekayaan.
Ketika kita berbuat baik dengan harta, misal menolong orang dengan harta kita maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Demikian juga jika melakukan kejahatan kepada orang lain, maka kejahatan itu untuk diri kita sendiri.
Karunia berupa harta dan ilmu hanya diberikan kepada yang mengusahakan. Maka ada beberapa kondisi kepemilikan karunia.
*1. Diberi harta dan ilmu.*
Ini adalah orang yang beruntung. Dia tahu maksudnya harta itu untuk apa. Dia tahu harta sebagian untuk disimpan, sebagian untuk dibelanjakan dan sebagian untuk sedekah. Dia itu berjalan diatas bumi dengan rendah hati , tidak sombong.
Bila punya uang tak punya ilmu akan sombong, contohnya Fir'aun.
Orang tak punya ilmu ibarat burung beo, selalu mengucap sesuatu tapi tak faham maksudnya.
Orang berilmu selalu berusaha mencari faham. Ketika shalat dia faham maknanya, faham yang diucapkan. Maka ketika shalat kita tidak faham 100% , kita diberi kesempatan untuk menyempurnakannya dengan mengerjakan shalat sunah qabliyah dan bakdiyah.
Orang berilmu dan punya harta , dia tahu bahwa uang adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan.
Bagaimana uangnya, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa , ada manfaatnya atau tidak. Tidak semua barang dibeli olehnya.
ثُمَّ لَـتُسْئَـلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ
"kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang megah di dunia itu". (QS. At-Takasur 8)
Orang berilmu itu rendah hati dan menebarkan salam (keselamatan).
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina , mereka mengucapkan, salam," (QS. Al-Furqan 63)
Jika dia berbuat baik tidak dipamerkan karena dia tahu bahwa yang dikerjakan masih belum banyak. Beda dengan orang tanpa ilmu, dia senang memamerkan amalannya.
Berbuat baik itu tidak harus paling banyak, tetapi berbuat baik yang terbaik. Seperti kita lihat dalam ayat:
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya...,"
(QS. Al-Mulk 2)
Kehidupan ini adalah ujian. Maka tiap orang pasti punya masalah. Namun masalahnya berbeda-beda. Maka orang Jawa mengatakan bahwa kehidupan itu : "Wang-sinawang".
Allah memberikan ujian sesuai kemampuan. Bagi yang kaya diperintah sedekah harta. Lalu bagaimana orang miskin bersedekah? Kepada orang miskin diberi karunia bahwa dengan mengucap Tasbih, Tahmid dan Tahlil itu bernilai sedekah.
Orang berilmu jika dikritik dia menjawab dengan sabar. Karena menasehati orang bodoh itu memang sulit. Maka membutuhkan kesabaran. Bila tidak sabar hanya akan jadi perdebatan.
Bila orang berilmu maka dia mudah mencerna nasehat, karena dia mudah faham. Bahkan Allah juga membedakan antara orang berilmu dan tidak.
... قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ
"... Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar 9)
Maka orang berilmupun akan mencari ibadah yang efektif, usaha sedikit namun nilainya banyak.
Belum tentu yang terbanyak amalnya itu yang paling baik , kita tak tahu siapa yang amalnya terbaik. Namun hanya orang berilmu bisa memilih amalan terbaik.
*2. Diberi Ilmu tanpa Harta.*
Punya ilmu tak punya harta, namun
dengan ilmu dia menciptakan kreativitas dan idealisme akan tumbuh dan menjadi rujukan.
Bila punya sedikit uang dia berusaha mengembangkan uangnya. Mungkin dengan membuka usaha atau jasa.
Contoh orang berilmu tapi tak punya harta adalah Nabi Musa. Ilmu yang diperoleh Nabi Musa tentang api yang dapat jadi penerang dan penghangat.
اِذْ قَالَ مُوْسٰى لِاَهْلِهٖۤ اِنِّيْۤ اٰنَسْتُ نَارًا ۗ سَاٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِخَبَرٍ اَوْ اٰتِيْكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَّعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ
"Ingatlah ketika Musa berkata kepada keluarganya, Sungguh, aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api (obor) kepadamu agar kamu dapat berdiang." (QS. An-Naml 7)
Meskipun Musa pandai, namun Allah menyampaikan bahwa diatas orang pandai selalu ada yang lebih pandai. Maka Nabi Musa diperintah untuk belajar ilmu hikmah kepada Nabi Khidir. Maknanya adalah untuk terus menerus mencari ilmu dan jangan sombong.
*3. Diberi Harta tanpa Ilmu.*
Harta tanpa ilmu rapuh karena tidak bisa memanage, akhirnya terjadi kesombongan dan kikir.
Contoh misal orang mau haji tetapi menjual rumahnya, ini keliru karena hartanya akan habis. Dia tak mengelola hartanya.
Akibat lain karena tak punya ilmu dan ingin hartanya tak berkurang, dia menjadi kikir. Kemudian dia akan mengajari orang lain untuk kikir.
Allah SWT berfirman:
.... اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرَا
الَّذِيْنَ يَـبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ وَ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا
".. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan." (QS. An-Nisa' 36-37).
*4. Tidak punya Harta dan Ilmu.*
Orang yang celaka , orang yang paling rendah derajatnya susah menjalani kehidupan, bodoh dan miskin. Kebodohan dan kemiskinan itu bukan takdir, melainkan karena kemalasan tak mau usaha.
... اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ ۗ
"... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.." (QS. Ar-Ra'd 11)
Perintahnya adalah mengubah cara berfikir. Artinya dia harus mau berusaha karena orang yang lemah tidak disukai oleh Allah.
*5. Punya Harta, punya Ilmu dan Iman*
Orang yang punya ketiganya : Harta, Ilmu dan Iman akan mulia. Adapun yang punya Harta, Ilmu tapi tak punya Iman akan celaka.
Harta dan ilmunya akan menjadi Perhiasan yang mencelakakan.
فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ
وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَانَنِ
"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku."
(QS. Al-Fajr 15-16)
Padahal orang harus memanfaatkan semua potensinya secara optimal. Untuk mencapai kemuliaan , orang harus kerja keras.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Minggu, 30 September 2018
Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik
PELAJARAN POLITIK DARI FATHU MEKKAH
Tanggal : 20 Muharram 1440 H/ 30 September 2018
Nara sumber : Dr. H. Zuhad Masduqi MA
*Agresi Rezim Mekkah*
Kemenangan Nabi Muhammad SAW terhadap rezim Mekkah yang dipimpin Abu Sufyan diabadikan dalam Surat An Nasr yang termasuk dalam juz Amma. Surat ini merupakan Surat Madaniyah karena turun di Medinah.
اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ
وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat." (QS. An-Nasr Ayat 1-3)
Untuk memahami surat ini, kita harus mengetahui peristiwa-peristiwa yang melatar-belakanginya. Peristiwa itu terjadi saat Fathu (penaklukan) Mekkah
Rezim Abu Sufyan terus menerus menekan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Para Sahabat sampai pernah hijrah ke Habasyah dalam rangka menghindar dari tekanan Rezim Mekkah.
Pada akhirnya tahun ke 13 setelah kenabian, Nabi hijrah ke Madinah.
Di Madinah nabi memperoleh kekuatan politik , sosial dan ekonomi. Sehingga kemudian beliau bisa melawan agresi yang dilakukan rezim Mekkah. Agresi ini dilakukan berkali-kali.
Agresi pertama terjadi pada tahun kedua Hijrah yaitu yang disebut dengan Perang Badar.
Agresi kedua yaitu Perang Khandag dimana Abu Sufyan mengerahkan seluruh kekuatan Mekkah. Nabi Muhammad SAW bertahan di dalam kota Madinah.
Ada sahabat bernama Salman al Farisi mengusulkan supaya pertahanannya dengan cara membuat parit lebar 3 meter dan dalam 3 meter sehingga pasukan Ahzab (gabungan musuh) tak dapat masuk ke dalam kota Madinah. Pasukan Ahzab diporak-porandakan oleh badai gurun.
Agresi berikutnya Perang Uhud dimana pasukan Mekkah dapat mengalahkan Nabi Muhammad SAW, karena ada pasukan islam yang tidak menaati perintah Rasul SAW.
Jadi meskipun Nabi Muhammad SAW sudah hijrah ke Madinah, namun kaum kafir tetap ingin menghancurkan umat islam. Dari sejarah diketahui bahwa Nabi bersifat defensif.
*Perjanjian Hudaibiyah*
Pada tahun ke 6 H, Rasul dan para Sahabat ingin melaksanakan umrah.
Waktu itu peserta Umrah jumlahnya sekitar 4000 orang. Namun di Hudaibiyah, sebelum masuk Mekkah, Nabi Muhammad SAW dihadang oleh Rezim Mekkah.
Terjadi perundingan yang alot. Akhirnya dikirim Usman bin Affan yang dekat dengan Rezim Mekkah oleh Nabi untuk berunding. Namun Usman tidak segera pulang-pulang sehingga timbul desas-desus Usman dibunuh. Para Sahabat Nabi tetap bertahan di Hudaibiyah siap untuk perang. Mereka berbai'at untuk bertahan. Ketika itu Usman pulang dan ikut berbai'at. Bai'atnya dikenal sebagai Bai'atur Ridhwan.
Selanjutnya perundingan dilanjutkan di Hudaibiyah. Secara politik ini merupakan kemenangan politik umat islam , karena berarti islam sudah diakui kekuatannya oleh Rezim Mekkah, hingga mereka mau datang berunding.
Hasil perundingan sebagai berikut :
1. Kalimat Muhammad Rasulullah, tidak disetujui Rezim Mekkah
, diganti Muhammad bin Abdullah.
Kata Bismillahir rohmanir rohiem juga tidak disetujui.
2. Jika ada Orang Mekkah masuk islam ke Medinah , maka Muhammad harus mengembalikan ke Mekkah.
Tetapi jika ada orang Medinah yang murtad dan kembali ke Mekkah maka orang Medinah tidak berhak meminta orang ini.
Pada awalnya Umar bin Khattab tidak menerima ini, karena berarti pengikut Rezim Mekkah akan tambah banyak dan Umat Islam berkurang. Namun hal ini diterima oleh Nabi Muhammad SAW.
3. Setelah perjanjian ini maka orang Arab bebas untuk berkoalisi. Mau pilih Rezim Mekkah atau Umat Islam. Ini merupakan kemenangan Politik umat islam, karena pada awalnya orang Arab tidak bebas memilih.
Maka sesuatu yang kelihatannya buruk dampaknya belum tentu buruk.
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)
4. Pada tahun tersebut Nabi tak boleh melaksanakan Umrah. Umrah diijinkan tahun depan dengan catatan tidak boleh membawa senjata.
Akhirnya setelah perjanjian ditandatangani , Nabi Muhammad SAW bersama sahabat kembali ke Madinah. Tahun berikutnya baru melaksanakan Umrah. Maka umrah itu disebut Umratul Qadha'
*Pelaksanaan Perjanjian Hudaibiyah*
Setelah Nabi kembali ke Madinah, banyak orang Mekkah yang menyatakan masuk Islam dan bergabung dengan Nabi Muhammad SAW. Namun karena Nabi terikat perjanjian Hudaibiyah, mereka orang Mekkah itu diterima masuk islam tapi harus keluar dari Madinah. Mereka keluar dari Madinah tapi tak mau pulang ke Mekkah. Mereka bermukim didekat jalan antara Mekkah dan Madinah. Jika ada orang Mekkah lewat, mereka merampok orang Mekkah tersebut. Rezim Mekkah kerepotan dan tak dapat mengatasi hal ini.
Orang Islam jumlahnya bertambah, Rezim Mekkah makin lama makin berkurang. Maka perjanjian yang awalnya kelihatannya tidak bagus, pada akhirnya ternyata bagus.
Akhirnya point perjanjian tentang hal ini dihapus.
Diantara suku bangsa Arab ada yang terpecah akibat aturan bebas berkoalisi. Maka bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Nabi SAW dan Bani Bakr bergabung di kubu rezim Mekkah. Padahal, dulu antara dua suku ini bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata.
Namun, secara licik, Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah dengan dibantu Rezim Mekkah. Akhirnya orang Khuza’ah menghadap Nabi SAW di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Rezim Mekkah dan Bani Bakr.
Berarti Rezim Mekkah secara sepihak membatalkan Perjanjian Hudaibiyah.
Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, Abu Sufyan pergi ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi SAW, namun beliau tidak memperdulikannya.
Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar r.a agar mereka memberikan bantuan untuk membujuk Nabi SAW. Namun usaha ini gagal. Terakhir kali dia menemui Ali bin Abi Thalib r.a agar memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Nabi SAW.
Namun juga gagal dan Abu Sufyan kemudian kembali ke Mekkah.
Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi SAW berunding dengan para sahabat untuk tindakan berikutnya.
Keputusan rapat mereka akan ke Mekkah diam-diam, dengan jumlah besar tidak untuk perang, tetapi tetap menyiapkan senjata dan perlengkapan perang.
*Larangan Memilih Pemimpin Kafir*
Tahun ke 10 H , Nabi merencanakan ke Mekkah dengan pasukan yang jumlahnya melebihi penduduk Mekkah. Beliau ingin menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah.
Salah satu peserta adalah seorang sahabat Muhajirin bernama Hatib bin Balta’ah.
Dia ini mempunyai bisnis dan keluarga di Mekkah. Karena khawatir bisnisnya hancur dan keluarganya terbunuh maka beliau menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan Nabi SAW menuju Mekkah dengan pasukan besar. Surat ini beliau titipkan kepada seorang kurir wanita. Namun, Allah mewahyukan kepada NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliaupun mengutus Ali untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.
Ali berhasil menyusul wanita tersebut. Ali memeriksa dan menemukan surat tersebut.
Ali menyerahkan surat tersebut kepada Nabi SAW. Dengan bijak Nabi SAW menanyakan alasan Hatib. Hatib bin Balta’ah pun menjawab:
“.. Demi Allah, aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Di sana aku memiliki istri dan anak. Saya khawatir bisnisku hancur dan keluargaku jadi korban.”
Umar bin Khattab menawarkan diri,
untuk memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati RasulNya. Tapi Hatib punya jasa besar, dia pernah jadi komandan perang Badar.
Terjadi ketegangan diantara para Sahabat. Akhirnya Nabi bersabda :
" Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. In syaa Allah, Allah tahu hati masing-masing orang...".
Umar bin Khattab-pun hatinya luluh dan tak jadi membunuh Hatib.
Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Hatib bin Balta’ah adalah bahwa inilah kelemahan manusia. Walau dia orang baik, ikut organisasi tetapi bila punya kepentingan pribadi, biasanya kepentingan ini yang sering membelokkan arah perjuangan.
Orang Kafir Mekkah itu sejak dulu memusuhi Umat Islam sejak di Mekkah sampai Madinah. Maka ketika Hatib bersahabat dengan orang Mekkah dia mau membocorkan rahasia Umat Islam.
Itulah kelemahan manusia.
Maka kita tak perlu heran bila ada orang ikut organisasi keagamaan, organisasi sosial ataupun organisasi politik, tiba-tiba berbalik arah.
Itu karena ada kepentingan tadi.
Tak peduli dia ulama besar yang dulu bicaranya lurus , memimpin Majelis Ulama , bisa saja tiba-tiba bicaranya berubah. Dulupun sudah terjadi yaitu Hatib bin Balta'ah.
Dari peristiwa itu turun ayat :
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ
"Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman.." (QS. Ali 'Imran 28)
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin.." (QS. An-Nisa' 144)
Kata "auwliya" pernah jadi masalah di Indonesia. Ada yang menerjemahkan Pemimpin dan ada yang menerjemahkan Teman Dekat. Kalau membaca tafsir lama semua disebutkan Teman Dekat. Disebut Pemimpin ketika dalam Konteks Demokrasi.
Kalau kita menjadikan orang kafir jadi teman dekat akan melemahkan perjuangan. Menjadikan teman dekat saja tidak boleh apalagi menjadikan Pemimpin, lebih tidak boleh.
Kalau kita berteman dekat dengan Preman, maka Temannya Preman jadi teman kita dan musuhnya Preman jadi musuh kita.
Kalau Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, maka teman Israel jadi teman Indonesia dan musuh Israel jadi musuh Indonesia. Dan semua negara Arab jadi musuh Indonesia.
Agak beda dengan surat Al Maidah 51, karena konteksnya Madinah.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinmu ; mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah 51)
Dulu di Madinah dihuni banyak kaum : Bani Auz, Bani Khazraj dan suku Yahudi yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Quraizhah dan masyarakat Islam.
Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah lalu diadakan Perjanjian Madinah. Diantara isi perjanjian adalah :
1. Kebebasan Beragama.
2. Orang yang terikat perjanjian tak boleh membantu musuh dari luar untuk menyerang salah satu anggota.
3. Pertahanan bersama kota Madinah.
Namun perjanjian hanya berumur 16 bulan karena Orang Yahudi berkhianat. Kemudian ayat 51 Surat Al Maidah tadi turun.
*Pasukan Islam Menuju Mekkah*
Kemudian, pada tahun ke 8 H, awal Ramadhan Nabi Muhammad SAW keluar Madinah bersama 10.000 orang menuju Mekkah.
Padahal pada waktu Perjanjian Hudaibiyyah di tahun ke 6, jumlah yang mau ke Mekkah 4000 orang. Jadi dalam waktu 2 tahun islam berkembang 250%. Pertambahan ini akibat perjanjian bebas berkoalisi, atau dampak kemenangan Politik Perjanjian Hudaibiyah. Itu adalah pengakuan eksistensi umat islam.
Perjalanan dari Madinah ke Mekkah kira-kira dalam waktu 10 hari. Ketika kira-kira kurang 3 hari menjelang sampai Mekkah , di suatu tempat yang panas , nabi Muhammad SAW membatalkan puasanya. Nabi melihat seseorang yang terkapar, karena tetap menjalankan puasa.
Maka beliau bersabda:
لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ .
“Bukan merupakan suatu kebaikan berpuasa dalam safar.”
Hadits ini sering dipakai dasar oleh orang yang bepergian tidak boleh puasa. Memang benar bila dipahami secara tekstual adalah tidak boleh puasa , namun konteksnya tidak tepat karena pada saat itu panas sangat ekstrim sehingga jika tetap puasa akan membahayakan diri. Maka musafir di bulan Ramadhan membatalkan puasa atau tidak tergantung pada kondisi. Kalau ada hambatan boleh membatalkan, bila tidak ada masalah tetap puasa terus. Bukankah dalam Al Qur'an juga ada petunjuknya :
وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"... dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 184)
Sebelum memasuki kota Mekkah, pasukan nabi berhenti diluar kota.
Pasukan nabi membuat obor untuk penerangan. Jumlahnya demikian banyak sehingga Abu Sufyan pemimpin Mekkah memeriksanya.Tetapi Abu Sufyan tertangkap.
Padahal saat itu suasana perang, karena perjanjian Hudaibiyyah dikhianati : Bani Bakr dibantu Rezim Mekkah menyerang Bani Khuza'ah, dimana korbannya banyak sekali. Hal itu artinya pembatalan perjanjian secara sepihak oleh Rezim Mekkah.
Abu Sufyan dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW dan diminta memilih :
- Dibunuh atau Masuk Islam-
karena tugas Nabi memang menyebarkan agama islam.
Abu Sufyan memilih masuk islam. Memang pada awalnya dia terpaksa, tetapi kemudian menjadi muslim baik.
Paman Nabi bernama Al Abbas ketika Perang Badar ada dipihak Mekkah ikut menyerang Nabi. Dia tertangkap, tetapi kemudian dibebaskan dengan membayar diyat. Kemudian Al Abbas menjadi muslim yang baik. Beliau satu-satunya sahabat yang diajari Nabi dengan shalat Tasbih.
Al Abbas ini yang menginterogasi Abu Sufyan. Al Abbas melaporkan kepada Nabi bahwa Abu Sufyan adalah seorang yang sangat menjunjung tinggi kehormatan. Maka Al Abbas menyarankan agar Nabi memberikan kehormatan.
Nabi setuju dan kemudian beliau bersabda kepada Abu Sufyan :
"Wahai Abu Sufyan, setelah ini kamu saya lepas, dan kamu pulang. Katakan kepada orang-orangmu, Siapa yang masuk rumahmu dijamin keamanannya, siapa yang masuk ke Masjidil Haram dijamin keamanannya, siapa yang tetap tinggal di rumah masing-masing dijamin keamanannya. Tetapi siapa yang keluar menyerang maka dia akan ditahan".
Abu Sufyan pulang, dan mengumumkan pesan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad masuk kota Mekkah tanpa perlawanan. Pelajaran politik yang diambil adalah untuk mempengaruhi suatu kelompok akan efektif bila memakai tokoh kelompok tadi. Bila yang mempengaruhi bukan dari kelompoknya pasti timbul perlawanan.
Nabi Muhammad mengumpulkan orang Mekkah dan berpidato :
"Kamu semua orang bebas, orang merdeka. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang ditahan. Dan tidak ada harta bendamu yang dirampas oleh kami".
Nabi Muhammad SAW datang dalam posisi sebagai pemenang. Di depan orang Mekkah yang menganiaya beliau selama 13 tahun ketika di Mekkah dan ditambah 8 tahun diperangi ketika di Madinah namun beliau tidak ada mendendam sama sekali. Semua musuh dibebaskan dan mereka berbondong-bondong masuk islam. Pada kondisi inilah turun Surat An Nasr.
Sungguh luar biasa beliau Nabi Muhammad SAW, maka tak heran Michael H. Hart memposisikan beliau sebagai tokoh dunia nomer satu.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
PELAJARAN POLITIK DARI FATHU MEKKAH
Tanggal : 20 Muharram 1440 H/ 30 September 2018
Nara sumber : Dr. H. Zuhad Masduqi MA
*Agresi Rezim Mekkah*
Kemenangan Nabi Muhammad SAW terhadap rezim Mekkah yang dipimpin Abu Sufyan diabadikan dalam Surat An Nasr yang termasuk dalam juz Amma. Surat ini merupakan Surat Madaniyah karena turun di Medinah.
اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ
وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat." (QS. An-Nasr Ayat 1-3)
Untuk memahami surat ini, kita harus mengetahui peristiwa-peristiwa yang melatar-belakanginya. Peristiwa itu terjadi saat Fathu (penaklukan) Mekkah
Rezim Abu Sufyan terus menerus menekan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Para Sahabat sampai pernah hijrah ke Habasyah dalam rangka menghindar dari tekanan Rezim Mekkah.
Pada akhirnya tahun ke 13 setelah kenabian, Nabi hijrah ke Madinah.
Di Madinah nabi memperoleh kekuatan politik , sosial dan ekonomi. Sehingga kemudian beliau bisa melawan agresi yang dilakukan rezim Mekkah. Agresi ini dilakukan berkali-kali.
Agresi pertama terjadi pada tahun kedua Hijrah yaitu yang disebut dengan Perang Badar.
Agresi kedua yaitu Perang Khandag dimana Abu Sufyan mengerahkan seluruh kekuatan Mekkah. Nabi Muhammad SAW bertahan di dalam kota Madinah.
Ada sahabat bernama Salman al Farisi mengusulkan supaya pertahanannya dengan cara membuat parit lebar 3 meter dan dalam 3 meter sehingga pasukan Ahzab (gabungan musuh) tak dapat masuk ke dalam kota Madinah. Pasukan Ahzab diporak-porandakan oleh badai gurun.
Agresi berikutnya Perang Uhud dimana pasukan Mekkah dapat mengalahkan Nabi Muhammad SAW, karena ada pasukan islam yang tidak menaati perintah Rasul SAW.
Jadi meskipun Nabi Muhammad SAW sudah hijrah ke Madinah, namun kaum kafir tetap ingin menghancurkan umat islam. Dari sejarah diketahui bahwa Nabi bersifat defensif.
*Perjanjian Hudaibiyah*
Pada tahun ke 6 H, Rasul dan para Sahabat ingin melaksanakan umrah.
Waktu itu peserta Umrah jumlahnya sekitar 4000 orang. Namun di Hudaibiyah, sebelum masuk Mekkah, Nabi Muhammad SAW dihadang oleh Rezim Mekkah.
Terjadi perundingan yang alot. Akhirnya dikirim Usman bin Affan yang dekat dengan Rezim Mekkah oleh Nabi untuk berunding. Namun Usman tidak segera pulang-pulang sehingga timbul desas-desus Usman dibunuh. Para Sahabat Nabi tetap bertahan di Hudaibiyah siap untuk perang. Mereka berbai'at untuk bertahan. Ketika itu Usman pulang dan ikut berbai'at. Bai'atnya dikenal sebagai Bai'atur Ridhwan.
Selanjutnya perundingan dilanjutkan di Hudaibiyah. Secara politik ini merupakan kemenangan politik umat islam , karena berarti islam sudah diakui kekuatannya oleh Rezim Mekkah, hingga mereka mau datang berunding.
Hasil perundingan sebagai berikut :
1. Kalimat Muhammad Rasulullah, tidak disetujui Rezim Mekkah
, diganti Muhammad bin Abdullah.
Kata Bismillahir rohmanir rohiem juga tidak disetujui.
2. Jika ada Orang Mekkah masuk islam ke Medinah , maka Muhammad harus mengembalikan ke Mekkah.
Tetapi jika ada orang Medinah yang murtad dan kembali ke Mekkah maka orang Medinah tidak berhak meminta orang ini.
Pada awalnya Umar bin Khattab tidak menerima ini, karena berarti pengikut Rezim Mekkah akan tambah banyak dan Umat Islam berkurang. Namun hal ini diterima oleh Nabi Muhammad SAW.
3. Setelah perjanjian ini maka orang Arab bebas untuk berkoalisi. Mau pilih Rezim Mekkah atau Umat Islam. Ini merupakan kemenangan Politik umat islam, karena pada awalnya orang Arab tidak bebas memilih.
Maka sesuatu yang kelihatannya buruk dampaknya belum tentu buruk.
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)
4. Pada tahun tersebut Nabi tak boleh melaksanakan Umrah. Umrah diijinkan tahun depan dengan catatan tidak boleh membawa senjata.
Akhirnya setelah perjanjian ditandatangani , Nabi Muhammad SAW bersama sahabat kembali ke Madinah. Tahun berikutnya baru melaksanakan Umrah. Maka umrah itu disebut Umratul Qadha'
*Pelaksanaan Perjanjian Hudaibiyah*
Setelah Nabi kembali ke Madinah, banyak orang Mekkah yang menyatakan masuk Islam dan bergabung dengan Nabi Muhammad SAW. Namun karena Nabi terikat perjanjian Hudaibiyah, mereka orang Mekkah itu diterima masuk islam tapi harus keluar dari Madinah. Mereka keluar dari Madinah tapi tak mau pulang ke Mekkah. Mereka bermukim didekat jalan antara Mekkah dan Madinah. Jika ada orang Mekkah lewat, mereka merampok orang Mekkah tersebut. Rezim Mekkah kerepotan dan tak dapat mengatasi hal ini.
Orang Islam jumlahnya bertambah, Rezim Mekkah makin lama makin berkurang. Maka perjanjian yang awalnya kelihatannya tidak bagus, pada akhirnya ternyata bagus.
Akhirnya point perjanjian tentang hal ini dihapus.
Diantara suku bangsa Arab ada yang terpecah akibat aturan bebas berkoalisi. Maka bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Nabi SAW dan Bani Bakr bergabung di kubu rezim Mekkah. Padahal, dulu antara dua suku ini bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata.
Namun, secara licik, Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah dengan dibantu Rezim Mekkah. Akhirnya orang Khuza’ah menghadap Nabi SAW di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Rezim Mekkah dan Bani Bakr.
Berarti Rezim Mekkah secara sepihak membatalkan Perjanjian Hudaibiyah.
Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, Abu Sufyan pergi ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi SAW, namun beliau tidak memperdulikannya.
Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar r.a agar mereka memberikan bantuan untuk membujuk Nabi SAW. Namun usaha ini gagal. Terakhir kali dia menemui Ali bin Abi Thalib r.a agar memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Nabi SAW.
Namun juga gagal dan Abu Sufyan kemudian kembali ke Mekkah.
Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi SAW berunding dengan para sahabat untuk tindakan berikutnya.
Keputusan rapat mereka akan ke Mekkah diam-diam, dengan jumlah besar tidak untuk perang, tetapi tetap menyiapkan senjata dan perlengkapan perang.
*Larangan Memilih Pemimpin Kafir*
Tahun ke 10 H , Nabi merencanakan ke Mekkah dengan pasukan yang jumlahnya melebihi penduduk Mekkah. Beliau ingin menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah.
Salah satu peserta adalah seorang sahabat Muhajirin bernama Hatib bin Balta’ah.
Dia ini mempunyai bisnis dan keluarga di Mekkah. Karena khawatir bisnisnya hancur dan keluarganya terbunuh maka beliau menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan Nabi SAW menuju Mekkah dengan pasukan besar. Surat ini beliau titipkan kepada seorang kurir wanita. Namun, Allah mewahyukan kepada NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliaupun mengutus Ali untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.
Ali berhasil menyusul wanita tersebut. Ali memeriksa dan menemukan surat tersebut.
Ali menyerahkan surat tersebut kepada Nabi SAW. Dengan bijak Nabi SAW menanyakan alasan Hatib. Hatib bin Balta’ah pun menjawab:
“.. Demi Allah, aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Di sana aku memiliki istri dan anak. Saya khawatir bisnisku hancur dan keluargaku jadi korban.”
Umar bin Khattab menawarkan diri,
untuk memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati RasulNya. Tapi Hatib punya jasa besar, dia pernah jadi komandan perang Badar.
Terjadi ketegangan diantara para Sahabat. Akhirnya Nabi bersabda :
" Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. In syaa Allah, Allah tahu hati masing-masing orang...".
Umar bin Khattab-pun hatinya luluh dan tak jadi membunuh Hatib.
Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Hatib bin Balta’ah adalah bahwa inilah kelemahan manusia. Walau dia orang baik, ikut organisasi tetapi bila punya kepentingan pribadi, biasanya kepentingan ini yang sering membelokkan arah perjuangan.
Orang Kafir Mekkah itu sejak dulu memusuhi Umat Islam sejak di Mekkah sampai Madinah. Maka ketika Hatib bersahabat dengan orang Mekkah dia mau membocorkan rahasia Umat Islam.
Itulah kelemahan manusia.
Maka kita tak perlu heran bila ada orang ikut organisasi keagamaan, organisasi sosial ataupun organisasi politik, tiba-tiba berbalik arah.
Itu karena ada kepentingan tadi.
Tak peduli dia ulama besar yang dulu bicaranya lurus , memimpin Majelis Ulama , bisa saja tiba-tiba bicaranya berubah. Dulupun sudah terjadi yaitu Hatib bin Balta'ah.
Dari peristiwa itu turun ayat :
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ
"Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman.." (QS. Ali 'Imran 28)
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin.." (QS. An-Nisa' 144)
Kata "auwliya" pernah jadi masalah di Indonesia. Ada yang menerjemahkan Pemimpin dan ada yang menerjemahkan Teman Dekat. Kalau membaca tafsir lama semua disebutkan Teman Dekat. Disebut Pemimpin ketika dalam Konteks Demokrasi.
Kalau kita menjadikan orang kafir jadi teman dekat akan melemahkan perjuangan. Menjadikan teman dekat saja tidak boleh apalagi menjadikan Pemimpin, lebih tidak boleh.
Kalau kita berteman dekat dengan Preman, maka Temannya Preman jadi teman kita dan musuhnya Preman jadi musuh kita.
Kalau Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, maka teman Israel jadi teman Indonesia dan musuh Israel jadi musuh Indonesia. Dan semua negara Arab jadi musuh Indonesia.
Agak beda dengan surat Al Maidah 51, karena konteksnya Madinah.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinmu ; mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah 51)
Dulu di Madinah dihuni banyak kaum : Bani Auz, Bani Khazraj dan suku Yahudi yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Quraizhah dan masyarakat Islam.
Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah lalu diadakan Perjanjian Madinah. Diantara isi perjanjian adalah :
1. Kebebasan Beragama.
2. Orang yang terikat perjanjian tak boleh membantu musuh dari luar untuk menyerang salah satu anggota.
3. Pertahanan bersama kota Madinah.
Namun perjanjian hanya berumur 16 bulan karena Orang Yahudi berkhianat. Kemudian ayat 51 Surat Al Maidah tadi turun.
*Pasukan Islam Menuju Mekkah*
Kemudian, pada tahun ke 8 H, awal Ramadhan Nabi Muhammad SAW keluar Madinah bersama 10.000 orang menuju Mekkah.
Padahal pada waktu Perjanjian Hudaibiyyah di tahun ke 6, jumlah yang mau ke Mekkah 4000 orang. Jadi dalam waktu 2 tahun islam berkembang 250%. Pertambahan ini akibat perjanjian bebas berkoalisi, atau dampak kemenangan Politik Perjanjian Hudaibiyah. Itu adalah pengakuan eksistensi umat islam.
Perjalanan dari Madinah ke Mekkah kira-kira dalam waktu 10 hari. Ketika kira-kira kurang 3 hari menjelang sampai Mekkah , di suatu tempat yang panas , nabi Muhammad SAW membatalkan puasanya. Nabi melihat seseorang yang terkapar, karena tetap menjalankan puasa.
Maka beliau bersabda:
لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ .
“Bukan merupakan suatu kebaikan berpuasa dalam safar.”
Hadits ini sering dipakai dasar oleh orang yang bepergian tidak boleh puasa. Memang benar bila dipahami secara tekstual adalah tidak boleh puasa , namun konteksnya tidak tepat karena pada saat itu panas sangat ekstrim sehingga jika tetap puasa akan membahayakan diri. Maka musafir di bulan Ramadhan membatalkan puasa atau tidak tergantung pada kondisi. Kalau ada hambatan boleh membatalkan, bila tidak ada masalah tetap puasa terus. Bukankah dalam Al Qur'an juga ada petunjuknya :
وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"... dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 184)
Sebelum memasuki kota Mekkah, pasukan nabi berhenti diluar kota.
Pasukan nabi membuat obor untuk penerangan. Jumlahnya demikian banyak sehingga Abu Sufyan pemimpin Mekkah memeriksanya.Tetapi Abu Sufyan tertangkap.
Padahal saat itu suasana perang, karena perjanjian Hudaibiyyah dikhianati : Bani Bakr dibantu Rezim Mekkah menyerang Bani Khuza'ah, dimana korbannya banyak sekali. Hal itu artinya pembatalan perjanjian secara sepihak oleh Rezim Mekkah.
Abu Sufyan dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW dan diminta memilih :
- Dibunuh atau Masuk Islam-
karena tugas Nabi memang menyebarkan agama islam.
Abu Sufyan memilih masuk islam. Memang pada awalnya dia terpaksa, tetapi kemudian menjadi muslim baik.
Paman Nabi bernama Al Abbas ketika Perang Badar ada dipihak Mekkah ikut menyerang Nabi. Dia tertangkap, tetapi kemudian dibebaskan dengan membayar diyat. Kemudian Al Abbas menjadi muslim yang baik. Beliau satu-satunya sahabat yang diajari Nabi dengan shalat Tasbih.
Al Abbas ini yang menginterogasi Abu Sufyan. Al Abbas melaporkan kepada Nabi bahwa Abu Sufyan adalah seorang yang sangat menjunjung tinggi kehormatan. Maka Al Abbas menyarankan agar Nabi memberikan kehormatan.
Nabi setuju dan kemudian beliau bersabda kepada Abu Sufyan :
"Wahai Abu Sufyan, setelah ini kamu saya lepas, dan kamu pulang. Katakan kepada orang-orangmu, Siapa yang masuk rumahmu dijamin keamanannya, siapa yang masuk ke Masjidil Haram dijamin keamanannya, siapa yang tetap tinggal di rumah masing-masing dijamin keamanannya. Tetapi siapa yang keluar menyerang maka dia akan ditahan".
Abu Sufyan pulang, dan mengumumkan pesan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad masuk kota Mekkah tanpa perlawanan. Pelajaran politik yang diambil adalah untuk mempengaruhi suatu kelompok akan efektif bila memakai tokoh kelompok tadi. Bila yang mempengaruhi bukan dari kelompoknya pasti timbul perlawanan.
Nabi Muhammad mengumpulkan orang Mekkah dan berpidato :
"Kamu semua orang bebas, orang merdeka. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang ditahan. Dan tidak ada harta bendamu yang dirampas oleh kami".
Nabi Muhammad SAW datang dalam posisi sebagai pemenang. Di depan orang Mekkah yang menganiaya beliau selama 13 tahun ketika di Mekkah dan ditambah 8 tahun diperangi ketika di Madinah namun beliau tidak ada mendendam sama sekali. Semua musuh dibebaskan dan mereka berbondong-bondong masuk islam. Pada kondisi inilah turun Surat An Nasr.
Sungguh luar biasa beliau Nabi Muhammad SAW, maka tak heran Michael H. Hart memposisikan beliau sebagai tokoh dunia nomer satu.
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
🖍SAK
Langganan:
Postingan (Atom)